I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Keinginan Faith



Begitu pintu lift terbuka, Faith lebih dulu keluar, menekan kode pembuka pintu lalu masuk mendahului Ezekiel.


"Faith, jelaskan dulu mengapa kamu ada bersama, Ben." Ezekiel menahan tangan Faith dengan kuat karena istrinya itu berusaha melepaskan tangannya dari Ezekiel.


Faith menatap Ezekiel dengan wajah penuh kebencian. "Aku bangun saat Kimzy meneleponmu dan aku mendengar percakapan kalian. Aku melihat semua adegan mesramu dengan Kimzy di dalam cafe itu. Lalu apa salahnya kalau ada Ben yang bisa menghangatkan aku?"


Kata-kata Faith membuat darah Ezekiel mendidih. Ia tak terima kalau ada pria lain yang menyentuh Faith. Ia juga tak terima melihat Faith begitu berani memberontak terhadapnya. Ia ingin Faith yang penurut dan selalu baik padanya.


Rahang Ezekiel mengeras, kepalan tangannya terasa bergetar.


"Aku akan membunuh setiap pria yang mendekatimu, Faith! " Kata Ezekiel dengan nada ancaman yang terdengar penuh penekanan. Tatapan matanya tajam menusuk sampai ke dalaman hati Faith.


Namun gadis itu tak gentar. Ia yang tersakiti kini begitu berani menerima tatapan yang mematikan itu.


"Kalau begitu, aku juga akan membunuh Kimzy karena dia berani mendekatimu." Ujar Faith lalu menarik tangannya secara paksa dari genggaman Ezekiel. Ia melangkah ke arah kamar tamu, membuka pintu itu secara cepat dan membantingnya dengan keras.


"Faith....!" Ezekiel mencoba membuka pintu itu tapi dikunci dari dalam.


"Honey.., open the door !" Ezekiel mencoba melunak.


"Leave me alone.....!" Teriak Faith dari dalam. Suaranya terdengar sangat marah.


Ezekiel ingin sekali mendobrak pintu itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia mencoba menekan emosinya dan membiarkan Faith sendiri.


Mengapa dia bisa bersama, Ben? batin Ezekiel kesal. Ben punya sejuta pesona yang bisa membuat banyak gadis bertekuk lutut di hadapannya. Ben memang tidak pernah menggunakan kekerasan dan ancaman seperti yang biasa dilakukan Ezekiel untuk mendapatkan keinginannya. Cowok itu punya seribu macam cara dengan kata dan sikapnya yang akan membuat semua keinginannya terpenuhi.


Di ambilnya hp nya dari saku celananya, lalu ia menghubungi Ben.


"Hei....Ezekiel, ada apa kau menghubungiku di jam seperti ini? " Terdengar suara Ben yang agak mengantuk.


"Apa yang kau lakukan dengan istriku sehingga kalian bisa bersama?"


Ben tertawa "Ezekiel......kau sungguh suami yang posesif. Aku hanya menghangatkan istrimu sedikit."


"Apa?"


"Maaf. Menghangatkan bukan dalam arti yang negatif. Tadi saat aku baru saja pulang, Faith menabrak ku. Aku terkejut melihat dia hanya menggunakan mantel tanpa topi dan kaos tangan. Bibirnya sudah agak membiru karena kedinginan. Jadi aku ajak ke apartemenku, memberikan dia selimut dan membuatkan dia coklat panas. Itu saja."


Ezekiel mematikan hp nya secara sepihak. Lalu duduk di atas sofa dengan perasaan yang kacau.


************


Jarum jam berdentang 9 kali. Berarti sudah jam 9 pagi saat ini. Namun Faith masih berbaring malas di atas tempat tidur. Matanya telah bengkak karena terlalu banyak menangis.


Di saat seperti ini, Faith jadi ingat Daniel. Mereka memang masih sering mengirim pesan lewat wa atau juga SMS. Namun jarang melakukan panggilan videocall atau telepon suara. Faith tak ingin menganggu waktu Daniel dengan istrinya.


Pintu terbuka. Faith menoleh dengan rasa terkejut karena ia tahu bahwa pintu itu ditutupnya dari dalam. Ia mendengus kesal melihat ditangan Ezekiel ada kunci resep. Tentu saja, dia pemilik apartemen mewah ini jadi dia tahu cara membuka pintunya dengan baik.


"Kita harus bicara!" Ujar Ezekiel sambil menarik kursi dan mendekatkannya di ranjang. Ia lalu duduk. Penampilannya sendiri terlihat kacau. Ada lingkaran hitam dimatanya yang menandakan bahwa pria bermata biru itu tidak tidur. Rambutnya sendiri kelihatan berantakan.


