
Di salah satu ruangan VVIP sebuah club malam milik Ben, sedang asyik bercengkrama Arnold, Ezekiel, Faith, Rachel, Joe dan Ben.
"Sebenarnya ide awal ini datangnya dari Rachel. Ia meminta aku untuk mendekati Faith sehingga Ezekiel cemburu dan akhirnya menyadari perasaan cintanya pada Faith. Joe bertugas untuk selalu membuat Ezekiel cemburu dengan mematai-matai semua yang aku lakukan untuk, Faith." Ben akhirnya buka suara dengan mengatakan semua rencana yang telah mereka susun selama ini.
"Joe, kau sudah dua kali menghianatiku." Ezekiel menatap Joe tajam.
"Dua kali?" Tanya Joe heran.
"Kau lupa ya dengan suprise ulang tahunku di Bali?"
Joe terkekeh."Tapi kan semua ini aku lakukan untuk kebaikanmu, tuan. Kalau aku tak membantu Rachel dan Ben, aku pastikan sekarang Nona Faith sudah berada dalam pelukan Ben."
"Benarkah, sayang?" Tanya Ezekiel sambil melingkarkan tangannya dipinggang Faith dan menatap istrinya dengan seksama.
"Ya. Bisa saja demikian. Ben sangat tahu membuat perempuan merasa nyaman di sampingnya. Ben juga tahu bagaimana menghiburku disaat aku terluka karenamu. Aku bisa saja jatuh cinta pada Ben jika terlalu lama berada di sampingnya." Kata Faith jujur dan membuat wajah Ezekiel nampak marah menahan cemburu.
"Tapi, kamu tenang saja sayang. Ben itu seorang gay karena dia tak mungkin jatuh cinta pada seorang wanita." Sambung Faith membuat Arnold, Rachel dan Joe tertawa riuh mendengar perkataan Faith.
"Gay katamu? Apakah kamu tahu setengah dari gadis-gadis di London ini kehilangan keperawanannya karena ulah Ben?" Ucap Ezekiel sambil menatap Ben yang sejak tadi hanya tersenyum simpul tanpa bicara.
"Lalu, bagaimana Ezekiel bisa membujuk Arnold untuk kolaborasi? Apakah kau tak takut, Arnold, bila Ezekiel akan membuat konsermu rusak?" Tanya Faith penasaran sambil menatap Arnold.
"Aku memang ingin menolaknya, tapi seperti yang kalian tahu kalau Ezekiel orangnya suka memaksa dan terkadang suka menggunakan ancaman. Dia mengancamku untuk mencabut 5% saham yang kupunya di salah satu perusahaannya." Kata Arnold sedikit kesal.
Ezekiel menatap Arnold dengan tatapan membunuh.
"Namun saat kudengar suaranya, aku akhirnya setuju. kami latihan sepanjang malam dan akhirnya seperti yang kalian lihat tadi." Kata Arnold sambil menatap sepupunya itu.
"Mamaku punya suara yang merdu. Aku pikir kakakku ini mewarisi suara merdu mama." Kata Rachel dengan bangga.
Hp Joe berbunyi. Ia membaca pesan yang masuk.
"Anak buah kita yang menjaga apartemen menginformasikan bahwa Kimzy sudah kembali ke Jepang." Kata Joe.
Ezekiel menarik napas panjang. Ia nampak lega.
"Aku sungguh berharap kalau Kimzy akan menemukan kebahagiaannya dengan pria lain. Dia cantik dan sangat elegan." Kata Faith tulus. Walaupun Kimzy pernah menyakitinya namun Faith tak ingin perempuan Jepang itu sedih.
"Kau sangat baik, Faith. Itulah mengapa Tuhan selalu melindungimu. Sekarang, ayo kita berjuang untuk kebahagiaan Ezekiel dan Faith." Ben mengangkat gelasnya. Yang lain mengikutinya. Mereka melakukan tost bersama.
Semuanya tertawa bahagia. Tanpa menyadari bahwa ada hati yang sangat terluka.
"Rachel, kamu kan sudah berusia 23 tahun
Namun aku tak pernah melihatmu dekat dengan cowok lain selain Ben dan Arnold. Apakah kau juga tidak akan jatuh cinta pada laki-laki?" Tanya Faith dan membuat semua yang ada di situ menatap Rachel.
Rachel jadi salah tingkah. "Aku hanya ingin konsentrasi menyelesaikan studiku dan melakukan bisnisku sendiri"
"Jangan tutupi perasaanmu, Rachel. Aku tahu kau menyukai seseorang namun kau berusaha bersikap biasa saja. Cinta itu harus dinyatakan." Kata Ben.
