I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Kebenaran yang Menyakitkan



Sepasang mata tua itu kaget sekaligus senang saat ia membuka pintu dan Faith sudah berdiri di sana.


"Anakku sayang..." Peluknya senang tanpa bisa menahan air matanya.


Faith memang sudah mengganti hp yang diberikan Ezekiel padanya. Ia juga sudah meminta para pengawal untuk tidak mengatakan kedatangannya ke London dengan alasan ingin memberikan kejutan.


"Apa kabar, bi?" Sapa Faith setelah pelukan itu terlepas. Faith menatap bi Lastri yang sudah siap pergi dengan sebuah tas baju di tangannya.


"Bi, mau kemana?"


Bi Lastri nampak bingung "Eh...ke rumah sakit."


"Apakah oma di rumah sakit?"


"Bukan non....eh....anuh....yang di rumah sakit..." Bi Lastri jadi gugup.


"Yang si rumah sakit adalah Ezekiel." Jawab Rachel yang muncul di belakang bi Lastri


"Ezekiel sakit?" Tanya Faith khawatir.


Rachel menggeleng. " Sebaiknya kamu sendiri yang melihatnya. Tapi masuk dulu kakan ipar. Kamu datang tanpa memberitahukan pada kami." Rachel mendekat lalu memeluk Faith dengan erat.


"Oma dan opa sedang ke Amerika. Oma ada terapi di rumah sakit New York sehubungan dengan sakit yang dideritanya. Kalau oma tahu kakak ipar akan datang, pasti dia akan cepat pulang." Kata Rachel saat Faith sudah masuk ke dalam dan seperti mencari sesuatu.


"Sebaiknya jangan mengatakan apa-apa pada oma. Biar saja oma menjalani pengobatannya." Kata Faith sambil tersenyum.


Bi Lastri menyuguhkan segelas teh hangat.


"Minumlah, anakku. Dan istirahatlah. Kamu pasti capek karena melakukan perjalanan yang panjang."


"Aku mau ke rumah sakit." Kata Faith


Bi Lastri memandang Rachel meminta persetujuan.


"Kalau memang kakak ipar merasa tidak capek, biar aku yang mengantarnya ke rumah sakit. Memang sudah saatnya Faith tahu." Rachel segera berdiri, meminta pelayan untuk menyiapkan mobilnya.


Bi Lastri meminta Rachel untuk membawa baju Ezekiel.


"Bibi nggak mau melihat non Faith terluka." Bisik bi Lastri. Wanita tua itu memilih untuk ada di rumah.


************


Mobil yang dikendarai Rachel memasuki kawasan rumah sakit.


"Rachel, mengapa kita ada di rumah sakit khusus pengidap kanker anak?" Tanya Faith bingung.


"Kamu akan segera tahu." Ucap Rachel sambil menekan perasaannya sedemian rupa. Ia tak mampu menjelaskannya sendiri.


Setelah memarkir mobilnya, Rachel langsung membawa Faith ke lantai 3 dan memasuki kamar bernomor 3011.


Saat pintu terbuka, nampak seorang anak laki-laki sedang tertidur dengan wajah pucat. Di tangannya ada selang infus. Ada juga beberapa alat menanganan pasien yang sengaja disiapkan di sana.


"Siapa ini?" Tanya Faith bingung.


"Tunggulah di sini. Aku akan cari kakakku. Mungkin dia ada di kantin." Rachel meninggalkan Faith sendiri.


Faith menatap anak laki-laki itu. Ia bahkan mendekat ke arah ranjang. Mungkin anak ini seusia dengan Helena atau mungkin lebih tua sedikit. Dia punya alis yang tebal dan rapih. Rambutnya coklat. Dan....


Anak itu membuka matanya. Ia menatap Faith dengan bingung. "Who are you?"


Faith semakin terpana. Anak ini punya bentuk mata seperti orang Jepang. Tapi warna mata biru itu, alis dan warna rambut itu mengingatkannya pada......