Faith membalikkan badannya. Ia tidur memunggungi Ezekiel.


"Semalam Kimzy menghubungiku. Dia memang ada masalah berat. Anaknya mengidap kangker darah stadium 4. Dia hanya sekedar ingin curhat karena dia tidak punya teman. Kalau kau melihat dia memegang tanganku, itu memang kebiasaan kami berdua. Kami sudah seperti kakak adik." Kata Ezekiel. Ia tak menceritakan pernyataan cinta Kimzy padanya karena ia tahu itu akan membuat Faith tambah marah.


"Kalau begitu...." Faith bangun, duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap Ezekiel dengan tatapan dingin. "Kau juga tidak boleh melarang aku memegang tangan kak Daniel, Ben atau pria manapun. Itu hal yang biasa kan?"


"Kau.....!" Ezekiel kehilangan kata-katanya.


Faith tersenyum sinis. Ia turun dari tempat tidur " Aku mau pulang ke mansion." Katanya lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


2 jam kemudian........


Faith dan Ezekiel sudah berada di dalam mobil menuju ke mansion setelah baju pesanan Faith diantar oleh kurir toko langganan keluarga Thomson.


Sepanjang jalan Faith memilih memejamkan matanya karena sesungguhnya ia sangat lelah. Lagu Arnold Manola yang diputar Ezekiel terasa menghibur hati Faith.


Mereka tiba di mansion saat Elisa sementara mengatur makan siang di atas meja bersama bi Lastri.


"Wah, kalian datang tepat waktu. Ayo duduk di meja makan. Oma akan memanggil opa dan Rachel." Elisa tersenyum sambil sambil melangkah namun ia berbalik lagi saat menyadari ada yang berbeda.


"Ada apa dengan kalian? Ezekiel, kenapa mata Faith bengkak sepertinya ia banyak menangis? Kau apakan cucuku ini?" Suara Elisa membuat kuping siapa saja yang berdiri dekatnya pasti akan merasa sakit. Ia menatap Ezekiel dengan tatapan marah lalu mendekati Faith yang sudah duduk di depan meja makan.


"My baby, apa yang sudah dilakukan Ezekiel padamu?" Tanyanya lembut sambil membelai kepala Faith.


Faith tersenyum " Kami baik-baik saja oma. Tadi malam aku sedikit kesal karena Ezekiel pergi tanpa pamit. Aku sudah menangis, marah-marah, ternyata dia menyiapkan sebuah kejutan untukku"


"Kejutan? Kejutan apa?"


"Oma....kejutan ini berakhirnya di tempat tidur. Malu kan jika aku harus menceritakannya." Faith pura-pura malu.


Elisa tersenyum lalu segera memanggil suaminya dan Rachel untuk maka siang.


"Aku baik-baik saja." jawab Faith sambil tersenyum.


Mereka pun makan siang bersama. Ezekiel berusaha menetralkan suasana melalui percakapan bisnis dengan Opa.


"Faith, ayo duduk di sini!" Ajak Elisa.


Selesai makan siang mereka duduk di ruang keluarga sambil menikmati kopi dan coklat panas.


"Setelah natal, aku akan kembali ke Manado." Ujar Faith.


Semua terkejut.


"Kakak ipar, kenapa kamu pulang cepat? Bukankah masa liburnya masih lama?" Tanya Rachel dengan wajah sedikit kecewa.


"Sayang, memangnya kamu tak mau merayakan tahun baru bersama kami? Di sana kamu tidak punya keluarga kan? " Elisa menatap Faith dengan seksama. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh wanita muda ini.


"Salah satu dosen pembimbingku akan melanjutkan kuliahnya setelah tahun baru. Makanya aku ingin konsultasi masalah penelitian ku sebelum dia pergi. Aku ingin kuliahku cepat selesai." kata Faith berusaha menyembunyikan rasa bersalahnya karena sudah berbohong. Sebenarnya sebelum ia datang ke London, semua tugas akhir dan penelitiannya hampir rampung.


"Pergilah, nak. Selesaikan kuliahmu dengan cepat sehingga kau akan cepat bersama dengan kami di sini. " ucap Daren sambil tersenyum.


"Aku tidak bisa pergi, Faith. Pekerjaanku sangat banyak di sini" Ezekiel yang sejak tadi diam akhirnya bicara.


