
Langkah Ezekiel yang terhenti di depan pintu masuk kamar saat mendengar kata 'perceraian' yang diucapan Faith, membuat bi Lastri yang sudah melihat kedatangannya langsung berkata,"Anakku, mengapa berhenti di situ? Masuklah!"
Rachel dan Faith sama-sama menoleh. Ezekiel akhinya masuk dan mendekati ranjang Faith. Ia masih menggunakan baju kerjanya. Wajahnya nampak lelah.
Rachel langsung memberi kode pada bi Lastri untuk meninggalkan mereka sendiri.
"Bagaimana keadaanmu, sudah merasa baikan?" Tanya Ezekiel setelah Rachel dan Bi Lastri keluar.
Tangannya menyentuh dahi Faith.
Faith yang sedang berbaring segera memalingkan wajahnya. Ia tak ingin ada kontak fisik lagi dengan Ezekiel karena saat Ezekiel memeluknya semalam, ia hampir saja lupa dengan semua rasa sakit yang ditimbukan lelaki bule itu.
" Aku sudah baik!" Jawab Faith pelan. Namun tidak dengan hatiku. Hati ini tidak akan pernah sembuh, ucap Faith dalam hati.
"Kamu sudah makan?"
Faith hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Ezekiel.
Ezekiel menarik kursi dan meletakannya disamping ranjang. Ia duduk sambil tangannya menyentuh kepala Faith. Membelai rambut Faith dengan penuh kasih.
"Jangan memperlakukan aku seperti ini. Supaya jika kita berpisah, tak akan banyak kenangan manis yang akan membuatku sulit melupakanmu." Ucap Faith getir. Ia berusaha menekan air matanya supaya tidak jatuh. Ia tak mau kelihatan cengeng didepan Ezekiel.
Ezekiel seperti tak peduli dengan kata-kata Faith. Ia bahkan berdiri, duduk di samping ranjang, sambil tangannya memegang tangan Faith.
"Lepaskan, aku Ezekiel!" Faith berusaha menarik tangannya tapi ia yang lemah memang tak mampu melawan kekuatan Ezekiel.
"Aku minta maaf." Ucap Ezekiel pelan.
"Aku sudah memaafkanmu." Ucap Faith, ia memandang Ezekiel sebentar lalu berbalk lagi. Ia tak sanggup menatap mata biru itu.
"Aku tak ingin bercerai." Kata Ezekiel pelan namun terdengar tegas. Tangannya masih erat memegang tangan Faith.
Faith terkejut. Di tatapnya Ezekiel dengan heran.
"Mengapa? Kau sudah berjanji untuk menikahi Kimzy kan? Aku siap mengalah. Aku akan pergi dan takan mengganggu kehidupan mu. Bahkan aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di Inggris ini. " Ucap Faith dengan penuh keyakinan.
" Tadi, saat aku melihatmu pingsan, aku sangat ketakutan. Aku sadar bahwa kamu telah ada di hatiku, Faith."
"Dan Kimzy pun ada di hatimu juga kan?" Ketus Faith dengan wajah kesal.
Ezekiel tak menjawab.
"Lepaskan tanganku!" Faith menarik tangannya dan membuat selang infusnya terlepas dan darahnya memancar keluar.
"Faith, apa yang kamu lakukan?" Ezekiel segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat. Tak lama kemudian dokter Albert dan 2 orang perawat segera datang.
Ezekiel pun keluar ruangan karena Kimzy meneleponnya.
"Rachel, tolong jaga Faith ya. Hataru mengamuk di rumah sakit karena mencariku." Ujar Ezekiel kepada adiknya sebelum pergi.
Rachel hanya mendengus kesal. "Kau akan kehilangan mutiaramu kakak." Desisnya pelan.
