
Malam telah larut. Namun Faith belum ingin kembali ke kamarnya. Ia takut jika Ezekiel akan meneruskan niatnya tadi sore untuk bercinta dengannya.
Selesai makan malam, Faith minta ijin untuk menggunakan ruang kerja bahkan komputer opa untuk membuat desain gambar gedung studio Ben yang baru. Ia memang sudah biasa mengerjakan ini. Beberapa dosen mengajak Faith dan teman-temannya kerja sama untuk beberapa bangunan besar di Manado. Namun ini adalah proyek pertama untuknya. Di luar negeri lagi. Jadi Faith ingin semuanya sempurna.
Gambarnya untuk sementara ia sudahi. Lalu ia merenggangkan otot-ototnya dan segera mematikan lampu ruang kerja dan menuju ke atas.
Saat ia membuka pintu, nampak kamar sudah gelap. Faith bernapas lega. Itu tandanya Ezekiel sudah tidur.
Ia melihat Ezekiel sudah berbaring di atas tempat tidur
Faith masuk ke dalam walk in closet, mengambil piayamanya dan membuka bajunya.
"Sudah selesai dengan kerjamu?" Ezekiel tiba-tiba saja sudah memeluknya dari belakang.
Faith terkejut, ia baru saja membuka bajunya untuk diganti dengan piyama. Ezekiel berhasil memeluknya yang hampir telanjang. Tangan pria itu bahkan sudah mengelus perut Faith.
"Ayo kita bercinta sayang, ayo kita buat anak-anak yang banyak untuk menemani kehidupan kita berdua." Bisik Ezekiel lalu mulai mencium punggung Faith.
"Ezekiel....lepaskan aku...!" Faith mencoba bergerak untuk melepaskan diri dari Ezekiel tapi sekali lagi ia tak bisa. Ia menikmati ciuman dan sentuhan Ezekiel pada tubuhnya.
Mereka hampir saja larut dalam gairah sampai dering telepon membuat Ezekiel menghentikan cumbuannya pada Faith. Itu adalah nada panggilan khusus yang Ezekiel buat untuk Kimzy. Ia bangun dari tempat tidur dan mengambil hp nya.
"Hallo Kimzy, ada apa?"
Faith langsung memalingkan wajahnya mendengar nama Kimzy.
"Kiel, datanglah ke rumah sakit. Hataru tadi mengalami kejang-kejang dan sekarang, dia merengek mencarimu."
"Baiklah Aku akan kesana."Ezekiel melepaskan hp nya lalu menatap Faith yang masih ada di tempat tidur. Perempuan itu nampak sudah duduk bersandar dengan wajah cemberut.
"Gantilah bajumu dan ikut aku ke rumah sakit!" Ajak Ezekiel.
"Aku capek, ingin tidur."
"Aku katakan gantilah bajumu. Kalau kau tidak ikut, aku akan memaksamu."
Faith pun turun dan segera mengganti pakaiannya. Ia tahu kalau Ezekiel tidak akan melepaskannya.
Sesampai di rumah sakit, Faith memilih berdiam di sudut ruangan karena Kimzy menatapnya dengan tatapan yang kurang suka.
"Dad, kenapa hari ini tidak datang?" Rengek Hataru. Ia langsung memeluk Ezekiel yang berdiri di samping tempat tidur.
"Dad tadi sedikit pusing makanya tidak datang. Sekarang Hataru tidur ya?" Bujuk Ezekiel sambil membelai kepala putranya.
Hataru menggeleng "Aku takut jika tidur, dad akan pergi lagi."
"Kalau dad pergi, itu kan bukan disengaja melainkan Dad harus bekerja. Dad harus cari uang supaya jika Hataru sudah sembuh, kita akan keliling dunia seperti yang dad janjikan."
Hataru mengangguk. Ia perlahan membaringkan tubuhnya namun tangan kurusnya itu masih tetap memegang tangan Ezekiel.
"Daddy, ini sudah lebih dari seminggu, kenapa belum juga menikah dengan mommy?" Tanya Hataru. Ezekiel jadi bingung. Ia pikir Hataru sudah melupakan hal itu.
"Sayang..., ayo bobo dulu!" Kimzy membujuk anaknya.
"Tapi Hataru ingin daddy dan mommy menikah. Supaya kita bertiga bisa tinggal bersama." Wajah Hataru kelihatan sedih. Ia bahkan mencibirkan bibirnya tanda tak suka jika Ezekiel menunda lagi.
"Mereka akan menikah besok, Hataru." Faith yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Ia mendekat.
Hataru memandang Faith "Hallo nona cantik, kamu yang waktu itu menangis melihat aku kan?"
Faith tersenyum sambil mengangguk. "Sekarang Hataru tidur dan besok apa yang Hataru inginkan pasti terwujud. Percaya saja pada kakak."
