I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Perjuangan Cinta



Ezekiel menatap ketiga makam itu. Di sana terbaring semua orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya.


"Daddy, Ayo kita berdoa..." Chloe menarik tangan papanya. Sudah dua kali ia mengucapkan kata yang sama.


"Tunggu mereka sayang...." ucap Ezekiel sambil mengacak rambut putrinya.


"Daddy, aku jadi tak cantik" Chloe merajuk sambil menyisir rambutnya dengan tangannya.


"Kau cantik sayang....seperti Bunda" kata Ezekiel sambil tersenyum. Ezekiel menyebut kata 'bunda' sebagai panggilan mama bagi Faith. Karena itulah yang selalu Faith ucapkan semenjak anak-anaknya dalam kandungan. Kata Bunda adalah panggilan untuk ibu Indonesia. Ezekiel ingin dengan kata itu, anak-anaknya akan selalu ingat bahwa mereka punya ibu yang berasal dari Indonesia.


Dari jauh nampak Joe yang memeluk putra pertamanya bersama Rachel yang kini berusia 1 tahun. Namanya putra kecilnya itu Joel.


Ezekiel bahagia karena Joe dan Rachel menikah dan selalu saling mencintai.


Di belakang Joe dan putranya nampak Rachel sedang menggandeng oma. Elisa sudah agak susah berjalan karena usianya yang semakin tua. Apalagi jalan ke makam ini sedikit menanjak.


Agak jauh dari mereka nampak sedikit berlari seorang perempuan cantik. Di tangannya ada 3 buket bunga. Ezekiel tersenyum memandang perempuan itu. Ia akui jatuh cinta pada perempuan tangguh itu. Perempuan yang diberikan Tuhan kesempatan hidup yang kedua kalinya.


Ingatan Ezekiel kembali ke peristiwa itu......


Rumah sakit kecil yang letaknya didekat pegunungan itu tiba-tiba saja menjadi ramai.


Seorang wanita cantik yang di dorong masuk ke ruang UGD nampak pucat dan seperti tak bernyawa lagi.


Para dokter dan suster langsung melaksanakan tugasnya.


"Detak jantungnya masih ada walaupun sangat lemah. Demikian juga dengan nadinya"


Ucapan dokter itu membuat Ezekiel yang sudah lemas tak berdaya di depan pintu sedikit mendapatkan kekuatan.


"Selamatkan istriku...!" ujarnya dengan napas yang masih terasa sesak.


Dokter tampan itu menatap Ezekiel sekilas " Kami akan berusaha, tuan. Tapi yang perlu anda tahu, peralatan di rumah sakit ini sangat terbatas dan nyawa seseorang adalah milik penciptaNya" lalu ia menatap perawat yang ada di dekatnya.


"Siapkan meja operasi "


Perawat itu langsung berlari menuju ke ruangan operasi yang letaknya tak jauh dari situ.


"Kita membutuhkan donor darah secepatnya. Periksa darah pasien" perintah dokter itu lagi.


"Golongan darahnya AB positif" ucap Joe yang memang sudah tahu semua data tentang Faith ketika ia pertama kali mencari semua informasi tentang Faith.


"Kita kehabisan stok darah itu, dokter" ucap salah satu dokter.


"Itu golongan darahku" kata Ben yang masih memeluk baby Caleb. " Kalian dapat mengambil darahku sebanyak yang kalian mau. Aku bersedia menyumbangkannya"


Joe menatap Ben. Ia tahu tentang perasaan Ben terhadap Faith. Namun selama ini ia diam saja karena ia yakin bahwa Ezekiel pasti akan mengamuk jika tahu bahwa Ben jatuh cinta pada Faith.


Proses operasi dimulai. Seorang perawat diminta secara khusus oleh Joe untuk merawat baby Caleb, memberikan dia susu dan mengganti popoknya.


2 jam berlalu, para dokter dan perawat berjuang mengeluarkan dua butir peluru yang ada di tubuh Faith. Satu bersarang di perut bawahnya dan satu dipinggangnya.