"Cintaku padanya sesuatu yang mustahil karena dia sama sekali tak pernah menunjukan bahwa dia suka padaku. Mungkin kami tidak jodoh." Kata Rachel sedih.
"Katakan siapa dia, adikku. Kamu cantik dan pintar. Memangnya pria mana yang berani menolakmu?" Tanya Ezekiel sedikit membusungkan dadanya.
Rachel tersenyum." Sudahlah. Malam ini kita kan mau bersenang-senang. Masa sih harus sedih dengan perasaanku yang bodoh ini. Ayo kita tos lagi."
"Kalian bersenang-senang saja di sini. Aku mau mengajak istriku pulang. Tak baik wanita hamil terus berada di club malam sampai larut." Ezekiel berdiri sambil menarik tangan Faith perlahan.
"Bilang saja kalau kamu sudah tak sabar untuk making love sama Faith. Hati-hati ya..Faith sedang hamil." Ledek Arnold.
"Kamu tahu aja ya...." Ezekiel melingkarkan tangannya dibahu Faith. "Ayo sayang, kita pulang. Biarkan saja para jomblo sejati ini merenungi nasib mereka."
Faith tersipu malu namun ia mengikuti langkah kaki suaminya meninggalkan ruang VVIP itu.
************
Semua telah pergi, meninggalkan Ben sendiri di ruangan VVIP itu. Suara lagu disko masih terdengar dilantai dasar.
Ben meminta salah satu pelayan mengantarkan sebotol minuman lagi. Pelayan itu sedikit heran karena ia tahu tuannya itu tak pernah mabuk. Ia hanya minum sedikit. Karena Ben sangat menjaga kesehatannya.
Minuman di botol itu sudah berkurang setengah. Bem bahkan sudah mulai merasa pusing. Di tatapnya wajah cantik yang selama ini menjadi wallpaper hp nya.
"Kau gadis tercantik yang pernah kutemui seumur hidupku. Aku bahkan sudah merasa jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu." Guman Ben sambil membelai layar ponselnya.
Dengan kesal, ia melempar ponselnya ke atas sofa. "Aku, Ben. si penakluk gadis di kota ini, sekarang merasakan sakit di dadaku. inikah namanya patah hati?" Ben masih bicara sendiri.
"Ah......" Tangan Ben meraih semua yang ada didepannya sehingga gelas-gelas dan botol minuman itu jatuh berantakan di lantai.
"Tuhan, apakah sekarang aku dihukum karena terlalu sering membuat para gadis patah hati?" Ben tak peduli dengan tangannya yang luka. Ia bahkan duduk di atas lantai sambil menangis.
Bayangan wajah Faith, senyumannya, tangisannya silih berganti dipelupuk matanya. Mengapa aku harus jatuh cinta padamu padahal semua yang kulakukan adalah sebuah permainan untuk membuat kau dan Ezekiel bersatu? Faith...aku ingin menculikmu dan membawamu jauh dari Ezekiel. Aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri. Ah....Tuhan....kenapa harus sesakit ini?
Alicia menatap putra kesayangannya yang masih duduk diatas lantai sambil meletakan kepalanya dikedua lututnya.
Pelayan Club meneleponnya saat mendengar ada kekacauan yang terjadi di ruangan Ben. Namun tak ada yang berani masuk untuk memeriksanya.
"Putraku, sayang" Alicia memeluk Ben. Ia tak pernah melihat anaknya hancur seperti ini.
"Mommy.....aku jatuh cinta padanya namun tak bisa memilikinya. Aku baru tahu kalau patah hati seperti ini. Aku mau mati saja." Ben membalas pelukan mamanya. Menumpahkan segala kegalauan hatinya.
"Sudahlah sayang.Kau pasti akan bisa melalui semua ini. Mommy yakin Tuhan akan mengirimkan gadis lain untukmu." Kata Alicia. Hatinya sebagai ibu hancur melihat putra kesayangannya itu terluka.
"Rasanya tak mungkin ada gadis lain lagi, mom. Karena dia gadis terbaik yang pernah ada"
Alicia memegang tangan putranya.
"Ayo mommy obati tanganmu, sayang. Nanti lukanya infeksi. Pasti ada bekas kacanya didalam."
"Ini nggak sakit mommy. Yang sakit adalah hatiku"
Alicia meminta seorang pelayan untuk membantunya memapah tubuh Ben ke dalam mobil. Ia kemudian memerintahkan sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit. Ia ingin mengobati luka ditangan Ben. Dan biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka hati putranya itu.
#terima kasih sudah baca part ini
#aku akan buat kisah khusus tentang Ben
#beri like yang banyak dan koment ya....
#jangan lupa votenya....😍😍😍