
Ezekiel menghempaskan tubuhnya di atas sofa kamar dengan wajah yang lelah. Ia tak menyangka kalau pekerjaannya hari ini sangat menyita waktu dan tenaganya.
"Apakah anda butuh sesuatu tuan?" Tanya Joe yang berdiri di samping Sofa.
"Tidak. Aku hanya ingin mandi dan tidur. Oh ya, apakah Faith jadi datang?"
"Nona Faith sudah sampai sekitar 2 jam yang lalu. Tapi hanya 15 menit kemudian, ia keluar lagi."
"Ke mana dia pergi?" Ezekiel menatap jam tangannya. waktu sudah menunjukan pukul 23.30.
Ia mengambil hp nya dan mencoba mencari gadis itu melalui layar kamera khusus yang di pasang, namun ia terkejut karena gambar kamera menunjukan langit-langit kamar hotel ini.
"Dia meninggalkan hp nya di kamar. Kemana dia? Ini sudah hampir tengah malam. Joe, cari Faith. Aku mau mandi dulu." Ezekiel segera melangkah ke kamar mandi. Ia bingung dengan Faith yang secara tiba-tiba menghilang. Ezekiel mandi secara cepat dan segera turun ke lobby hotel.
"Tidak ada yang melihat nona Faith. Dari rekaman CCTV, nona terlihat berjalan ke arah jalan depan." lapor Joe dengan wajah tertunduk. Ia tahu laporannya akan membuat bos nya marah besar.
Kemana bocah itu, menyusahkan saja. Ezekiel mulai dongkol. Ia khawatir sesuatu terjadi pada Faith.
"Ayo cari istriku. Kalau tidak ketemu, aku pecat kalian semua." Teriak Ezekiel marah. Joe sendiri tak pernah melihat Ezekiel semarah ini.
pukul 00.15
"Tuan, kami menemukan nona sedang duduk di pantai. Kami sudah mengajak nona namun ia tak mau" Lapor salah satu pengawal.
"Apa yang dia pikirkan dengan duduk sendirian di pantai pada hal ini sudah tengah malam?" Ezekiel segera melangkah dengan marah menuju ke pantai yang letaknya memang di belakang hotel.
Agak jauh ia melangkah, sampai ia melihat ada sebuah tenda yang dihiasi dengan beberapa balon dan hiasan khas ulang tahun, ada makanan dan juga kue Hut dengan lilin angka 29 yang sedang menyalah.
"Selamat ulang tahun. Aku tahu tanggal ini lebih banyak membuatmu sedih dari pada bahagia. Namun hidup adalah berkat yang harus disyukuri. Tak peduli sesakit apapun kekecewaan yang pernah kau alami, namun Tuhan juga sudah memberikan banyak kebaikan untuk kau nikmati." Faith muncul, mengangkat kue itu dari meja dan berjalan mendekati Ezekiel.
Kata-kata Faith begitu menyentuh Ezekiel. Tanggal ulang tahun ini pernah dianggap tanggal kutukan bagi Ezekiel karena ia kehilangan papanya disaat ia berulang tahun. Sejak saat itu Ezekiel membenci perayaan ulang tahun karena selalu mengingat wajah papanya. Dia memang kecewa. Tapi Faith benar, Tuhan sudah melakukan banyak kebaikan padanya sehingga ia boleh menjadi seorang pengusaha muda paling sukses hingga saat ini.
"Terima kasih" ucap Ezekiel tulus. Ia bahkan lupa kalau ini ulang tahunnya.
"Ayo tiup lilinnya"
Ezekiel melakukannya.
"Happy Birthday. Wish you all the best" kata Faith lembut dan ia mencium pipinEzekiel.
Pria bule itu tertegun. Gadis mungilnya ini sudah berani menciumnya.
"Ayo makan, aku sendiri yang memasaknya." Faith menarik tangan Ezekiel dan duduk di depan meja bulat yang sudah tersedia di sana.
"Bagaimana kamu menyiapkan semuanya ini?" Tanya Ezekiel sambil mulai mengunyah makanannya.
"Aku melakukannya di dapur hotel. Dengan bantuan beberapa orang pelayan."
"Bagaimana bisa?" Ezekiel mengerutkan dahinya.
"Aku menggunakan kedudukanku sebagai nyonya Thomson untuk membuat mereka mau bekerja sama denganku. Walaupun sebenarnya rencanaku hampir gagal karena Joe awalnya tidak mau bekerja sama denganku. Dia terlalu takut untuk membohongimu." Kata Faith dengan penuh rasa bangga.
Ezekiel menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangkah kalau Faith bisa melakukan semua ini. Apalagi sampai membuat Joe berdusta padanya. Padahal selama ini, Joe selalu taat dan setia padanya.
