I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Cemburu



Sarapan pagi di kediaman Thomson kali ini sangat terasa berbeda. Meja makan yang biasa hanya berisi 3 orang, kini sudah menjadi 5.


"Makan yang banyak, sayang." Kata Elisa sambil meletakan telur dadar yang berisi rempah ramuannya di piring Faith.


"Makasi oma." Ucap Faith dengan hati senang menerima perhatian sebesar itu.


"Kamu juga harus minum susu. Ini juga ramuan khusus yang dibuat oleh oma." Kata Daren sambil melirik ke arah istrinya mesra.


"Makasi sayang." Elisa mencium pipi suaminya.


"Sebenarnya yang pengantin baru di sini siapa ya? Aku justru melihat Opa dan Oma yang pandai bersikap mesra." Rachel mulai dengan racunnya untuk membuat suasana jadi panas.


"Rachel...!" Ezekiel melotot sambil menginjak kaki adiknya yang duduk di samping kirinya sementara Faith duduk di samping kanannya.


"Aow.....sakit tahu!" Rachel meringis.


"Sudah....! Sudah.....! Mulai lagi ! Ezekiel, kau juga minum susumu!" Perintah Elisa.


Ezekiel meneguknya.


"Susu dan telur ini adalah ramuan khusus yang menjadi resep keluarga kita turun temurun. Selain untuk menambah gairah juga menyuburkan pasangan yang baru menikah." Kata Daren dan sukses membuat Ezekiel tersedak.


"Opa!" Ezekiel jadi cemberut


"Oma membuat susu khusus ini sejak jam 4 pagi. Jadi nikmatilah. Hanya kamu saja keluarga Thomson yang sudah 5 bulan menikah tapi belum ada hasilnya. Atau...., jangan-jangan kamu nggak tahu ya cara membuat istrimu ini hamil?" Ujar Daren sambil menatap cucunya dengan wajah penuh tanda tanya.


Kali ini Faith yang tersedak.


"Kakak ipar, kamu kenapa?" Rachel langsung berdiri dan berdiri di belakang Faith sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Opa, aku ini lelaki tulen. Tanya saja pada Faith kalau tidak percaya." Ujar Ezekiel tenang. Ia menggengam tangan Faith lalu berkata dengan nada sensual, "Benarkan sayang?"


Faith melotot ke arah Ezekiel sambil tangannya mencubit pinggang Ezekiel. Pria itu hanya terkekeh.


"Nggak usah malu. Supaya oma dan opa tahu bagaimana hebatnya cucu mereka ini." Sambung Ezekiel lagi membuat pipi Faith semakin merah.


"Ayo lanjutkan lagi makannya." Elisa langsung berbicara melihat betapa gugupnya Faith.


"Besok malam kita diundang oleh tuan Takasimura untuk makan malam di sana. Ezekiel, kau harus datang ya. Apalagi tahun depan ada dua kerja sama yang akan kita lakukan dengan perusahaan mereka."


Ucap Daren setelah ia menyelesaikan sarapannya.


"Opa tahu kalau aku tidak akan pernah ke sana. Lagi pula besok aku ada kerja sampai malam." Tolak Ezekiel. Semenjak Kimzy menikah, Ezekiel memang tidak pernah lagi ke sana. Rumah itu akan mengingatkannya pada sosok Kimzy.


"Besokkan hari minggu. Setahu Opa sabtu dan minggu perusahaan tidak buka." Daren sudah mulai kesal.


"Aku malas bertemu dalam perayaan dengan banyak orang. Opa tahu kan?bAku di rumah saja." Tolak Ezekiel. Ia lalu berdiri dan meninggalkan meja makan.


Apakah Ezekiel tak mau pergi karena kenangannya terhadap Kimzy? batin Faith. Ada sesuatu yang menggores hatinya. Terasa sakit. Suatu kenyataan yang menunjukan bahwa Ezekiel memang belum melupakan gadis itu.


Elisa memperhatikan raut wajah Faith yang berubah sedih. "Sayang, tenang saja, Kimzy tidak ada di sana. Semenjak ia menikah dan memiliki anak, ia tak pernah datang lagi ke London. Oh ya kamu sudah tahu tentang Kimzy kan?"


"Aku sudah cerita, oma." jawab Rachel.


"Baguslah. Ayolah, sayang. Jangan cemberut seperti itu, kalau Ezekiel menikahimu itu berarti dia sudah melupakan Kimzy." kata Elisa dengan senyum keibuannya. Faith pun tersenyum walaupun hatinya belum merasa lega karena ia tahu bagaimana pernikahan mereka terjadi.


*************


Ezekiel membaringkan tubuhnya diatas sofa sambil menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.


