
Faith merasa masih sedikit pusing namun ia mencoba membuka matanya perlahan. Ia berada di atas ranjang yang bersih, di kamar yang tidak terlalu besar namun kelihatan rapih.
Di mana aku ini? Faith mencoba mengingat apa yang terjadi, dan ia langsung berdiri saat mendengar suara bayi yang menangis. Sebelum ia keluar dari kamar itu, pintu kamar nampak terbuka dan Kimzy masuk dengan 2 orang laki-laki yang ada dibelakangnya. Laki-laki yang satu berusia sekitar 50 tahun dengan tubuh yang tinggi tegap dan nampak menakutkan, sedangkan yang satu berusia sekitar 40 tahun, dengan tatapan mata tajam dan rambut yang agak gondrong.
Di tangan Kimzy ada seorang bayi.
"Caleb...!" Faith spontan bergerak ingin mengambil anaknya namun Pria bertumbuh tegap itu langsung menahan tangan Faith.
"Apa kabar Faith, sayang. Bukankah aku pernah meminta padamu untuk menjauhi Ezekiel? Inilah akibatnya yang harus tanggung. Bayi kecil ini akan menjadi milikku. Ku namai dia Hataru." kata Kimzy sambil tertawa lepas.
"Kimzy, kembalikan anakku.....dia masih sangat kecil. Dia tidak berdosa kimzy. " Mohon Faith.
Baby Caleb tiba-tiba saja menangis.
"Kimzy.....dia mengenali suaraku. kembalikan anakku, aku mohon.." Faith memelas. Tangannya yang masih ditahan oleh pria itu membuatnya agak sulit bergerak.
"Anak ini adalah milikku. Dia adalah Hataruku." Kimzy mendekap baby Caleb dengan posesif.
"Lalu kenapa kamu meminta aku untuk datang? Berikan dia padaku. Dia menangis" Tangis Faith semakin dalam melihat tangis anaknya yang semakin nyaring terdengar.
"Aku hanya ingin melihatmu mati. Aku ingin melihatmu menderita. Namun sebelumnya, pria ini yang adalah sahabat baik suamimu, ingin merasakan tubuh mungilmu itu" Kimzy memandang pria berambut gondrong itu. "Dia milikmu, sayang" lalu ia segera keluar kamar.
"Kimzy.....no......kembalikan anakku....." Faith berusaha meronta namun pria bertubuh besar itu segera menyeretnya dan membantingnya ke atas ranjang.
Pria berambut gondrong itu mendekat. Dan sebelum Kimzy menjauh, ia sudah menindih tubuh Faith dan mengunci pergerakannya. Ia mengambil hp Faith yang jatuh dari saku celananya. Ia melemparkannya kepada Toni.
"Toni, rekam adegan ini dengan baik. Aku ingin Ezekiel melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita pujuannya ini kunikmati." pria berambut gondrong itu membelai wajah Faith.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" Faith bergerak untuk membebaskan dirinya namun tak bisa. Pria itu terlalu kuat untuknya.
"Namaku Robert Lun. Kau dapat meneriakan namaku saat kita bercinta sayang. Aku akan buktikan bahwa aku lebih hebat dari suamimu itu" Robert tertawa.
"Kau laki-laki gila....jangan mimpi kalau aku mau bercinta denganmu" Faith mencakar wajah Robert dengan sekuat tenaga membuat Robert meringis kesakitan. Dengan buasnya ia menampar Faith, menjabak rambut hitam perempuan itu dan membuat Faith menjerit kesakitan.
Robert menatap ke arah Toni yang sementara merekam adegan itu."Ezekiel, istrimu ternyata liar juga, aku akan membuatnya meneriakan namaku"
Robert morobek kemeja Faith sehingga nampak kulit mulus.
"Ah....sayang, kau begitu mulus dan menggairahkan." Robert mencium bibir Faith dengan ganas. Faith menggigit bibir pria itu dengan sangat kuat sehingga mengeluarkan darah.
Plak....satu tamparan keras mendarat diwajah Faith membuat bibir Faith mengeluarkan darah.
Robert menarik pengait celana jeans yang dikenakan Faith. Tepat disaat itu terdengar suara letusan pistol. Toni yang memegang ponselnya rubuh karena pundaknya tertembak. Robert langsung berdiri dan berlari meninggalkan kamar itu.
"Faith....!" panggil Ben sambil membantu Faith berdiri.
"Ben....."Faith memeluk Ben dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Tenang Faith. Aku di sini sekarang" Ben membuka jaket yang dipakainya dan memakaikannya di tubuh atas Faith yang hampir telanjang.
