
Hari ini, Ezekiel mengantar Faith ke kampus. Dan seperti biasa kaum hawa di kampus langsung heboh melihat kedatangan si babang bule yang nampak mesra menggandeng tangan Faith.
"Aku tungguh di luar ya...." ujar Ezekiel saat mereka sudah berada di depan kelas.
"Nggak perlu. kelasku sampe jam 1 siang. Sekarang baru mau jam 8 pagi. Nanti kamu bosan."
Ezekiel membelai wajah Faith dengan lembut. "Aku nggak akan bosan. Aku takut nanti ada gempa susulan. Aku akan menunggumu di bangku taman itu. Masuklah!" Tatapan matanya membuat Faith langsung menunduk. Ia tersentuh dengan perhatian Ezekiel.
Faith mengangguk. Ezekiel tersenyum senang. Ia mencium dahi Faith dan mempersilahkan Faith masuk ke kelas.
Ada rona merah di pipih gadis itu saat melihat tatapan mata teman-temannya yang menggoda saat menyaksikan adegan itu.
"Duh, yang jomblo kayaknya harus cepat-cepat menikah deh saat melihat adegan ini. Romantis banget. Apa semua bule seperti itu ya?" Susi langsung berteriak histeris saat Faith mendekati mereka.
"Aku juga mau cari pacar bule dong. Aku mau bawa juga ke kampus" sambung Anna.
"Kalian ini, bukannya konsentrasi karena ada ujian, malah asyik mengusik kesenangan orang. Ayo duduk!" Faith pura-pura marah karena ia sendiri kaget saat Ezekiel menciumnya. Ada perasaan baru yang hadir di hatinya. Perasaan yang merasa senang atas kehadiran Ezekiel yang secara tiba-tiba datang kemarin, memberikannya pelukan hangat dan menenangkan rasa ketakutannya saat gempa terjadi.
Ujian semester memang sudah dimulai. Faith dengan tenang mengerjakan ujiannya sambil sesekali matanya menatap ke luar jendela kaca yang berhadapan langsung dengan taman.
Ezekiel masih setia di sana. Menunggunya sambil sesekali berdiri dan menerima telepon.
Seperti biasa, Faith selalu yang paling cepat menyelesaikan ujiannya. Ia segera menuju ke depan, mengantar lembaran ujiannya dan segera keluar dari kelas.
Ezekiel tersenyum melihat kedatangan Faith sambil melirik jam tangannya.
"Tidak sampai satu jam dan kamu sudah selesai? Apakah kamu mengisih soal ujianmu dengan baik?" tanya Ezekiel sambil menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Kamu yang lulusan S2, boleh ke kelas sekarang, mengambil kertas ujianku dan memeriksanya. Aku jamin kau tidak akan menemukan ada yang salah dengan ujianku" kata Faith dengan bangganya.
"Baiklah. Aku percaya akan otakmu yang jenius itu." Ezekiel meraih tangan Faith, mengecupnya dengan lembut.
"Ezekiel, jangan seperti ini." Faith menarik tangannya secara spontan sambil melirik ke kanan dan ke kiri.Takut kalau ada yang melihat.
"Ada apa?" tanya Ezekiel bingung.
"Jangan bersikap mesra di depan umum. Apalagi ini di lingkungan tempat pelaksanaan pendidikan. Nanti kita dianggap mesum."
Ezekiel mengerutkan dahinya " Mencium tangan istri sendiri dianggap mesum? Kamu terlalu berlebihan."
Faith duduk di bangku taman. "Mengapa kamu nggak menunggu di mobil saja? Di sini kan agak panas. Wajah bulemu itu agak merah" Faith mengalihkan pembicaraan.
"Wah, kamu memperhatikan aku ya?" Tanya Ezekiel dengan tatapan menggoda.
Faith memalingkan wajahnya. "Ih...menyebalkan!" wajah gadis itu kembali merona.
"Tempat parkirnya kan agak jauh, aku nggak bisa mengontrol kamu kalau tiba-tiba terjadi gempa susulan. Tadi malam saja dua kali terjadi gempa. untung kamu sudah terlelap dalam pelukanku."
Faith menyiku pinggang Ezekiel sedikit jengkel dan juga rasa malu. Cowok di sampingnya itu dengan mudahnya mengucapkan kata-kata yang membuat kuping Faith memerah serta jantungnga berdetak tak karuan.
Ezekiel hanya terkekeh.
"Joe tadi menelepon. Dia sudah menemukan seorang psikiater yang baik di kota ini.Kau harus terapi untuk menghilangkan rasa traumamu itu."
"Aku punya psikiaterku sendiri. Sebenarnya sudah hampir 2 tahun ini aku nggak ke sana lagi. Besok, aku akan mengatur jadwal dengannya. Namanya dokter Clara Iriana. Dia sahabat mamaku."
"Wah kebetulan sekali. Itu nama psikiater yang Joe berikan padaku. Kau memang harus sembuh. Supaya jika kau sendiri dan gempa terjadi, maka kau bisa mengatasi rasa ketakutanmu itu." ucap Ezekiel dengan penuh perhatian. Ia meraih kedua tangan Faith, mengenggamnya erat.
Ada sesuatu yang hangat mengalir di hati Faith. Sentuhan Ezekiel membuatnya merasa damai dan tenang.
"Besok aku dan Joe akan ke Bali." kata Ezekiel setelah beberapa menit mereka saling diam.
"Pergi lagi?" Tanya Faith spontan namun sedetik kemudian ia menyesali pertanyaannya karena Ezekiel yang masih menggengam tangannya, membawa tangan Faith ke dadanya dan memandangnya mesra.