"Baiklah kakak cantik." Hataru nampak senang dan ia pun memejamkan matanya.
Setelah Hataru tertidur, Faith pun meninggalkan ruangan itu, Ezekiel segera mengejarnya.
"Faith.....tunggu! " Ia menahan tangan Faith.
"Apa maksud kamu mengatakan itu?" Tanya Ezekiel sedikit kesal.
Faith tersenyum. "Wujudkan impian anak itu. Kau kan tidak perlu menikah secara resmi karena perceraian kita masih menunggu kesehatan oma membaik. Besok kau dan Kimzy dapat berpura-pura menggunakan baju pengantin dan datang ke rumah sakit."
"Tapi Faith, Hataru mau jika kami sudah menikah, kami akan tinggal bersama. Dan itu tidak mungkinkan?"
"Kau dapat tinggal di apartemenmu kan? Mengenai oma, biar aku yang bicara." Faith menarik tangannya dari genggaman Ezekiel.
"Aku mau pulang. Kau sebaiknya tidur saja di sini. Nanti besok pagi aku akan meminta bi Lastri mengantarkan bajumu."
"Aku akan mengantarmu"
"Tidak usah. Aku sudah pesan taxi." Faith segera pergi. Hatinya sedih melihat Hataru. Ia tahu kalau dia tidak boleh egois. Ia memang mencintai Ezekiel namun ia tak mau Hataru sedih.
******************
Dari jauh Ben asyik dengan kameranya. Memotret setiap gerakan faith yang nampak serius dengan laptop yang ada di depannya.
Faith yang menyadari kedatangan Ben segera menoleh sambil tersenyum. "Ben, berhentilah memotretku. Kau kan bilang foto-fotoku sudah cukup."
Mereka memang berada di studio Ben.
"Aku suka gayamu saat serius kerja. Namun aku tahu hatimu sedang galau karena itu terpancar jelas di matamu."
Perkataan Ben memang benar. Ia sedang galau. Kemarin perkawinan pura-pura Ezekiel dan Kimzy terjadi. Mereka bahkan kini sudah pindah ke apartemen. Dokter mengijinkan Hataru pulang karena dengan seorang perawat dan beberapa alat yang selalu siap sedia jika anak itu mengalami serangan sakit lagi.
Faith berhasil meyakinkan oma supaya tidak memarahi Ezekiel saat mendengar kalau mereka tinggal bersama.
"Ben, kamu bisa tahu segalanya."
"Aku hanya sekedar tahu karena kemarin Kimzy memintaku memotret mereka. Hataru kelihatan sangat bahagia."
"Itulah mengapa aku memilih untuk mengalah. Aku tidak ingin anak kecil itu bersedih. Aku akan cari cara untuk berbicara dengan oma."
"Kau akan pulang ke Indonesia?"
"Ya, tapi setelah studiomu ini selesai dibangun."
Ben berpindah tempat duduk disamping Faith. "Berarti, aku masih punya waktu untuk menghiburmu."
"Ben...., terima kasih karena selalu menghiburku."
Faith tak menolak. Ia bersandar di bahu Ben sambil mencurahkan isi hatinya. Ia merasa menemukan Daniel dalam diri Ben.
Ezekiel yang melihat adegan itu dari hpnya segera membanting hpnya. Ia memang meminta Joe untuk meretas kamera CCTV di tempat Ben supaya bisa memantau Faith.
"Ada apa, tuan?" Tanya Joe yang baru masuk. Ia melihat Hp yang sudah hancur itu.
"Belikan aku hp yang baru."
"Dan akan dibanting lagi jika melihat kedekatan Faith dengan Ben?"
"Aku akan membunuh Ben karena sudah berani menganggu milikku."
Ezekiel mengepal tangannya.
"Jangan egois, tuan. Anda juga kan dekat dengan Kimzy."
"Aku dekat karena Hataru. Dia anakku. Dan dia sakit."
"Maka lepaskan nona Faith. Dia juga berhak bahagia."
"Aku mencintai Faith, Joe."
"Cinta tapi selalu menyakiti." Joe mencibir.
Ezekiel diam. Perkataan Joe benar. Ia selalu menyakiti Faith.
"Tuan, mungkin kalian memang tidak berjodoh. Mungkin jodoh tuan adalah nona Kimzy. Besok adalah ulang tahun pernikahan kalian yang pertama. Seharusnya kalian berbulan madu sambil berencana untuk memiliki anak tapi kini kalian saling menyakiti."
"Joe, aku ingin sekali pergi dan membawa Faith bersamaku tapi aku tak bisa mengabaikan Hataru. Dia itu anakku."
"Aku mengerti, tuan. Supaya tuan nggak bingung, lebih baik lepaskan saja nona Faith."
