I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Kehadiran yang Tak Terduga



Untuk menghilangkan rasa kesepian karena kepergian Ezekiel ke Amerika, Faith menyibukan diri dengan melakukan pekerjaan pembuatan studio milik Ben.


Ia pergi pagi dan terkadang pulang malam. Elisa bahkan beberapa kali mengingatkan Faith untuk menjaga kesehatannya.


Dan hari pagelaran pameran foto Ben pun di laksanakan di sebuah gedung milik keluarga Ben. Pameran foto ini dilaksanakan 2 minggu lebih lambat dari waktu yang sebenarnya karena Ben ingin menambah beberapa foto tentang Faith. Semua foto diambil saat Faith sedang melakukan beberapa aktifitas kerjanya bahkan saat Faith sedang berdiri di depan balkon kamar. Tentu saja foto itu diambil tanpa sepengetahuan Faith namun kerja sama antara Ben dan Rachel.


Faith yang hadir bersama Rachel dan Elisa mendapat perhatian khusus dari para wartawan karena hampir semua foto yang dipajang di sana adalah foto Faith.


Foto yang paling banyak mencuri perhatian adalah foto Faith yang diambil oleh Ben saat gadis itu sedang menangis di taman.


"Sayang, oma bangga padamu. Kamu berbakat juga untuk jadi model." Ujar Elisa setelah selesai melihat foto-foto itu.


"Ah, oma, aku jadi malu." Faith tersipu.


Ben pun memberikan pidato singkatnya mengenai semua foto yang dipajangnya dalam pameran kali ini.


"Aku memberikan tema pada pameranku kali ini beauty from Asia. Semua foto yang aku ambil adalah segala sesuatu tentang Asia yang ada di London. Terutama gadis cantik yang menjadi model utamaku kali ini. Semoga kalian suka." Ben mengahiri pidatonya dengan mengundang Faith untuk naik ke atas panggung. Mereka pun melakukan tost bersama dan diikuti oleh para pengunjung yang datang.


Di sebuah kamar hotel di Amerika, Ezekiel memandang pagelaran pameran itu yang disiarkan secara langsung oleh stasiun TV milik keluarga Ben, dari layar TV yang ada di kamarnya.


Joe yang duduk tak jauh darinya berguman. "Nona kelihatan sangat cantik."


"Gaunnya terlalu seksi. Aku yakin itu pasti pilihan Rachel untuknya." Ezekiel nampak kurang suka.


"Nona pasti terkenal karena foto-foto itu. Dia sangat beruntung, disaat ia patah hati, Ben datang menawarkan pekerjaan itu. Aku pikir Ben adalah malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk Faith."


Ezekiel akan menanggapi perkataan Joe yang menurutnya sudah keterlaluan tapi Kimzy dan Hataru yang sedang duduk di balkon tiba-tiba saja masuk.


Mata Kimzy dan Hataru langsung melihat ke arah layar TV


"Hei, itu kan kak Faith. Wah, dia cantik sekali. Jika aku sembuh, aku mau dia jadi pacarku." Kata Hataru dan membuat semua yang ada di kamar itu terkejut.


Joe berdiri. "Aku permisih dulu." Pamitnya dan langsung meninggalkan kamar.


"Daddy, kak Faith belum punya pacar kan?" Tanya Hataru.


"Eh.....Hataru, sebaiknya kamu tidur dulu ya. Kita kan tadi sudah capek jalan-jalan." Ezekiel mengalihkan pembicaraan.


"Tapi bersama dad dan mommy ya. Dad jangan tidur di sofa lagi. Tempat tidur ini kan sangat luas." Hataru menarik tangan Ezekiel dan naik ke atas tempat tidur.


Kimzy pun ikut naik ke atas tempat tidur. Hataru tersenyum senang. Ia memegang tangan kedua orang tuanya yang tidur di samping kiri dan kanan.


*************


Para pekerja sudah selesai dengan pekerjaannya hari ini. Faith pun membuka helm kerjanya dan segera mencatat hasil kerja hari ini.


Sebenarnya Ben sudah menyarankannya untuk tidak perlu datang setiap hari. Namun Faith memilih untuk terus datang karena ingin membuang rasa rindunya pada Ezekiel.


Pria bule itu memang rajin memberi kabar. Namun Faith jarang membalasnya. Ia sudah berbulat hati untuk melepaskan Ezekiel.


Di pandanginya gedung The Thomson Company yang ada di seberang jalan. Hatinya tak bisa bohong. Ia rindu melihat Ezekiel. Sudah hampir 2 bulan Ezekiel pergi ke Amerika. Kabar terakhir yang ia dengar kalau kondisi Hataru sempat drop di sana.


"Ah....aku merasa lapar." Faith mengelus perutnya. Ia heran dengan keinginannya untuk terus makan pada hal 2 jam yang lalu ia baru saja menikmati segelas susu dan kue kering yang dibawa oleh salah pelayan Ben.


