I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Cemburunya Ezekiel



Hp Faith berbunyi berulang kali membuatnya yang masih mengantuk harus bangun. Ia melihat kalau Ezekiel sudah tak ada. Ia pun berdiri, mengambil piyamanya yang jatuh dilantai lalu memakainya. Ia mengambil hp nya dan melihat ada panggilan dari Ben.


"Hallo...."


"My lady, kenapa belum turun juga? Ini sudah hampir jam 9."


Faith terkejut. ia lupa kalau hari ini ada janji dengan Ben.


"Baik, Ben Tungguh aku 20 menit ya." Faith langsung menutip pembicaraannya dengan Ben dan segera menuju ke kamar mandi.


Saat ia akan berpakaian dan menghadap ke kaca, ia terkejut melihat di lehernya ada satu kissmark yang dibuat Ezekiel semalam.


Ya ampun....aku harus menutupnya dengan apa? Faith mengambil shall Ezekiel dan melingkarkannya di leher setelah itu ia turun ke bawa.


"Faith, kamu mau kemana?" Tanya Elisa


"Saya ada janji pemotretan dengan Ben, oma. Saya sudah agak terlambat. Saya pergi dulu ya...."


Elisa menahan tangan Faith. " Anakku, kamu baik-baik saja kan? Kenapa pake shall di musim panas ini?"


Wajah Faith langsung bersemu merah. "Eh.....Ben maunya di foto seperti ini, oma. Eh....aku pergi dulu ya...." Pamit Faith dan segera berlari keluar rumah.


Ben yang sudah menunggu dengan mobilnya tertawa melihat dandanan Faith.


"Kamu nggak kepanasan dengan shal itu?"


"Ben.....aku...." Faith bingung menjelaskannya.


"Ayo pergi, nanti tukang riasku yang akan membereskannya." Ben segera membuka pintu mobil bagi Faith. Ia tahu apa yang gadis itu tutupi.


Pemotretan dilakukan dibeberapa tempat dengan berbagai suasana. Ada yang di taman, pinggir kota dan ditengah keramaian. Faith tak perlu berekspresi seperti foto model lainnya. Ia cukup duduk, ada saatnya membaca, berjalan. Semua yang diambil Ben adalah gaya natural dan baju yang Faith kenakanpun sangat sederhana.


"Kau capek?" Tanya Ben sambil menyerahkan sebotok air mineral. Faith meneguknya sampai setengah. Ia memang agak haus.


"Aku nggak capek. Justru aku kasihan sama kru mu yang angkat barang, pindah dari satu tempat ke tempat lain."


"Itu memang sudah pekerjaan mereka. Aku juga membayar mereka dengan pantas. "Ben berdiri lalu menggerakan badannya seperti sedang melakukan gerakan pemanasan untuk olahraga.


"Kita pulang, yuk. Nanti aku kabari lagi jika memang masih memerlukan fotomu." Ben segera melangkah ke arah mobil. Seperti biasa, ia membukakan pintu untuk Faith sebelum ia duduk dibalik kemudi. Mobil Lamborjini itu meninggalkan taman kota.


Sementara itu di ruangan direktur The Thomson Company, Ezekiel nampak sedang memijat kepalanya.


Joe masuk sambil membawakan obat penghilang rasa sakit kepala.


"Aku tinggalkan tuan sendiri supaya bisa istirahat." Joe berdiri dan hendak membiarkan Ezekiel tidur di sofa namun pertanyaan bosnya itu membuat Joe kembali dan duduk di dekat Ezekiel.


"Joe, apa yang dilakukan istriku hari ini?"


Joe menarik napas panjang ia tahu Ezekiel akan tambah sakit kepala mendengarnya. Dari laporan mata-mata yang ditugaskan mengikuti Faith melaporkan kedekatan Faith dengan Ben.


"Hari ini Nona muda hampir seharian bersama Ben


Sepertinya nona muda menerima kontrak kerja untuk menjadi model bagi foto-fotonya Ben."