"Apakah kamu sudah merindukanku?" Tanya Ezekiel dengan tatapan menggoda.
"Pertanyaan macam apa itu?" Faith menarik tangannya dari gengaman Ezekiel dan langsung berdiri.
"Aku mau ke perpustakaan. Ada sesuatu yang harus kulakukan di sana sebelum masuk kelas lagi."
"Baiklah honey, aku akan menunggumu di sini"
Faith langsung melangkah meninggalkan Ezekiel. Dadanya berdebar kencang dan dia tak mau sampai Ezekiel semakin menggodanya karena wajahnya yang pasti sudah menjadi merah karena pertanyaan tadi.
Sementara Ezekiel yang menatap kepergian Faith tersenyum puas. Sedikit lagi, sayang.Kamu akan jatuh cinta pada bule ini.Gumannya senang. Lalu ia pun menelepon seseorang.
*************
"Karena besok aku akan pergi, maka hari ini aku ingin menghabiskan waktukku denganmu. Kita akan pergi kencan" kata Ezekiel sambil tangannya yang satu meraih tangan Faith dan menciumnya mesra.
"Kencan?"
"Iya. Memangnya kamu belum pernah kencan?"
Faith diam. Tentu saja belum. Dia kan tidak pernah menyukai cowok lain selain Daniel. Faith selalu menolak setiap pria yang mendekatinya karena baginya tidak ada pria yang lebih baik selain Daniel. Ia hanya tersenyum saat teman-temannya menceritakan tentang kencan mereka.
"Kau mau kan?" tanya Ezekiel melihat Faith hanya diam.
"Memangnya kita mau kemana?"
"Ke hotel dan menghabiskan waktu berdua saja di kamar. Pasti menyenangkan."
"Apa?" Faith berteriak kaget.
Ezekiel tertawa " Nggak. Kita akan jalan-jalan di mall setelah itu nonton dan makan malam."
"Baiklah. Tapi cafe..."
"Jangan khawatir. Aku sudah menghubungi Dina dan dia memberimu ijin."
Faith tersenyum senang. Ia mengangguk dengan hati yang berdebar. Kencan pertamaku.
Sudah dipastikan dimanapun Ezekiel hadir selalu mengundang perhatian dari semua orang apalagi kaum hawa. Faith menjadi sedikit risih karena Ezekiel selalu melingkarkan tangannya dibahunya seolah ingin mengatakan pada semua orang bahwa Faith adalah miliknya.
Film yang dipilih oleh Ezekiel adalah komedi romantis. Peminat film ini lumayan banyak. Dan Ezekiel dengan sabarnya berdiri dengan para peminat lainnya saat antri membeli tiket. Tentu saja kehadiran Ezekiel di barisan antrian itu menimbulkan kesan tersendiri. Beberapa ABG bahkan minta foto bareng dirinya.
"Kamu suka sekali tebar pesona ya?" Ujar Faith saat Ezekiel sudah selesai membeli tiket.
"Supaya kamu sadar betapa mempesonanya suamimu ini."
"Ish..."Faith mencubit pinggang Ezekiel. Dan pria itu hanya tertawa senang.
Saat mereka sudah berada di dalam bioskop, tempat duduk yang dipilih oleh Ezekiel adalah deretan paling belakang.
"Kok disamping kanan dan kiri kita nggak ada orang ya, pada hal pengunjung bioskop ini kan sangat banyak." Tanya faith bingung
"Aku membeli semua tiket untuk nomor bangku yang ada dideretan kita, supaya tidak ada yang akan menganggu kita" bisik Ezekiel lalu mencium pipi Faith.
"Dasar bule gila." Gerutu Faith sangat pelan.
"Aku mendengarmu sayang..."
Faith hanya terkekeh lalu pura-pura menatap ke arah layar yang sudah mulai dengan pemutaran filmnya.
Dua jam berada di dalam bioskop membuat Faith merasa sangat terhibur. Filmnya benar-benar lucu dan membuat hati meleleh karena suasana romantis yang tercipta. Ezekiel pun selalu menggoda Faith jika ada adegan romantis dengan mencium tangan atau pipi gadis itu.
Selesai menonton, keduanya berbelanja beberapa barang setelah itu makan malam romantis.
"Kamu senang?" tanya Ezekiel saat keduanya sudah memasuki kamar.
"Iya. Terima kasih ya...."
"Kamu kan tahu kalau aku tidak mau kamu berterima kasih hanya dengan kata-kata"
Faith yang baru saja meletakan tasnya di dalam lemari, menoleh dengan kaget. Ezekiel sudah ada di depannya, mendorong tubuh Faith perlahan sehingga gadis itu sudah bersandar di pintu lemari. Tangan kanannya memegang dagu Faith sedangkan tangan kirinya memeluk pinggangnya sehingga tubuh mereka menjadi sangat rapat. Ezekiel menunduk lalu bibirnya menyentuh bibir Faith, ********** perlahan sampai ia merasa bahwa gadis itu membalas ciumannya.
"Mandilah, kemudian belajar lagi. Besok masih ada ujian kan?" Ezekiel mengahiri ciumannya, membelai bibir Faith dengan jari jempolnya lalu ia segera keluar dari kamar.
Faith memegang dadanya yang berdegup kencang. Ya Tuhan, perasaan apa ini? Mengapa ia justru menikmati ciuman Ezekiel?
Ah....ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh terlena dengannya. Ini tidak mungkin.
Faith langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin dengan mandi pikirannya akan menjadi jernih.
#makasi sudah membaca part ini
#jangan lupa like, koment dan vote nya....
gratis kok...
🥰🥰😙😙