Sudah hampir 8 tahun berlalu. Seharusnya jejak Kimzy sudah terhapus dengan berlalunya waktu. Kehadiran Faith dengan segala kepolosannya memang membuat Ezekiel merasa hidupnya berubah. Apalagi sekarang ketika mereka akhirnya bisa bercinta , Ezekiel merasa kalau ia tak bisa jauh dari Faith. Keinginannya untuk terus menyatu dengan perempuan itu membuat ia sendiri merasa heran dengan dirinya. Tubuh Faith bagaikan candu yang membuatnya begitu ketagihan untuk terus menyentuhnya.


Apakah aku sudah mulai menyukainya? Ataukah hanya karena dia, wanita yang bisa membuatku melupakan Kimzy saat menyentuhnya? Ezekiel bergumul dengan hatinya sendiri.


Pintu kamar terbuka. Faith masuk sambil membawa sepiring buah-buahan. Ia meletakan buah-buahan itu di atas meja tepat di depan sofa.


"Makanlah. Tadi kamu kan tidak menghabiskan sarapanmu." Ujar Faith.


"Aku tidak lapar." Kata Ezekiel sambil memejamkan matanya.


Faith menarik napas panjang. Ada rasa penasaran yang memenuhi hatinya. Ia akhirnya bertanya.


"Ezekiel, apakah kau tidak mau makan malam di rumah Takasimura karena kerena kau belum bisa melupakan Kimzy?"


Ezekiel membuka matanya. Menatap Faith dengan tatapan tajam. "Apa yang kau tahu tentang Kimzy?"


"Semuanya. Aku meminta Rachel untuk menceritakannya."


"Baguslah kalau kau sudah tahu." Ucap Ezekiel sambil memejamkan matanya. Dasar Rachel suka bergosip. Siapa yang menyuruh dia menceritakan masa laluku? umpat hati Ezekiel jengkel.


"Kalau memang kau belum bisa melupakan dia, lalu apa arti kedekatan kita selama ini? Aku sudah menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku padamu, namun ternyata pikiranmu ada pada orang lain. Aku merasa sakit hati."


Deg!


Hati Ezekiel bagaikan dihantam oleh sebuah batu besar mendengar perkataan Faith. Suara perempuan itu bahkan terdengar seperti menahan tangis.


Ia membuka matanya lagi. Lalu duduk di atas sofa sambil menatap tajam ke arah Faith. Benar saja mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


"Kimzy punya arti khusus dalam hatiku. Dia cinta pertama dalam hidupku.Kau atau gadis manapun tidak bisa menggantikan kedudukannya di hatiku."


"Lalu aku...?" Air mata Faith jatuh. "Mengapa kau mau agar aku jatuh cinta padamu namun ternyata hatimu masih untuk orang lain?"


"Hei....., kau tahu bagaimana pernikahan ini terjadi kan? Kamu hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai istri padaku. Hatiku, adalah milikku sendiri."


Faith mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "I hate you....!" Faith segera berlari meninggalkan kamar Ezekiel dengan hati perih.


Ternyata aku salah menilai sikap manisnya selama ini. Aku benci....!


"Kakak ipar, kamu kenapa?" Rachel yang berpapasan dengan Faith di depan lift terkejut melihat Faith keluar dengan mata merah karena baru selesai menangis.


"No. Kau kelihatan kacau. Apakah kalian bertengkar karena Kimzy?" Tebaknya.


Faith hanya mengangguk. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya namun ia juga tak tega menceritakan keburukan Ezekiel pada Rachel.


"Kita akan memberikan dia pelajaran. Ayo ganti baju!"


"Aku nggak mau kembali ke kamar"


"Kita beli saja baju di luar. Ayo....!" Rachel menarik tangan Faith menuju ke pintu samping yang langsung terhubung dengan garasi mobil.


****************


"Aneh, sudah jam 11 tapi Faith dan Rachel belum ada. Mereka juga melewatkan makan malam. Kemana mereka pergi?" Tanya Elisa khawatir.


Ezekiel yang sedang duduk di dekat perapian sambil memainkan hp nya hanya diam.


"Ezekiel, kamu tenang saja melihat istrimu belum pulang?" Teriak Elisa. Ezekiel sedikit kaget. Omanya sekarang jadi suka marah-marah jika itu menyangkut Faith. Seolah-olah Faith adalah cucunya dan Ezekiel adalah orang lain.


"Dia kan bersama Rachel, oma."


"Oma tadi telepon Rachel katanya mereka tadi memang bersama setelah itu Faith pamit untuk ketemu temannya. Jadi mereka berpisah."


Temannya? Sejak kapan Faith punya teman di London? Ah...perempuan ini selalu merepotkan saja.


Ezekiel membuka aplikasi khusus yang terhubung dengan kamera yang dia pasang di handphone Faith.


Ia terpana melihat suasana ramai dan musik yang diputar keras. Ezekiel tahu Faith ada di salah satu club malam terkenal yang khusus didatangi oleh orang-orang berkelas.