"Apa?" Ezekiel yang sedang berbaring tiba-tiba saja bangun. Wajahnya langsung berubah merah pertanda bahwa ia marah. "Dia jadi model untuk Ben? Aku kan sudah melarangnya untuk dekat dengan Ben.Mengapa dia melawan?"


"Tuan Daren dan nyonya Elisa juga menyetujuinya. Dari salah satu pelayan di rumah, aku mendengar kalau mereka sekarang sedang minum kopi bersama."


Sialan, aku menderita sakit kepala dan mereka asyik minum kopi di rumah? batin Ezekiel.


"Joe, antar aku pulang. Batalkan janji di sore ini." Ezekiel langsung berdiri dan melangkah. Joe tersenyum. Kau cemburu tuan, gumannya senang.


Begitu tiba di mansion, darah Ezekiel mendidih melihat di ruang tamu ada Opa, oma, Rachel dan yang duduk saling berdekatan Faith dan Ben.


Ben memang biasa datang ke rumah ini karena ia berteman dekat dengan Rachel. Tapi melihat Faith dan Ben duduk berdekatan seolah mereka adalah pasangan, sangat menyakitkan bagi Ezekiel.


"Ezekiel, kau pulang cepat?" Sambut Elisa sambil berdiri dan menyambut cucunya.


"Ada apa denganmu?"


"Kepalaku sakit, oma. Aku bahkan merasa sedikit pusing." Ucap Ezekiel sambil memijat kepalanya.


"Ini karena kamu pulang tadi malam dalam keadaan setengah mabuk kan? Bi Lastri yang membuka pintu untukmu mengatakan padaku tadi pagi." Elisa memegang dahi cucunya.


"Badanmu agak hangat." Ia menatap Faith. "Faith, ayo temani Ezekiel ke kamar. Oma akan membuat sup untuk meredahkan sakit kepalanya."


Faith sedikit jengkel. Tapi ia tak mungkin berkata tidak pada oma.


"Ben, aku tinggal dulu ya."


"It's ok. Aku juga sudah akan pergi. Makasi untuk kopinya yang sangat enak ini. Faith nanti aku telepon untuk kerja kita besok ya?" Pamit Ben lalu segera pergi.


Ezekiel melangkah menuju ke lift dan Faith menyusulnya.


Joe yang sejak tadi diam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sekretaris Joe, apakah kakakku beneran sakit?" Tanya Rachel.


"Iya. Itu terjadi karena ia mabuk tadi malam. Namun yang lebih sakit adalah hatinya. Aku pikir dia cemburu."


Rachel terkekeh. Daren yang mendengarnya pun tersenyum simpul.


Ezekiel sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sementara Faith asyik dengan hp nya sambil duduk di atas sofa.


15 menit pun berlalu....


Mengapa perempuan itu tak peduli padaku? dongkol Ezekiel dalam hati.


"Faith, bolehkah kau memijat kepalaku?" Rengek Ezekiel.


Faith mendekat, duduk di pinggir tempat tidur dan mulai memijat kepala Ezekiel.


"Apa yang kau lakukan bersama, Ben?" Tanya Ezekiel sambil memejamkan matanya. Ia merasa enak dengan pijatan Faith.


"Bekerja." Jawab Faith singkat.


"Pekerjaan apa?"


"Menjadi model untuk fotonya."


"Memangnya kau seorang foto model?" Ezekiel langsung membuka matanya, ia duduk dan menahan tangan Faith.


"Lepaskan, Ezekiel. Ini sakit." Faith berusaha melepaskan tangannya tapi pegangan Ezekiel semakin erat.


"Foto dengan tema apa?" Tanya Ezekiel sambil menatap Faith tajam.


"Foto bugil!" Jawab Faith asal dan sukses membuat pegangan tangan Ezekiel terlepas. Lelaki itu kini melingkar tangannya di pinggang Faith dan menarik istrinya untuk dekat denganNya. Faith akhirnya terbaring. Ezekiel langsung mengunci pergerakan Faith dengan kedua tangannya menahan tangan Faith ditahan di atas kepala Faith sementara ia berada di atas tubuh Faith sambil bertumpuh pada kedua lututnya.


