
Mata Faith bersinar melihat siapa yang datang ke studio.
"Ben, kamu kemana saja? Seminggu lagi studiomu ini akan diresmikan dan kamu sepertinya menghilang" Faith mendekat. Matanya melotot melihat tangan kiri Ben yang terbungkus perban dari pergelangan sampai menutup jari-jarinya.
"Ya ampun, Ben. Tanganmu kenapa?" Pekik Faith sambil menyentuh tangan Ben.
"Tidak apa-apa" Ben menepis tangan Faith. Sejujurnya dia memang rindu pada Faith. Bolehkan dia rindu pada seseorang yang bukan miliknya?
"Kamu mengalami kecelakaan atau apa?"
"Aku baik-baik saja nyonya Thomson, sekarang tunjukan padaku hasil kerjamu" kata Ben berusaha menetralkan hatinya yang masih sangat bergetar saat beradu pandang dengan Faith.
Faith sebenarnya agak canggung mendengar Ben memanggilnya nyonya Thomson dan sudah tidak menyapanya lagi dengan sebutan my lady. Namun ia tak menanyakan itu. Ia mengajak Ben berkeliling. Dan menjelaskan semuanya secara mendetail.
"Semuanya sempurna. Mulai besok, aku akan memindahkan beberapa foto ke sini. Fotomu masih boleh kupajangkan?"
"Tentu saja. Aku akan marah kalau kau tidak memajangnya." Faith pura-pura cemberut.
"Tentu saja fotomu tetap menjadi karya utamaku di sini" Ben menarik hidung Faith membuat perempuan itu akhirnya tersenyum.
"Masih mau coba selingkuh dibelakangku?" terdengar suara Ezekiel yang memenuhi seluruh ruangan itu.
Ben dan Faith sama-sama menoleh. Nampak Ezekiel berdiri didepan pintu masuk sambil berkacak pinggang.
"Wah....si calon daddy posesif marah lagi, nih" guman Ben sedikit mengejek.
"Honey.....cemburu buta lagi?" mata Faith melotot kearah suaminya.
"Aku....hanya nggak suka tubuh istriku disentuh oleh orang lain" kata Ezekiel tegas.
"Menyentuh hidung saja membuatmu cemburu? Ih....terlalu kekanak-kanakan sekali." Ben mencibir.
Faith langsung menggandeng tangan suaminya. Menghadiahkan sebuah ciuman manis dipipi Ezekiel. "Jangan cemburu pada Ben. Diakan seorang gay. Yang justru membuat aku takut adalah jika dia dekat denganmu"
Ben jadi tertawa. Ezekiel pun akhirnya tersenyum dan memeluk istrinya. Entah mengapa ia selalu merasa bahwa Ben seperti akan merebut Faith darinya.
"Kita pulang, yuk!" ajak Ezekiel.
Faith mengangguk. "Ben, kami pamit dulu ya."
"Bye....." Ben melambai dan langsung membalikan tubuhnya. Ia bahagia melihat Faith bahagia walaupun sebenarnya ia masih sangat terluka.
Di dalam mobil.....
"Tadi Joe meminta ijin padaku untuk bicara dengan Rachel." kata Ezekiel yang duduk sambil memeluk pundak Faith. Ia sengaja menggunakan bahasa Indonesia.
Semenjak mereka baikan lagi, Ezekiel lebih senang menggunakan sopir sehingga ia lebih mudah memeluk istrinya.
"Oh ya? Apakah dia mengatakan tujuannya untuk bertemu dengan Rachel?" Faith jadi bersemangat.
"Tidak. Dia hanya minta ijin saja untuk ketemu. Katanya dia akan ke kampusnya Rachel. Makanya dia sudah pergi sekarang"
"Mengapa hatiku berdebar ya? Aku sangat berharap mereka akan bersama. Pasti bahagia rasanya menerima pernyataan cinta dari orang yang kita cintai. Ah, kisah cinta yang sangat indah" Faith menyandarkan kepalanya dibahu Ezekiel.
"Memangnya kisah cinta kita tidak indah?"
"Indah apanya? Ketemu dilift, mabuk dipantai dan berakhir menikah dalam ancaman" Faith mencibir.
"Aku justru merasa kisah cinta kita sangat indah dan unik" Ezekiel meraih tangan Faith. Menggenggamnya erat diantara jarinya" Kita bersama bukan karena cinta namun berbagai peristiwa yang terjadi justru menumbuhkan cinta diantara kita. Aku selalu bersyukur, kita bertabrakan di depan pintu lift. Kamu menyebut aku bule gila, nggak punya mata dan membuat aku tertantang untuk menikahimu." Ezekiel menutup kaca pembatas antara jok depan dan jok belakang. Lalu ia menunduk dan mencium bibir tipis istrinya.