"Anakku Ben....kita harus menemukan anakku"
"Baiklah. Aku tadi menempelkan alat pelacak di mobil Kimzy. Kita pasti bisa menemukannya. Sekarang kita cari rumah sakit dulu untuk mengobati lukamu"
"Tidak, Ben. Aku harus menemukan anakku"
"Baiklah" Ben memapah Faith untuk keluar dari tempat itu.
10 menit kemudian....
"Rumah ini kosong" ujar Joe yang tiba bersama Ezekiel dan beberapa pengawal mereka.
"Ada seseorang disini, bos" teriak salah satu anak buahnya.
Ezekiel mendekat dan melihat seorang pria yang terkapar dengan luka dipundaknya.
"Ini Toni, salah satu anak buah Robert" kata Joe.
"ini ponselnya Faith" Ezekiel mengambil ponsel itu. Ia melihat ada rekaman yang sementara dilakukan. Ezekiel memutar rekaman itu.
Emosi Ezekiel langsung tersulut melihat wanita yang sangat dicintainya disiksa dan dipukul oleh Robert. Ezekiel bahkan tak dapat menahan air matanya memdengar teriakan kesakitan dari Faith. Ia dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh Faith. Hatinya hancur, akal sehatnya hilang. Yang ada dibenaknya sekarang adalah keinginan untuk menghabisi Robert.
"Joe......temukan mereka semua. Akan kuhabisi dengan tanganku sendiri. Mereka sudah menyakiti wanita yang sangat kucintai....!" tangan Ezekiel menegang. Urat-urat ditangannya bahkan timbul karena kerasnya kepalan tangan itu.
Joe langsung menyambar hp itu sebelum dibanting Ezekiel. Saat terdengar bunyi letusan pistol, rekaman itu masih berjalan. Terdengar suara Ben.
"Ayo tuan, nyonya bersama dengan Ben. kita menyusul mereka. Aku akan melacak nomor hp Ben" Joe segera menelepon seseorang "Bawa Robert Lun dalam keadaan hidup sekarang" ujarnya.
Di dalam mobil, Ezekiel mengumpat terus tak berhenti. Bayangan Faith kesakitan dan jeritannnya membuat Ezekiel tak sabar.
"Temukan mereka, Joe" teriak Ezekiel frustasi. Sopir yang membawa mobil pun nampak tegang.
Joe yang masih sibuk hp nya kemudian berkata kepada sopir "Belok kanan dan berjalan ke arah perbukitan, kita menemukan mereka"
Sementara itu Ben dan Faith sudah tiba didaerah perbukitan itu. Nampak ada sebuah rumah yang paling sudut dekat tebing. Mobil Kimzy terparkir di sana.
"Ben, itu mobilnya!" tunjuk Faith.
"Kita harus hati-hati Faith. Kimzy sekarang berbahaya. Dia bisa saja membahayakan anakmu" Ben mengingatkan.
Faith mengangguk. Ia dan Ben turun bersama dari mobil. Berjalan mengendap-ngendap mendekati rumah itu.
"Rumah ini nampaknya kosong" bisik Ben ketika mereka masuk dan mencari ke semua ruangan.
"Kemana Kimzy dan anakku? Apakah dia pindah rumah lagi?" tanya Faith. Ia sangat putus asa. Luka-luka disekujur tubuhnya mulai terasa sakit.
"Faith, sebaiknya kau istirahat" ujar Ben saat melihat Faith yang kelelahan. "Apalagi kau baru 8 hari habis melahirkan. itu tak baik untukmu"
Faith memang merasa agak sedikit pusing. Ia duduk di atas sofa sambil memegang kepalanya.
Ben mencari sesuatu didapur dan ia menemukan air mineral dan beberapa potong kue.
"Makanlah ini dan minum airnya" ucap Ben.
Faith menerimanya dan langsung memakannya. Ia pun meneguk air mineral itu sampai habis. Kekuatannya tiba-tiba saja kembali saat ia mendengar suara bayi yang menangis.
"Anakku!" Faith langsung berdiri diikuti oleh Ben. Mereka mencari sumber suara itu.
Mata keduanya terbelalak melihat Kimzy berdiri di dekat tebing. Satu langkah saja ia bisa jatuh ke jurang itu. Di tangan Kimzy ada baby Caleb. Ia memeluk bayi itu sambil mendendangkan sebuah lagu berbahasa Jepang.
"Kimzy.......kembalikan anakku!" teriak Faith sambil tersungkur di atas tanah. Kakinya terasa lemas. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Kimzy dengan berdiri diujung tebing itu.
Tepat disaat itu mobil yang membawa Ezekiel, Joe dan semua pengawalnya berhenti di dekat mereka.
#makasih sudah baca part ini
#like ya...komentarnya juga...
#Vote juga bisa.....😍😍😍😍