I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Kesedihan



Sepanjang malam, Faith merasakan tidurnya sangat nyenyak. Tangan Ezekiel yang memeluk pinggangnya dan terkadang mengelus perutnya itu membuat Faith merasa nyaman.


"Good morning." Sapa Ezekiel begitu melihat Faith bangun. Pria tampan itu sudah siap dengan jasnya dan sementara duduk di atas sofa sambil melipat tangannya di depan dada. Sepertinya ia sengaja menunggu Faith bangun.


"Good morning. Aku pikir kamu tidur di rumah sakit." Faith bangun dan segera membereskan tempat tidur.


"Aku sebenarnya ingin pergi namun setiap kali aku melepaskan tanganku dari perutmu, kamu menarik tanganku kembali. Aku merasa kalau kamu ingin aku memelukmu terus." kata Ezekiel dengan tatapan menggoda.


Wajah Faith terasa panas. Ia pura-pura sibuk melipat selimut.


Ezekiel melangkah dan mendekati Faith. Ia lalu memeluk Faith dari belakang. "Aku sempat membayangkan semalam jika kamu hamil. Pasti akan sangat menyenangkan karena aku ingin memiliki anak darimu. Makanya aku mengelus perutmu terus."


Jantung Faith berdetak 2 kali lebih cepat. Apakah Ezekiel mencurigai sesuatu?


Tangan Ezekiel kembali mengelus perut Faith." Aku merindukanmu, Faith. Aku rindu dalam pelukmu, aku rindu mendengar desahanmu, aku rindu saat menciummu. Saat aku bersama Hataru, pikiranku ada padamu. Aku takut Ben akan mencuri hatimu."


Hati Faith tersentuh. Ia memang sangat merindukan Ezekiel. Rindunya seperti yang Ezekiel ucapkan padanya.


Ezekiel membalikan tubuh Faith sehingga keduanya kini berhadapan.


"Aku tak bisa melepaskanmu, Faith. Aku mohon, tetaplah bersamaku."


Air mata Faith jatuh. Tangannya tak bisa ia tahan untuk tidak menyentuh wajah Ezekiel. Entah karena sekarang ada bayi dalam perutnya, Faith seolah melupakan keinginannya untuk meninggalkan Ezekiel. Pagi ini dia ingin sedikit egois. Menahan Ezekiel untuk berada di dekatnya. Merasakan lagi dekapan hangat dan penyatuan cinta yang penuh gairah.


Ezekiel pun tak ingin menahan dirinya lagi. Ia segera ******* bibir manis istrinya. Melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam. Faith membalas ciuman itu.


"Kamu akan terlambat ke kantor." Ucap Faith parau saat ciuman Ezekiel sudah berpindah ke lehernya.


Ezekiel tak menjawab, ia justru menuntun Faith untuk berbaring di atas tempat tidur. Tanpa melepaskan ciumannya, ia membuka jasnya dan melemparkan begitu saja di lantai.


Pagi yang dingin itu perlahan terasa panas karena pergulatan dua orang yang saling melepaskan kerinduan.


**********


Ezekiel melepaskan pelukannya dari pinggang Faith. Perlahan ia bangun dan mengambil selimut untuk menutup tubuh Faith yang polos tanpa baju.


Di kecupnya puncak kepala Faith ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai berganti pakaian, Ezekiel turun ke bawa.Dilihatnya oma sedang menyulam sambil duduk di atas kursi goyangnya.


"Oma buat apa?" Tanya Ezekiel.


"Oma mau buat topi bayi."


"Siapa yang akan punya bayi?"


"Istrimu" Elisa terkejut. Ia keceplosan bicara.


"Maksud oma, Faith?"


" Maksudnya oma mau buat topi bayi, siapa tahu Faith hamil"


Ezekiel tersenyum "Doa kan saja, oma. Opa kemana?"


"Opa ke kantor. Tadi Joe telepon ada rapat pemegang saham jam 8. Tapi kamu belum turun juga. Hp mu nggak diangkat-angkat. Makanya opa yang gantikan. "


" Aku berangkat dulu ya, oma. Jangan bangunkan Faith. Dia pasti capeh" pamit Ezekiel lalu segera pergi.


