I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Kejutan di Hari Ulang Tahun



Sebuah restoran yang ada di sudut kota, dipilih oleh Ben untuk menjadi tempat pertemuan mereka.


Faith diantar oleh Rachel namun adik iparnya itu tidak turun karena ada jadwal kuliah.


"Hallo my lady!" Ben berdiri, menyalami Faith dan tak lupa mengecup punggung tangan Faith.


"Ben.....sikapmu ini manis sekali" Ujar Faith lalu duduk dikursi yang telah ditarik Ben untuknya.


"Baiklah my lady. Sekarang langsung saja, aku ingin kau menjadi model utama dalam pameran fotoku yang akan dilakukan diakhir bulan ini."


"What?" Faith terpana. Ia lalu tertawa. "Ben, aku ini sarjana tehnik arsitek. Bukan foto model. Aku hanya biasa memegang pensil dan menggambar bangunan."


"Kebetulan aku akan membuka studio baru. Aku akan menyerahkan semuanya kepadamu. Tapi dengan catatan kalau kau mau jadi model untuk pameran fotoku."


"Ben, aku tak punya bakat di bidang itu."


Ben mengeluarkan beberapa lembar foto dan menunjukannya Faith. Foto itu diambil saat Faith sedang duduk di taman. Foto yang sederhana namun cara sang fotografer mengambil gambarnya luar biasa. Faith memang tahu sedikit tentang dunia fotografer karena itu adalah dunia almarhuma mamanya. Namun sayang bakat mamanya tidak dikembangkan lebih jauh karena ia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Terkadang, jika kangen pada mamanya Faith akan melihat koleksi foto-foto mamanya dan beberapa buku yang berhubungan dengan dunia foto.


"Astaga, Ben, ini bagus sekali. Aku tak menyangka kalau ekspresi wajahku yang sedang sedih saat itu bisa jadi seperti ini. Kau mengambilnya dari sudut yang berbeda sehingga yang nampak bukan aku yang sedang menangis tapi gadis yang sedang menatap jauh ke depan."


Ben tersenyum. " Aku senang akhirnya kau mengerti dengan foto ini. Kalau begitu, kau menerima tawaranku kan? Please...., aku akan bayar kamu dengan harga yang pantas. Bahkan lebih dari model kelas dunia yang biasa ku pakai jasanya." Wajah Ben terlihat sangat memohon.


Faith diam sesaat. "Tapi, bagaimana dengan keluarga Thomson? Apa mereka bisa menginjinkanku?"


"Aku sudah mendapat ijin dari nyonya Elisa dan tuan Daren."


Faith terpana " Bagaimana bisa?"


"Kau tahu, semua keluarga Thomson sebenarnya sangat posesif dengan semua yang jadi milik mereka. Saat aku meminta nomor teleponmu pada Rachel, ia memaksa aku mengatakan maksud ku padamu. Ia bahkan meminta aku untuk bicara dengan oma. Syukurlah oma memberi ijin."


"Mengapa mereka tidak mengatakan apa-apa padaku, ya?" Faith jadi bingung. Tadi saja saat Rachel mengantarnya dia tidak menyinggung masalah ini.


"Setuju kan?"


"Ben, nanti banyak kritikan dengan fotoku."


Ben tersenyum "Sejak usiaku 15 tahun, aku sudah menekuni bidang fotografer. sekarang usiaku 27 tahun itu berarti sudah 12 tahun aku bekerja. Selama ini, pandanganku tidak pernah salah. Jadi aku yakin kalau apa yang kulihat pada dirimu adalah sebuah bakat yang tersembunyi."


Faith tertawa "Baiklah. Aku terima"


"Juga dengan proyek untuk studio baruku?"


"Kamu serius?"


"Aku ingin melihat apakah arsitek lulusan Indonesia sama hebatnya dengan arsitek lulusan London."


Faith mencibir. "Aku akan buktikan padamu. Kamu pasti akan membayar mahal dengan hasil gambarku."


"Ok. kita deal? Sekarang tanda tangan surat kontraknya untuk masalah foto." Ben memanggil sekretarisnya yang memang sudah menunggu di meja tak jauh dari mereka.


Faith terpana melihat angka nominal yang akan dia terima "Ben.....ini banyak sekali."


"Jangan lihat nominalnya, kamu tanda tangan saja kontraknya setelah itu kita pesan makanan karena aku sudah lapar."


Faith pun segera menandatangani kontrak itu. Setelah selesai, Ben memanggil pelayan


"Siapkan semuanya." Ucap Ben. Pelayan itu langsung mengangguk.


sekelompok orang masuk dan berdiri di dekat mereka. Tiba-tiba mereka menyanyi.


