I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Sebelum 3 tahun (part 3)



Sudah 3 kali Rachel berputar-putar di depan kaca. Gaun pengantin yang dikenakannya terlihat begitu pas ditubuhnya.


"Kau sangat cantik" puji Faith yang menemani Rachel hari ini.


Alicia Aslon yang menjadi perancang busana pengantin Rachel nampak masih diam menungguh komentar dari Rachel.


"Aku sangat suka tante. Terima kasih." kata Rachel. Lalu memeluk wanita yang menjadi sahabat baik mamanya.


"Terima kasih sayang. Aku yakin Kiela di atas sana akan sangat senang melihatmu menggunakan gaun ini. Dulu, aku pernah berpikir untuk menjodohkanmu dengan Ben. Sayangnya anakku itu memiliki jiwa play boy. Aku takut dia justru akan menyakitimu" kata Alicia sambil menatap Faith sekilas.


"Tapi kan sekarang Ben sudah menikah." ucap Rachel.


Alicia menggeleng sambil membuka reslating gaun pengantin Rachel.


"Aku merasa ada yang aneh dengan pernikahan mereka karena sebagai pengantin baru mereka justru jarang sekali menghabiskan waktu berdua. Ya...sudahlah, aku sama sekali tak mau mencampuri urusan mereka berdua. Yang penting Ben sudah menikah dan membuatnya bisa move on dari gadis yang membuatnya patah hati"


Rachel memandang Alicia dengan heran "Ben pernah patah hati? Siapa gadis itu tante? kok aku nggak tahu ya?"


Alicia mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan mulut besarnya menceritakan tentang luka yang pernah dialami oleh anaknya.


Faith yang mendengarnya pun pura-pura melihat layar hp nya. Ia tahu Alicia sudah terlanjur bicara.


"Sebaiknya kita jangan membicarakan itu karena kejadiannya sudah lama sekali. Oh ya, tante punya hadiah khusus untukmu" Alicia langsung mengalihkan pembicaraan dan membuka salah satu lemari yang ada di ruangannya itu.


Ia mengeluarkan sebuah paper bag berwarna putih dan menyerahkannya pada Rachel.


"Bukalah"


Rachel membukanya dan mengeluarkan sebuah gaun berwarna hitam-merah.


"Itu adalah rancanganku yang akan keluar untuk musim dingin nanti. Aku memberikan ini secara khusus padamu supaya kau menjadi orang yang pertama menggunakannya"


Rachel memeluk Alicia dengan perasaan haru "Makasih tante."


Setelah selesai dengan urusan gaun, Faith menemani Rachel untuk menemui Joe di kantor.


Saat ia melihat mobil Ben yang terparkir di depan studionya, Rachel justru membelokan mobilnya ke sana.


"Hei....lihatlah dua wanita tercantik datang ke studioku. Sungguh merupakan suatu kehormatan" Ben langsung menyambut Faith dan Rachel, memberikan pelukan hangatnya dan ciuman ditangan seperti yang menjadi ciri khasnya.


"Ben, bagaimana foto preweding ku?" tanya Rachel sambil duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu. Faith pun ikut duduk bersama Rachel.


"Masih dalam proses penyelesaian. Mungkin 2 hari lagi selesai."


"Boleh aku melihatnya?" tanya Rachel antusias.


Ben meminta salah satu pegawainya untuk mengantar Rachel ke ruangan percetakan. Kesempatan itu digunakan Faith untuk bicara dengan Ben.


"Bagaimana pernikahanmu?"


Ben tersenyum "Seperti yang kau lihat. Baik-baik saja."


"Kau baru 1 bulan menikah dan belum pergi bulan madu? Aku rasa ada yang aneh dengan pernikahan kalian."


Ben mengerutkan dahinya. "Apa yang aneh? Apakah semua pengantin baru harus bulan madu? Lagi pula pekerjaanku banyak. Aku harus menjadikan moment pernikahan sahabat terbaikku dalam sebuah album foto yang sangat indah"


"Ben, apakah kau mencintainya?" tanya Faith sambil menatap Ben tanpa berkedip.


"Apakah kau juga mencintai Ezekiel saat kalian pertama menikah?"