Elisa menatap cucunya sampai menghilang dibalik pintu. Ah Tuhan, jangan pisahkan mereka.


Mobil Ezekiel baru saja keluar dari halaman saat hp nya berbunyi.


" Hallo Kimzy....ada apa?"


"Kiel, cepatlah datang, Hataru sudah tak sadarkan diri"


"Baiklah. Aku akan ke sana" Ezekiel segera memacu mobilnya menuju ke rumah sakit. Sampai di sana nampak Hataru sudah dimasukan ke ruangan khusus dan pasangkan alat bantu pernapasan.


Kimzy langsung memeluk Ezekiel sambil menangis.


"Aku tak bisa jika Hataru meninggal. Aku tak punya siapapun selain dia. Aku bisa gila" ratap Kimzy.


"Tenanglah Kimzy. Kita kan sudah tahu kalau kondisi seperti ini pasti terjadi. Yang kita lakukan sekarang hanyalah berdoa" kata Ezekiel sambil menepuk punggung Kimzy yang masih memeluknya.


Beberapa jam kemudian.....


"Tuan, Hataru mulai sadar dan dia mencari kalian." kata seorang perawat.


Kimzy dan Ezekiel segera memakai pakaian khusus dan masuk ke dalam.


"Dad....aku akan mati kan?" Tsnya Hataru pelan.


"Tidak sayang......" Ezekiel memegang tangan putranya. Ia merasa hancur melihat wajah pucat itu.


"Mommy, jangan menangis. Kalau aku pergi, Dad pasti akan menjagamu. Iyakan, dad?" Tanya Hataru penuh harap.


"Iya sayang, daddy akan menjaganya." Kata Ezekiel walaupun sebenarnya ia tak mau memenuhi permintaan itu. Wajah Faith terbayang dipelupuk matanya.


"Daddy, bolehkah aku bertemu dengan kak Faith yang cantik itu?"


"Tentu sayang..." Kimzy yang menjawab.


Faith yang saat itu sedang berada di lokasi pembangunan studio Ben segera meminta Ben untuk mengantarnya.


kehadiran Faith membuat Hataru senang. Ia bahkan meminta Faith untuk menyuapinya makan.


Setelah beberapa saat Hataru pun minta untuk tidur.


Faith yang memegang tangan Hataru merasakan kalau tangan mungil itu terlepas dan kepalanya jatuh dari bantal.


"Hataru......! Hataru.....!" Panggilnya pelan.


Kimzy langsung berteriak memanggil dokter. Suasana langsung terasa tegang saat mereka semua diminta untuk meninggalkan ruang perawatan itu kecuali para dokter dan perawat.


Hati Faith sedih melihat Kimzy yang sudah menangis histeris dan Ezekiel berusaha menenangkannya.


Apalagi saat dokter keluar sambil menggelengkan kepalanya, Kimzy semakin histeris dan akhirnya pingsan.


Faith dapat merasakan perasaan Kimzy yang hancur. Ia juga pernah kehilangan papa dan mamanya. Ia tahu bagaimana hancurnya kehilangan orang yang sangat kita kasihi. Ingin rasanya Faith memeluk Kimzy dan menenangkannya. Namun Faith melihat kalau Kimzy merasa tenang dalam pelukan Ezekiel.


Kali ini Faith tak mau hatinya cemburu. Ia tahu hanya Ezekiel yang bisa menolong kesedihan Kimzy.


*********


Seluruh keluarga Thomson hadir diupacara pelepasan jenasah Hataru. Ezekiel sebenarnya ingin Hataru dikuburkan disamping makam kedua orang tuanya. Namun Kimzy ingin mayatnya di bawah ke Jepang dan dikuburkan disamping mamanya.


Ezekiel menemani Kimzy ke Jepang dengan pesawat pribadinya. Faith merasa ada sesuatu yang ikut pergi bersama Kimzy dan Ezekiel.


Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, ia pun menyibukkan diri dengan kerjanya.


"Faith, ini susu hamilmu." Ben datang dengan segelas susu. Faith tersenyum senang karena Ben sangat perhatian padanya.


"Makasi, Ben. Kau selalu baik padaku."