"Ezekiel......" Guman Faith tanpa sadar.


"He is my dad." Ujar anak itu saat mendengar Faith menyebutkan nama Ezekiel.


Kaki Faith seakan tak mampu menahan berat tubuhnya.


"Apakah ibumu bernama Kimzy?" Tanya Faith.


"Yes."


Faith berpegang pada pinggiran ranjang. Ia merasa bahwa tenaganya hampir habis.


Di tatapnya wajah anak itu sekali lagi. Dia seperti menatap wajah Ezekiel dalam versi orang Jepang.


Air mata Faith langsung jatuh tanpa bisa ditahannya.


"Miss...are you oke?" Tanya anak itu melihat Faith menangis. Anak itu bahkan mencoba untuk duduk.


"Jangan menangis melihat keadaanku. Aku akan baik-baik saja. Itu yang mami selalu katakan."


Faith berusaha menguasai hatinya. Ia menghapus air matanya lalu ia tersenyum. " Hallo.....siapa namamu?"


"Namaku Hataru."


Faith menjabat tangan Hataru." Senang kenalan denganmu." Ujar Faith dan langsung meninggalkan kamar itu. Ia tak bisa tahan lagi. Tangannya bahkan bergetar saat menekan tombol lift.


Ya Tuhan, mengapa kenyataannya seperti ini. Jadi Ezekiel dan Kimzy punya anak? Jika begitu, apa gunanya aku di sini? Mereka pasti sudah bersama.Dan aku...., aku akan menjadi penonton yang kalah.


Faith berlari keluar dari rumah sakit. Ia terus berlari dengan perasaan yang hancur.


**********


Dia adalah Benecdik Aslon. Putra kedua dari Aslon Family. Salah satu keluarga bangsawan di London. Salah satu pewaris dari perusahaan yang bergerak di bidang fashion, film, dan beberapa dunia hiburan lainnya. Ayahnya adalah seorang sutradara ternama. Ibunya adalah perancang baju yang terkenal di dunia dengan merk Aslon yang hanya bisa ditemukan di butik-butik mahal di berbagai negara.


Pria tampan ini yang biasa di sapa Ben adalah seorang fotografer terkenal. Ia menjadi langganan artis-artis terkenal dan orang-orang kaya lainnya.


Sore ini Ben memilih untuk jalan-jalan ke taman, mencari sesuatu yang berbeda. Karena sebulan lagi ia akan mengadakan pameran khusus karyanya sendiri.


Ben tersenyum dan membidik seorang bapak yang sedang bermain bola dengan anaknya, lalu ada dua remaja laki-laki yang sedang main game di hp masing-masing sambil duduk saling berhadapan. Lalu ia melihat seorang gadis yang sedang duduk agak menyendiri. Gadis dengan rambut hitam lurus melewati bahu, kedua tangannya ada dipangkuannya, pandannya lurus ke depan


Ben membidik satu kali. Ia lebih fokus lagi dan melakukan zoom sampai wajah gadis itu terlihat basah....sepertinya dia menangis. Dan .....astaga!


Ben tersenyum dan ia langsung mendekat.


"My lady!" Sapanya dengan senyum tampannya.


Faith mengangkat wajahnya "Ben?"


"Hei....kamu kembali lagi ke London? Aku pikir kamu tak akan pernah kembali ke sini."


Faith kembali menatap ke depan. Hatinya masih terasa perih.


"Hapus air matamu!" Ben memberikan sebuah sapu tangan. Faith menerimanya, lalu membersihkan wajahnya dengan sapu tangan itu.


"Terima kasih, Ben." Kata Faith sambil menyerahkan saputangan itu kembali.


"Sama-sama." Ben menerima sapu tangan itu kembali dan memasukannya ke dalam saku celana jeans selututnya.


