
Sejak kejadian malam pengantin yang gagal untuk kedua kalinya, Ezekiel sedikit menjauh dari Faith. Dan hal itu membuat Faith sangat sedih. Ia bahkan tidur di kamar yang berbeda dengan Faith.
Ezekiel selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Sekretaris Joe, dimana Ezekiel?" tanya Faith saat pagi ini ia berpapasan dengan Joe di lobby hotel.
"Tuan ada di ruangan kerjanya"
"Aku mau ketemu."
"Silahkan!" Joe mengantarkan Faith sampai di depan pintu. Saaf Faith masuk dilihatnya Ezekiel baru saja mengenakan jasnya. Nampaknya ia bersiap akan pergi.
"Kamu mau pergi?" Tanya Faith
Ezekiel mengangguk tanpa menoleh. Tangannnya memasukan beberapa berkas ke dalam tas
"Aku akan pulang hari ini"
"Nanti saya akan menyuruh sopir hotel mengantarmu ke bandara." Ujar Ezekiel lalu meraih tasnya dan melangkah hendak pergi.
" I hate you....!" Kata Faith dengan suara yang kesal. Napasnya sampai naik turun karena merasa sakit hati dengan sikap cuek Ezekiel.
Ezekiel berhenti. Ia menatap ke arah Faith yang memang sedang menatapnya dengan mata yang
yang basah.
Ezekiel tersenyum "You dont hate me, baby. You love me."
"Siapa bilang aku mencintaimu? Aku sangat membencimu" Air mata Faith jatuh. Ia menghapusnya dengan kasar.
"Tahukah kamu kalau kamu bilang benci pada seseorang maka sesungguhnya kamu sangat mencintainya?"
"Aku benci padamu.....! Aku benci....!" Teriak Faith sambil menghentakan kakinya.
Dasar bocah. Sikap kekanakannya muncul kalau begini ujar Ezekiel dalam hati. Ia mendekat, melepaskan tas yang dipegangnya lalu memeluk Faith erat.
"Lepaskan aku..!" Faith memberontak. Ia ingin melepaskan diri dari pelukan Ezekiel.
Ezekiel semakin erat memeluknya. "Maafkan aku.
Pekerjaanku benar-benar banyak di sini. Aku harus mengerjakannya sampai minggu ini karena akan kembali ke London."
"Apakah kamu marah karena malam pertama kita gagal? Kamu bahkan tidur di kamar yang berbeda." Tanya Faith sambil mengangkat kepalanya dan memandang Ezekiel.
Ezekiel melonggarkan pelukannya. Memegang kedua pipi Faith lalu menghadirkan ciuman singkat dibibir gadis itu.
"Aku sengaja menghindar karena memang sangat tersiksa berada di sampingmu tanpa bisa menyentuhmu." Tangannya membersihkan sisa air mata Faith , lalu kembali mencium bibir gadis itu sekilas.
"Aku pergi dulu ya. Kita akan ketemu lagi minggu depan. Persiapakan pasportmu untuk ke London"
Faith hanya mengangguk dan melepaskan Ezekiel pergi. Ia tak mengerti dengan sikap Ezekiel padanya. Apakah pria bule itu menyukainya ataukah dia hanya terobsesi karena belum memiliki Faith di tempat tidurnya. Yang dia tahu saat ini adalah bahwa ia telah jatuh cinta pada pria bule itu.
***************
Seminggu kemudian, Ezekiel datang menjemputnya. Mereka naik pesawat pribadi Ezekiel menuju ke London. Faith sangat senang karena ini pengalaman pertama baginya naik pesawat pribadi.
Mereka tiba di London saat pagi baru saja datang sehingga salju terlihat dengan jelas.
"Kamu senang?" tanya Ezekiel saat keduanya sudah berada di dalam mobil yang menjemput mereka.
