INARA

INARA
48. Terbongkar



Sudah satu Minggu Aldo, sekretaris sekaligus sahabat Danish mencari tau pelaku yang menabrak lari orang tua Inara. Namun hasil nya Nihil.


Danish menanatap kesal sahabat nya ini. Mencari pelaku satu orang saja tidak becus.


"Maaf Danish, gue udah berusaha semaksimal mungkin namun kejadian itu saja sudah bertahun tahun lama nya, CCTV di area kejadian juga mati" Aldo menjelaskan.


Danish membanting kalender di meja kerjanya.


"Tidak becus! Seperti nya nama mu harus di ganti, aku membenci nama mu mirip nama mantan Inara!. "


Kita lagi bicara pelaku nya kenapa jadi bahas nama mantan inara, batin Aldo berteriak.


"**** sial sekali kau big boss menyamakan nama ku sama mantan Inara " Aldo jadi membenci nya.


Nama sialan, batin Aldo.


"Aldo Prayoga!, Aku akan turun tangan, aku akan muali dari musuh pertama Inara " kata damish. Aldo prayoga mengernyitkan dahinya.


Musuh pertama, siapa dia. Bukan nya mushh Inara banyak


"Di mulai dariiii Naina " sambung Danish.


"Siapa Naina?"tanya Aldo.


Namanya begitu asing di telinga Aldo, musuh pertama Inara itu Naina nama yang sangat mirip dengan namanya.


"Naina, teman lama Inara, musuh di selimut kalau mengingat dia aku jadi kesal" ungkap Danish menggertakan gigi nya menahan emosi.


"Dengan cara apa lo mengungkapnya ?" Tanya aldo saking penasaran nya.


"Sesuatu .... Dasar sekretaris gak guna " saking kesal nya danish lalu keluar dari ruangan nya


Sialan, umpat Aldo dalam hati. .


...


Di persimpangan lelaki itu ambil kiri, berjalan sepuluh langkah kemudian berbelok pada gang kecil dan menuruni anak tangga yang terbentang. Cahaya hanya milik lampu temaram di satu dua teras rumah yang berjejer memanjang di kedua sisi, ia berjalan turun mengikuti bunyi gemercik arus sungai yang mengundang nun di bawah sana.


Tapi kemudian ia berbalik, sekelibat bayangan menghentikannya menuruni anak tangga menuju sungai. Bayangan dua orang, sedang tiduran di sisi kiri anak tangga. Setelah menyipitkan matanya, ia memastikan beberapa botol minuman tergeletak di samping mereka. Itu mengingatkannya akan satu hal yang buruk di masa lalu. Maka ia memutuskan berbalik, menaiki beberapa anak tangga dan berbelok di muka gang.


Jalanan lengang, sesekali hanya terdengar mesin kendaraan dari jauh dan lolongan anjing yang memecah kesunyian. Di ujung, ia mengamati lampu jalan yang berkelip nyaris mati, beberapa serangga kecil terbang dan hinggap di sekelilingnya. Ia sempat mendongak ke atas, mengamati awan-awan yang bergerak lambat dan satu bintang kesepian dari cahaya masa lalu. Seperti dirinya? Tak tahu.


Kemudian ia kembali berjalan. Ketika itu sudah pukul 1 pagi. Ia hanya ingin memenuhi hasrat anehnya demi mendengar gesekan angin dan daun-daun mahoni di satu tempat yang sepi-jika tempat itu benar-benar ada.


Jam pukul 2 malam sebuah mobil melaju dengan kecepatan sangat kencang hingga kekasih Inara menghentikan.


Danish berdiri di tengah tengah jalan


Mobil itu berhenti secara mendadak ketika ada penghalang di depan nya.


"Hei pria! Tolong jangan ganggu gue, gue sedang stress jangan nambahin masalah "racau nya pada pria yang sejak tadi Dian menatap tajam


Pria itu mendekati Naina. Iya naina sedang mabuk karena minuman yang ia minum.


"Siapa pelaku korban Lari Dari Orang Tua Inara!"


Deg!


"Hah?!"


"Maa-k-sud kamu a-pa?" Naina malah gagap


"Tidak usah buang buang waktu"


Danish membuka botol minuman aqua lalu menumpahkan nya ke wajah naina.


"Aduhhh kebakaran!kebakaran "


"Kak Danish! Apaa apaan kamu sih" teriak makna kesal bercampur marah ketika ia sadar ia malah di siram.


"Saya katakan siapa Pelaku yang menabrak lari orang tua inara?" Teriak Danish denga. Tegas


"Aku tidak tau kak Danish!" Teriak Naina kesal


"Bohong, apa kamu tahu nomor mobil adalah W 5426!"


Deg


Itu nomor mobil yang digunakan sekarang


" Okeh, semua berpihak ke Inara, aku membencinya ,, akuuuu aku yang menabrak nga lalu lari tanpa menolongnya emang nya kenapa Hahahaha aku puas bisa melohat Inara nangis melihat orang tua nya meninggal hahahaha aku puas melihat Inara menderita "


"**** Sial! Udah saya rekam semua buktinya ke hp saya pastikan besok kamu di penjara!"


"Apa!


Danish lalu pergi.


Rencana herhasil


Naina menangis di jalanan.


Dan ia memutuskan hanya meninggalkan nainayang sedang merenungi nasibnya, di malam di mana udara kadang-kadang dapat mengubah kulit menjadi lebih pucat dan menggetarkan gigi-gigi.


Di palang pintu kereta, ia sempat berhenti. Sejenak diamatinya penjaga palang pintu yang terlelap duduk dengan seragamnya di dalam pos. Entah didorong oleh apa, ia menduga lelaki penjaga itu tengah bermimpi tentang hari pensiun yang menggembirakan --meskipun dengan gajinya agaknya cukup mustahil. Atau bermimpi tentang kereta, atau laut dan bunga-bunga. Atau kereta yang melintasi laut dan padang penuh warna beragam bunga-bunga.


Kadang, ia pun tak habis pikir, mengapa bagi beberapa orang mimpi bisa begitu menyenangkan ketimbang kenyataan.