Ben tersenyum dan duduk di depan Faith. "Studioku ini bisa selesai kapan ya?"


"Mungkin sebelum musim dingin tiba."


"Baguslah. Aku tak ingin membuatmu lelah dengan pekerjaan ini. Bagaimana si kembar?"


"Baik. Hanya saja sejak pagi aku merasa perutku agak kram dan aku merasa nggak enak saat berjalan."


Wajah Ben nampak khawatir." Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke dokter. Ayo....!"


"Aku baik-ba......." Faith tiba-tiba merasa ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya.


"Ben, kayaknya aku mengeluarkan darah!" Faith jadi panik.


Ben dengan cepat sudah berada disamping Faith, mengangkat tubuh Faith dan sedikit berlari ia menuju ke mobilnya. Di dalam mobil, Ben segera menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta penanganan khusus. Ia pun segera menelepon Rachel dan memintanya datang.


Rachel yang tiba bersama Elisa dan bi Lastri pun nampak cemas.


"Bagaimana cucuku, Ben?" Tanya Elisa dengan wajah khawatir.


"Masih ditangani dokter Laura." Jawab Ben dengan wajah yang khawatir juga.


Setengah jam kemudian, dokter Laura keluar.


"Tenanglah, ibu dan si kembar dalam perut baik-baik saja." Kata dokter Laura.


Mereka pun bernapas lega.


"Apakah itu terjadi karena dia banyak bergerak? Tapi dia hanya mengawasi saja. Faith bahkan tak pernah lagi naik ke lantai dua dan tiga." Kata Ben cemas.


"Ibu hamil juga butuh bergerak. Menurut analisaku, nyonya Faith agak stres. Itu yang memicu perutnya kram dan mengeluarkan darah." Kata dokter Laura.


"Cucuku itu pasti memikirkan Ezekiel." Elisa nampak kesal.


"Masuklah dan bicara dengannya." Dokter Laura membuka pintu ruangan tempat Faith dirawat.


Faith sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Ia berusaha tersenyum.


"Sayang...., berhentilah memikirkan Ezekiel. Apakah kasih sayang dan perhatian kami kurang untukmu?" tanya Elisa sambil membelai kepala Faith.


"Kalau kamu terus seperti ini, oma akan memberitahukan pada Ezekiel menyangkut kehamilanmu. Lagi pula sudah 2 minggu mereka di Jepang. Sudah saatnya Ezekiel pulang." Lanjut oma.


"Jangan oma. Aku tak ingin Ezekiel kembali padaku hanya karena anak ini. Aku ingin dia kembali karena dia mencintaiku." Kata Faith tegas. Dia memang sedih karena Ezekiel belum juga pulang. Ezekiel memang memberi kabar bahwa Kimzy sakit dan masuk rumah sakit. Makanya, Faith membiarkan saja tanpa meminta Ezekiel kembali.


"Kakak ipar, kau ini terlalu baik." Ucap Rachel sambil menggelengkan kepalanya.


Faith hanya tersenyum sementara Ben menatap Faith dengan perasaan bangga. Kau memang terlahir sebagai malaikat. Sayangnya Ezekiel tak menyadari itu, gumannya dalam hati.


*************


2 hari dirawat, Faith pun diijinkan pulang. Ia berusaha meyakinkan oma bahwa dia akan baik-baik saja asalkan oma membiarkan dia kerja.


Di halaman parkir The Thomson Company, Ezekiel yang pagi ini baru saja tiba menatap seorang gadis dengan celana kain hitam, kemeja berwarna putih yang nampaknya lebih longgar dari tubuhnya, dengan helm khas pekerja, nampak asyik mencatat sesuatu sambil menatap gedung yang sementara dibangun itu.


Sepertinya aku mengenal gadis itu. Siapa dia? Astaga....itu kan Faith? Ezekiel terpana. Rasa rindu membuatnya hampir berlari memeluk istrinya itu. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat Ben mendekat sambil membawa sebotol minuman.


Keduanya tertawa bersama entah apa yang mereka bicarakan. Namun yang membuat Ezekiel kesal saat dilihatnya tangan Faith yang menggandeng Ben saat keduanya menaiki tangga. Sudah begitu dekatkah mereka?