"Baiklah nyonya Thomson." Ezekiel tersenyum senang. Ia meraih tangan Faith dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. Ia berdiri dan menarik Faith untuk ada dalam pelukannya. Dibelainya wajah halus itu.
"Kau sudah berani mengatakan bahwa dirimu adalah nyonya Thomson, jadi buktikan itu sekarang."
"A....pa?" Faith menjadi gugup.
"Cium aku dengan keberadaan dirimu sebagai nyonya Thomson"
"Aku....." Faith gemetar namun tak sempat berkata lagi, Ezekiel sudah mengulum bibirnya rakus. Seakan hendak mengambil semua rasa manis yang ditawarkan oleh bibir Faith yang tipis itu. Ciuman yang cukup lama, terkadang Ezekiel melepasnya hanya untuk memberikan waktu beberapa detik bagi keduanya menghirup oksigen, namun setelah itu ia melanjutkan kembali ciuman itu.
"Aku mau hadiah." Ucapnya setelah ciuman itu berhenti.
"Hadiah? Hadiah apa? kamu sudah punya segalanya. Aku sendiri bingung harus memberikan kamu hadiah apa. Makanya aku hanya membuatkan makanan saja."
Ezekiel melingkarkan kedua tangannya dipinggang Faith "Akan ku katakan besok hadiah apa yang aku inginkan. Sekarang, mari kita kembali ke kamar. Aku ingin tidur. Hari ini aku capek sekali."
Faith mengangguk. Membiarkan Ezekiel menggandeng tangannya sampai mereka kembali ke hotel. Tak ada penolakan dari Faith saat Ezekiel memeluknya erat ketika mereka sudah berbaring dalam kamar. Pelukan Ezekiel sungguh membuatnya nyaman.
*************
Saat gadis cantik itu bangun, Ezekiel baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan celana jeans selutut, bertelanjang dada sambil mengibaskan rambutnya dengan tangan kanannya. Wajah Ezekiel nampak segar membuatnya terlihat semakin ganteng. Faith kembali mengakuinya dalam hati bahwa si bule ini memang seperti titisan dewa yang turun ke bumi.
"Ada yang salah denganku? Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Ezekiel sambil mengerutkan dahinya.
Faith buru-buru menggeleng dengan wajah merah.
"Aku mau mandi." Ia turun dari tempat tidur dan segera melangkah masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Ezekiel sudah tidak ada di kamar. Faith pun langsung mengenakan pakaiannya lalu mengambil hp nya yang berbunyi.
"Hallo...." Sapanya lembut saat tahu Ezekiel yang menghubunginya.
"Aku tunggu kamu di kantorku. Kita sarapan di sana."
"Baiklah..!" Faith segera turun ke bawa dan menemui Ezekiel.
Sementara makan, Ezekiel menanyakan tentang terapinya dan juga kuliahnya.
"Minggu depan kamu sudah libur kan?"
Faith mengangguk.
"Kau ikut aku ke London. Kita liburan natal di sana."
"Benarkah?" Faith sangat senang. Ia memang sudah beberapa kali ke luar negeri. Tapi dia belum pernah ke Inggris.
"Iya. Aku harus membawamu supaya Rachel adikku berhenti mengangguku karena dia ingin sekali ketemu denganmu"
Ezekiel menyelesaikan sarapannya. Ia mengambil tisue dan membersihkan mulutnya. Lalu ia mengambil sesuatu dari kantong celananya dan meletakannya di atas meja.
"Minum ini."
"Apa ini?"
"Pil pencegah kehamilan."
Faith yang masih mengunyah sarapannya langsung tersedak dengan hebat. Air matanya sampai keluar.
Ezekiel memberikan gelas yang berisi air putih. Faith langsung meneguknya sampai habis.
"Aku mau hadiah ulang tahunku malam ini. Hadiahnya adalah dirimu harus menjadi nyonya Thomson yang seutuhnya. Sebelumnya kau harus meminum pil itu supaya kau tidak hamil. Sebab aku tidak mau memiliki anak dan kau juga harus melanjutkan kuliahmu kan?" kata Ezekiel dengan senyum dikulum. Ia berdiri lalu mendekati Faith yang masih duduk tanpa bicara.
" Aku ada urusan penting pagi ini. Kamu siap-siap saja untuk nanti malam. Pakai gaun tidur yang sudah kusiapkan di lemari. Aku tidak mau kamu memakai piayama seperti gadis abg. Ingat kamu sudah menjadi nyonya Thomson" Ezekiel menunduk, menghadiahkan kecupan dipucuk kepala Faith lalu melangkah keluar meninggalkan gadis itu sendiri.
*********
Gaun tidur tipis itu sudah melekat ditubuhnya. Faith bahkan harus menarik napas panjang beberapa kali saat menatap tubuhnya di cermin.
