
Makan malam belum selesai dibuat saat pintu apartemen terbuka. Ezekiel masuk dengan senyum di wajah tampannya itu.
Faith melirik jam dinding yang menunjukan pukul 5 sore. Ezekiel menepati janjinya. Selesai pertemuan dia langsung datang.
"Hai...., ada yang bisa aku bantu?" Tanya Ezekiel sambil membuka dasinya, kemudian jasnya dan meletakan di atas sofa. Ia membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Kemeja tangan panjangnya sudah digulung sampai siku.
"Banyak yang harus aku kerjakan. Soalnya aku baru saja mulai 20 menit yang lalu. Aku pikir, kamu datangnya malam." Ucap Faith sambil mencuci sayuran yang ada.
"Kau belanjanya di toko Asia kan?"
" Ya. Tokonya agak jauh. Butuh waktu hampir satu jam ke sana. Namun aku senang karena aku bisa menemukan tempe dan tahu."
Ezekiel memeluk Faith dari belakang. Dagunya beranda dibahu gadis itu. Faith menghentikan aktifitasnya mencuci sayur.
"Kenapa berhenti?" Tanya Ezekiel
"Bagaimana aku bisa bekerja jika kamu memelukku seperti ini"
Ezekiel melonggarkan pelukannya dan membalikan tubuh Faith agar berhadapan dengannya. Di sentuhnya wajah mulus itu dengan tangannya.
"I am sorry." Ucapnya dengan wajah menyesal.
"What for?"
"Untuk yang kau lihat di kantorku tadi. Itu memang kebiasaan Kimzy jika bicara padaku maka tangannya akan memelukku"
Faith memalingkan wajahnya"Aku sudah melupakannya"
Ezekiel memegang dagu Faith agar gadis itu kembali menatapnya.
"Ezekiel, aku mau masak." Faith pura-pura merajuk pada hal ia sementara menenangkan debaran jantungnya karena tatapan Ezekiel.
"Baiklah. Aku akan membantumu memasak. Apa yang bisa ku lakukan?" tanya Ezekiel
"Kamu istirahat saja. Aku bisa sendiri."
"Aku mau membantumu." Ezekiel memaksa.
"Baiklah. Bersihkan bawang merah dan bawang putihnya. Setelah itu diiris tipis. Kamu bisa?"
Ezekiel tersenyum mengejek. Baginya itu pekerjaan mudah. Kebiasaannya hidup jauh dari rumah membuat ia bisa memasak dengan baik.
Aktifitas memasak jadi lebih cepat karena dikerjakan berdua. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan kalau mereka pasangan yang berbahagia. Tapi jauh dilubuk hati Faith, ia tahu Ezekiel melakukan ini semua karena ingin menunjukan sikap baiknya saja. Hati Ezekiel masih untuk Kimzy.
Sedangkan Ezekiel juga tahu, Faith sedang berusaha menghibur hatinya sendiri. ia tahu faith terluka namun Ezekiel mengakui kedewasaan sikap Faith yang sangat pandai menutupi perasaan hatinya yang sebenarnya.
Ketika makanan selesai dimasak, keduanya makan bersama. Faith sempat dibuatnya tertawa karena Ezekiel mencoba makan tahu dengan sambal terasi yang Faith buat. Wajah bulenya sampai menjadi merah dan mengeluarkan air mata.
********
Faith keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya. Di lihatnya Ezekiel baru saja selesai menelepon.
"Oma yang menelepon." Kata Ezekiel tanpa diminta.
"Oma bilang apa?"
"oma menanyakan apakah kita akan pulang atau tidak. saat aku bilang tidak, oma langsung marah."
"Kalau begitu kita pulang saja."
"Tidak. Aku ingin berdua denganmu di sini tanpa ada yang mengganggu. kita akan pulang besok malam.
Oma mau malam natal kita semua ada di rumah" Ezekiel yang sudah lebih dulu mandi dari Faith menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Ezekiel, semua bajuku sudah kubawa ke manssion. Aku harus pake baju apa? "
" Aku membawakan baju untukmu." Kata Ezekiel sambil menunjuk sebuah paper bag yang ada di atas meja.
Faith menbukanya "Ezekiel, di sini hanya ada lingre. Mengapa kamu tidak membawakan mantel atau celana panjang yang hangat? " Wajah Faith langsung merona.
"Mengapa memangnya? suhu di kamar ini kan hangat jadi kamu nggak akan kedinginan menggunakan itu" Ezekiel menatap Faith dengan senyum yang menggoda.
"Aku pakai bajumu saja" Faith langsung menuju ke lemari pakaian, sebelum ia membuka pintunya, Ezekiel sudah menahan tangannya.
"Pakai gaun tidur itu. Aku sudah membelinya dengan senang hati"
"Tapi memakai gaun tidur itu rasanya seperti tidak memakai baju." Kata Faith sedikit malu.
Ezekiel terkekeh. "Mengapa harus malu? Aku kan sudah selalu melihatmu tanpa menggunakan apapun. Saat ini aku ingin kau memakainya. Dan goda aku seperti yang kau lakukan tadi malam"
"Kamu...!" Faith memukul bahu Ezekiel dengan gemasnya.