"It's ok, honey. Kita akan berpisah selama beberapa bulan saja. Setelah itu, kita akan bersama lagi." Faith menggenrgam tangan Ezekiel, berusaha menunjukan bahwa mereka baik-baik saja.


"Pekerjaan di sini biar opa yang menanganinya. Kau pergi saja ke Indonesia. Bukankah ada beberapa pekerjaan di sana?" Daren meneguk kopinya, sambil menatap Ezekiel.


Jika aku pergi, bagaimana dengan Kimzy? batin Ezekiel bingung.


********************


Selesai makan malam, Faith memilih mengurung diri di kamar. Ia bahkan tak mau berbicara dengan Ezekiel yang sejak tadi sedang menonton TV yang ada di kamar.


Suara ketukan pintu terdengar. Ezekiel mempersilahkan masuk.


"Anakku, tuan Daren menunggumu di ruang kerjanya" kata bi Lastri. Dia memang biasa memanggil Ezekiel dengan sebutan 'anakku' dan Ezekiel selalu senang dengan sebutan itu.


"Baik, bi"


Setelah bi Lastri menghilang dibalik pintu kamar, Ezekiel mendekati Faith yang nampak asyik dengan hp nya.


"Opa memanggilku, aku ke bawa dulu ya"


Faith hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hp.


Ezekiel merasa sedikit kesal karena Faith bersikap dingin padanya. Ia segera keluar dan menuju ke ruang kerja opanya.


"Ada apa, opa?" tanya Ezekiel setelah duduk di hadapan opanya.


"Apakah kamu tidak tahu kalau permintaan istrimu tadi sebagai bentuk pemberontakannya padamu? Kau sudah menjebaknya dalam pernikahan ini. Menggunakan segala ancaman untuk membuatnya mau menikahi mu. Dan gadis ini akhirnya jatuh cinta padamu. Aku dapat melihat itu matanya. "


Ezekiel menatap opanya dengan terkejut karena opanya ternyata tahu tentang awal pernikahan mereka.


"Jangan remehkan orang tua ini, nak. Kalau oma mu hanya mampu menyewa seorang detektif untuk mengetahui latar belakang Faith, maka aku punya caraku sendiri untuk membuka mulut beberapa orang anak buah mu tentang peristiwa di pantai itu ketika faith mabuk." Daren tersenyum bangga.


Ezekiel mengakui kalau opanya ini masih memiliki banyak kekuatan untuk mengetahui apa yang harus dia ketahui. Selain Joe yang Ezekiel percayai mampu meretas apa saja, Daren Thomson ini pun melebihi kemampuan Joe untuk melakukan penyelidikan bahkan yang sulit bagi orang sehebat Joe.


"Jangan bimbang karena kehadiran Kimzy, nak. kau saat ini hanya bingung karena Kimzy sudah bercerai dan dia sedih karena anaknya sakit. Tapi dia hanya masa lalu mu. Faith adalah masa depanmu. Oma mu sendiri mengatakan kalau kamu sampai menyakiti Faith, dia tidak akan pernah memaafkan mu."


Ezekiel diam. Saat ini memang dia ingin bersama Faith. Tapi disisi lain dia ingin menolong Kimzy yang sedang ada masalah karena anaknya yang sakit.


"Tetaplah bersama, Faith. Maka kau akan tahu betapa berartinya dia dalam hidupmu."


Kata-kata opa sangat mempengaruhi Ezekiel. Apakah dia memang harus tetap bersama Faith agar dapat melupakan Kimzy? Tapi bagaimana dengan janjinya untuk terus menemaninya?


Ezekiel kembali ke kamar setelah 2 jam dihabiskannya merenung di depan perapian. Ia merasa sangat pusing.


Saat pintu kamar dibuka, kamar sudah gelap. Sepertinya Faith sudah tidur. Tapi ranjang mereka terlihat kosong. Ezekiel baru saja akan mencarinya di kamar mandi saat ia mendengar suara seseorang dari arah sofa.


Faith sudah tertidur di sana. Dengan selimut tebal yang sudah membungkus tubuhnya.


Ezekiel bersimpuh di dekat sofa. Menatap wajah cantik yang nampak lelap itu. Ia baru saja akan berdiri dan membiarkan Faith dengan tidurnya saat ia mendengar gadis itu mengigau dalam tidurnya.


"Kak Daniel.....aku butuh kamu..."


Hati Ezekiel bagaikan tertusuk duri. Cemburu kah ia saat Faith menyebut nama cinta pertama dalam hidupnya?


#makasi ya sudah baca part ini


#jangan lupa like dan komentarnya ya?