
Hari berganti hari dan gosip tentang perjodohan kami sampai pada telinga Raka. Kaka kandung Raksa yang sedang mencari jodohnya.
Rencana raksa sangat mulus.
Rencana mempertemuka. Eliza dengan sang kakak di restoran.
Eliza dan raksa menunggu seseorang. Raka, sudah setengah jam menunggu tapi belum ada batang hidungnya.
Saat itu adalah jam istirahat Eliza.
Sosok pekerjaan Eliza yang misterius.
Tidak ada seorang pun yang tau. Apalagi orang tuanya.
"Buang-buang waktu aja Lo"
"Sabar mbak Eliza, mungkin bang Raka sedang kejebak macet"
"Terserah, gue tunggu 15 menit lagi kalau gak datang gue cabut." Kata Eliza.
Raksa gusar terus menelphon kakak nya namun tidak aktif.
Ketika ia ingin melanjutkan pembicaraannya,
Yang di tunggu pun akhirnya datang.
Raksa menafas lega.
"Lama amat sih bang" eluh raksa.
"Sorry, Abang tadi hampir lupa kalau Abang ada ketemu sama adek Abang."
Raka menatap Eliza yang sedang mengamati nya dengan raksa.
Raka lalu bertanya mengapa sampai orang tua menjodohkan bisa seperti ini. raksa enggan menceritakannya tapi Raka karena khawatir apa yang harus ia beritahukan pada Mama saat akan mengantat pulang. Raksa lalu dengan terpaksa menjelaskan semuanya.
“terus kenapa kalian ingin bertemu dengan li?,” tanya raksa menatap curiga adiknya
“ak-u pengen kenalin Abang sama mbak Eliza ,” jawab raksa.
“terus,”
“kayaknya mbak Eliza cocoknya sama Abang bukan raksa"ucap gemetar raksa
Raka bergantia menatap Eliza.
"Berhubung bang Raka gak punya cewe, siapa tau jodoh Abang mbak Eliza. Lagia raksa belum kepikiran. Buat nikah. " Ucap raksa.
"Okeh"
"Apa salahnya coba kalau Abang mengenal mbak Eliza "
Eliza yang tadi main hp jadi dalting dengan dua orang ini.
Raka pun mengingat usia ha yang sudah 29 tahun namun belum juga menikah.
"Oke mari kita saling mengenal, "kata Raka.
Eliza tersenyum entahlah. Eliza terbawa suasana.
Singkat cerita, hari-hari kulalui Eliza bersama Raka. Raka mulai nyaman saat berada di dekat Eliza . Eliza merasa dia pun begitu. Setiap harinya mereka berdua menjalani hari bersama agar tidak membuat orangtua kami curiga.
Raka mengajak eliza ke taman, membelikan es krim, mengajak belanja (walau eliza tak begitu suka berbelanja), kadang Raka cari muka saat bersama eliza juga hal lainnya.
Hal itulah yang memicu kedekatan kami. Walau semua ini hanya skenario kami namun kami mulai merasa nyaman dengan itu.
Sore itu eliza pergi meninggalkan rumah untuk menuju tempat favorit. mengenal Inara Eliza jadi suka senja. sangat menyukai pemandangan langit di sore hari. Langit sore seperti obat . Perpaduan warna yang apik, mampu meluruhkan semua masalah Ya.. meskipun sementara. Setibanya Eliza da. gama disana Eliza langsung menuju ke spot. Sayangnya, spot itu sudah ditempati oleh seseorang. ra
Itu spot terbaik untuk melihat langit dan senja dengan jelas. kakiku kesana.
Tanpa Eliza sadari.
Raka mulai berani berbicara pada orang tua mereka. , Rama hendak membicarakan sesuatu saat kumpul bersama keluarganya.
"Pah, Mah, Raka sudah mengenal Eliza "
"Lalu"
"Kami juga saling mengenal "
Orang tua tidak tau hubungan. Eliza denga n Raka. Tidak tau kedekatan nya
pikir ia hanya bercanda namun kemudian ia melanjutkan kata-katanya
“Aku mencintaimu Eliza "
Orang tua nya tak percaya dengan semua ini. Sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan sekarang menjadi kenyataan.