**********
2 hari dirawat di rumah sakit, Faith sudah dinyatakan sembuh dan diijinkan pulang. Namun Faith berkeras hati tak mau pulang ke mansion. Ia sudah memesan hotel selama 1 hari sebelum pulang ke Indonesia.
Bi Lastri dan Rachel tak mampu mencegahnya sementara Ezekiel sejak malam itu hanya datang namun tak berani dekat dengan Faith karena ia takut istrinya itu akan bertindak nekat.
"My swety girl...!" Elisa tiba-tiba saja muncul di ruangan Faith sambil memeluk gadis itu dengan sepenuh hatinya.
"Terima kasih sayangku. Kau akhirnya kembali ke London. Oma langsung ke sini mendengar kau sakit. Di mana Ezekiel?" Tanya Elisa sambil mengitari seluruh ruangan itu.
" Aku di sini, oma." Ezekiel muncul di belakang Elisa. Daren memang sudah meneleponnya.
" Kau apakan cucu ku ini? Mengapa dia sampai sakit?" Elisa mulai dengan suara melengkingnya.
"Sabar sayang, ingat tekanan darahmu." Daren langsung menepuk-nepuk punggung istrinya dengan lembut.
"Oma, aku kan baru saja datang, mungkin terkena virus di pesawat atau bandara. Makanya jadi demam. Sekarang aku sudah bisa pulang" Faith langsung tersenyum.
"Kamu akan pulang ke mansion kan? Karena mulai hari ini kalian harus berusaha memberikan aku cicit. Aku tidak mau mati tanpa melihat penerus Thomson. Aku rela menjalani pengobatan yang rasanya sakit sekali demi melihat penerus Thomson yang akan kau lahirkan." Elisa memegang tangan Faith. " Sayang, berjanjilah padaku kalau kau akan berusaha." Lalu ia menatap Ezekiel. "Dan kau..., jangan habiskan waktumu di rumah sakit. Ingat kau punya istri. Aku tak marah mengenai anak itu, tapi maaf, aku sulit menerimanya." Elisa tiba-tiba saja merasa pusing.
"Oma...." Semua langsung berteriak kaget.
Faith dengan cepat memeluk pinggang Elisa agar tidak jatuh. Ia lalu menuntun Elisa ke sofa agar bisa duduk.
"Oma......" Rachel jadi khawatir. Ia bahkan sampai menangis.
" Kalian tenanglah. Aku takan mati sebelum cicitku lahir." Ucap Elisa sambil menyentuh tangan Faith dan Rachel yang memang duduk di samping kiri dan kanannya.
Akhirnya, mereka kembali ke mansion bersama. Faith mengalah karena melihat situasi oma yang masih lemah.
**************
"Kakak ipar, opa ingin bicara denganmu." Kata Rachel. Faith yang baru saja keluar dari kamar oma segera menuju ke ruang kerja opa.
Ia kaget melihat Ezekiel ada di sana.
"Anakku, apa benar kau ingin bercerai dari Ezekiel?" Tanya Daren sambil menatap Faith dengan penuh kasih.
"Iya, opa." Angguk Faith sambil melirik sekilas pada Ezekiel yang duduk di sampingnya.
"Baguslah !"
Faith terpana. Ia tak menyangka opa akan mengatakan itu. Ezekiel yang duduk disampingnya pun nampak kaget juga.
" Faith berhak bahagia, Ezekiel. Kamu sendiri juga kan terikat janji untuk menikahi Kimzy demi anakmu. Jadi, walaupun di keluarga Thomson ini tak pernah terjadi perceraian, kali ini aku mengijinkan dengan satu syarat, kalian bisa bercerai kalau Faith bisa hamil dan memberikan cicit untuk oma. Karena dia sakit dan kapan saja dia bisa meninggal."
"Tapi, opa. Itu tidak mungkin. Aku sama sekali tidak ingin disentuh lagi oleh Ezekiel." Ucap Faith tegas.