"Faith, sudah mau pulang?"


Faith menoleh. Ben sudah ada di seberang jalan sambil menurunkan kaca mobilnya.


Ia segera melangkah dan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Ben.


"Aku sebenarnya sudah mau pesan taxi tapi kebetulan kamu datang." Ujar Faith saat Ben sudah menjalankan mobilnya.


"Aku sengaja lewat sini. Aku mau mengajakmu makan. Soalnya aku melewatkan makan siangku karena banyaknya pekerjaan."


"Wah, kebetulan sekali. Aku juga sedang lapar sekarang ini." Faith jadi senang.


Ben pun membawa mereka ke salah satu restoran ternama di kota London.


"Faith, ada tawaran iklan untukmu. Mereka suka saat melihat fotomu di pameranku." Kata Ben saat mereka sedang menyantap makanan.


"No, Ben. Aku merasa nggak cocok untuk itu."


"Sekali saja. Please...! Ini sebenarnya adalah iklan susu untuk ibu hamil. Produk susu ini dikeluarkan oleh perusahaan sepupuku. Dia mau kamu jadi bintang iklannya untuk video dan gambar reklamenya."


"Ben, di London ini ada banyak model cantik yang berbakat. Kenapa harus aku?"


"Karena kamu cocok memerankannya. Syuting iklan nggak sampai satu minggu. Aku jamin tidak akan menganggu pekerjaanmu dalam mengawasi pembangunan studioku. Please..." Mohon Ben.


"Baiklah. Tapi aku minta ijin oma dulu ya."


"Nyonya Elisa sudah setuju."


Faith tersenyum. Selalu seperti itu. Ben sudah tahu cara menghadapi keluarga Thomson.


"Ah....aku kenyang sekali. Makanannya enak. Terima kasih ya, Ben. Aku heran sekali dengan diriku ini bawaannya ingin makan terus. Dan anehnya jika pagi hari aku justru sering merasa lemah dan agak pusing. Namun setelah siang menjelang, aku merasa enak lagi." Ujar Faith mencurahkan isi hatinya. Ia memang merasa Ben seperti Daniel.


"Kamu sedang tidak hamil kan?"


"What?" Faith terpana. "Mengapa sampai kamu berpikiran seperti itu?"


"Aku merasa aura wajahmu berubah. Katanya ibu hamil akan terlihat berbeda. Di mataku wajahmu terlihat bercahaya. Aku juga merasa kamu sedikit gemuk. pipimu sudah mulai tembem."


"Ben, itu sesuatu yang mustahil aku dan Ezekiel sudah lama tidak berhubungan dan.......astaga...." Faith menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


Faith semakin terpana "Tapi itu sudah hampir 2 bulan , Ben. Dan..."


"Kapan terakhir kamu datang bulan?" Tanya Ben memotong ucapan Faith.


"Aku datang bulan? Itu kapan ya? Sebelum aku datang ke London. Astaga berarti selama di sini aku belum datang bulan lagi?" Pekik Faith. Tangannya refleks memegang perutnya.


"Ayo aku temani kamu periksa ke dokter."


"Tidak, Ben. Ezekiel punya mata-mata yang selalu mengikutiku. Aku tak ingin dia tahu aku hamil. Aku tak ingin dia mengabaikan Hataru karena kehamilanku ini."


"Setidaknya untuk memastikan kehamilanmu, kau dapat membeli test kehamilan. Aku akan meminta salah satu asistenku membelinya dan dia dapat mengantarkannya padamu sebagai paket malam ini."


"Baiklah. Makasi Ben. Seandainya ini benar, aku sangat senang. Aku hamil dan ini akan membuat oma jadi sembuh." Faith berkata haru.


"Aku bahagia untukmu " Kata Ben berusaha menyembunyikan sesuatu yang mengusik hatinya.


***********


Ketika sampai di mansion, Rachel yang sedang duduk di ruang tamu segera meminta Faith menemui oma di kamar karena wanita tua itu sedang sakit.


"Hai, oma!" Sapa Faith sambil tersenyum Ia duduk di tepi ranjang dan memegang tangan Elisa.


"Cucuku sayang, aku senang kamu sudah pulang." Elisa tersenyum bahagia melihat Faith datang.


"Kata Rachel kalau oma sedang sakit. Apakah obatnya sudah oma minum?"


Elisa mengangguk. "Sakitku bukan karena penyakitku. Tapi karena Eze yang belum juga pulang. Kapan kau bisa hamil kalau waktunya hanya untuk Kimzy dan anak itu."


"Oma, jangan seperti itu. Bagaimana pun juga Hataru adalah anak Ezekiel. Dia sedang sakit dan butuh perhatian."


Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Apakah aku harus mengatakan juga pada, oma? Tapi, bagaimana jika oma mengatakannya pada Ezekiel?