"Aow.....sakit....."
"Rasakan!" Faith langsung berlari menjauh namun tali pengikat jubah mandinya sudah ditahan oleh Ezekiel membuat Faith berteriak kaget saat menyadari kalau jubah mandi itu sudah setengah terbuka.
"Aku tidak akan melepaskanmu." Ujar Ezekiel dan langsung memeluk Faith erat tak peduli walau istrinya itu meronta-ronta minta dilepaskan.
*****************
Wajah cantik itu sudah terlelap. Terdengar dengkuran halus menandakan bahwa ia sudah semakin dalam masuk ke alam mimpi.
Ezekiel memperbaiki letak selimut tebal yang menutupi tubuh ***** Faith.
Gadis ini yang awalnya dinikahinya hanya untuk bersenang-senang saja, ternyata mampu menyembuhkan penyakit yang selama ini selalu membuatnya dianggap gay oleh banyak orang.
Keluguaannya, tingkahnya yang terkadang menyebalkan, justru membuat Ezekiel sering memikirkannya, ingin terus mendekatinya, ingin terus menyatuh dalam gairah yang seakan tidak pernah padam. Hanya dengan Faith, Ezekiel merasakan ini.
Ia bahkan sempat berpikir mulai jatuh cinta padanya.
Tapi kehadiran Kimzy sangat mengusik hatinya. Kimzy datang dengan berita dirinya yang tak bahagia. Inilah yang membuat Ezekiel tak bisa menerimanya.
Dulu, Ezekiel pernah berjanji, kalau Kimzy tak bahagia, maka Ezekiel akan membuatnya bahagia.
Ezekiel bahkan pernah berjanji akan setia menungguh Kimzy. Dan kini, setelah Ezekiel ingin menghapus bayangan Kimzy seluruhnya, wanita itu kembali lagi.
"Aku tak bisa tidur. Aku ingin bertemu denganmu. Kiel, temuilah aku di cafe tempat kita dulu biasa bertemu"
Sekalipun ia tak menuliskan dari siapa pesan itu, namun ia tahu kalau Kimzy yang menuliskannya.
Ini sudah hampir tengah malam. Bagaimana kalau Faith bangun dan mencariku? Ezekiel jadi bingung.
Ia akhirnya memutuskan untuk pergi setelah Kimzy meneleponnya untuk yang kedua kalinya.
Cafe itu letaknya tak jauh dari apartemen Ezekiel sehingga pria itu memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Kimzy sudah ada di sana begitu ia tiba.
"Maaf ya mengganggu saat begini. Dimana istri mu?"
"Dia sudah tidur." Jawab Ezekiel datar.
wajah Kimzy kelihatan suram. Tak ada lagi tatapan mata yang bersinar seperti dulu
"Mengapa kau bersedih?" tanya Ezekiel melihat Kimzy yang diam.
Kimzy menatap Ezekiel. Inilah yang paling dia suka. Ezekiel selalu tahu isi hatinya tanpa ia harus mengatakannya.
"Anakku sakit. Dia kena kanker darah. Sudah stadium 4." Kimzy tertunduk. Air matanya langsung mengalir. Tangannya meraih tangan Ezekiel yang diletakan di atas meja.
"Itulah sebabnya kau bergabung dengan tante Annabela di yayasan kanker?" Tanya Ezekiel sambil membelai punggung tangan Kimzy. Hatinya sedih melihat wanita ini menangis.
Kimzy mengangguk. "Di yayasan ini, dia dapat bermain dengan teman-temannya sesama penderita"
"Dan mantan suamimu?"
Kimzy tersenyum kecut " Dia tidak peduli lagi denganku dan anak ini." Kimzy meremas tangan Ezekiel lebih erat " Aku sedih, Kiel. Semenjak mamaku meninggal dan papaku menikah lagi, aku tak punya tempat untuk mengadu. Bebanku terasa sangat berat. Lalu aku ingat kamu. Dulu, kamu janji untuk selalu menungguku. Aku datang dengan harapan itu. Tapi ternyata kamu sudah menikah dengan orang lain."
"Maafkan, aku." Ucap Ezekiel masih dengan nada sedih.
"Dua tahun pisah dengan Zasuke membuat aku mengerti bahwa sebenarnya aku jatuh cinta padamu. Aku sungguh-sungguh cinta padamu." Kata Kimzy dengan suara yang bergetar. Ia menatap Ezekiel dengan mata yang basah.
Pernyataan Kimzy membuatnya terpana. Sebenarnya ini yang sangat diharapkannya sejak usianya 15 tahun. Kimzy akan mencintainya. Tapi sekarang ada Faith di sampingnya.
"Aku tahu kalau aku egois. Tapi hanya kamu tempat aku bersandar sekarang. Aku hancur melihat anakku sakit. Aku butuh kamu, Kiel."
Ezekiel menghapus air mata Kimzy dengan lembut. "Aku selalu ada untukmu, Kimzy. Kau tahu, aku tak bisa bahagia melihat kau tak bahagia."