Ezekiel menungguh dengan perasaan yang hancur. Tiba-tiba ia melihat sebuah ruangan doa. Langkahnya cepat masuk ke sana. Berlutut di depan altar dengan tangis yang tak tertahankan.


Ezekiel melipat tangannya memejamkan matanya dan dia mulai berbicara.


"Tuhan, tolonglah istriku. Selamatkan dia. Jangan pisahkan dia denganku dan anak-anakku. Aku mohon kepadaMu. Aku tahu selama ini aku banyak melakukan kesalahan, hukumlah aku, jangan hukum istriku, Tuhan. Dia wanita baik. Dia sangat baik. Ijinkan dia bahagia. Aku tak bisa bertahan tanpa dia...aku mencintainya......" tangis Ezekiel semakin dalam. Laki-laki itu sungguh sangat ketakutan. Takut jika ia tak akan pernah menatap mata indah istrinya.


Ezekiel terus berdoa sampai tangan Joe yang menempel dibahunya membuatnya berdiri.


"Dokter memanggilmu"


Ezekiel menghapus air matanya dan berlari kembali ke depan ruangan operasi.


"Dokter, bagaimana istriku?"


Dokter tampan itu menggeleng "Maaf tuan, kami sudah berusaha namun istri anda kehilangan banyak darah."


"Tidak....tidak...." Ezekiel berteriak lantang. Suaranya terdengar di seluruh ruangan rumah sakit kecil itu.


Baby Chloe yang ada dalam gendongan perawat wanita itu pun tiba-tiba menangis sangat keras.


Dari bagian pintu yang terbuka, Ezekiel dapat melihat seorang perawat sementara membuka selang infus yang terpasang di tangan Faith.


"Faith.....jangan tinggalkan aku...!" teriak Ezekiel dengan suara tangis yang dalam. Sedalam tangisan Baby Caleb yang nampak memberontak dalam gendongan perawat itu.


"Dokter......pasien sepertinya hidup lagi" teriaknya sedikit ketakutan.


Dokter muda yang tampan itu bernama Patrick. Ia memang baru 5 tahun menjadi dokter dan ditugaskan di rumah sakit ini. Dalam pengalamannya, pasien yang detak nadinya berhenti, demikian juga dengan detak jantung yang berhenti, yang tekanan darahnya sudah tak terbaca lagi, sudah benar-benar gameover. Dia bahkan sudah mencatat waktu kematian Faith.


"Dia memberikan kau kesempatan hidup nyonya cantik. Kau kembali berjuang saat mendengar suara suamimu dan tangisan anakmu" ucap dokter Patrick sambil tersenyum bahagia.


Faith mengalami masa kritis selama 6 hari. Setelah itu dia dinyatakan stabil walaupun belum sadarkan diri. Nanti pada hari ke-10, dia perlahan membuka matanya. Menemukan wajah-wajah penuh kasih yang setia menungguhnya. Opa, oma, bi Lastri, Rachel, Joe dan tentu saja wajah bule yang sangat dicintainya, Ezekiel. Yang walaupun nampak kacau dengan mata pandanya, wajah yang brewokan karena tak pernah bercukur lagi tapi tak mengurangi ketampanannya.


"Hai bule..." sapa Faith pelan dalam bahasa Indonesia.


"Hai wanita cantikku" balas Ezekiel dengan mata yang basah. Ia bahagia melihat mata indah itu lagi.


"Kau menangis sangat keras dan caleb pun menangis seperti daddy nya. Saat itu aku merasa akan pergi bersama mama dan papaku. Namun mereka melepaskan tanganku dan mengatakan bahwa aku harus kembali. Terima kasih telah berjuang untuk kehidupanku" Faith menghapus air mata Ezekiel. Pria itu meraih tangannya dan menciumnya dengan penuh kasih.


