INARA

INARA
Bab 20. Gibran 2



Selepas menenangkan gibran. Gibran membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya. Sekarang dia sudah tertidur di ranjang kecil kos an Inara.


Untung gibran anak yang nurut dan tidak rewel hingga Inara tidak kewalahan menghadapinya. Inara menutup pintu kamar nya dan duduk di balkon kos an nya.


Tidak lama, gadis cantik anggun datang. Inara tersenyum melambaikan tangan nya menyapa teman kos an nya sekaligus teman kerja nya.


Zizi membalas senyuman nya dan juga membalas lambaian tangan inara.


"Sini zi, duduk" Zizi pun duduk di samping inara. Inara melihat jelas raut wajah lelah teman nya. Dan juga pulang agak larut malam menandakan dia lembur.


"Kerja lembur bagai kuda yang penting cuaaan nya aaadaa" nyanyi Inara tersenyum melirik Zizi.


Zizi tertawa.


"Ternyata kamu gaul juga ya nar, gak ketinggalan lagu yang lagi viral haha"


"Kamu lucu nar" kata Zizi


"B Ajah lah zi, habis lembur yah" tanya Inara di balas anggukan.


"Iya nih, cape banget tau nar, mana pegel " keluh Zizi.


"Eh kamu gimana nar kerja di situ betah kan, maaf ya aku sibuk ngurusin kerjaan aku jadi gak kepikiran kamu".


"Nggapa kok Zi, malahan aku seneng bisa kerja di situ bantuan kamu, the best pokok ya nya kamu.


"Kamu tau nggak Nar, tadi pagi bos CEO kita udah pulang dari new York. Dan sekarang balik ke perusaan lagi. " Zizi bercerita.


"Oh yah?"


"Iyalah nar, kamu tau gak sih kalau bos nya itu masih muda, mana tampan lagi, sumpah aku sampe ngiler kalau liat wajahnya tampan banget nar. Kamu kalau ketemu pasti langsung jatuh cinta deh kayak aku. "


Inara menyenggol Zizi yang sedang berhalu kemana-mana sampai mulutnya mengeluarkan air liurnya.


"Gak usah ngiler juga kali zi, astaga!!!!!" Pekik Inara melihat tingkah Zizi. Zizi menghapus ilernya dengan tangan nya.


"Iiih, Zizi jorok " teriak Inara menjauh dari Zizi. Zizi malah tertawa cengengesan.


"Maaf-maaf habisnha tuan Danish ganteng banget" siapa Danish, Inara seperti kenal dengan nama nya.


"Siapa bos CEO kita ?"


"Danish" Inara berpikir keras. Nama nya seperti nama teman nya waktu SMA.


Mungkin nama nya hanya kebetulan, batin Inara.


"Aaaggghhhhh Adeeekkkkkk hiks " suara tangisan terdengar dari dalam kosan Inara. Inara dan Zizi langsung beranjak dari duduk santai nya.


"Suara nya dari dalam kamar kamu nar" kata Zizi. Inata diam bergegas masuk namun di tahan oleh tangan Zizi.


"Ada ada di dalam Inara? Kamu gak nyembunyiin sesuatu kan?" Zizi meneliti wajah Inara yang sedang cemas ingin masuk ke dalam kamarnya.


Inara menggelengkan kepalanya. Hari ini sangat lelah, di tambah teman kos-san nya bertanya banyak hal padanya.


Inara melepaskan tangan nya dari Zizi.


"Bukan waktu yang tepat untuk membahas nya sekarang Zi, inara harus nemui gibran dulu" inara bergegas masuk meninggalkan Zizi yang sedang kebingungan. Gibran? Siapa.


Inara memeluk seorang laki-laki kecil menangis tersedu-sedu di pelukan Inara.


"Sudah gibran gak papa okey"


"Huaaaa Mbaaa adeeekkkk aagggggghhh" teriak gibran sambil menangis. Inara memejamkan matanya memang perih kenyataan.


Setelah lama menidurkan gibran kembali. Inara dan Zizi duduk lagi di luar.


Zizi tak henti-hentinya menatap Inara seolah ingin sekali mendengar cerita dari mulut Inara.


Inara menghembuskan nafasnya sebelum cerita sedikit berat namun harus di ceritakan nya.


"Dia nama nya gibran, ibunya membunuh adiknya di depan matanya. Dia korban kekejaman ibunya, ayahnya entah kemana. Ibunya sudah di bawa ke kantor polisi" Inara menceritakan semuanya pada Zizi tanpa ada kurang dan lebihnya.


Zizi menatap kasihan untuk gibran.


"Kasihan sekali nar"


Pembicaraan terhenti dan mereka tidur di kosan masing-masing.


Inara tidur di sofa. Lantaran Inara ingin gibran untuk tidur sendiri dulu. Sekalian juga menjaga gibran di tidur malam nya.


...


Gibran menatap mba nya yang akan berangkat ke kantornya.


Inara sedang memakaikan kaos kakinya.


"Gibran titip kos an yah, gibran kalau mau main nanti di kunci ya rumah nya yah, " beberapa nasihat dari inara.


"Iya mbak" jawab gibran.


"Mbak berangkat dulu yah" gibran mendekati Inara dan mencium punggung Inara. Inara sedikit kaget namun tersenyum. Dalam hati berkata 'Sangat sopan sekali'.


Zizi dan Inara berangkat bersama menaiki ojek langganan nya.


Setelah sampai di perusahaan mereka di sibukkan banyak kerjaan masing-masing.


" Hey Lo anak baru sini Lo"perintah sang ketua OB di situ.


Inara menunjukkan dirinya sendiri.


"Saya mbak?" Inara memastikan.


Rea memutar malas matanya.


"Iyalah cepat sini" Inara menurut melangkah ke arah Rea.


Rea, ketua OB wanita paling muda, mempunyai wajah cantik, dan perpakaian yang ketat. Rea tidak sendiri melainkan tiga sosok orang yang Inara kenal yang selalu mencari gara-gara pada inara waktu SMA.


Raysa, Widya Dan Qiran.


Inata membelakakan matanya ternyata musuh bebuyutnya bekerja di perusahaan yang sama.


untuk apa mereka meminta inara mendekatinya.