I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Berita Bahagia



Dua garis merah yang muncul itu membuat Faith hampir saja berteriak karena senangnya. Tangannya bergetar membelai perutnya sendiri.


"Ah...sayang....kau ada di sini. Senang sekali bunda tahu kalau kau sedang tumbuh di sini." Air mata Faith jatuh. Hatinya bahagia. Ia senang akan menjadi ibu.


Setelah merapihkan wajahnya sebentar, Faith keluar dari kamar. Di lihatnya Ezekiel sudah selesai ganti baju dan sedang menyisir rambut coklatnya itu.


Bagaimana jika Ezekiel tahu bahwa aku hamil? Aku yakin dia pasti senang. Namun aku tak mau membuatnya bingung. Dia harus konsentrasi menjaga Hataru, batin Faith.


Ezekiel menatap Faith. "Ada apa denganmu? Kenapa kau kelihatan sangat senang?"


"Eh.....tidak....aku akan memeriksa keadaan oma" Faith melangkah namun Ezekiel menarik tangannya sehingga keduanya kini berhadapan. Saat tangan pria itu ada dipinggang Faith, ia pun merasakan perasaan yang aneh seperti semalam muncul. Seolah anak dalam kandungannya begitu senang dengan sentuhan ayahnya.


"Apakah kau bahagia tanpa aku? Aku perhatikan kalau tubuh kurusmu ini lebih berisi sekarang." Ezekiel membelai perut Faith. "Kamu pasti makan banyak kan?"


"Ezekiel, aku....pergi dulu!" Faith melepaskan tangan Ezekiel dari pinggangnya. Ia tak ingin lebih larut dalam sentuhan Ezekiel.


"Aku..." Hp Ezekiel berbunyi tangan kanannya masih memegang tangan Faith sementara tangan kirinya meraih hpnya dari dalam saku.


"Hallo.....ya.....kenapa? Baiklah. Aku segera ke rumah sakit sekarang." Ezekiel menatap Faith. "Hataru dilarikan ke rumah saki. Aku pergi dulu."


Faith mengangguk. Keputusannya untuk tidak mengatakan ini pada Ezekiel adalah sebuah tindakan yang benar.


Faith pun segera mandi dan turun ke bawah. Dilihatnya suasana meja makan nampak sepi.


"Bi Lastri kemana yang lain?" Tanya Faith


"Di kamar oma. Pagi ini oma kelihatan agak lemah tapi beliau tidak mau ke rumah sakit."


Faith bergegas ke kamar oma diikuti oleh Bi Lastri dari belakang. Nampak Daren sedang duduk di tepi tempat tidur dan Rachel yang berdiri di samping opa.


"Oma.....sayang, kenapa begini?" Faith mendekat lalu menyentuh tangan oma.


"Aku tidak mau ke rumah sakit. Untuk apa..." Elisa jadi cemberut.


Faith tersenyum. "Oma harus sehat demi cicit oma yang akan segera datang."


"Apa maksudmu?" Tanya Elisa sambil menatap Faith tajam.


"Berjanjilah kalau kalian tidak akan mengatakan apapun pada Ezekiel. Biarkan dia konsentrasi mengurus Hataru. Jika kalian mengatakan pada Ezekiel, aku akan pulang ke Indonesia." Ujar Faith


"Iya. Apapun itu, kami tidak akan mengatakan pada Ezekiel. Cepatlah" Elisa nampak kurang sabar.


Faith mengeluarkan test kehamilan yang memang sudah disimpannya dalam kantong bajunya. "Aku melakukan tes ini tadi pagi. Aku positif hamil."


Semua yang ada di ruangan itu terperangah. Elisa bahkan dengan tak sabar menarik tes peck itu dari tangan Faith.


"Ya Tuhan, ini sungguh berita paling bahagia yang aku terima setelah aku kehilangan anak dan menantuku." Mata Elisa basah memandang test pack itu. Ia lalu menatap Faith. "Oma pikir kau dan Ezekiel tidak pernah bersama lagi."


"Ini hadiah ulang tahunku, oma. Di malam ulang tahunku, aku dan Ezekiel bersama. Ternyata Tuhan mendengarkan doa oma. Dia hadir di sini. Aku sendiri bahkan tak menyadarinya. Nanti kemarin Ben mengatakan padaku. Ia curiga kalau aku hamil." Kata Faith dengan wajah berseri-seri.


"Ben itu ternyata lebih memperhatikanmu daripada kami. Sayang, ayo kita ke rumah sakit" Elisa langsung turun dari tempat tidur membuat Daren dan Rachel saling berpandangan.


"Oma sudah tidak merasa pusing lagi?" Tanya Rachel heran.


"Oma sudah sembuh." Kata Elisa dengan wajah yang berserih-serih.


