
Pesta pernikahan Rachel dan Joe yang dirayakan sangat mewah dan besar itu dihadiri oleh kaum bangsawan Inggris dan orang-orang terkenal lainnya.
Semua nampak bahagia.
"Makasi sayang, kau telah membantu Joe dan Rachel sehingga bisa membuat pesta ini meriah. Aku menyesal kenapa dulu tak membuat pesta semegah ini untukmu" kata Ezekiel saat keduanya sedang duduk dimeja bulat dan melihat para tamu yang mulai pulang.
"Mereka berdua pantas mendapatkannya karena harus menungguh sekian lama untuk bisa bersatu. Lagi pula Joe sudah membantu mewujudkan pernikahan impianku saat itu." Faith meraih tangan Ezekiel dan menggenggamnya erat.
"Pernikahan kita adalah pernikahan impianku. Itu lebih berharga dari pada ribuan tamu bangsawan dan orang terkenal yang hadir saat ini. Kau mewujudkan salah satu mimpi terindahku"
Ezekiel tersenyum lalu mencium tangan istrinya mesra.
"I love you..."
"I love you too"
"Daddy...." Chloe yang muncul dengan pengasuhnya. Ezekiel langsung memeluk putrinya.
"Chloe mengantuk nyonya dan dia ingin bersama tuan" ucap Pengasuhnya.
"Caleb dimana?" tanya Faith.
"Caleb juga sudah tidur. Sedang dipeluk oleh tuan Daren" pengasuh itu menunjukan disalah satu meja dimana Elisa dan Daren yang duduk.
"Ambil Caleb dan bawa ke mobil. Kita sebentar lagi akan pulang. Jangan buat opa capeh." kata Faith.
Pengasuh itu mengangguk dan segera menuju ke meja Daren dan Elisa.
"Kita pulang sekarang?" tanya Ezekiel. Chloe telah tertidur dibahunya.
"Ya sayang. Lagi pula ini sudah larut." Faith pun berdiri. Tepat disaat itu ia melihat Ben bersama istrinya.
"Hai Ben...."Sapa Faith.
"Hallo juga....sudah mau pulang ya? Party yang sebenarnya kan baru mau dimulai" kata Ben.
"Kamu tahu kalau aku nggak suka disko kan? Lagi pula anak-anakku sudah tidur. Nanti akan kamu rasakan jika sudah punya anak nantinya. " kata Faith bermaksud menggoda Ben dan istrinya.
"Ah...kau ini" Ben mengibaskan tangannya sambil menatap istrinya yang nampak sedikit tersipu.
"Kami pulang dulu ya...." Faith memeluk Ben dan istrinya secara bergantian. Lalu mereka pun pergi meninggalkan gedung tempat pelaksanaan pesta itu.
***********
Rachel dan Joe pergi berbulan madu ke Spanyol selama satu bulan. Saat mereka kembali dari bulan madu, Rachel pun menyiapkan barang-barangnya untuk segera pindah ke apartement Joe.
"Rachel, aku mohon tetaplah tinggal di sini" kata Faith.
"Kakak ipar, kami kan sudah menikah. Aku harus ikutlah ke apartemennya Joe. Aku sudah punya tanggungjawabku sendiri."
Ezekiel dan Joe yang memang ada di kamar itu menatap Faith dengan heran.
"Sayang, aku memang ingin adikku terus tinggal di rumah ini. Tapi kalau dia dan joe mau tinggal sendiri, itu juga adalah hak mereka" ucap Ezekiel.
"Masalahnya.....opa.....opa......" Faith tak dapat menahan dirinya lagi. Air matanya jatuh.
"Opa sakit. Kangker hati stadium 4. Selama ini dia memintaku untuk menyembunyikan dari kalian karena dia tak ingin membuat kita sedih. Dengan kita tinggal bersama di rumah ini, itu akan membuat opa senang. Waktunya mungkin tak akan lama lagi. Karena itu aku mohon, mari kita semua membuat opa senang"
Semua terpana. Apalagi Elisa yang tanpa mereka sadari sudah berdiri di depan pintu kamar Rachel.
"Faith, kenapa kau menyembunyikan ini dari kami?" tanya Elisa tanpa bisa menahan air matanya.
"Opa yang memintanya. Dan kita harus menghargai keputusan opa ini. Mari kita bersikap seolah-ola opa tak sakit. Supaya opa tetap merasa bahagia dan tidak merasa kita terbebani dengan sakitnya." kata Faith sambil memeluk oma.
Semua pun mengangguk. Mereka semuanya setuju untuk bersikap wajar di hadapan opa.