"Jangan menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan. Kau sengaja menghindari pertanyaanku kan?"


Ben akan menjawab namun Rachel keburu masuk.


"Aku suka semua fotonya Ben. Rasanya tak sabar menggantungnya didinding kamarku"


"Aku akan lakukan apa saja agar kau bahagia." ucap Ben dan membuat Rachel memeluknya dengan perasaan haru.


Setelah selesai mereka pun segera menuju ke kantor The Thomson Family.


Begitu mereka tiba dilantai tempat ruangan Ezekiel berada, Rachel langsung menuju ke ruangan tunangannya sedang Faith menuju ke ruangan Ezekiel.


"Hai.....apakah aku menganggu?" sapa Faith saat ia sudah membuka pintu.


Ezekiel yang sedang menatap berkas-berkas yang ada di atas mejanya langsung berdiri dan mendekati istrinya. Ia memeluk Faith dengan erat.


"Rasanya aku sangat merindukanmu" ucapnya sambil melepaskan pelukannya lalu mencium bibir istrinya yang selalu membuatnya gila bila tak menyentuhnya.


"Kau semakin pandai merayu"


"Supaya Caleb dan Chloe cepat mendapatkan adik" kata Ezekiel sambil mengelus perut Faith dengan lembut.


"Ish....kamu ini" Faith menarik hidung mancung suaminya lalu ia menggandeng Ezekiel dan menuju ke sofa.


"Honey, aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada opa" kata Ezekiel sambil membelai kepala Faith yang bersandar di bahunya.


"Sesuatu seperti apa?" tanya Faith sambil berusaha menetralkan suasana hatinya. Sebab ia tahu apa yang dialami oleh opa.


"Aku perhatikan kalau opa semakin kurus. Wajahnya terkadang terlihat pucat. Apakah mungkin opa sakit dan menyembunyikan dari kita?"


"Mengapa kau tak tanyakan langsung kepada opa?"


Ezekiel menarik napas panjang. "Opa adalah pria yang tak pernah sakit. Seingatku hanya sekali opa masuk rumah sakit yaitu saat papaku meninggal. Setelah itu opa selalu menjadi pria paling kuat. Jika opa ingin cerita, biarkan dia cerita sendiri sebab jika aku yang bertanya, opa pasti tidak akan pernah menjawabnya."


Faith hanya mengangguk. Ia sendiri masih terus menjaga rahasia itu. Ia menghormati keputusan opa untuk tidak mengatakan pada siapapun mengenai sakitnya.


"Aku sudah lihat fotonya sayang. Sangat bagus" kata Rachel sambil mengunyah makanannya.


"Ben memang fotografer terbaik." puji Joe.


"Aduh.....kenapa tadi aku lupa tanya ya?" Rachel menepuk jidatnya.


"Bertanya apa?" tanya Joe


"Tadi tante Alicia bilang kalau Ben pernah patah hati. Tapi siapa gadis itu? Aku jadi penasaran. Karena sebagai teman dekatnya aku tak pernah melihat kalau Ben jatuh cinta pada seorang gadis." kata Rachel bingung.


"Mungkin dia tak pernah menunjukannya kepadamu" kata Ezekiel sambil mengangkat kedua bahunya.


Joe meneguk minumannya lalu menatap sekilas ke arah Faith. Ia tahu kalau Faith sangat tidak nyaman dengan percakapan ini.


"Jangan usik kehidupan, Ben, sayang. Bukankah dia sekarang sudah menikah? Itu adalah cerita masa lalunya yang mungkin tak ingin dia bagikan dengan siapapun." kata Joe sambil menyentuh tangan Rachel. Tunangannya itu mengangguk lalu meneruskan makannya.


*************


Faith menyerahkan dua butir obat di tangan Daren.


"Makasi, Faith" ucap Daren setelah meneguk obatnya.


"Bagaimana perasaan opa?"


"Sangat senang. Besok Rachel akan menikah. Itu adalah sesuatu yang sudah lama aku nantikan."


Faith tersenyum."Baiklah. Saya ke atas dulu ya, opa. Sebaiknya opa istirahat saja" Pamit Faith dan langsung meninggalkan ruang kerja Daren.