Kimzy tersenyum. "Terima kasih, Kiel. Terima kasih karena mau bersamaku."
Tak jauh dari sana, ada sepasang mata yang menatap Ezekiel dan Kimzy dengan hati hancur.
"Kau.....menyakitiku, Ezekiel." Gumannya pelan." Kita baru saja menikmati keintiman yang dalam. Aku bahkan terlena dengan kelembutanmu. Aku pikir kalau kau mencintaiku, ternyata kau hanya menginginkan tubuhku. I hate you, bule! " Lalu ia membalikan badannya, berlari secepat mungkin sampai akhirnya...bruk.....
" I am sorry !" Faith terkejut karena ia menabrak seseorang.
Orang yang ditabraknya itu berdiri. "My lady !" Ben langsung tersenyum melihat Faith yang berdiri di hadapannya.
"Hi Ben."
"Ada apa kau malam-malam di sini? Hei....kau keluar rumah hanya menggunakan mantel ini, tanpa topi dan kaos tangan. Lihat saja bibirmu menjadi biru. Ayo ikut aku. Kau bisa mati kedinginan, baby!" Ben langsung menarik tangan Faith. Masuk ke kompleks apartemen yang sama dengan apartemen Ezekiel namun kamarnya berada di lantai 10. Ia lalu menuntun Faith duduk di atas sofa, mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh gadis itu.
Ben duduk di atas meja, meraih tangan Faith, mendekatkan ke mulutnya, dihembuskannya hawa panas dari mulutnya lalu ia menggosok-gosokannya diantara kedua tangannya.
Tubuh Faith yang gemetar perlahan mulai terasa hangat. Setelah itu, Ben mengambil kaos tangan dan memakaikannya pada Faith, mengambil sebuah topi rajutan dan memakaikannya juga dikepala Faith sehingga menutupi telinga gadis itu.
"Sebentar ya, aku buatkan coklat hangat untukmu." Ben beranjak menuju ke dapur dan menghangatkan air lalu tak lama kemudian ia kembali dengan coklat hangat yang tercium harum di penciuman Faith.
"Minumlah ini."
Faith menurut. Ia menikmati minuman itu dengan cepat. Perutnya terasa hangat dan rasa dinginnya perlahan hilang karena Ben menaikan suhu diruang tamunya ini menjadi lebih panas.
"Terima kasih, Ben." Ucap Faith sambil menyerahkan gelas yang sudah kosong itu.
Ben menerimanya dan meletakannya di atas meja. Ia duduk di samping Faith. " Kau berjalan ditengah suhu beku ini tanpa tahu akibat yang bisa kau terima? Di mana Ezekiel? Mengapa dia membiarkan kamu sendiri?"
Faith menarik napas panjang. Ia memilih tak menjawab pertanyaan Ben. Hatinya masih galau.
"Aku tahu kehadiran Kimzy pasti membuat kau tidak nyaman, kan?" Pertanyaan Ben membuat Faith menatapnya.
"Semua orang yang kenal Ezekiel tahu bagaimana ia sangat mengejar Kimzy. Tapi itu dulu. Aku pun berpikir kalau Ezekiel tidak akan pernah menikah seumur hidupnya. Namun ternyata kau berhasil membuatnya menikahimu. Kau pasti sangat luar biasa di mata Ezekiel."
"Aku dan Ezekiel hanya bertengkar masalah kecil saja. Ini bukan tentang Kimzy. Aku bersikap kekanakan saja dengan keluar malam-malam seperti ini." Faith memilih berbohong.
Ben tersenyum mendengar jawaban Faith. Ingin rasanya ia memeluk gadis ini. Namun otaknya segera menyadarkan dia.
Ingat Ben, gadis ini milik Ezekiel. Kau akan cari mati saja jika menggodanya.
"Ben, aku mau pulang. Terima kasih ya sudah menolongku" Faith berdiri.
"Aku akan mengantarmu sampai ke bawa. Kau tahu kan untuk bisa ke lantai atas, kau harus masuk dari pintu khusus yang letaknya terpisah dari lift yang ada di apartemen ini. Ezekiel memang sangat menjaga privasinya."
Faith tak menolak. Keduanya langsung turun ke bawa. Tepat di saat itu, Ezekiel baru saja kembali. Emosinya langsung memuncak melihat Ben bersama Faith.
"Makasi ya, Ben. Ayo, honey." Faith langsung menarik tangan Ezekiel masuk ke dalam lift sebelum pria itu berbicara apa-apa. Saat pintu lift tertutup, Faith melepaskan pegangan tangannya.
"Katakan padaku mengapa kamu bisa bersama, Ben?" Tanya Ezekiel sambil mencengkeram bahu Faith.
Faith menjauh dari Ezekiel, sambil memegang bahunya yang terasa sakit.
"Jika kamu bisa bersama, Kimzy. Mengapa aku tidak bisa bersama, Ben?" Ucap Faith dengan suara yang datar tapi menusuk hati Ezekiel begitu dalam.
# makasi sudah baca part ini
#like ya...
#komentarnya juga ya....soalnya komentar kalian bisa jadi inspirasi bagiku untuk mengembangkan cerita ini