I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Sebelum 3 tahun (part 1)



Setelah dirawat hampir satu bulan di rumah sakit kecil itu, Faith akhirnya diijinkan pulang.


Ezekiel melengkapi rumah sakit dengan peralatan kesehatan yang canggih. Ia bahkan menawarkan pekerjaan dengan gaji yang besar di salah satu rumah sakit yayasan The Thomson. Namun dokter Patrick menolaknya.


"Maaf tuan, aku lebih suka berada di rumah sakit ini. Jauh dari hingar bingar kota yang kadang menjenuhkan. Lagi pula kami sebentar lagi akan menikah" ucap dokter Patrick sambil melirik perawat cantik di sampingnya.


"Oh....dokter, aku jadi cemburu mendengarnya" kata Faith sambil pura-pura cemberut.


Ezekiel menatap istrinya dengan wajah heran. Apakah pengaruh peluru yang masuk ke tubuhnya telah mengubah kepribadian istrinya. Di mana Faith yang manis dan agak pemalu itu? Mengapa kesannya sekarang Faith agak centil?


"Dokter Patrick, apakah kau telah mengoperasi mata istriku juga sehingga kini ia lebih suka menatapmu dari pada aku yang adalah suaminya?" tanya Ezekiel tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya.


Faith tertawa. Ia langsung memeluk Ezekiel dari belakang. "You are my everything, honey" bisiknya dan langsung membuat Ezekiel tersenyum.


Dokter Patrick tersenyum. Ia bahagia melihat pasangan ini yang selalu bercanda dengan mesra. Rasanya ia ingin cepat-cepat menikah dan merasakan hangatnya hidup berumahtangga.


Mereka kembali ke London setelah Ezekiel memberikan cek untuk biaya pernikahan dan bulan madu mereka. Patrick dan tunangannya terpana karena dengan uang sebanyak itu mereka bukan hanya dapat membuat pesta yang besar dan mewah, tapi juga dapat keliling dunia untuk bulan madunya.


********


Menatap kedua anaknya kini tidur di kamar yang sama membuat Faith sangat bahagia. Ia tak hentinya bersyukur atas semua kebahagiaan yang Tuhan berikan padanya.


Berita kematian Kimzy ditutup rapat sehingga tidak menimbulkan gosip di kalangan bangsawan. Tak ada yang tahu jika perempuan Jepang itu sudah tiada.


keluarga Takazimura membawa jenasah Kimzy secara diam-diam ke Jepang untuk dikuburkan di samping makam ibunya dan Hataru.


Nama Kimzy dilarang untuk dibicarakan di lingkungan keluarga Thomson. Faith sendiri sudah memaafkan semua yang Kimzy lakukan untuknya. Ia tahu Kimzy hanya frustasi karena kehilangan Hataru dan tidak bisa mendapatkan Ezekiel lagi.


"Mereka sudah tidur?" tanya Ezekiel sambil memeluk istrinya dari belakang dan meletakan dagunya dipundak Faith.


"Iya. Mereka baru saja menghabiskan susunya dan langsung tertidur. Aku sebenarnya sedih karena tidak bisa memberikan mereka asi lagi."


Ezekiel membalikan tubuh istrinya sehingga keduanya kini berhadapan " Jangan sedih sayang, kau kan tidak sengaja sehingga mereka akhirnya minum susu formula. Kasih sayang dan perhatianmu pada mereka akan membuat mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat."


Faith mengecup bibir suaminya sekilas lalu tersenyum "Ayo kita biarkan mereka tidur. Kamu ganti baju dan segera mandi. Bau.."


Ezekiel terkekeh. Ia tahu istrinya bercanda. Keduanya saling bergandengan tangan meninggalkan kamar bayi mereka. Dua orang pengasuh yang sejak tadi berdiri di luar ruangan segera masuk.


"Sayang, apakah kamu mau makan? Katakan apa yang kamu mau nanti aku siapkan" tanya Faith


Ezekiel menggeleng "Aku sudah kenyang. Tadi ada acara makan malam dengan salah satu mitra kerjaku."


Sesampai di kamar, Ezekiel segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Saat ia keluar, dilihatnya Faith sedang menatap bekas lukanya di bawa perut dan dipinggangnya. 2 minggu yang lalu, seorang dokter kulit terkenal telah membuat bekas operasi itu nampak rapih dan tersamarkan. Itu semua dilakukan karena Faith sering merasa ketakutan melihat bekas operasi itu.


"Kata dokter dengan perawatan yang intensif bekas itu akan hilang" ujar Ezekiel.


Faith merapihkan lagi gaun tidurnya sehingga kembali menutupi tubuhnya. "Mimpi buruk itu terkadang sering menghantuiku. Aku sangat takut tidak akan pernah memeluk Caleb dan Chloe lagi. Aku takut tak akan merasakan kehangatan pelukanmu lagi."


Ezekiel menangkup pipi Faith dan menatap istrinya itu dengan sepenuh cinta.


"Mari kita lupakan masa lalu dan hidup bahagia di waktu yang Tuhan anugerahkan bagi kita. "


"Ya sayang..."


Ezekiel menunduk dan mencium bibir istrinya dengan penuh kasih. Ciuman lembut itu perlahan menjadi ciuman panas yang membuat keduanya seakan enggan mengahiri ciuman itu.


"Sayang....apakah aku sudah boleh...." tanya Ezekiel dengan tatapan penuh permohonan.