"Ezekiel, sopirnya bisa melihat kita" bisik Faith malu saat ciuman mereka berakhir.
"Ini kaca tak tembus pandang dan kedap suara. Desahan kerasmu pasti tak akan didengar oleh sopir itu"
Faith menjauhkan wajahnya dan menatap Ezekiel"Kamu nggak akan macam-macam di mobilkan?"
"Aku terpaksa akan melakukannya kalau kau mengatakan lagi kisah cinta kita tidak indah"
Faith tersenyum "Baiklah sayang. Kisah cinta kita memang sangat indah."
Ezekiel membelai wajah Faith dengan jarinya "Tapi bukan berarti kalau aku tak akan menciummu"
Faith akan protes namun mulutnya sudah dibungkam dengan ciuman Ezekiel.
"Eh....tunggu!" Faith mendorong Ezekiel
"Kau merasa mual?" tanya Ezekiel khawatir
"Aku rasa mereka bergerak dan menendang perutku" Faith memandang perutnya sambil mengelusnya perlahan. Ezekiel pun menaruh tangannya di sana.
"Kau dapat merasakannya? Ini tendangan mereka yang pertama" air mata Faith jatuh. Ezekiel pun terharu. Diciumnya perut Faith dengan penuh kasih.
*******
Angin bertiup menerbangkan dedaunan kering. Diakhir musim gugur ini Rachel sudah bertekad untuk menyelesaikan studi S2 nya.
Ia baru saja selesai dari perpustakaan. Walaupun sekarang banyak mahasiswa lebih suka membaca lewat media online namun Rachel lebih suka membaca di perpustakaan.
Ia menatap arlojinya, jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Hari ini Rachel tak membawa mobil karena tadi pagi saat bangun ia merasa kurang enak badan. Sopir keluarga mengantarnya dan saat ini Rachel memutuskan untuk naik taxi saja.
Saat ia menuruni tangga untuk menuju ke tempat pemberhentian taxi, ia terkejut melihat Joe sedang berdiri disana. Menggunakan jaket sambil sesekali menggosokan kedua tangannya melawan angin sore yang dingin.
"Sekretaris Joe, apa yang kau lakukan di sini?"
"Menjemput anda, nona"
"Aku sendiri yang ingin menjemputmu" kata Joe lalu tanpa diduga ia menggengam tangan Rachel dan membawanya ketempat parkir. Membukakan pintu bagi Rachel dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Jantung Rachel berdebar mendapatkan perlakuan itu. Saat Joe masuk dan menjalankan mobilnya, keduanya saling diam. Sampai akhirnya mobil.Joe berhenti di alun-alun Trafalgar. Banyak orang yang ada di sana sekalipun musim gugur hampir berakhir dan sebentar lagi musim dingin akan datang.
"Ada apa kita ke sini, sekretaris Joe?" tanya Rachel bingung.
"Karena di sini pertama kali aku bertemu denganmu" jawab Joe sedikit bergetar sambil menatap Rachel.
Mendapatkan tatapan mata grey milik Joe membuat Rachel jadi salah tingkah. Tentu saja dia ingat di taman kota ini, pertama kali dia bertemu dengan Joe.
"Waktu itu kamu sedang bertengkar dengan Ezekiel dan berdiam diri di sini. Aku baru saja seminggu bekerja dengan keluargamu. Kau masih sangat kecil saat itu. usiamu 14 tahun. Dengan rambut di kepang dua, kau menangis dan tak mau kuajak pulang. Namun karena hujan turun secara tiba-tiba, dan kilat serta petir menyambar, kau langsung memelukku dan tak mau melepaskanku walaupun kita sudah berada di mobil. Itu adalah moment terindah dalam hidupku. Aku merasa senang memelukmu" kata Joe dengan suara yang bergetar. Rachel masih diam.
"Melihatmu tumbuh setiap hari, menjadi salah satu gadis tercantik di London ini, membuatku semakin jatuh cinta padamu. Aku selalu berusaha menekan semua rasa sayangku padamu karena aku tahu itu sesuatu yang tak mungkin. Kau bagaikan bidadari di kayangan yang tinggi dan aku hanya seorang hamba yang ada di dasar bumi yang paling bawa" Joe berhenti, menarik napas panjang beberapa kali. Ia lalu menatap Rachel yang masih diam menatap ke depan tanpa bicara.
"Nona Rachel, maukah kau menjadi pacarku?" kalimat yang diucapkan Joe sangat pelan karena terasa sulit keluar dari mulutnya.
Rachel memberanikan diri menatap Joe.
"Mungkin kau merasa kalau aku terlalu tua untukmu. Usia kita kan bedanya hampir 8 tahun" Joe melanjutkan melihat Rachel masih menatapnya. Ada perasaan malu yang menyelimuti hatinya.
