I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Tantangan



HAPPY NEW YEAR.....


HAPPY READING..


"Tuan, rapat sudah akan dimulai." Perkataan Joe menahan langkah Ezekiel yang akan menuju ke tempat Faith dan Ben.


"Joe, tundahlah dulu. Aku mau pergi ke ke sana. Aku marah melihat Faith dengan seenaknya saja menggandeng tangan Ben."


"Tapi rapat ini sudah 3 kali tertunda karena tuan ada di Jepang. Ayolah, nanti setelah rapat, tuan bisa menemui mereka."


Agak terpaksa, akhirnya Ezekiel melangkah masuk ke dalam gedung.


Sepanjang rapat Ezekiel kelihatan tak konsentrasi. Ia bahkan marah-marah tanpa alasan mendengar laporan pertanggungjawaban dari masing-masing devisi.


Joe yang melihat situasi yang kurang menyenangkan itu segera mengambil alih rapat.


Saat sudah berada didalam ruangannya, Ezekiel segera menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya dan melonggarkan dasinya. Wajahnya kelihatan kusut.


"Minumlah dulu!" Joe menyerahkan segelas air mineral.


Ezekiel meneguknya sampai habis. "Apakah Faith masih ada di sana?"


"Nona Faith sudah pergi 1 jam yang lalu dijemput oleh Rachel. Ben masih ada di sana."


Ezekiel berdiri. "Aku akan menemuinya." Ia segera melangkah menuju ke lokasi pembangunan studio foto milik Ben.


Begitu ia sampai, dilihatnya Ben baru saja akan masuk ke dalam mobilnya.


"Ben...!" Panggil Ezekiel


Ben menoleh dengan kaget. "Eh, Ezekiel kamu sudah kembali?"


"Kamu berharap aku masih di Jepang sehingga bisa terus berduaan dengan istriku?" Tanya Ezekiel dengan nada sinis.


Ben tersenyum tipis. " kamu bilang kalau Faith adalah istrimu? Apakah kamu adalah suami yang baik baginya? Jangan munafik !"


"Apa maksudmu?"


"Kimzy cerita padaku kalau kamu berjanji untuk terus menemaninya setelah kematian Hataru kan? Jadi mulai hari ini kamu harus tahu kalau aku akan mengerjar Faith. Aku akan mendapatkan cintanya. Aku memintamu untuk menceraikan dia." kata Ben tegas.


Ezekiel terpana. Dadanya terasa sesak. Emosinya tersulut. "Jangan mimpi kamu, Ben. Kamu itu play boy yang sangat suka mempermainkan wanita. Faith tak mungkin jatuh cinta padamu karena dia mencintaiku."


Ben mengangguk. " Ya, sekarang dia memang mencintaimu tapi dengan keahlianku menaklukan hati wanita, aku pasti bisa mendapatkannya. Aku ingin serius dengan satu wanita. Dan wanita yang bisa mengubah duniaku adalah Faith."


"******** kamu! Kamu mau menusuk aku dari belakang?" Ezekiel mencengkeram kemeja Ben. Ia siap menghadiahkan satu pukulan ke wajah Ben, namun Joe yang memang selalu ada di dekatnya dengan cepat menarik Ezekiel.


"Sudahlah tuan, lihatlah kalian jadi tontonan para pekerja. Nanti ada skandal." Bisik Joe membuat Ezekiel memandang sekeliling dan melihat beberapa pekerja yang memang sedang memperhatikan mereka.


Ben merapihkan kembali kemejanya lalu membuka pintu mobilnya. Sebelum ia masuk, ia menatap Ezekiel dan berkata," ceraikan Faith. Biarkan dia bahagia dengan orang lain. Dia tak pantas kau sakiti terus. Dan aku ingin membahagiakannya." Lalu Ben segera pergi meninggalkan Ezekiel yang masih ditahan oleh Joe.


"Lepaskan aku, Joe! Siapkan mobil karena aku akan ke mansion." Perintah Ezekiel dengan wajah penuh emosi.


Sesampainya di mansion, Ezekiel langsung masuk ke dalam. Elisa dan Rachel yang sedang duduk di ruang tamu terkejut melihat Ezekiel yang sudah kembali.


"Eze...kau sudah datang?" Tanya Elisa


"Di mana Faith?" Tanya Ezekiel sedikit berteriak.


"Ada apa ini? Mengapa kamu kelihatan marah?" Elisa kembali bertanya.


Faith yang baru saja dari dapur, kaget melihat Ezekiel.


"Kamu sudah kembali?"


"Ya. kamu berharap aku masih di Jepang supaya kamu boleh berduaan dengan play boy bernama Ben kan?" Ezekiel mencengkram tangan Faith.