"Iya. Walaupun ini bukan salju pertama yang kulihat namun sudah lama sekali aku tidak melihat salju. Liburan terakhirku sewaktu mama masih hidup. Terima kasih Ezekiel" Ucap Faith tulus sambil memandang Ezekiel dengan wajah tersenyum.
Ezekiel melingkarkan tangannya di bahu Faith dan menarik gadis itu untuk duduk semakin dekat padanya.
"Berterima kasihlah secara benar." Bisiknya.
Faith yang sedang bersandar di bahu Ezekiel mengangkat kepalanya dan menatap cowok itu dengan mata melotot. Apakah pria bule ini minta cium lagi? Bukankah selama perjalanan mereka menghabiskan waktu dengan berciuman di dalam pesawat? Faith bahkan merasa bahwa bibir tipisnya kini agak tebal karena seringnya mereka berciuman.
"Ezekiel, ini didalam mobil. Ada sopirmu yang bisa mendengarkan dan melihat kita" Kata Faith pelan. Ia takut kalau sopir itu pun bisa berbahasa Indonesia mengingat semua bule yang dekat dengan Ezekiel, baik pengawal ataupun teman-temannya, banyak yang bisa berbahasa Indonesia.
"Tenanglah, sopirku ini hanya bisa berbahasa Inggris." kata Ezekiel seakan menebak isi hati Faith.
" Dan kalau kau takut dia akan melihat kita..."Ezekiel sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia memajukan tubuhnya dan menutup kaca pembatas antara tempat sopir dan penumpang. "Kita aman sekarang. Kaca ini tidak tembus pandang dari depan dan kedap suara. Jadi apa yang terjadi di sini, dia tidak akan mengetahuinya"
Faith terkejut dan sebelum ia bisa berbuat apa-apa, Ezekiel sudah menarik tengkuknya dan melabuhkan ciumannya dengan panas. Ia seolah sedang mencari kehangatan untuk melawan udara dingin yang bersalju.
Mereka memasuki kawasan apartemen mewah yang ada di pusat kota London.
Ezekiel memegang tangan Faith dan segera berjalan menuju ke lift khusus. Apartement ini dibangun oleh Ezekiel. Ada 26 lantai yang tersedia. Tiap lantai hanya berisi 2 unit sehingga membuah apartemen ini mewah dan menjaga privasi penghuninya. Kamar Ezekiel ada dilantai paling atas. Lift yang mereka naiki sekarang adalah lift khusus yang langsung terhubung dengan lantai paling atas. Terpisah dengan Lift yang ada di dalam apartemen. Pintu masuk itu pun hanya bisa dibuka oleh Ezekiel dan orang-orang terdekatnya.
Saat memasuki ruangan apartemen, Faith dibuat kagum karena interiornya yang mewah dan modern.
"Di lantai satu ini ada dua kamar. satu kamar pembantu dan satu kamar tamu. Di atas ada kamarku dan ruang kerjaku." Ezekiel menjelaskan tanpa diminta.
Sopir yang mengantar mereka langsung pergi setelah meletakan koper di dalam kamar.
"Di sini tak ada pembantu yang tinggal. Mereka hanya datang jika kupanggil dari masion utama. Aku lebih suka sendiri." Ezekiel mengajak Faith ke lantai dua. Dan lagi-lagi Faith dibuat terkejut dengan desain ruangan yang ada.
"Ruang kerjaku ini berhadapan langsung dengan kantorku!" Ezekiel menunjuk sebuah bangunan bertingkat yang berada tak jauh dari apartemen ini. Bagian atas bangunan itu bertuliskan THE THOMSON COMPANY.
"Dan ini adalah kamar kita." Ezekiel membuka pintu kamar dan sekali lagi Faith dibuat kagum dengan interior kamar itu.
"Aku harap di kamar ini, kita tidak akan gagal lagi." bisik Ezekiel sambil memeluknya dari belakang.