Ruang tamu nampak sudah sepi. Faith segera menaiki tangga. Begitu tiba di lantai 2, ia kaget melihat Rachel yang sedang duduk di balkon ruang tamu lantai 2 itu.


"Hai...Rachel. Kenapa belum tidur? Ini sudah jam 10 malam" ungkap Faith sambil berdiri di depan pintu.


"Aku nggak bisa tidur kakak ipar. Rasanya sangat tegang menungguh hari esok."


"Tidurlah dan berdoa. Tuhan akan menolong sehingga semuanya nampak baik-baik saja"


Rachel menatap Faith,"Kakak ipar apakah malam pengantinmu berjalan mulus?"


Faith terpana "Kau dan Joe belum...?"


Rachel menggeleng dengan wajah merah "Aku dan Joe belum pernah melakukan itu. Joe adalah lelaki berpengalaman sedangkan aku sama sekali belum pernah bersentuhan dengan pria lain. Rasa cintaku pada Joe membuat aku selalu menolak setiap pria yang mendekatiku"


Faith duduk di samping Rachel "Semuanya akan baik-baik saja. Joe akan senang menerima kenyataan kalau dia adalah pria pertama dalam hidupmu. Ikuti saja kata hatimu. Cinta akan membuatmu melakukan secara alami."


"Kakak ipar, apakah setelah menikah memang harus langsung melakukannya?"


Faith sedikit bingung mengingat ia dan Ezekiel justru melakukannya disaat mereka sudah 5 bulan menikah.


"Ya....lihat saja nanti. Aku yakin Joe akan mengerti kalau akhirnya kamu belum siap"


"Makasi ya..."


Faith menepuk pundak Rachel "Tidurlah dan bermimpi indah karena hari esok akan sangat melelahkan"


"Kakak ipar, bolehkah malam ini kau tidur denganku? Rasanya aku tak mau tidur sendiri. Ah....permintaanku ini aneh ya....."


Faith tersenyum "Aku akan tidur denganmu. Tapi aku mau memberikan ciuman selamat malam untuk kedua anakku dulu. Sebentar ya...." Faith segera menunju ke lantai 3. Ia ingin membuat Rachel senang malam ini.


Saat masuk ke kamar anaknya, Chloe dan Caleb sudah terbaring di ranjang mereka masing-masing. Ia mencium kedua anaknya, membetulkan letak selimut mereka dan segera keluar.


Saat masuk ke kamarnya nampak Ezekiel sedang menonton TV.


"Kamu belum tidur?" tanya Faith sambil melangkah ke dalam walk in closet. Ia mengganti pakaiannya dengan piyama.


"Kenapa pakai piyama?" tanya Ezekiel sambil beranjak dari sofa dan mendekati istrinya.


"Aku mau tidur dengan Rachel. Dia agak sedikit tegang menungguh hari esok. Kamu tidur sendiri ya.."


Ezekiel memasang wajah cemberut.


"Ezekiel....dia butuh teman."


Ezekiel langsung tersenyum "Pergilah....kau memang kakak ipar terbaik. Tapi berikan aku dulu ciuman selamat malam"


Faith menarik hidung suaminya lalu mencium bibir Ezekiel dengan lembut "Good ninght sayang"


"Good ninght my honey."


Faith langsung berjalan meninggalkan Ezekiel dan menuju ke kamar Rachel. Namun baru saja ia dan Rachel akan tidur, tiba-tiba pintu kamar Rachel terbuka.


"Aku tidur juga di sini ya..." Kata Ezekiel sambil melangkah menuju ke tempat tidur. ia dengan seenaknya saja tidur diantara adik dan istrinya. Rachel dan Faith sama-sama tertawa lalu mereka membaringkan tubuhnya.


Kamar Rachel yang biasa tenang itu menjadi sedikit ramai karena Ezekiel pun ikut tertawa sambil mencium kepala istri dan adiknya secara bergantian.


#Makasi sudah baca part ini


#like dan kkmentarnya mana? 😘😘😘


#Jangan lupa baca ceritanya Ben yang berjudul


MY BEST PHOTO ya....