"Ezekiel lepaskan, ini sakit" Faith berusaha melepaskan diri namun ia tak bisa.


"Sudah ku katakan kalau aku akan membunuh semua pria yang mendekatimu!" Tangan Ezekiel lebih kuat lagi menekan tangan Faith yang ada di genggamannya.


"Lepaskan aku!" Faith pun menjadi emosi.


"Mengapa kamu ingin lepas dariku? Supaya bisa bersama Ben?"


"Iya. Aku membencimu..!" Teriak Faith sambil berusaha melepaskan dirinya.


Ezekiel menjadi semakin kalap. Tanpa sadar ia melepaskan tangan Faith dan itu justru membuat Faith jatuh.


"Ezekiel, apa yang kamu lakukan? Faith sedang hamil? " Teriak Elisa histeris lalu segera membantu Faith berdiri.


Ezekiel sangat terkejut. "Hamil? Bagaimana bisa dia hamil?"


Tangan Elisa langsung menampar Ezekiel. Semua pun kaget karena Elisa selama ini tak pernah memukul Ezekiel.


Rachel langsung memeluk Elisa. "Kamu sangat keterlaluan, kak."


"Aku mau bercerai dengan Ezekiel. " Kata Faith tegas dan kembali semua yang ada di sana terkejut.


"Faith, jangan ucapkan kata perceraian. Itu dilarang di keluarga ini." Kata Elisa.


"Aku mendukungmu, Faith. Kau pantas bercerai dengan laki-laki yang tidak menghargai cintamu." Daren yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya tiba-tiba bicara.


"Opa?" Ezekiel terkejut.


"Aku kan sudah bilang kalau kalian bisa bercerai jika Faith sudah memberikan cicit untuk oma. Sekarang Faith sudah hamil. sayangnya, kamu meragukan kehamilannya, jadi cerai saja sekalipun Faith belum melahirkan." Kata Daren tegas.


"Ah...!" Ezekiel berteriak keras sambil mengacak rambutnya. Ia langsung keluar diikuti oleh Joe.


"Sayang......kamu baik-baik saja?" Elisa mendekati Faith.


" Aku mau ke kamar dulu, oma. Aku ingin sendiri." Faith melangkah menuju ke lift. Perasaannya sakit. Ezekiel mempertanyakan tentang kehamilannya? Apakah dia lupa dengan semua yang telah kami lalui? Ataukah dia meragukan kalau ini anaknya? Hati Faith bertanya.


Sesampai di kamar, ia mengelus perutnya " Hai anak-anak bunda, kalian baik-baik saja kan? Kalian tenang saja ya....bunda akan menjaga kalian dengan baik sekalipun tanpa ayah kalian."


Sementara itu di salah satu club malam, nampak Ezekiel duduk disalah satu sudut dengan perasaan galau. Ia mengabaikan panggilan Kimzy yang sudah lebih dari 20x memanggilnya.


"Tuan, ayo kita pulang" Ajak Joe


"Apakah tuan meragukan kalau itu bukan anak tuan?"


"Entahlah, Joe. Bukankah baru 3 minggu setelah kematian Hataru? Pagi itu kami memang making love dengan penuh gairah."


"Di malam ulang tahun nona Faith, bukankah esok paginya tuan datang dengan wajah ceriah karena kalian menghabiskan malam bersama?"


Ezekiel diam sejenak.


"Aku yakin nona tidak akan mudah jatuh ke dalam pelukan Ben karena dia bukan perempuan gampangan. Butuh 5 bulan kan baginya untuk bisa menyerahkan tubuhnya setelah pernikahan kalian?"


Ezekiel menarik napas panjang. "Aku tahu itu pasti anakku. Tapi mengapa mereka merahasiakannya?"


"Sebaiknya tuan tanyakan itu pada nona Faith dan keluarga tuan."


Ezekiel kembali meneguk minumannya sampai habis lalu meminta Joe untuk memesan 1 botol lagi.


Di apartemen Ezekiel, Kimzy nampak cemas sambil memegang hp nya. Ezekiel sama sekali tak membaca pesannya bahkan tak mengangkat teleponnya.


"Kemana dia pergi? Apakah dia bersama Faith?" Tanya Kimzy dengan rasa cemburu yang dalam.


Pintu terbuka, nampak Joe sedang memapah Ezekiel yang sudah mabuk. Kimzy segera membantu Joe untuk membawa Ezekiel ke kamarnya. Ia membuka sepatu dan kemeja Ezekiel.


"Pergilah, Joe. Biar aku yang mengurusnya." kata Kimzy.


Setekah joe pergi, Kimzy mengambil handuk dan air hangat untuk membersihkan wajah dan tubuh Ezekiel yang ada bekas muntahnya.