"Tapi oma, Ezekiel akan tahu aku hamil jika kita ke dokter." Ujar Faith


"Jangan takut. Kamu kan bisa bilang mau menemani oma. Oma akan meminta dokter Albert untuk merahasiakannya. " Elisa membelai perut Faith dengan penuh kasih.


"Sayang, oma tak sabar menunggu kehadiranmu." Kata Elisa sambil terus membelai perut Faith.


"Kalau begitu, aku juga mau ikut ke rumah sakit." kata Rachel senang.


Mereka pun pergi ke rumah sakit. Daren dan bi Lastri juga ikut bersama.


Di ruangan dokter Albert telah menunggu seorang dokter spesialis kandungan. Namanya dokter Laura.


"Ok, mari kita lihat bagaimana janinnya di dalam." Dokter Laura mulai menggosokan gel ke perut Faith dan menggerakan alat itu di sana.


"Wah....janinnya sehat. Itu sudah mulai kentara. Sepertinya sudah memasuki minggu ke-7. Dan astaga, detak jantungnya ada 2."


"Maksudnya?" Semua yang ada di ruangan rumah sakit itu spontan bertanya secara bersamaan.


"Nyonya Faith akan memiliki bayi kembar.a"


Semua terharu mendengarnya. Faith pun tanpa sadar menangis.


"Faith, anak ini memang Thomson sejati. Kakek Daren juga punya saudara kembar. Namanya Donald. Namun ia memilih untuk mengabdikan dirinya pada Tuhan dan menjadi seorang pastor. Donald sekarang sudah meninggal." Kata Elisa.


"Aku sangat bangga." Mata Daren pun berkaca-kaca.


"Aku akan memberikan vitamin dan obat penguat kandungan. Nyonya Faith harus lebih memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh karena ada dua bayi di dalam perut nyonya" Pesan dokter Laura sebelum mengahiri pemeriksaannya hari ini.


Faith mengangguk. Ia pun turun dari tempat tidur dengan perasaan gembira. Dua bayi? Ah ini sungguh menyenangkan, batin Faith.


************


Di rumah sakit kanker anak....


"Dad, apakah apakah aku akan mati?" Tanya Hataru sedih.


"Tidak sayang. Kamu pasti sembuh. kita akan keliling dunia. Pergi kemana saja kamu suka." Ezekiel memegang tangan anaknya. Membelai kepalanya dengan penuh kasih.


Sementara Kimzy berusaha untuk menahan air matanya. Sebagai ibu hatinya hancur melihat anaknya menderita.


"Dad, bolehkah aku ketemu kak faith yang cantik itu? Aku merasa kalau aku jatuh cinta padanya."


Ezekiel tersenyum. "Daddy akan mencoba bertanya padanya apakah dia bisa datang sekarang."


Ezekiel segera mengambil hp nya dan melangkah keluar untuk menghubungi Faith.


Tak sampai 20 menit, Faith sudah datang bersama Ben karena Ben baru saja menjemputnya untuk pemotretan iklan.


"Hallo Hataru." Sapa Faith dan Ben hampir berbarengan.


"Hallo paman Ben. Hallo kakak cantik!" Hataru yang lemah nampak senang saat melihat Faith.


"Aku meminta daddy untuk menghubungimu. Aku suka padamu kakak cantik." Hataru tanpa malu mengungkapkan isi hatinya.


"Aku juga suka padamu." Jawab Faith sambil menggengam tangan Hataru.


Hemmmm, papa sama anaknya punya selera yang sama, batin Ben sambil menahan tawa.


"Kalau aku sembuh, maukah kau menjadi pacarku?" Tanya Hataru polos. Faith mengangguk sambil menahan tangisnya. Nalurinya sebagai calon mama dapat melihat bagaimana Kimzy sedang bergolak dengan perasaannya sendiri. Tentu sangat sedih mengetahui kalau anaknya dalam situasi kritis.


1 jam berlalu


Hataru sudah tertidur. Tangan Faith yang tadi dipegangnya pun terlepas.


Faith yang duduk ditepi ranjang segera berdiri. Ia mendekati Ben, Ezekiel dan Kimzy yang duduk di sofa.


"Kami permisi dulu, yuk Ben." Ajak Faith.


"Terima kasih sudah datang." Ucap Kimzy tulus.


Faith hanya tersenyum sambil mengangguk.


Ben pun pamitan. Keduanya melangkah bersama meninggalkan ruangan.


Ezekiel memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup melihat Ben dan Faith bersama. Kimzy yang melihat itupun hanya bisa diam. Ia tahu Ezekiel cemburu.


Sementara itu di mobil, Ben memperhatikan Faith yang nampak diam sejak tadi.