"Aku tidak mau menjadi pacarmu, Joe." kata Rachel tegas.
"Ok. Maafkan aku....aku sudah jujur mengatakan perasaanku padamu tanpa menyadari siapa aku dihadapanmu" Joe tertunduk sedih.
"Aku tidak mau menjadi pacarmu. Aku mau menjadi calon istrimu. Karena sejak usiaku 14 tahun, aku selalu berharap pernyataan cintamu ini" kata Rachel sambil meneteskan air matanya. Ia sangat bahagia, karena sejak hari pertama ia melihat Joe di taman ini, saat ia memeluk Joe karena hujan dan petir itu, sesungguhnya ia sudah jatuh cinta pada pria tampan ini. Rachel kadang harus menangis sendiri melihat Joe berjalan bersama para gadis yang juga dekat dengan kakaknya. Setiap Rachel ulang tahun, ia selalu berdoa agar Joe mau melihatnya sebagai wanita yang patut dicintai.
Joe menatap Rachel tak percaya "Benarkah?"
"Aku mencintaimu, Joe Alonso." kata Rachel dengan suara bergetar. Joe langsung memeluk Rachel dengan hati yabg sangat bahagia. Mengapa juga ia harus menundah sekian tahun lamanya jika ternyata gadis yang dia cintai sanga mencintainya juga. Rasa minder karena status mereka yang berbeda membuat Joe harus menutup rapat perasaannya, pura-pura kencan dengan beberapa gadis karena rasa frustasinya.
"Rachel....aku mencintaimu" Joe menunduk mencium dahi Rachel dan perlahan turun sampai akhirnya ia menemukan bibir gadis itu, dan menciumnya perlahan. Rachel membalas ciuman Joe walaupun terasa masih kaku namun dia sungguh mendamba ciuman pria yang sudah lama dicintainya.
********
Mobil Joe memasuki halaman keluarga Thomson saat waktu hampir mendekati pukul 24. Keduanya begitu larut dalam kemesraan sampai lupa waktu.
Joe membukakan pintu bagi Rachel.
Keduanya kembali berpelukan seolah enggan untuk berpisah.
"Kita ketemu lagi besok ya?" ucap Joe sambil membelai wajah Rachel.
"Ok."
Saat Joe menunduk untuk mencium Rachel tiba-tiba terdengar suara Ezekiel.
"Joe....jam berapa ini?"
Joe dan Rachel sama-sama terkejut karena entah dari mana Ezekiel sudah berdiri didepan pintu mansion.
"Kakak....." Rachel sedikit protes melihat Ezekiel yang menatap keduanya sambil melotot.
"Baru kencan pertama kalian sudah pulang selarut ini? Apakah kau sudah membawa adikku ke apartemenmu?" tanya Ezekiel
"Kakak, aku sudah 23 tahun. Usiaku bahkan lebih tua dari kakak ipar." Rachel semakin cemberut.
Joe hanya tersenyum "Aku pasti menjaganya dengan baik, tuan Ezekiel." Joe mencium pipi Rachel. Tak peduli dengan wajah Ezekiel yang masih menatapnya dengan garang. "Aku permisih dulu ya, selamat malam" pamitnya dan segera pergi dengan mobilnya.
Rachel masuk tanpa memperdulikan kakaknya yang masih berdiri didepan pintu.
Faith yang sedang menyulam di depan TV kaget melihat Rachel yang masuk dengan wajah hampir menangis.
"Ada apa, Rachel?" tanya Faith
"Kak Ezekiel, masa orang baru pacaran sudah ditungguin kayak gitu"
"Kalian sudah jadian?" tanya Faith senang
"Iya" angguk Rachel malu-malu. Namun saat melihat Ezekiel wajahnya kembali cemberut.
"Sayang....ngapain kamu didepan pintu?" tanya Faith sambil melotot.
"Aku hanya memastikan saja kalau dia pulang dengan selamat" kata Ezekiel sambil duduk di atas sofa.
"Ezekiel, jangan kayak anak kecil. Rachel sudah dewasa. Kamu kayak nggak pernah muda saja"
"Memangnya aku sudah tua?" Ezekiel melotot.
"Sepertinya" Faith menahan tawa. Ia lalu mendekati Rachel "Kita ke kamarmu saja. Malam ini kita akan ngerumpi berdua"
"Terus aku bagaimana?" protes Ezekiel.
"Tidur sendiri" jawab Faith dan Rachel kompak lalu tertawa dan langsung menaiki tangga sambil bergandengan tangan.
#makasi sudah baca part ini
#makasi juga yang sudah kasih vote ....
#jangan lupa like dan komentarnya ya....biar aku
tambah semangat up nya.....😍😍😍