
Inara duduk diam menunggu dokter keluar. Ibu melati dan Juga Bapak Zaenal Mengeluarkan kata-kata yang membuat Inara tenang.
Tak berapa lama dokter dan para suster keluar. Inara dan yang lainya ikut mendekati dokter. Wajah dokter sedih menatap Inara. Membuat Inara semakin penasaran di buatnya.
"Dokter, bagaimana keadaan ayah dan ibu saya Dok, mereka baik baik saja kan dokter?!" Tanya Inara setengah berteriak melihat tatapan dokter.
"Maafkan kami. Kami tidak bisa menolong kondisi pasien"
Deg
Hati Inara semakin sakit bulir bulir air mata jatuh begitu saja di pipi mulus Inara.
Inara menangis Tak bersuara.
Inara segera masuk keruangan melihat kondisi ayah dan ibunya.
"Ayah, ibu kenapa kalian meninggalkan Inara sendirian?" Tangis pecah Inara. Ibu melati merasa semakin bersalah memeluk tubuh kecil Inara. Bapak Zaenal juga ikut prihatin.
Mereka larut dalam tangisan.
Disini mereka berada. Di Gundukan tanah berada. Di kuburan Orang tua Inara sudah di kuburkan. Inara masih dengan tangisannya. Ibu Melati dan bapak Zaenal ikut mendampingi Inara.
"Nak, sebaiknya kamu ikut kami saja sebagai rasa menebus kesalahan kami. ", Ucap ibu melati dengan lembut.
Inara diam dan menoleh pada Orang yang sudah menabrak orang tuanya.
"Terima kasih sebelumnya Tante, Om. Tapi Inara rasa sudah membayar Biaya Rumah sakit sudah cukup. Inara tidak menibta lebih dari om dan Tante. " Jawab Inara sambil beranjak dari duduknya diikuti yang lain nya.
Bapak Zaenal Dan ibu melati ikut tersentuh dengan kebaikan Inara.
"Kau memang anak baik Nak" ucap bapak Zaenal mengelus kepala Inara.
"Iya tidak salah kami menilai kamu" timpal istri Zaenal.
Inara hanya tersenyum. Mereka kembali ke rumah kecil Inara. Bapak Zaenal ikut prihatin dengan kondisi rumah Inara yang sangat kecil. Itu adalah peninggalan terakhir dari orang tua Inara. Rumah kev itu satu-satu nya rumah yang ditinggali Inara dam orang tuanya dulu.
"Oh iya perkenalkan saya Zaenal Dan yang di samping saya itu istri saya Melati, jangan sungkan sungkan kepada kami. Anggap saka kami seperti orang tua sambung kamu " Ucap bapak Zaenal.
"Aku Inara Tante, Om"
Melati masih melihat lihat rumah Inara.
"Kalau tidak keberatan apa boleh kami sering mampir kesini nak?"
Ibu melati merasa senang. Kemudian mereka pamit pergi.
Paginya berita tentang meninggalnya orang tua Inara sudah dtersebar di sekolah. Inara masih sekolah semakin Inara diam di rumah semakin Inara mengingat kenangan nya.
Teman teman dan guru guru ikut berduka cita. Seperti halnya sekarang Inara di kantin bersama dengan kehadiran Danish dan para sahabatnya yang sedang makan sambil mengobrol.
"Inara, kami ikut berduka cita ya atas kematian orang tua kamu." Ucap danish menatap raut wajah Inara yang terlihat sedih.
"Yang sabar Inara mungkin itu cobaan buat kamu, kamu pasti cewe yang kuat. " Timpal David.
"Iya Inara maaf ya kami kemaren nggak bisa datang ke makam orang tua kami" timpal juga putra tak kalah saing.
Inara tersenyum.
"Nggak papa makasih ya semuanya. " Jawab inara melihat para laki-laki yang di hadapan nya yang mengucapakan kata-kata dengan tulus.
Lalu mereka melanjutkan makanan mereka sebelum bel berbunyi masuk.
Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa siswa siswi keluar. Begitu juga dengan Inara yang di habiskan dengan banyak melamun. Sampai di rumah Inara merebahkan diri pada kasur yang rasanya sudah lelah. Inara memikirkan bagaimana nanti kedepannya. Untung beberapa bulan lagi akan lulus sekolah dan sepertinya inara langsung kerja. Tapi sebelum itu inara harus memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Karna lelah Inara pun tertidur.
Hari yang di tunggu datang. Hari ini hari dimana Para siswa berlomba-lomba untuk memenangkan hadiah di acara agustusan.
Inara memandang dirinya di cermin sekolah. Paras wajahnya nampak cantik dengan senyum manis yang selalu di tampakan nya. Namum ada guratan wajah sending me genamg orang tuanya.
Suara toa terdengar keras memanggil semua siswi yang ikut berpartisipasi lomba fashion show.
Seorang teman masuk tergesa gesa.
"Inara, Ayo keluar. Lomba nya segera di mulai." Ucap Siswi tersebut selepas mengatakan itu dia keluar.
Inara menatap kembali ke cermin. Sendirian, tidak ada seorangpun yang menemani nya untuk memberi support.
Setelah itu Inara keluar.
Banyak siswi yang jiga nampak cantik dan aggun. Inara duduk di salah ayu kursi yang di sediakan.
Perlahan semua siswi yang ikut lomba fashion show berdiri maju berganti-ganti.
Inara juga maju dengan kebaya cantik nya dan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.