"Kapan kau tiba di London?" Tanya Ben melihat Faith diam saja.


"Siang ini." jawab Faith masih dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Jika melihat keadaanmu yang kacau ini, kamu pasti sudah tahu kan?"


Faith menatap Ben sambil mengerutkan dahinya.


"Jangan tatap aku seperti itu. Aku sudah tahu sejak empat tahun yang lalu kalau Hataru adalah anaknya Ezekiel. Aku selama ini tutup mulut karena Kimzy yang memintanya"


"Bagaimana bisa Hataru menjadi anaknya Ezekiel? Bukankah Kimzy tidak mencintainya?"


Ben menarik napas panjang. "Aku tak punya hak menceritakannya."


"Aku mohon, Ben. Ceritakan semuanya padaku." Kata Faith sambil memegang bahu Ben.


Sial, mengapa tatapan mata itu sangat menyedihkan untukku ya? Ben membuang muka. Ia tak tahan melihat mata penuh permohonan itu.


"Ben.....please....!" Rengek Faith sambil memegang pergelangan tangan Ben.


"Baiklah. Tapi janji setelah kau mendengar ini, jangan katakan pada siapapun kalau kau mendengarnya dari aku. Sebab sebenarnya aku tak pernah ikut campur dalam urusan orang." Ben akhirnya mengalah. Faith langsung mengangguk.


"Kira-kira 4 tahun yang lalu, aku ke Jepang untuk mengikuti pameran foto salah satu temanku. Aku tak sengaja ketemu Kimzy dan anaknya di mall. Saat melihat Hataru, aku yakin kalau itu adalah anak Ezekiel. Kimzy akhirnya bercerita kalau Itu memang anaknya Ezekiel. Kisah one night stand. Saat Kimzy bertengkar dengan tunangannya, ia mabuk dan Ezekiel datang. Mereka bercinta tanpa menggunakan pengaman. Pada hal Kimzy dan tunangannya selalu menggunakan pengaman.


Kimzy menikah dengan tunangannya saat ia sudah mengandung. Dan saat anak itu lahir, Kimzy terkejut karena ia memiliki wajah yang hampir 90% mirip Ezekiel. Suaminya ingin bercerai tapi Kimzy memohon agat Sazuke menunda perceraian itu karena mama Kimzy yang sakit.


Sazuke setuju. Mereka tinggal se rumah sekalipun Hataru tidak pernah memanggilnya papa.


Kimzy memilih tak menceritakan pada Ezekiel karena masih berharap suaminya akan menerimanya kembali. Ia sangat mencintai suaminya.


Saat mama Kimzy meninggal, seminggu setelah itu suaminya minta cerai. Tak lama kemudian Hataru difonis mengidap kanker darah stadium 4.


Kimzy datang ke London karena ingin anaknya sembuh dan berharap bisa mendapatkan cinta Ezekiel karena beban yang dia derita.


Saat Ezekiel ada di Indonesia bersamamu, Kimzy meminta Ezekiel pulang karena anak itu membutuhkan donor sum-sum tulang belakang untuk pengobatannya. Itu saja yang aku tahu."


"Kenapa Ezekiel tak menceritakan padaku? Mengapa dia memilih pergi tanpa mengatakan apapun?" Ada nada kesal di suara Faith.


Ben mengangkat bahunya saat Faith menatapnya.


Faith kembali dengan pikiran kosongnya yang terbang entah kemana. Ia bahkan tak memperhatikan saat Ben diam-diam mengambil gambarnya.


"Faith, ini sudah hampir malam, ayo, aku antar kau pulang." Ajak Ben


Faith menggeleng.


"Jadi kau mau tetap di sini?"


Faith mengangguk.


"Aku akan menemanimu."


"Kau boleh pulang."


Ben tersenyum lalu berkata," Kau terlalu cantik untuk kubiarkan sendiri."


#makasi sudah baca part ini


#Like, komentarnya juga....