2 minggu setelah itu, Rachel pun positif hamil. Berita itu membuat semua bahagia apalagi opa. Sekalipun ia sering merasa sakit namun kerinduannya untuk melihat anak Rachel membuatnya kuat.
Dan Rachel pun melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Joel Daren Alfonso. Tentu saja opa senang karena namanya menjadi nama anak Rachel. Hingga disuatu malam, opa mendapat serangan sakit dan segera dibawa ke rumah sakit. Wajah tua yang biasanya kelihatan tegar itu kini nampak lemah dan pucat.
"Ezekiel.....kau adalah kebanggaanku. Teruslah menjadi kuat untuk menjaga semua yang ada di keluarga Thomson. Didik anak-anakmu sehingga mereka tetap menjadi orang yang baik. Jangan lagi gunakan kekerasan dan ancaman seperti yang biasa kau lakukan" kata Daren sambil memegang tangan Ezekiel.
"Opa...jangan bicara seperti itu. Kita akan mencari pengobatan terbaik agar kau sembuh" kata Ezekiel tanpa bisa menahan rasa sedihnya.
Daren menggeleng "Tuhan sudah memberikanku banyak kesempatan untuk melihat semua kebahagiaan ini. Aku tak mau menjadi orang serakah yang tak mau menerima keputusanNya."Daren menatap Joe yang berdiri tepat disamping Ezekiel.
"Joe, aku percaya kalau kamu akan menjaga Rachel seperti aku menjaganya selama ini. Tetaplah berdiri di samping Ezekiel apapun yang terjadi. Kalian adalah pasangan kerja yang sangat luar biasa."
Joe mengangguk.
Pandangan Daren sekarang mengarah pada Faith "Terima kasih anakku. kau adalah salah satu alasan aku bisa bertahan hidup selama ini. Tetaplah bersama Ezekiel. Cintamu adalah kekuatan bagi Ezekiel."
Faith mendekat. Ia mencium dahi opa tanpa bisa menahan air matanya. "Aku menyayangimu, opa."
Daren tersenyum. Lalu meminta Rachel mendekat "Putri kecilku. Kau kini sudah menjadi mama. Terus berjuang untuk kebahagiaan keluargamu ya..."
"Opa, aku akan selalu mengingat semua nasehatmu untukku" Rachel yang sedang memeluk putranya berusaha untuk kuat tapi dia tak bisa. Sebutir air mata lolos dari mata indahnya.
Daren kemudian menatap Elisa "Sayangku....wanita luar biasa yang Tuhan berikan untukku, bolehkan aku meninggalkanmu sebentar? Karena aku yakin akan ada saatnya kita akan bersama lagi"
Elisa tersenyum "Kalau memang waktumu untuk pergi sudah dekat, aku merelakannya. Terima kasih sebab aku terlalu bahagia bersamamu. Aku mungkin akan menangis jika kau tak ada. Tapi aku akan tetap kuat untuk terus menemani mereka sampai waktuku untuk pergi tiba."
Demikianlah Daren meninggal dalam damai saat ia dikelilingi oleh semua orang yang mencintainya. Kepergiaannya membuat banyak orang menangis. Karena London telah kehilangan salah satu pria terbaiknya.
************
Ezekiel yang sementara mengenakan dasinya menatap istrinya dengan heran saat melihat Faith keluar dari kamar mandi.
"Ada apa sayang?" tanya Ezekiel.
"Aku hamil lagi..." Faith mengangkat alat tes kehamilan yang menunjukan 2 garis merah.
"Sayang......ini adalah berita yang menggembirakan. Aku tak sabar menungguh kedatangannya" Ezekiel langsung memeluk Faith.
"Ah....aku mencintaimu"
Faith tersenyum bahagia "Ayo kita kasih tahu, oma" ajak Faith.
Keduanya turun ke lantai dasar sambil bergandengan tangan.
"Bi Lastri, mana oma?" tanya Ezekiel.
"Nyonya belum bangun. Apa mungkin kecapean karena kemarin pergi ke makam?" tanya bi Lastri.
Ezekiel dan Faith saling berpandangan. Kemarin mereka memang pergi ke makam bersama dalam perayaan 1 tahun meninggalnya Daren Thomson.
"Ayo kita ke kamar oma" ajak Faith.
Mereka membuka pintu "Hallo oma....good morning" sapa Faith.
Elisa Thomson nampak masih terbaring di atas tempat tidurnya. Namun ada yang aneh dengan cara tidurnya. Ia tidur di terlentang dengan kedua tangan yang terlipat di atas dadanya.
Ezekiel memandang Faith "Tangan oma dingin. Cepat telepon dokter Albert"
Demikianlah cara Elisa Thomson pergi. Ia hanya sanggup berpisah selama 1 tahun dengan Kekasih abadinya Daren.