"Faith...aku mencintaimu....aku sangat mencintaimu..Jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu." Ezekiel meracau. Ia berulang kali mengucapkan kata itu.


Kimzy berusaha menahan air matanya. Ia terus membersihkan tubuh Ezekiel dengan lembut.


***********


Jam 11 siang, Ezekiel terbangun dengan kepala yang sakit. Ia mencoba mengingat kejadian kemarin. Ingatannya kembali pada saat percakapannya dengan Ben.


Benarkah Ben ingin mengejar Faith? Tidak! Aku tak akan mengijinkannya. Faith adalah milikku dan dia sementara mengandung anakku.


Ya Tuhan, sungguh aku sangat keterlaluan bersikap kasar padanya. Anakku....aku akan mempunyai anak lagi setelah kematian Hataru.


Ezekiel segera bangun dan menuju ke kamar mandi. Setelah ganti baju, ia pun turun ke bawah. Nampak Kimzy yang sedang memasak.


"Kiel, duduklah. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Sebenarnya ini sudah hampir makan siang."


"Aku pergi dulu, Kimzy."


"Kau mau kemana? Inikan hari minggu. Bukankah hari ini kamu juga...."


"Aku ada urusan sedikit. Bye...." Ezekiel memotong ucapan Kimzy dan langsung mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari apartemen.


Begitu dia sampai di mansion, nampak suasana sepi.


"Kemana yang lain?" Tanya Ezekiel


"Semuanya pergi ke makam. Mereka baru saja pergi. Inikan hari petingatan kematian tuan Eldmon. Selamat ulang tahun juga, tuan." Ucap pelayanan itu.


Ezekiel langsung pergi. Ia menuju ke makam orang tuanya.


Saat ia tiba di sana, nampak semua sedang khusuk berdoa.


Mengapa Ben juga hadir di sini? Batin Ezekiel. Apakah ini salah satu usahanya untuk mendapatkan Faith? dan keluargaku mendukungnya?


"Anakku, hari ini kami datang dengan berita gembira. Kau akan memiliki cucu. Bukan hanya satu. Tapi dua. Kau pasti senang kan?" Ucap Elisa dan membuat Ezekiel terkejut.


Dua? Apakah Faith hamil anak kembar? batinnya. Ia melirik Faith yang nampak masih berdoa. Perutnya yang mengenakan dres ketat sudah agak kentara. Hati Ezekiel bergetar. Pantas saja waktu itu dia suka sekali membelai perut Faith. Ternyata sudah ada anaknya di sana.


Ketika selesai berdoa, Rachel meletakan bunga. Air matanya kembali berlinang. "Daddy....mommy.....i miss you so much"


Rachel memang kehilangan orang tuanya disaat usianya masih muda.


"Ezekiel.....kau ingat juga hari ini?" Tanya Elisa melihat Ezekiel.


Ezekiel hanya diam. ia mendekat ke makam, berjongkok diantara makam kedua orang tuanya lalu ia pun berdoa.


"Happy birthday, cucuku." Daren langsung memeluk Ezekiel dengan erat.


"Makasi, opa."


Selanjutnya Elisa, Rachel dan bi Lastri yang memberikan salam untuknya.


Setelah itu Faith mengulurkan tangan. "Selamat ulang tahun Ezekiel."


Ezekiel menahan tangan Faith. Ia ingin istrinya itu memeluknya seperti yang lain. Namun Faith segera menarik tangannya lalu memalingkan wajahnya.


"Selamat ulang tahun, Ezekiel." Ujar Ben sambil mengulurkan tangannya. Ezekiel menjabat tangan Ben sekilas lalu ia kembali menatap Faith.


"Faith, ayo kita bicara!" Ajak Ezekiel.


"Aku harus pergi dengam Ben. Kami ada acara khusus." Tolak Faith


"Acara khusus apa?" Tanya Ezekiel kurang suka.


"Hari ini iklan yang dibintangi oleh Faith akan melaksanakan acara amal. Sebagai bintang iklan, Faith wajib hadir." Kata Ben.


"Tapi aku ingin bicara denganmu!" Ezekiel nampak mulai jengkel.


"Maaf, Ezekiel. Kami harus pergi. Ayo Ben!" Faith menarik tangan Ben yang berdiri di sampingnya.


Ezekiel akan bicara namun Daren menahan tangannya. "Biarkan Faith dengan pekerjaannya. Nanti malam kau dapat bicara dengannya."


Ezekiel mendengus kesal. Ia heran dengan keluarganya yang seolah mendukung Faith dan Ben.


#makasi sudah baca part ini


#please kasi like dan komentar


#Vote nya juga ya.....thanks sebelumnya.