Ezekiel meramas rambutnya sendiri. "Aku tak bisa, Joe. Aku tak mau melepaskan dia."
"Bukankah Hataru ingin pergi ke air terjun niagara?"
"Ya. Aku masih menunggu persetujuan dokter. Apakah perjalanan ini bisa dilakukan."
"Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mengambil keputusan. Jangan gantung perasaan Nona Faith seperti ini. Dia berhak bahagia. Aku rasa Ben lelaki yang baik."
"Kamu gila, Joe. Mengapa kamu seolah ingin agar aku dan Faith berpisah?"
Joe tersenyum. "Nona Faith terlalu baik untuk tuan sakiti terus. Kalau ternyata Ben bisa membuatnya bahagia, kenapa tidak? Aku yakin, dengan kemampuan Ben merayu perempuan, dia pasti bisa membuat nona Faith jatuh cinta padanya."
"Brengsek kau, Joe!" Ezekiel menampar meja kerjanya dengan marah. Joe sekarang sudah mulai membantah perintahnya. Apalagi jika itu menyangkut Faith.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Ben memang play boy tapi jika dia begitu tertarik dengan nona Faith sampai mau menjadikan dia sebagai model utama untuk pameran fotonya, aku yakin nona Faith punya arti khuss di hatinya.
"Ah....!" Ezekiel berteriak kesal sambil membuang semua kertas dan barang-barang yang ada di depannya.
Joe langsung pergi meninggalkan Ezekiel sendiri. Ia tahu Ezekiel kesal. Tapi ia juga ingin agar Ezekiel harus menentukan sikap.
**********
Angin malam tak membuat Faith beranjak dari balkon kamarnya. Sudah 2 malam dia tidur sendiri di kamar ini. Ia juga merasa sepi. Sejak pernikahan pura-puranya dengan Kimzy, Ezekiel memang tak pernah pulang.
Faith berhasil meyakinkan Oma kalau itu semua adalah untuk kebaikan Hataru. Bagaimana pun Hataru adalah keturunan Thomson.
Faith memeluk dirinya sendiri menahan dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya.
Terdengar pintu kamar dibuka. Faith menoleh dengan kaget. Ezekiel berdiri di sana. Di tangannya ada sebuah kue tart kecil dengan lilin angka 1 yang menyala.
"Ada apa kau di sini? Bukankah seharusnya kau sudah pergi ke Amerika?" Faith menatap arlojinya sudah jam 1 dini hari.
"Aku menunda sedikit perjalananku, karena aku tak ingin melewati hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Sekalipun pernikahan ini penuh drama yang menguras air matamu, tapi aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita berdua." Kata Ezekiel parau. Matanya sendiri nampak berkaca-kaca.
Hati Faith terasa bergetar. Ia berusaha menahan air matanya namun tak bisa.
"Ezekiel, apa yang kau lakukan? Cepatlah pergi, mereka pasti sudah menunggumu." Faith berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ezekiel mendekat. "Tiup lilinnya!"
Faith meniupnya.
" I love you, Faith." Katanya. Ia melepaskan kue tart itu di atas meja lalu memeluk Faith erat.
Faith merasakan pundaknya basah karena air mata Ezekiel.
"Ezekiel....." Faith melepaskan pelukannya. Ditatapnya pria bule itu lalu tangannya menghapus air mata Ezekiel.
"Aku mencintaimu juga. Namun cintaku ini tidak membuatku egois. Aku tak ingin kau bingung. Aku melepaskanmu untuk Kimzy dan Hataru. Bahagialah bersama mereka. Aku akan tinggal di sini untuk oma. Sampai oma sembuh dan aku akan kembali ke Indonesia."
"Tidak, Faith. Aku tak ingin melepaskanmu."
"Aku yang akan melepaskanmu karena Hataru dan Kimzy membutuhkanmu."
"Faith, aku......" Hp Ezekiel berbunyi. Ia berhenti sejenak lalu mengambil hp nya.Itu dari Kimzy.
"Hallo....." Sapa Ezekiel.
"Dad...., kenapa lama sekali? Aku dan mommy sudah ada di dalam pesawat pribadinya daddy." Terdengar suara Hataru.
" Iya sayang, daddy akan segera ke sana." Ezekiel memasukan hp nya ke dalam saku celananya.
"Pergilah....!" Ucap Faith sambil tersenyum
Ezekiel nampak ragu untuk melangkah.
"Pergilah. Bahagiakan mereka."
Ezekiel memeluk Faith sekali lagi. Lalu ia segera pergi. Meninggalkan Faith yang berdiri tanpa bicara apa-apa lagi.
Bye....Ezekiel...! Happy anniversary yang pertama dan terakhir untuk kita. Batin Faith lalu menghapus air matanya.
#makasi sudah baca part ini
# jangan lupa like, komentarnya dan vote ya....