"Apakah kamu berani membuka bajumu di depan pria lain?" tanya Ezekiel sambil mendekatkan wajah mereka.


"Apa salahnya jika, ya? Sebentar lagi aku kan tidak akan menjadi nyonya Thomson." Faith dengan berani menantang Ezekiel.


"Kau milikku, selamanya milikku. Aku tidak akan pernah rela menyerahkannya pada pria lain. Dan jangan pernah mengatakan tentang perceraian lagi." Ezekiel mencium bibir Faith.


"Kau milikku!" Ucapnya parau sambil mencium Faith sekali lagi.


"Ezekiel, lepaskan aku." Mohon Faith saat ciuman Ezekiel sudah berpindah ke lehernya.


Ezekiel tak menanggapi. Tangannya bahkan sudah membuka kancing kemeja Faith.


"Ezekiel, aku mohon...."


Bibirnya kini sudah semakin turun ke bawa. Faith merasakan tubuhnya panas dingin. Ia berusaha menolak namun tubuhnya merespon ciuman Ezekiel.


"Ezekiel coba makan sup....!" Elisa yang masuk sambil membawa nampan makanan langsung sock melihat adegan itu. Hampir saja sup itu lepas dari tangannya.


"Kalian ini.....kenapa pintunya tak di kunci?" teriak Elisa sambil melotot.


Faith mengambil kesempatan itu untuk mendorong Ezekiel menjauhi dirinya. Ia bangun, merapikan bajunya yang berantakan.


"Aku ke bawa dulu. Aku janji mau bantu bi Lastri menyiapkan makan malam" Faith langsung berlari keluar dengan wajah merah padam.


"Oma......!" Ezekiel mendengus kesal lalu duduk di atas tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mana oma tahu kalau kalian mau bermesraan.Seharusnya pintu kamar ditutup." Elisa meletakan nampan makanan itu di atas meja.


"Bagaimana kepalamu?"


"Jadi tambah sakit sekarang." Ezekiel cemberut.


Elisa justru menyentil kening cucunya dengan gemas.


"Oma, ini sakit" Ezekiel menggosok alisnya dengan tangan.


"Ayo makan. Setelah itu tidur supaya sebentar malam kau punya tenaga yang kuat untuk melanjutkan yang tadi." Goda Elisa sambil mulai menyuapi cucunya dengan kehangatan seorang ibu.


Ezekiel menerima suapan itu dengan senang. Sup buatan omanya memang sangat enak. Dan selalu membuat badan terasa enak.


"Tak terasa kamu sudah sebesar ini. Oma masih ingat saat kecil dan kamu selalu melahap sup oma ini sampai beberapa kali tambah."


"Jangan ingatkan tentang tubuh gembulku itu, oma"


Elisa tertawa kecil " Ah....aku memang sudah tua. Mungkin tak lama lagi aku akan meninggal dan bertemu dengan mamamu."


"Oma, jangan katakan itu. Oma akan umur panjang dan melihat anak-anakku." Ezekiel menyandarkan kepalanya dibahu Elisa.


"Eze......" Elisa membelai rambut cucunya sambil menyebut nama kecil Ezekiel.


"Maaf kalau aku tak bisa menerima Hataru. Aku sudah mencoba namun tak bisa. Aku terlanjur menyayangi Faith. Dan aku takut, jika aku menyayangi Hataru, Faith akan meninggalkan kita"


"Tidak apa-apa oma. Aku mengerti." Ezekiel memejamkan matanya.


Rachel yang melihat itu semua dari pintu tersenyum. Ia rindu rumah Thomson ini akan kembali damai.


#terima kasih sudah membaca part ini


#maaf ya nggak bisa crazy up karena masih liburan


#jangan lupa like, koment dan vote sebanyak-banyak ya......