Elisa membelai punggung tangan Faith. "Aku tahu kau terluka sayang. Aku sedih kenapa Tuhan harus menghadirkan Hataru diantara kalian."


"Oma jangan banyak berpikir ya? Serahkan semuanya pada Tuhan." Faith membenarkan letak selimut Elisa.


Pintu kamar dibuka. Nampak Ezekiel masuk dengan wajah cemas. Ia dan Faith saling bertatapan sekilas. Mata tak bisa berbohong. Terpancar kerinduan di sana. Ezekiel bahkan ingin memeluk Faith.


Faith dapat merasakan kalau Ezekiel terlihat agak kurus. Wajahnya kelihatan lebih tirus dari biasanya.


"Oma, kamu tak apa-apakan?" Tanya Ezekiel.


"Wah, Tuhan memang baik. Kami baru saja membicarakanmu dan kau sudah datang." Senyum Elisa semakin lebar. Ezekiel mendekat, ia duduk dipinggir ranjang yang berseberangan dengan Faith lalu mencium pipi Elisa.


"Eze, mengapa kalian terlihat kaku? Ayo peluk dan cium istrimu. Malam ini kau tidak boleh tidur di apartemenmu. Kau harus tidur di sini. Lakukan usaha untuk mendapatkan anak." Kata Elisa dengan nada memerintah.


Ezekiel berdiri dan segera berputar menemui Faith. Ia memeluk Faith erat. Rasa rindu membuatnya agak lama memeluk Faith.


"Ezekiel, aku merasa sesak napas" Kata Faith dalam pelukan ezekiel.


Ezekiel melonggarkan pelukannya, lalu ia mencium bibir Faith sekilas, membelai pipi istrinya dengan penuh kasih.


Elisa tak dapat menahan air matanya. Hatinya benar-benar bahagia. "Tuhan memberkati kalian sayang....." Ucapnya haru.


Pintu kamar diketuk lalu dibuka perlahan, nampak bi Lastri yang membukanya.


"Faith anakku, ada asistennya Ben mencarimu. Katanya ada barangmu yang tertinggal."


Tangan Ezekiel yang masih memeluk pinggang Faith perlahan terlepas.


"Oma, aku keluar dulu ya." Faith segera keluar kamar. Salah satu asisten Ben membawa sesuatu dalam kantong plastik berwarna hitam. Setelah menerimanya, Faith segera menuju ke kamar. Tepat disaat itu hp nya berbunyi.


"Ben, makasih ya."


"Sama-sama my lady. Sebaiknya kamu melakukan testnya di pagi hari. Lakukan sesuai petunjuk dan segera telepon aku, ya?"


"Ok, bye." Faith sampai di kamar, lalu menyimpan test kehamilan itu didalam kamar mandi, disalah satu laci tempat persediaan keperluan mandi tersimpan.


**********


Ezekiel tidak pergi malam ini. Ia dan Faith sudah berada di kamar. Faith pura-pura sibuk dengan laptopnya. Ia duduk atas sofa sambil laptop diletakan dipangkuannya.


Ezekiel baru selesai mandi. Ia hanya menggunakan celana pendek tanpa ada atasan. Ia duduk di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dengan sudut matanya, Faith dapat melihat dada bidang itu. Jujur, Faith rindu menyandarkan kepalanya di sana.


Pandangan Ezekiel pun tertuju pada Faith. Mengapa dia kelihatan begitu cantik? Pada hal dia sama sekali tidak menggunakan make up. Apakah karena aku yang begitu merindukannya? Dia bahkan terlihat lebih berisi dari biasanya. Pipinya kurusnya sudah mulai berisi. Apakah dia bahagia bersama Ben? Ah....aku benar-benar sakit membayangkan mereka bersama. Ezekiel berucap dalam hati sambil terus memperhatikan Faith.


Merasa diperhatikan, Faith pun menoleh ke arah Ezekiel. Saat pandangan mereka bertemu, hati Faith berdebar. Ah....mengapa aku ingin sekali dia memelukku dan menciumku? Aku pasti sudah gila. Pikiran yang aneh.


"Faith, berhentilah dari pekerjaanmu. Ayo kita tidur. Ini sudah agak larut!" Ajak Ezekiel.


Faith menutup laptopnya namun ia tetap duduk di sofa.


"Tidurlah di sini Faith. Aku janji tidak akan melakukan apa-apa selain memelukmu."


Faith pun beranjak dari tempat duduknya dan segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ezekiel mematikan lampu kamar lalu memeluk Faith yang tidur membelakanginya. Saat tangan Ezekiel menyentuh perut Faith, ia merasakan perasaan aneh yang baru pertama ia alami. Seolah ada sesuatu yang bergerak diperutnya.


#makasi sudah baca part ini


#berikan like dan komentarnya 😍😍


#kalau boleh vote juga ya...he...he...untuk dukung aku