"Happy birthday to you....."


Faith terkejut. Ia menatap Ben namun cowok itu pura-pura memperhatikan tim koor itu.


Selesai menyanyi, sebuah kue ulang tahun dengan angka 20 diletakan di depan Faith.


"Ben....., bagaimana kamu bisa tahu?" Mata Faith bahkan berkaca-kaca.


"Make a wish my lady, dan berdoalah untuk kebahagiaanmu."


Faith memejamkan matanya. Ia mengucap sebuah doa. Tapi yang justru terbayang adalah wajahnya Ezekiel. Pertemuan pertama yang terjadi di depan lift dan saat ulang tahunnya di pantai.


Ya Tuhan, akankah aku bahagia? Batin Faith lalu membuka matanya dan meniup lilin yang sudah dipasang oleh Ben.


"Thank you, Ben." Bisik Faith saat Ben memeluknya sambil memberi ucapan selamat.


Selesai makan siang bersama, Ben membawa Faith ke lokasi tempat pembangunan studio barunya.


"Ben, inikan di dekat kantornya the Thomson."


"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Ben sambil bersandar


pada mobilnya.


"Nggak juga." Faith menatap gedung the Thomson yang nampak megah itu. Entah mengapa ada goresan di hatinya saat menyadari bahwa akan tiba saatnya ia akan kembali menggenakan nama gadisnya.


"Ayo kita pulang. Besok jam 8 pagi aku jemput kamu untuk pemotretan pertama." Ben membuka pintu mobil untuk Faith lalu ia sendiri segera memutar dan duduk di samping Faith.


"Aku boleh ikut turun ya?" Ujar Ben saat tiba di depan mansion.


"Boleh. Ayo masuk!" Ajak Faith.


"Suprise......!"


Faith benar-benar terpana. Ruangan tamu sudah dihiasi dengan pernak-pernik khas ulang tahun, Ada kue tart dan makan yang sudah tersaji di atas meja.


Air mata Faith jatuh. Ia gembira karena merasa disayang dan diperhatikan. Namun ia menangis juga karena sedih. Ezekiel tak ada di sana.


"Selamat ulang tahun, sayang. Oma doakan semua yang terbaik dianugerahkan Tuhan padamu." Elisa mencium dahi Faith.


"Waktu kalian menikah, oma tidak dapat memberikan kalung ini. Ini adalah kalung warisan keluarga Thomson. Kalung ini diberikan oleh ibu mertuaku. Aku memberikannya pada ibu Ezekiel. Dan saat ini, aku mewakili dia yang sudah tenang di atas sana memberikannya kepadamu."


Sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk hati, dengan sebuah batu permata berwarna putih nampak cantik saat disematkan di leher Faith.


"Makasi oma." Ujar Faith haru. Ah, Ezekiel andaikan pernikahan kita bukanlah sebuah permainan, pasti ini akan sangat menggembirakan bagiku batin Faith.


"Tadi Ezekiel ada di sini. Tapi dia terpaksa meninggalkan mansion karena Hataru drop lagi." bisik bi Lastri.


Faith hanya mengangguk. Ia sadar, Hataru adalah anak Ezekiel. Ia pasti sangat menyayanginya. Apalagi keberadaannya yang sakit.


Untuk Hataru rasanya terlalu egois jika Faith harus cemburu. Tapi membayangkan Kimzy ada di sana, Faith harus jujur bahwa ia cemburu.


**********


Pesta kecil yang dibuat untuk Faith telah berakhir. Ternyata semua itu terjadi karena Ben yang mengatakan tentang ulang tahun Faith.


Flash back on


"Jadi ini semua idemu? Tahu dari mana tanggal ulang tahunku?" Tanya Faith setelah Rachel memberitahukan mengapa sampai mereka tahu ulang tahun


"Gampang saja, kan. Kita berdua berteman di FB dan Instagram. Aku pasti tahu tanggal lahirmu."


"Makasi ya, Ben. Kamu memang sungguh baik."


Ben hanya tersenyum.


flash back off


Selesai mandi dan mengenakan piyamanya, Faith segera menghempaskan dirinya di atas sofa. Faith mengambil hp nya. Ternyata memang ada banyak ucapan ulang tahun untuknya. Dari Daniel, Dina, teman-teman di kampusnya dan teman-teman sosial medianya.


Ada ucapan selamat juga dari Ezekiel


Ingin sekali aku di sana


melihat surprise party yang dibuat untukmu


maafkan aku yang tak punya waktu untukmu


Selamat Hari Ulang Tahun, Faith


Aku selalu berdoa kebahagiaan sejati akan kau miliki.