"Kapan Ezekiel akan tahu tentang kehamilanmu?" Tanya Ben.


"Dia tak perlu tahu, Ben. Aku tak mau membebaninya dengan berita kehamilanku ini. Aku tak mau membuat perhatiannya pada Hataru berkurang." Kata Faith sedih. Ia memegang perutnya.


"Tapi lama kelamaan perutmu itu akan membesar. Kau tidak dapat menyembunyikan lagi kehamilanmu."


"Nanti kita akan memikirkan itu. Yang penting sekarang Hataru sembuh. Anak itu mengingatkanku pada Helena adikku."


Ben tersenyum. kau ternyata sudah dewasa Faith. batin Ben.


*********


Selama beberapa hari Faith disibukan dengan syuting iklan. Elisa secara protektif mengingatkan Faith untuk makan dan istirahat teratur.


Sementara, Ezekiel sendiri jarang pulang ke rumah. Setelah dari kantor, dia langsung ke rumah sakit untuk menemani Hataru.


Seperti suasana makan malam di rumah Thomson saat ini. Kelihatan ramai karena Elisa membuat masakan yang banyak untuk Faith sekaligus bersyukur karena syuting iklannya sudah selesai. Makanya Ben pun diajak untuk makan malam.


"Untungnya kamu tidak merasa mual yang berlebih atau muntah-muntah di pagi hari." Ujar Elisa.


"Oma dulu sampai masuk rumah sakit karena muntahnya tak mau berhenti." Kata Daren.


"Dan kau, suami yang setia selalu menungguku" Elisa menghadiahkan ciuman hangat bagi suaminya membuat Rachel mencibir.


"Ih....ingatlah aku yang jomblo ini...." Sungut Rachel membuat yang lain tertawa.


Faith tersenyum. Dia merasa bahwa 2 bayi yang ada di perutnya ini memang tak merepotkannya karena mengerti dengan keadaannya sekarang. Tak ada Ezekiel yang akan menemaninya jika ia harus muntah-muntah bahkan tubuhnya merasa lemah. Yang ia rasakan hanyalah sedikit pusing dan mual namun tak sampai muntah.


Makan malam pun dilanjutkan dengan minum kopi bersama.


"Oma tak sabar menunggu iklannya. Pasti sangat cocok diperankan olehmu karena kau memang sedang hamil." Ucap Elisa diikuti anggukan dari suaminya.


"Kalian lihat saja. Faith memang sangat berbakat." Ben dengan bangga menatap Faith.


"Kau ini..." Faith jadi tersipu " Sebentar. Aku mau mengambil hp ku dulu"Faith berdiri. Namun ia tiba-tiba merasa pusing. Ben yang duduk disampingnya dengan cepat langsung berdiri dan menahan tubuh Faith. Tepat di saat itu Ezekiel dan Joe masuk.


Melihat Faith yang sepertinya dipeluk oleh Ben membuat darah Ezekiel mendidih.


"Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!" Bentaknya keras dan langsung mendekat serta menarik Faith dari pelukan Ben.


"Ezekiel pelan-pelan......" Elisa jadi panik. Ia takut Ezekiel akan berlaku kasar pada Faith.


"Ezekiel, aku hanya merasa pusing" Ucap Faith lemah. Ia bahkan memejamkan matanya.


Wajah Faith yang pucat dan ada keringat dingin di sana membuat Ezekiel dengan sigap langsung mengangkat tubuh Faith dan melangkah menuju ke lift.


Joe berjalan lebih dulu dan menekan tombol lift sehingga lebih mudah bagi Ezekiel untuk masuk.


Sesampai di kamar, Ezekiel membaringkan tubuh Faith dan mengambil handuk kecil untuk membersihkan wajahnya yang berkeringat.


"Masih pusing?" Tanya Ezekiel sambil tangannya memijat kepala Faith.


"Sedikit." Jawab Faith tanpa membuka matanya. Ia merasa nyaman dengan pijatan Ezekiel di kepalanya.


Ezekiel memandang wajah istrinya. Ia merasa bahwa ada yang berbeda dengan Faith. Entah mengapa Faith terlihat lebih cantik dan wajahnya bercahaya. Bibir tipisnya itu terlihat menggoda. Ezekiel memandang tubuh Faith. Dadanya kelihatan agak besar, apakah karena dia sudah lebih gemuk sekarang? Tanya hati Ezekiel. Dan perutnya kenapa selalu membuatku ingin mengelusnya?


Faith mulai berada di alam mimpi. Elusan Ezekiel diperutnya seperti lagu nina bobo yang menidurkannya. 2 bayi mungil yang ada didalam sepertinya juga menikmati sentuhan papanya.


#makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like dan komentarnya


#vote sebanyak-banyak nya ya...biar aku tambah semangat