"Sayang.....aku sedang datang bulan..."


"Bagaimana mungkin? Bukankah minggu lalu juga kamu bilang sedang datang bulan?"


"Ya, saya nggak tahu." Faith berusaha menahan tawanya namun ia tak bisa. Wajah Ezekiel yang tadinya penuh gairah kini berubah kesal.


"Kamu mempermainkan aku ya?" Ezekiel langsung mengejar Faith yang berlari menjauh. Namun ia tak bisa lolos dari kejaran suaminya. Ezekiel langsung memeluknya dan menariknya ke tempat tidur.


"Nyonya Thomson, persiapkan dirimu sebaik mungkin karena aku sudah menahan ini selama 3 bulan. Aku pikir kamu harus lembur malam ini"


Faith akan bicara namun Ezekiel telah membungkam mulutnya dengan ciuman yang panas.


********


Faith bangun saat hari sudah hampir siang. Ini akibat ulah Ezekiel yang membuatnya tidur jam 4 subuh.


"Bi Lastri, mana yang lain?" tanya Faith sambil membuka kulkas dan mengeluarkan susu.


"Nyonya Elisa sedang keluar bersama Rachel. Tuan Daren ada di ruang kerjanya. Tuan Ezekiel sudah berangkat sejak jam 8 tadi"


Faith melirik jam dinding. sekarang sudah hampir jam 11 siang. Ia tersenyum membayangkan betapa kuatnya stamina Ezekiel. Mereka sama-sama tidur subuh namun suaminya itu masih bisa bangun pagi untuk pergi ke kantor.


"Kamu mau makan, nak?" tanya bi Lastri.


"Iya. Ada nasi?"


"Ada. Akan bibi siapkan. Namun sebelumnya bibi mau antar teh untuk tuan Daren"


"Aku saja, bi." Faith segera meraih nampan yang dipegang bi Lastri lalu segera menuju ke ruangan kerja tuan Daren. Faith masuk begitu saja karena pintu memang tidak ditutup. Ia terkejut melihat tuan Daren yang sedang memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Ia bersandar di kursi kerjanya.


"Opa, ada apa?" tanya Faith panik. Ia meletakan namlan diatas meja dan segera memegang dahi Daren.


"Tolong ambilkan obat yang ada di dalam tas kerja opa" pintah Daren dengan wajah pucat.


Tangan Faith bergetar membuka tas kerja opa dan mencari obat yang dimaksud. Ia menemukan dua botol obat.


"Apakah ini?" tanya Faith sambil mengangkat botol obat itu.


"Ya. Keluarkan satu butir setiap botolnya."


Faith melakukan sesuai petunjuk opa. Ia lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan memberikannya kepada opa. Pria tua itu meneguknya sampai habis setelah memasukan obat itu ke dalam mulutnya.


"Sebentar lagi obatnya akan bereaksi. Faith, tolong bantu opa ke kamar"


Faith pun memapah opa menuju ke kamar. Setelah opa membaringkan tubuhnya, Faith segera membuka sepatunya dan menyelimuti tubuh opa.


"Jangan katakan pada siapapun mengenai keadaan opa. Kau harus menutup mulutmu rapat-rapat"


"Tapi opa..."


Daren menggeleng "Sakitku ini tak mungkin disembuhkan lagi. Aku tak mau membuat oma dan yang lainnya merasa sedih. Aku masih bisa menahannya. Aku bahkan rutin melakukan pengobatan"


Mata Faith berkaca-kaca " Ini rahasia kita. Kau mau berjanji, kan?"


Faith mengangguk walau dengan hati yang berat. Ia menggengam tangan orang tua itu dengan mata berkaca-kaca. Hatinya galau.


Setelah opa tertidur, Faith segera keluar dari kamar. Ia terkejut melihat Oma dan Rachel yang sudah ada.


Kedua perempuan beda generasi itu saling berpandangan melihat Faith keluar dari kamar.


"Apa yang kau lakukan di kamar oma?" tanya Elisa.


"Tadi opa merasa sedikit pusing makanya aku mengantarkan opa ke kamar"


"Daren sakit?" oma langsung berdiri.


"Opa sudah tidur. Sebaiknya oma biarkan opa dulu. Aku pikir opa terlalu capeh" Faith berusaha agar tidak panik.


Elisa duduk kembali. "Semalam dia memang sedang mengerjakan sesuatu. Aku sudah memanggilnya untuk tidur namun dia bilang belum mengantuk. Katanya sayang melihat Ezekiel yang lelah bekerja dan kurang punya waktu untukmu dan si kembar"


"Aku sudah terbiasa, oma" kata Faith sambil tersenyum.


"Rachel, menikalah dengan Joe. Bukankah kuliahmu sudah selesai?" Elisa menatap Rachel.


"Oma, yang melamarkan laki-laki bukan perempuan. Lagi pula belakangan ini kami jarang kencan. Joe terlalu sibuk dengan kakak. Rasanya dia lebih cinta kepada kakakku dari pada aku" Rachel jadi cemberut.


Faith mengangguk "Aku harus bicara dengan Ezekiel."


Rachel tersenyum senang.


Elisa menatap kedua wanita cantik di depannya dengan senyum bahagia. Ia senang karena hubungam Rachel dan Faith begitu dekat.


#makasi sudah baca


#jangan lupa ya like dan komentarnya


#dukung aku juga ya dengan memberikan vote