Faith menatap ranjang berukuran king zise itu. Hatinya berdebar membayangkannya. Faith menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu menggelengkan kepala?" Tanya Ezekiel sambil membalikan tubuh Faith.
"Nggak....." Faith jadi merah wajahnya
Ezekiel mencubit pipi gadis itu dengan gemes. "Kamu istirahat saja. Aku harus pergi ke kantor karena sudah banyak pekerjaan yang menungguku."
"Memangnya kamu nggak capek?"
Ezekiel menggeleng lalu segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, berganti pakaian dan langsung pergi ke kantor.
Faith duduk di atas sofa ia merasa agak mengantuk. Sepanjang perjalanan ia nyaris tak tidur karena Ezekiel selalu menganggunya dengan ciuman nakalnya.
Faith akhirnya ia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang empuk itu.
************
Hari sudah malam saat Faith bangun. Tubuhnya terasa segar apalagi setelah ia berendam air hangat di kamar mandi dengan sabun aroma terapi yang membuat pikirannya ikut merasa tenang.
Ah....lapar deh...Ujar Faith sambil mengusap perutnya. Ia segera turun ke bawah dan tersenyum senang melihat di atas meja sudah ada makanan yang tersaji. Ada nasi nya juga.
"Good evening, Mrs. Thomson!" Sapa seorang pelayan.
Faith sedikit terkejut melihat ada seorang pelayan di sana. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahun.
"Hi......" Sapa Faith sedikit canggung dengan sebutan nyonya Thomson yang diberikan padanya.
"Makan malam sudah tersedia. Nyonya makan saja. Saya akan kembali ke Masion utama."
Faith hanya mengangguk. Pelayan itu segera pamit dan meninggalkan Faith sendiri.
Faith makan banyak malam ini. Di pesawat dia hanya makan roti dan minum segelas susu. Perut Indonesia nya hanya akan kenyang jika ia sudah makan nasi. Ia bersyukur karena pelayan itu menyiapkan nasi, ayam goreng dan telur mata sapi.
Sekalipun lidahnya yang terbiasa makan makanan pedas merasa agak kurang enak dengan makanan tanpa ada sambal ini, namun rasa lapar membuatnya hampir menghabiskan semua makanan yang ada di depannya.
"Ah, perutku sudah sebesar ini." Faith jadi tertawa sendiri. Ia lalu membersihkan semua peralatan makan yang digunakannya. Selesai itu Faith duduk di ruang tamu sambil menatap jam dinding. Sudah jam 8 malam dan Ezekiel belum juga datang. Menelepon atau mengirim pesan pun tidak.
Apakah sesibuk ini seorang Ezekiel Elio Thomson? Laki-laki yang menjadi suaminya? Dan apakah dia akan kesepian seperti ini jika akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di London?
Faith melangkah naik ke lantai 2. Ia menuju ke ruang kerja Ezekiel sehingga bisa menatap gedung tempat cowok itu bekerja.
Gedung bertingkat itu nampak megah dengan lampu yang masih menyala di beberapa bagiannya.
Faith memperhatikan meja kerja Ezekiel. Ada foto keluarganya di sana seperti foto yang ada di Bali.
Faith membuka laci meja kerja itu. Matanya terpana melihat foto seorang gadis bermata agak sipit berambut panjang. Kulitnya yang putih bersih membuat Faith yakin kalau gadis ini berasal dari Cina, Korea ataupun dari Jepang.
Apakah ini Kimzy? Tanya hati Faith. Ia harus jujur mengakui kalau Kimzy sangat cantik.
Tiba-tiba hati Faith merasa sakit. Ezekiel pasti sangat menyayangi gadis ini sehingga fotonya masih terus disimpannya.
Ia meletakan foto itu ke tempat semula. Lalu kembali menatap gedung The Thomson Company. Hatinya galau.
#makasi sudah baca part ini
#terus dukung author ya...dengan like, komen dan vote...😍😍😍😍