"Aku akan menjemput dia." Ezekiel langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya serta mengenakan mantel tebalnya.


Di salah satu sudut club malam, Faith nampak asyik bercerita dengan seorang cowok bule. Mereka kelihatan sesekali saling berbisik karena musik yang keras.


"Aku suka Indonesia. Aku pernah ke Bali, Jogjakarta dan Manado." Kata cowok itu yang diketahui bernama Ben.


"Aku dari manado."


"Oh ya? Kalau aku datang lagi ke Manado, kamu mau jadi pemanduku kan?"


"Dengan senang hati."


"Kamu cantik, Faith. Aku rasa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama."


Faith terpana "what? Are you crazy?"


"Yes. I'm crazy abaut you. Aku merasa kamu ini sangat special Faith."


Ezekiel yang sejak tadi mendengar percakapan itu dari ponselnya menjadi kesal. Entah mengapa ia tak rela melihat ada laki-laki lain yang memuji Faith.


Di langkahkan kakinya menuju ke meja Faith dan Ben. Ezekiel mengenal Ben. Dia adalah salah satu play boy yang sudah mematahkan ratusan hati gadis-gadis di kota London ini.


"Honey, maaf ya, aku terlambat." Ezekiel langsung duduk, melingkarkan tangannya di bahu Faith lalu mencium bibir Faith dengan gaya sensual.


Ben terkejut. Tadi saat Rachel memperkenalkan mereka, Rachel tak mengatakan kalau gadis ini adalah kekasih kakaknya.


"Hai....Ben....apa kabar?" Tanya Ezekiel setelah mengahiri ciuman panasnya.


"Baik. Kalian....." jemari Ben menunjuk Ezekiel dan Faith secara bergantian.


"Ini istriku, Ben." Ujar Ezekiel sambil mengeratkan pelukannya di bahu Faith.


Ben terpana " Ya, aku mendengar kalau kau sudah menikah. Namun aku tak menyangkah kalau gadis mungil yang cantik ini adalah wanitamu. Aku sungguh minta maaf atas kelancanganku."


Ezekiel hanya tersenyum. Ben adalah pria tampan yang hanya mau dekat dengan perempuan cantik yang berkelas. Kalau ia mau dekat dengan seseorang berarti perempuan itu sangat special di mata Ben.


Dan hati Ezekiel terusik. Faith adalah wanitanya, Ben adalah seorang perayu ulung, Faith bisa saja jatuh dalam rayuannya.


"Aku permisih dulu ya. Sebaiknya kau jangan membiarkan wanita secantik dia sendiri. Sebab aku pastikan kalau bukan hanya aku yang tertarik untuk mendekatinya namun banyak pria di sini yang juga suka dengan wajah Asia yang special ini." Ben berdiri, meraih tangan Faith dan mencium punggung tangannya dengan lembut.


"Selamat malam Mrs. Thomson, senang bisa kenalan denganmu" Lalu ia menunduk hormat dan segera pergi.


"Kamu senang ya berkenalan dengan cowok-cowok di club ini?" Tanya Ezekiel sambil menatap Faith dengan tajam.


Faith tak peduli. Ia meneguk minuman yang ada didepannya sampai habis, menuangkan lagi ke dalam gelasnya dan meminumnya lagi.


"Kamu mau mabuk ya? Ayo pulang...!" Ezekiel segera menarik tangan Faith untuk meninggalkan club malam itu. Tanpa sepengetahuannya, Rachel tersenyum senang melihat adegan itu. Di tatapnya Ben yang berdiri di sampingnya dengan wajah kesal.


"Kamu keterlaluan Rachel. Dia itu kakak iparmu." ujar Ben sambil menghempaskan dirinya ke atas sofa.


"Maaf ya...."


"Tapi dia memang cantik. Aku pikir kalau dia bukan istri Ezekiel, aku pasti akan mengejarnya."


Rachel tertawa. Seharusnya kau tahu kakakku sayang bahwa istrimu itu special dan kau tidak boleh lagi membandingkan dia dengan Kimzy.


Sementara itu di Mansion keluarga Thomson, Faith dan Ezekiel sudah tiba di kamar. Faith duduk di atas sofa lalu melepaskan sepatu hak tingginya.


Ezekiel yang berdiri di hadapan Faith baru menyadari bahwa istrinya itu mengenakan dres mini yang menampakan paha mulusnya, dres tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah.


Astaga..., pria manapun yang melihatnya pasti akan langsung tertarik dengan penampilan Faith.


"Apa lihat-lihat? Tertarik?" Tanya Faith dengan gaya menggoda karena ia memang sudah sedikit mabuk.


"Kau harus di hukum karena sudah berani berpenampilan seperti ini!" Ezekiel langsung mendekat dan mengangkat tubuh istrinya menuju ke ranjang. Faith hanya tersenyum dengan gayanya yang menggoda.


#Makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like dan komentarnya ya...