INARA

INARA
49 Restu



"kita mau kekana kak Danish "


"Menemui orang tuaku'


"Hah, maksud kamu apa kak danish"


"Kita sudah sama sama dewasa, aku tidak mau kamu di ambil orang lagi aku tidak mau" Danish dengan tegas nya mengambil


Keputusan


"Tapi kak dasnish " sambung inara


"Tapi apa Inara"


Memang perempuan menginginkan keseriusan dalam hubungan tapi aku mau ingin sendiri


Mau menunggu apa Inara,


"Aku mau kerja di kuar negri ini kesempatan aku meraih cita cita kak damish tolong mengertilah."


"Kita bisa keluar negri semua apa yang kau suka aku akan berusaha menghidupi mu, nafkah lahir dan batin apapun yang kau mau aku akan berusaha mencapai nya tapi "


"Tapi aku mau kita menikah "


Dengan pecah Inara memeluk Danish. Lelaki yang sudah banyak melalui beberapa rintangan bersamanya


...


POV inara


Lahir di tahun 20 an membuat aku tumbuh menjadi seorang yang bahagia, di mana banyak sekali kemudahan dan limpahan sajian yang membuat anak-anak dijaman itu tak merasa kerepotan untuk menikmati masa kecilnya.


Ada banyak tayangan menghibur yang selalu ditunggu setiap minggu, ada banyak permainan yang dapat dimainkan kala berkumpul bersama kawan di depan halaman, hingga pergi ke toko kelontong untuk membeli makanan yang sedikit mahal bersama kawan saat lebaran. Ketika ku pejamkan mata, kenangan masa lalu selalu bangkit dan membuatku tersenyum. Karena betapa indahnya masa kecilku dulu.


Saat aku dapat berlarian saat hujan, saat aku dapat tertawa lepas bersama kawan, saat aku kalah dalam permainan dan mulai menangis, hingga saat aku masih tertidur dihari minggu pagi, tetapi kawanku sudah memanggil namaku diluar pagar untuk bermain. Ya... Itu sungguh membuatku menetaskan air mata saat aku menulis ini.


Aku merasa waktu begitu cepat berlalu, menyisakan kenangan indah masa kecilku bersama kawanku. Ada satu kenangan yang membuatku merasa seolah aku masih berada di tahun 2002, saat bulan ramadan, ketika siang bersepadahan bersama kawanku, kita menepi di bawah pohon rindang dengan hamparan rumput hijau membentang, di sana juga ada parit panjang yang airnya sedikit jernih dan terlihat banyak ikan kecil di dalamnya.


Seneng deh rasanya, hari-hari yang biasa ku jalani sendiri, tapi sekarang telah berbeda. Kini, akan selalu ada seseorang yang selalu memberiku semangat, menanyakan aktivitasku, memperhatikanku dan ocehan-ocehan lainnya yang ia tujukan untuk menujukkan perhatiannya padaku. Kini, usia jadian kita memasuki Lima bulan. Tak ada masalah di antara hubungan ini. Namun, setiap hari aku selalu dihantui rasa takut. Perasaan takut jikalau pada akhirnya orangtuaku tahu tentang hubungan tersembunyi ini. Aku gak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.


Dengan bergantian, kami menyalami tangan Ibu dan Ayah di rumah. Tanpa perasaan curiga sedikit pun di antara keduanya mengizinkanku pergi bersama Kakak tercinta. Perlahan, kami meninggalkan rumah itu, semakin lama semakin tak terlihat lagi rumah yang menjadi naunganku setiap harinya itu.


“Ayok masuk!” Ajaknya ke sebuah rumah bercat Biru muda itu.


“Kenapa Kakak ajak aku ke sini, katanya kita mau makan?” tanya inara heran.


“Iya. Kita mampir ke rumahku dulu ya. Soalnya Mommu pengen ketemu sama kamu katanya.”


Tak ada pilihan lain. Inara hanya menurut dengan terus mengekor di belakangnya. Dengan perasaan takut, malu dan gelisah bercampur menjadi satu. Inaramengikutinya masuk ke rumah itu.


“Kak, aku takut.” Kata inara menghentikan langkah.


“Kamu percaya sama aku. Mommy orangnya baik kok.” jawabnya menenangkanku dengan menggenggam tanganku.


Semakin aku memasuki rumah itu, aku semakin mempererat pegangan tanganku pada kak Firman. Jantungku sepertinya mau copot saja waktu itu,


"Mommy, Daddy mana ?"


"Daddy mu sedang di kantor "


" Siapa gadis yang kau bawa danish,"


" Inara, di gadis yang aku ceritakan kemarin"


Inara tersenyum ketika mamah nya danish menatap nya


" Pantes gaj pernah betah di runah tetbyata lagi deket sana cewe mana ceweknya cabtik banget lagi "


" Tante bisa saja " ucap Inara jadi malu


Aku semakin dibuat gugup olehnya. Ini pertama kalinya aku dikenalkan pada orangtua cowokku. Yang awalnya aku hanya memberi jawaban sekedarnya saja, tapi sekarang perbincangan kami semakin meluas. Ternyata, Mama kak danish sangat baik dan ramah. Perbincangan kami berakhir setelah kami menghabiskan makan siang yang disediakan oleh Mama kak danish Senang rasanya bisa berkenalan dengan beliau.


Aku berpamitan pulang dengan diantar kak danish Kami tambah akrab saja. Tak jarang kak danish membawaku ke rumahnya. Aku pun senang bisa diterima di keluarga kak danish dengan baik. Apa sikap Ibu dan Ayahku akan sama seperti sikap orangtua kak danish yang merestui hubungan kami?


Lebaran kali ini tampak berbeda dari tahun sebelumnya. Di tahun ini, aku tidak sendiri. Ada seseorang yang selalu menemaniku berpuasa. Walaupun tempat kami berbeda, namun setiap waktu sahur dan buka puasa tiba, kami selalu berkomunikasi layaknya sedang berada dalam tempat yang sama. Pagi itu, seluruh umat islam di dunia merayakannya dengan melaksanakan shalat ‘id. Tak terkecuali aku dan sahabat-sahabatku. Ada Zizi.


POV off