I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Tak Ingin Melepaskan



Mobil Ben berhenti di depan pintu mansion keluarga Thomson.


"Kamu tidak turun, Ben?" Tanya Faith saat pria itu membukakan pintu untuknya.


"Sebaiknya tidak." Ucap Ben sambil dagunya menunjuk mobil Ezekiel yang terparkir.


Faith pun turun lalu tersenyum. " Makasi untuk hari ini ya, Ben." Pamitnya sebelum masuk ke dalam.


Nampak semua sudah ada di meja makan. Oma memang memintanya untuk pulang sebelum makan malam karena hari ini Ezekiel ulang tahun.


"Selamat malam." Sapa Faith. Ia menuju ke westafel, mencuci tangannya, lalu melangkah menuju ke meja makan. Ia memilih duduk di samping Rachel.


Ezekiel menatapnya dengan kecewa. "Bahkan dihari ulang tahunku, kau tak mau duduk didekatku." Ucapnya sinis. Lalu ia memandang pelayan yang berdiri di belakang Elisa.


"Sajikan makan malamnya!" Katanya sedikit memerintah.


Makan malam kali ini berbeda dengan biasanya. Suasana agak canggung. Rachel pun berusaha membuka pembicaraan.


"Bagaimana acara amalnya?"


"Berjalan dengan lancar." Jawab Faith.


"Iklan yang kau perankan banyak disukai orang. Kau kelihatan cantik dengan baju hamil itu. Aku jadi tak sabar menunggu perutmu akan sebesar itu. Aku bahkan sudah tak sabar mengetahui jenis kelamin mereka agar bisa menyiapkan baju-bajunya." Kata Rachel senang sementara Ezekiel nampak kurang semangat makannya.


"Selesaikan makanmu. Aku tunggu di kamar." Katanya sambil menatap Faith. Ia segera berdiri dan meninggalkan meja makan.


Elisa menarik napas panjang." Dia sudah berusia 30 tahun namun terkadang aku merasa kalau dia masih 17 tahun."


Faith menikmati makan malamnya dengan tenang setelah selesai, ia pun segera menemui Ezekiel di kamar.


Saat pintu kamar dibuka, nampak Ezekiel sedang berbicara dengan seseorang di balkon kamar.


Faith pun menunggu sambil duduk di sofa. Ia memainkan hp nya.


"Kita harus bicara." Kata Ezekiel begitu ia masuk. Di tariknya kursi meja rias dan diletakannya tepat di depan Faith.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Faith tenang.


Ezekiel memandang Faith dengan seksama. Ternyata hamil telah membuatnya lebih dewasa dan tenang. Ia juga kelihatan lebih keibuan. Ingin rasanya dia memeluk dan membelai perut istrinya. Namun ia pun mencoba tenang.


"Sejak kapan kau tahu kalau kau hamil?"


"Sejak kau pulang dari Amerika"


"Berarti sebelum Hataru meninggal kau sudah tahu? Bagaimana yang lain? Oma, Opa, Rachel...."


"Mereka semua tahu setelah aku melakukan tes kehamilan. Di pagi hari saat malamnya kau pulang dari Amerika."


"Lalu Ben?"


"Ben justru yang lebih tahu dari diriku sendiri. Dia yang mengatakan padaku kalau aku mungkin hamil. Bahkan dia yang membelikan test kehamilan untukku."


Cih, Ben pasti memperhatikan perubahan bentuk tubuh Faith. Aku saja yang bercinta dengannya malahan tak tahu kalau dia hamil batin Ezekiel.


"Lalu mengapa aku tidak diberitahu?" Tanya Ezekiel sambil menatap Faith dengan tajam.


"Aku yang meminta mereka semua untuk tidak mengatakan padamu. Aku ingin kamu konsentrasi mengurus Hataru."


"Tapi setelah Hataru meninggal, seharusnya kamu mengatakannya padaku kan? Aku berhak tahu karena itu anakku. Kamu sengaja menyembunyikan dariku ya?" Tuding Ezekiel.


"Ya. Karena aku tak ingin kau kembali padaku hanya karena anak ini. Aku ingin kau kembali karena kau mencintaiku."


Ezekiel memegang tangan Faith. "Aku mencintaimu, Faith. Aku sudah mengatakan berulang kali padamu."


"Kalau kau memang mencintaiku, kau akan segera meninggalkan Kimzy dan kembali disisiku. Bukan membiarkannya ada di apartemenmu. Siapapun dapat menebak apa yang kalian lakukan bersama." Faith berkata sinis sambil menarik tangannya dari genggaman Ezekiel.


"Demi Tuhan, faith. Jauhkan pikiran kotormu tentang aku. Kami memang tinggal bersama namun tidur di kamar yang berbeda."


"Memangnya kalian tak pernah bercinta? Jangan bohongi aku Ezekiel. Kau sangat mencintai dan memuja Kimzy seumur hidupmu." Faith mencibir sambil membuang muka.


"Aku akui kami pernah bercumbu, aku hampir menyatuhkan diriku dengan Kimzy namun penyakitku timbul lagi. Aku tak bisa meneruskannya karena yang terbayang justru adalah wajahmu. Aku tak bisa dengan perempuan lain selain dirimu. Itulah sebabnya aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu." Ezekiel berlutut didepan Faith. Diraihnya kedua tangan Faith dan diciumnya secara bergantian. Lalu dibelainya perut Faith dengan tangan yang bergetar.