"Demi oma, Faith. Apa kau mau dia meninggal penasaran karena keinginannya tidak terwujud? Opa mohon kepada kalian. Lakukan demi, oma." Daren membuka kacamatanya dan menghapus air matanya.
"Aku mohon kepada kalian berdua, berikan apa yang oma inginkan." Kata Daren sedih.
Hati Faith tersentuh. Ia melihat bagaimana besarnya cinta Daren untuk Elisa. Tapi, hatinya sudah bulat untuk bercerai dengan Ezekiel.
"Opa, kami tidak akan bercerai sebelum mewujudkan keinginan, oma." Kata Ezekiel dan membuat Faith terkejut.
" Baiklah. Opa tinggalkan kalian berdua." Daren berdiri meninggalkan Faith dan Ezekiel.
Suasana sepi terjadi setelah opa meninggalkan ruangan kerjanya.
"Aku mohon padamu, Faith. Mari wujudkan keinginan oma." Kata Ezekiel pelan.
"Aku tak mau disentuh lagi olehmu."
"Aku mohon......! Aku tak mau menyakiti oma. "
Faith berdiri. "Aku akan tetap di sini demi, oma. Aku akan berusaha bersikap baik saat di depan oma. Namun aku tak ingin bersentuhan lagi denganmu" lalu ia meninggalkan Ezekiel sendiri.
************
Setiap malam, Faith memilih tidur di sofa. Ia tak mungkin tidur di kamar tamu karena jika oma tahu maka itu akan menyakitinya.
Ezekiel pun kadang pulang larut sebab jika pulang kantor, ia akan mampir ke rumah sakit dulu.
Seperti pagi ini, Faith masih tetap di kamar sambil menungguh Ezekiel yang sementara ganti baju.
Hp Faith berbunyi. Ada nomor baru yang masuk.
"Hallo...."
"Hallo my lady, apakah kau sudah sehat?"
"Ben?"
Ezekiel yang sementara menggenakan kemejanya menoleh dengan tatapan tak suka saat mendengar nama Ben.
"Iya. Ini aku. Boleh kita bertemu besok?"
"Memangnya ada, apa?"
"Ada urusan penting. Boleh ya? Please....."
"Baiklah. Kita akan ketemu besok. Bye...." Faith mematikan hp nya.
"Ada urusan apa Ben meneleponmu?" Tanya Ezekiel dengan nada cemburu.
"Dia hanya ingin bertemu. Itu saja."
" Dia itu play boy. Jangan pergi!"
"Aku hanya ingin berteman."
"Dia itu perayu yang hebat."
"Aku bukan perempuan murahan yang akan tergoda dengannya. Lagi pula apa salahnya aku dekat dengan dia?'
"Faith......!" Ezekiel jadi geram.
"Jangan berteriak padaku!" Faith bermaksud akan pergi namun Ezekiel justru menahan tangannya, menarik Faith sehingga mereka saling berhadapan. Dan tanpa diduga, ia justru mencium bibir Faith dengan kasar. Faith ingin melepaskan ciuman itu namun Ezekiel yang tak menginjinkan. Ia bahkan menekan kepala Faith agar ciuman itu semakin dalam. Perlahan pertahanan Faith melemah. Ezekiel yang memang sangat ahli dalam melancarkan ciumannya mampu membuat Faith tak berkutik. Apalagi sudah berbulan-bulan lamanya ia tak menyentuh bibir mungil itu.
"Lepaskan......!" Faith yang sudah menemukan kembali kesadarannya mendorong Ezekiel dengan kuat. Setelah itu ia segera keluar dari kamar.
Ezekiel meraba bibirnya sendiri lalu ia tersenyum. Kau masih milikku sayang.
# makasi sudah baca part ini
#jangan lupa like, koment and vote nya ya....
#maaf kalau ada salah-salah kata soalnya aku lagi liburan bareng keluarga he....he.....
# Faith bahagianya sama Ben atau Ezekiel ya....