Sebuah catatan kecil ditemukan Faith dibawa bantal tempat Elisa berbaring.
Teruslah saling mencintai
mencintai sampai maut memisahkan
seperti aku dan Daren
seperti Eldmon dan Kiela
Catatan kecil itulah yang membuat semua menjadi kuat. Sekalipun Elisa tak berpamitan sebagaimana yang Daren lakukan.
*********
Kuta Bali 7 tahun kemudian...
Reuni yang Faith rencanakan sangat lama akhirnya bisa terwujud juga.
Di sinilah segala sesuatu dimulai. Kisah yang diawali dengan kebencian.
Rachel datang bersama Joe dan kedua putra mereka Joel dan Jonathan.
Daniel hadir bersama Zack, putranya yang dilahirkan Clairine dan Zelina, putrinya yang didapatkan dari pernikahannya dengan Dina.
Faith tersenyum melihat putra bungsunya Erland yang kini berusia hampir 7 tahun. Sekalipun Elisa dan Daren tak pernah melihatnya namun semua orang setuju kalau wajah Erland adalah perpaduan sempurna dari Daren dan Elisa.
"Bunda, apakah paman Ben akan datang?" tanya Caleb.
Faith menatap putranya yang kini berusia 10 tahun. "Ya. Sopir daddy sudah menjemput mereka di bandara"
Sementara Chloe sedang asyik mengambil gambar dengan kamera ditangannya.
Tak lama kemudian Ben datang dengan istri dan anak perempuannya yang berusia 7 tahun.
Gadis cantik dengan mata coklat dan rambut hitam.
Ben menamai putri kecilnya itu Grace.
Caleb tersenyum melihat kedatangan Grace. Sedangkan Zelina, nampak cemberut melihat Caleb yang mendekati Grace.
"Paman Ben, bolehkah aku mengajak Grace jalan-jalan?" tanya Caleb
"Di sini banyak gadis, mengapa harus Grace yang kau ajak?" tanya Ben.
"Sebab Grace terlalu cantik untuk ku biarkan pergi dengan pria lain."
Semua terpana mendengar pengakuan Caleb.
"Caleb....." Ezekiel memandang putranya tak percaya.
"Kau menyukai Grace?" tanya Ben lagi.
"Ya" jawab Caleb tanpa ada keraguan.
Ben menatap putrinya " Kau juga menyukai Caleb?"
"Yes daddy..." jawab Grace malu-malu.
"Aku juga menyukai Caleb" ujar Zelina tiba-tiba.
Faith terpana "Waw..... bahkan ada cinta segita nih"
Daniel dan Dina tertawa, demikian juga dengan yang lain. Reuni saat ini rasanya sangat menyenangkan.
*********
Cahaya bulan menari diatas air gemuru air laut.
Acara makan malam sudah berakhir. Ketiga anaknya sudah terlelap di tempat tidur mereka.
Faith melangkah, menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Mengingatkan dia atas peristiwa 11 tahun lalu. Di pantai yang sama. Saat dia dan Ezekiel berjumpa.
Rasanya baru kemarin, ia menangis dan juga tertawa. Waktu memang begitu cepat berlalu.
"Happy Birthday...." Ezekiel tiba-tiba muncul dengan kue ulang tahun ditangannya. Seperti juga 11 tahun yang lalu. Ia terlihat begitu tampan dibawa sinar mentari.
Faith meniup lilin yang menyalah itu.
"Hei bule.., maukah kau menghabiskan waktumu berdua denganku sampai kita menutup mata?"
Ezekiel tersenyum. Ia meletakan kue ulang tahun itu di atas pasir. Lalu melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. Ditatapnya mata wanita yang telah memberikan 3 orang anak untuknya.
"Kau tidak akan menyesal meminta itu dariku?"
Faith menggeleng " I love you...."
"I love you too"
Lalu keduanya berciuman dibawa sinar rembulan yang sepertinya malu melihat sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu. Sehingga bulan sedikit bersembunyi dibalik awan.
Ezekiel dan Faith menikmati kebahagiaan itu setelah perjuangan cinta yang Tuhan ijinkan untuk mereka lalui dengan air mata.
Benarlah kata ini....
**Jangan terlalu membenci seseorang
sebab kau akan jatuh cinta padanya
melebihi rasa benci yang pernah kau punya
T A M A T**
makasih sudah baca novelku ini sampai selesai
semoga kalian suka.....
Terima kasih untuk like, komentar dan vote yang sudah diberikan.
Baca terus karyaku yang lain ya...
**MY BEST PHOTO
LERINA
bye**.....