
Entah jam berapa Ezekiel pulang. Faith sudah terlalu lelah menunggunya sehingga memutuskan untuk tidur. Dan saat ia bangun pagi ini, Ezekiel sudah memeluknya dari belakang.
Perlahan Faith membalikan badannya dan menatap Ezekiel sambil tersenyum
Tangannya terangkat dan membelai wajah ganteng itu dengan lembut. Ezekiel nampak sangat lelap. Napasnya begitu teratur.
Rambut pirangnya yang agak bergelombang. Alisnya yang tumbuh lebat dan tertata rapih di atas matanya, bulu matanya yang lentik, hidung mancung yang indah, serta bibirnya terpahat indah. Bagian atasnya yang tipis dan bagian bawahnya sedikit tebal.
Faith tidak pernah melihat Ezekiel merokok. Mungkin inilah yang membuat bibir Ezekiel berwarna merah. Seperti menggunakan lipstick berwarna pink.
Baru kali ini Faith menyadari bahwa wajah bule di depannya begitu tampan dan mulus. Tak ada bintik-bintik hitam seperti kebanyakan bule yang dilihatnya. Wajah Ezekiel punya keunikan tersendiri yang membuatnya selalu menarik perhatian kaum hawa. Dina sendiri yang sudah mengenal begitu banyak pria bule dalam hidupnya mengakui bahwa sosok Ezekiel memiliki pesona bak dewa yang turun dari khayangan.
Waktu itu Faith hanya tertawa mendengarnya. Ia pikir kalau Dina terlalu lebai menilai Ezekiel. Namun sekarang, ia mengakui itu semua. Dan sepertinya, ia ingin mencium pria di depannya ini namun ia takut membangunkan Ezekiel. Ia tahu Ezekiel pasti sangat lelah.
Saat Faith menghentikan aktifitas tangannya di wajah Ezekiel dan memutuskan untuk bangun, tiba-tiba cowok itu menahan tangannya dan membuka matanya sambil menatap Faith tajam.
"Kau sudah menganggu tidurku. Kau harus bertanggungjawab"
Faith terbelalak dan sebelum ia sempat bicara, Ezekiel sudah mencium dirinya dengan penuh gairah. Ciuman yang semakin panas itu membuat Faith terlena, tubuhnya merespon dan dia tidak siap menolak. Dia merasa sensasi yang luar biasa. Ia menemukan berbagai macam rasa yang baru pertama kali dirasakannya. Tubuhnya begitu merespons setiap sentuhan Ezekiel. Faith bahkan tanpa sadar mengeluarkan desahan manis ketika Ezekiel menciumi seluruh bagian tubuhnya. Sampai akhirnya sesuatu yang dijaganya selama ini, yang menjadi kehormatan dan kebanggaannya sebagai seorang perempuan, terkoyak sudah.
Ada jeritan kesakitan namun juga rasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Faith merasa melayang, air matanya mengalir. Dia bukan perawan lagi.
**********
Napas Ezekiel yang tadinya tersengal-sengal perlahan mulai teratur. Rasa nikmat itu masih menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk yang pertama, setelah hubungannya dengan Kimzy dulu , Ezekiel dapat menuntaskan hasratnya yang penuh gairah pada seorang perempuan tanpa terganggu dengan bayangan Kimzy.
Ezekiel tersenyum senang. Phobianya sudah hilang. Ia menatap Faith yang terbaring di sampingnya. Gadis eh, bukan gadis lagi, wanita itu masih terbaring diam. Matanya menatap langit-langit kamar.
Ezekiel mendekat. Wajah mereka begitu rapat bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Tubuhnya bertumpuh pada kedua tangannya agar tidak jatuh menimpah Faith.
"Thank you.....thank you....thank you" ucapnya berulang-ulang lalu mengecup bibir Faith lembut.
Mengapa pria ini berterima kasih padaku? Apakah karena dia telah mendapatkan diriku? merebut keperawananku? tanya Faith dalam hati. Ada nada yang tulus terdengar saat Ezekiel menyebutkan itu.