"Sayangku.....wanita terbaik yang diberikan Tuhan padaku, aku akan selalu menjagamu dengan baik karena Tuhan sudah memberikan kau kesempatan sekali lagi untuk bersamaku" Ezekiel kembali mencium tangan Faith.


"I hate you, bule..." guman Faith pelan sambil tersenyum.


"And i love you my super women..."


Keduanya tertawa bersama. Seakan tak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihat mereka sambil tersenyum haru.


Begitu Faith kuat, Ezekiel ingin memindahkannya ke rumah sakit London. Namun istrinya menolak.


"Aku ingin dirawat di sini sampai sembuh, sayang. Suasananya sangat damai dan tentram. Lagi pula dokter itu sangat tampan" kata Faith bermaksud menggoda suaminya. Dan tentu saja membuat Ezekiel langsung menatap wajah istrinya dengan tajam.


"Honey, sudah kukatakan bahwa aku akan mem...."


"Kau mau membunuh laki-laki yang telah menyelamatkanku? Oh....suamiku kau ini sangat posesif....." Faith tertawa. Ia mengacak rambut Ezekiel yang sudah agak panjang.


"Potong rambutmu dan bercukurlah. Supaya terlihat tampan lagi sehingga aku tak melirik dokter Patrick itu"


Ezekiel menarik hidung Faith lalu menghadiahkan sebuah ciuman singkat dibibir tipis istrinya itu.


"Cepat sembuh sayang" bisiknya sambil memeluk Faith dengan seluruh rasa cinta yang ada.


"Daddy.....!" panggil Caleb sambil menggoyangkan tangan ayahnya. Ezekiel menatap putranya. Lamunannya tentang peristiwa 3 tahun yang lalu itu terhenti.


"Yes my son"


"Semua menatapmu" ujar Caleb sambil menunjuk semua orang yang sedang menatap dirinya.


"Ada apa sayang?" tanya Faith yang sudah berdiri di samping suaminya.


"Aku terlalu terpesona menatap wajah cantikmu yang berjalan naik ke atas sini. Sinar matahari membuatmu nampak bercahaya. Aku sempat berpikir kalau Tuhan sudah mengirimkan malaikat terbaiknya untukku" kata Ezekiel sambil menatap istrinya mesra.


"Daddy.....berhentilah merayu bunda. Aku cemburu" Chloe melipat kedua tangannya di depa dada dan memandang ayahnya dengan tajam, sambil bibir mungilnya itu cemberut.


Ezekiel tertawa. Iangsung memeluk Chloe. Putri kecilnya itu sama posesifnya dengan dirinya menyangkut orang-orang yang disayanginya.


Semua tertawa melihat tingkah Chloe. Sangat jauh berbeda dengan Caleb yang lebih pendiam tapi memiliki tatapan mata setajam Ezekiel.


Pusara Elmond Thomson yang berdampingan dengan istrinya Kiela Thomson kini sejajar dengan pusara Daren Thomson.


Ya, hari ini keluarga Thomson berkumpul untuk memperingati 1 tahun meninggalnya Daren Thomson. Salah satu pria terbaik di kota London yang telah pergi meninggalkan mereka semua.


Ezekiel begitu terpukul saat opanya itu memintanya untuk menjaga seluruh keluarga ini karena dia akan pergi untuk selamanya.


"Hallo darling....kami semua di sini datang menyapamu dan kedua anak kita Elmond dan Kiela. Aku tahu kalian pasti bahagia di sana. Aku akan tetap kuat sampai waktunya Dia akan menjemputku dan membawaku bersama kalian" Elisa meletakan bunga yang dibawa Faith tadi di masing-masing makam yang ada.


Lalu mereka pun berdoa bersama.


Angin musim semi perlahan bertiup. Seperti menghentar doa untuk sampai di tempat yang paling tinggi.


#makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like dan komentarnya


#dukung aku dengan memberikan Vote ya...


#Makasi untuk semua pembacaku yang walaupun belum terlalu banyak namun setia menungguh cerita ini. Love you all