"Kimzy pernah menyembunyikan keberadaan Hataru dariku. Dan sekarang kau pun ingin melakukan hal yang sama, itu sangat menyakitiku, Faith."


"Bukankah semalam kamu meragukan keberadaan anak ini?"


"Maafkan aku. Semalam aku sangat emosi karena rasa cemburu membutakan segalanya. Pagi tadi aku menyadari semuanya. Makanya aku langsung mencarimu." Ezekiel kembali membelai perut Faith.


"Lalu bagaimana dengan Kimzy?"


Ezekiel menarik napas panjang. "Hataru memintaku untuk menjaga Kimzy."


Faith mendorong Ezekiel dengan kesal. "Kalau begitu jangan cari aku!" Ia berdiri dan segera menjauhi Ezekiel.


"Faith.....aku ..."


Faith tersenyum sinis karena Ezekiel tak dapat meneruskan kalimatnya. "Pergi Ezekiel...!"


"Faith, ini juga adalah kamarku"


"Baik kalau begitu aku yang akan pergi dari sini. Aku akan menghilang dari kehidupanmu."


Faith membuka pintu walk in closet lalu mengeluarkan koper dan mulai mengisi pakaiannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ezekiel lalu mengeluarkan kembali pakaian Faith.


"Biarkan aku pergi." Faith mengambil pakaiannya kembali dan memasukan ke dalam koper.


"Faith aku mohon!" Ezekiel tiba-tiba saja berlutut dan memeluk kaki Faith.


"Jangan pergi dari sini. Aku ingin anakku lahir di sini, aku ingin dia mendapatkan kasih sayangku, kasih Opa, Oma, Rachel dan bi Lastri. "Ezekiel mulai menangis. Hatinya hancur.


"Bangunlah Ezekiel, jangan seperti ini."


"Berjanjilah kau tak akan pergi."


"Baiklah!"


Ezekiel bangun, menghapus air matanya lalu ia mengambil tangan Faith dan menuntunnya keluar dari walk in closet.


"Jangan sakiti dirimu." Ezekiel mengajak Faith duduk di sofa.


"Kau yang menyakitiku. Karena itu pergilah. Selama Kimzy masih bersamamu, kau tak bisa bersamaku." Kata Faith tegas.


" Waktu itu aku masih toleransi denganmu karena ada Hataru namun sekarang, aku tak mau toleransi lagi. Jika aku lelah menuggumu, aku akan pergi dan takkan kembali."


Ezekiel memeluk Faith. Tak peduli Faith yang memberontak dan memukul dadanya. "Aku mencintaimu.....aku tahu aku akan gila tanpamu. Maafkan aku.....maafkan aku....." Kata Ezekiel dengan suara yang bergetar. Ia melepaskan pelukannya lalu mencium perut Faith dengan lembut.


"Daddy mencintai kalian. Sangat mencintai. Daddy akan cari cara untuk bisa menjaga kalian selamanya. Menjaga mama kalian selamanya." Ezekiel berdiri lalu ia pergi meninggalkan Faith dengan hati yang galau.


************


Kimzy menangis melihat Ezekiel pulang dalam keadaan mabuk. Pria itu kembali meracau.


"Aku mencintaimu, Faith. Jangan pergi. Jangan pisahkan aku dengan anak-anakku." Dalam keadaan mabuk pun Ezekiel menangis. Hati Kimzy terasa perih.


Dia tak mencintaiku lagi. Dia ada untukku karena janjinya pada Hataru. Ah, Tuhan, aku ingin bersama Ezekiel. Dia adalah penolongku saat ini. Aku mencintainya. Apa yang harus aku lakukan? Batin Kimzy sambil membersihkan tubuh Ezekiel yang kembali terkena muntah.


*****************


Setiap malam, Ezekiel selalu pulang dalam keadaan mabuk berat. Joe sampai bosan mengantarnya.


Setiap hari ia datang terlambat ke kantor. Yang ia lakukan hanyalah mengamati Faith dari balik kaca ruangannya yang sudah dipasang teleskop.


"Tuan, lama-lama kau akan gila jika begini terus. Dan akhirnya kau akan kehilangan Nona Faith selamanya karena Ben pasti merebutnya dari sisimu." Ujar Joe saat ia masuk ke dalam ruangan dan melihat Ezekiel sedang mengawasi Faith.


"Dia semakin cantik dengan baju hamil itu. Ingin rasanya aku memeluknya."


"Lupakan janjimu pada Hataru. Pergi dan dapatkan kembali istri dan anak-anakmu."


Ezekiel terdiam. Kata-kata Ben terngiang kembali. Ben akan merebut Faith dari Ezekiel. Ben bahkan tak peduli jika Faith sedang hamil anaknya.


Ezekiel berdiri. "Aku mau kembali ke apartemen sekarang."


Sesampai diapartemennya, dilihatnya Kimzy sementara memasak.


"Kimzy, aku mau berpisah!"


#thank's sudah baca part ini


#like, koment and bantu saya dengan memberi Vote ya.....