Faith meletakan hpnya. Jam sudah menunjukan pukul 23.45 menit.


Pintu kamar dibuka dan ternyata Ezekiel yang masuk. Wajahnya kelihatan kusut, rambutannya agak berantakan. Di tangan kananya ada sebuah kotak kue dan di tangan kirinya ada sebuah kotak kecil memanjang. Dan Faith mencium bau alkohol.


Ezekiel melangkah ke arah sofa. Ia kemudian berlutut di depan Faith yang sedang duduk. Ia membuka kotak kue itu. Nampak kue tart dan ada lilin angka 20 di atasnya. Ia kemudian mengambil korek yang ada di samping kue itu, memasang lilinnya.


"Selamat ulang tahun, my honey. Aku berharap semoga kau bahagia. Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Maafkan aku yang tidak pernah bersikap adil padamu. Aku tahu bahwa pernikahan ini awalnya main-main. Aku hanya ingin membuatmu jatuh cinta padaku karena kau membenci bule. Tapi ternyata, kau berhasil menyembuhkan sakitku. Kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Ya, aku mencintaimu, Faith. Aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu. Aku sakit melihatmu bersama Ben. Aku begitu takut melihatmu pingsan. Hatiku perih saat kau menyebutkan kata perpisahan. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Jangan kembali ke Indonesia. Tetaplah disisiku." Ucap Ezekiel parau. Ia bahkan menangis.


Faith diam terpaku. Ini adalah pernyataan cinta Ezekiel untuknya. Haruskah dia bahagia? Ezekiel mungkin jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana dengan Kimzy?


"Kau tidak mau meniup lilinnya?" Tanya Ezekiel melihat Faith hanya diam.


Faith pun meniup lilinnya.


Ezekiel tersenyum senang. Masih dalam keadaan berlutut, Ezekiel membuka kotak kecil yang satunya lagi. "Hadiah untukmu."


Sebuah jam tangan berantai emas putih, berbentuk lonjong. Dan didalamnya ada gambar doraemon. Sama seperti jam tangan yang dihadiahkan papanya saat Faith berusia 9 tahun. Jam tangan itu selalu Faith pakai walaupun ia sudah remaja dan sering dibuli karena jam itu lebih cocok dipakai oleh anak kecil karena gambar doraemonnya. Jam tangan itu hilang saat papanya meninggal. Faith sangat sedih waktu itu. Dia memang tidak pernah mengatakan pada siapapun. Dia hanya menulisnya di diarynya. Ia bahkan menggambar jam tangan itu dalam diarynya. Faith terpana. Apakah selama ini Ezekiel membaca diarynya? Seperti juga konsep rumah yang ingin direnovasinya?


"Maaf, aku tidak mengingat secara jelas bentuknya. Mudah-mudahan kamu suka."


Air mata Faith mengalir. Di pegangnya jam tangan itu dengan tangan bergetar. Ia masih ingat bagaimana gembiranya dia dulu menerima jam tangan itu karena dia memang sangat suka dengan doraemon. Ia sekali lagi mendapatkan semua yang dia ingini dari Ezekiel.


"Terima kasih." Kata Faith tulus.


Ezekiel meraih tangan Faith. Diciumnya tangan itu secara bergantian kiri dan kanan. "Faith, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Terima kasih telah bersabar demi kesehatan oma." Ezekiel menghapus air mata Faith lalu ia mendekatkan wajahnya.


Faith memejamnkan matanya. Bau alkohol itu sangat jelas tercium olehnya. Ezekiel lalu mencium Faith dengan lembut.


"Ezekiel, tidurlah. Kamu sudah mabuk." Ucap Faith sedikit terengah karena ciuman mereka yang panjang. Ia mendorong tubuh Ezekiel. Namun pria itu dengan sisa kekuatan dan kesadarannya langsung meraih tubuh Faith, mengangkatnya dan melangkah ke arah ranjang.


"Ezekiel, lepaskan aku!" Faith memberontak.


Ezekiel meletakan tubuh Faith di atas ranjang. Dan sebelum Faith menjauh, ia telah memeluk Faith dengan erat, mengunci pergerakan perempuan itu dengan kakinya lalu ia mulai mencium bibir Faith kembali.


Sekuat tenaga Faith mencoba melepaskan diri dari Ezekiel. Namun ia tak bisa. Mulutnya boleh berkata jangan, tapi tubuhnya memberi reaksi lain. Dia rindu dengan sentuhan Ezekiel.


#makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like, komentar, dan vote nya ya....