Sejak tadi pagi Faith sudah gelisah mengingat apa yang akan terjadi malam ini.
Ah....aku pasti sudah gila....namun, permintaan Ezekiel adalah hal yang wajar. Aku adalah istrinya. Sudah pantas kalau aku melayaninya. Tapi bagaimana jika rasa mual itu datang lagi? Ah...tidak...bukankah aku sudah merasa mencintai Ezekiel. Dokter Clara bilang jika rasa cinta itu ada makanya semuanya pasti akan hilang. Faith berbicara dengan hatinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Faith langsung berlari dan naik ke atas tempat tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"Hai....kau sudah menungguku?" Sapa Ezekiel sambil mengedipkan matanya.
Faith hanya menatap Ezekiel tanpa ekspresi dan menelan ludahnya. Jantungnya mulai berdetak cepat.
"Aku mandi dulu ya..." Ezekiel meninggalkan Faith dan membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi.
Tak sampai 10 menit, pria tampan itu sudah keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggunakan boxer. Dada bidangnya terlihat sexi dengan kulit yang putih bersih.
Faith menundukan wajahnya. Ia kembali menelan ludahnya dengan rasa gugup yang semakin besar.
"Apa kau sudah meminum pil mu?" tanya Ezekiel sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Sudah" Sahut Faith sambil menunjukan pil pencegah kehamilan yang terletak di atas nakas, yang isinya sudah berkurang satu.
"Good girl" Kata Ezekiel sambil terus mendekati Faith dengan pelan.
Faith memejamkan matanya menerima sentuhan Ezekiel. Ia tak ingin menolaknya. Ia menuntun hatinya untuk menerima Ezekiel. Ini adalah suaminya dan ia mencintai Ezekiel.
Tubuh Faith tak menolak. Rasa mual itu memang tak muncul. Ia merasakan ada getaran hebat ditubuhnya yang untuk pertama kali ia rasakan. Namun ada sesuatu yang terasa peri di perutnya dan sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya. Mata Faith terbuka. Ia mendorong tubuh Ezekiel secara tiba-tiba.
"Kenapa? Kau merasa mual lagi?" tanya Ezekiel sambil menahan tangan Faith dengan kesal.
"Tidak.....aku...aku ingin buang air kecil"
Ezekiel memiringkan tubuhnya dan memberi ruang bagi Faith untuk bangun.
"Cepatlah..!" ujarnya tak sabar.
Setengah berlari, Faith masuk ke dalam kamar mandi.
5 menit kemudian....
Kenapa gadis itu lama sekali? tanya hati Ezekiel mulai tak sabar.
10 menit kemudian....
Apa yang dia lakukan di sana? Apakah buang air kecil membutuhkan waktu yang lama bagi seorang perempuan?
15 menit kemudian...
Ezekiel turun dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Ia mengedor pintu kamar mandi dengan tak sabar.
"Faith...kamu jangan coba-coba mempermainkan aku. Aku sudah pernah katakan padamu, jika kesabaranku habis, aku tak peduli kamu akan muntah ataupun berteriak, aku akan mendapatkanmu!" Teriaknya menahan marah.
Pintu kamar mandi terbuka. Faith keluar dengan wajah pucat dan berkeringat.
"Ezekiel, bolehkah kamu menyuruh salah satu pelayan untuk membelikan pembalut untukku?"
"Apa?" Ezekiel terperangah
"Maaf, aku tiba-tiba saja datang bulan." Kata Faith dengan suara yang bergetar. Ia tahu Ezekiel pasti akan marah.
Tangan Ezekiel meninju pintu kamar mandi yang ada dibelakang Faith. Wajahnya merah menahan marah.
"Jangan bohong padaku, Faith."
"Aku berani sumpah. Kau boleh memeriksanya kalau tak percaya." Faith semakin ketakutan.
"Ah, brengsek...!" Ia mengacak rambutnya kesal. Melangkah meninggalkan Faith. Membuka lemari bajunya dengan kasar, mengambil baju sembarangan lalu keluar sambil membanting pintu.
Faith terdiam. Ia sendiri juga tak menyangkah kalau malam ini semuanya akan gagal. Pada hal dia sudah siap untuk menyerah dalam pelukan Ezekiel. Dia mencintai pria bule itu.
Tak lama kemudian, Joe datang membawakan pembalut untuk Faith.
"Tuan berpesan supaya nona cepat tidur. Malam ini tuan akan tidur di kamar lain. Selamat malam, nona!" Joe membungkuk hormat lalu menutup pintu dengan pelan.
Faith menatap pembalut yang ada ditangannya dengan kesal. Ih...kok kamu datang di saat yang nggak tepat sih...
# Makasi sudah membaca part ini
#like ya....komentar juga untuk menjadikan cerita
ini semakin menarik.