Faith tak bicara. Matanya hanya memandang Ezekiel sekilas lalu ia membuang pandangannya ke samping. Ada rasa malu yang menderanya saat menyadari mereka telah begitu dekat tanpa ada satu benangpun yang menutupi tubuh mereka.
Ezekiel tersenyum saat melihat pipi Faith yang merona. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Faith. Napasnya kembali tak teratur.
"Faith.....aku ingin dirimu.." bisiknya parau.
Faith terkejut...lagi????
**************
Waktu sudah beranjak semakin siang. Namun kedua anak manusia itu masih terlelap karena rasa lelah yang mendera setelah hasrat yang tersalur selama beberapa kali. Untuk sesaat kamar itu sepi.
Di luar matahari menampakan wajahnya namun tak mampu mengalahkan dinginnya salju.
Faith menarik selimutnya yang sempat terbuka karena ulah Ezekiel. Rasa dingin, lelah bercampur perih dibagian intinya membuat ia bangun.
Dia kini sudah menyerahkan dirinya pada lelaki yang berstatus sebagai suaminya. Pria berwajah bule yang awalnya sangat dibencinya namun kini dicintainya.
Faith mencoba untuk bangun. Ia merasa lapar.
"Aow...." Jeritnya tanpa bisa ditahan.
Ezekiel terbangun "Ada apa?" Tanyannya dengan suara yang masih mengantuk.
"Sakit...." ujar Faith dengan suara memelas.
Ezekiel meraih tangan Faith dan menciumnya mesra."Maafkan aku. Kamu mau kemana? Ayo tidur lagi."
"Aku ingin mandi dan makan. Aku lapar.Tapi rasanya aku tak sanggup berjalan."
"Perlu ku gendong ke kamar mandi?" Tanya Ezekiel dengan tatapan menggoda.
"Kamu ini...." Faith mencubit Ezekiel dengan jengkel. Wajahnya kembali merona.
Ezekiel hanya tertawa. Namun tawanya terhenti mendengar bunyi bel pintu.
Siapa yang telah menembus sistem keamanannya sampai bisa berdiri di depan pintu apartemennya? Kalaupun itu adalah Joe, bukankah Joe tahu kode untuk membuka pintu apartemennya? Para pelayan pun yang masuk ke sini selalu diantar oleh Joe.
Handphone Ezekiel berbunyi. Pria itu mengambil hp nya saat melihat nama Joe di sana.
"Tuan, maafkan aku. Aku tadi ke sini mau menjemput tuan karena tuan sudah melewatkan 2 rapat penting pagi ini. Saat aku tiba di depan pintu nyonya besar dan nona muda sudah berdiri di pintu bawah dan memaksa aku untuk membuka pintu menuju ke akses lift khusus." Terdengar suara Joe yang begitu ketakutan. Ia tahu Ezekiel tak suka diganggu saat dia berada di apartemennya
Hanya Joe yang bisa masuk ke apartemen ini.
"Ok." Ezekiel melemparkan hp nya dengan kesal ke atas lantai. Untung saja lantai itu dilapisi karpet tebal sehingga hp itu tak rusak.
Oma dan adiknya ada di sini. Kalau cuma Rachel yang datang Ezekiel pasti tak mau membukanya. Tapi ini adalah omanya. Wanita yang sangat dihormatinya.
Di didik dalam lingkungan keluarga bangsawan, Ezekiel tentu tahu bagaimana harus menghormati orang yang lebih tua. Ia bisa saja kasar dan cuek dengan orang lain. Namun tidak dengan oma dan wanita-wanita terhormat dari kalangan kelas bangsawan.
Sedikit malas ia bangun dan berjalan ke arah lemari pakaian.
Faith langsung memalingkan wajahnya karena pria itu berjalan tanpa memperdulikan dirinya yang telanjang.
"Cepatlah mandi dan turun ke bawah. Oma dan adikku datang." Ucap Ezekiel setelah selesai berpakaian.
Faith yang masih menutup mukanya dengan kedua tangannya terkejut. Oma dan Rachel? Ya Tuhan sungguh kunjungan yang tidak tepat waktu. Apa kata mereka saat mengetahui kalau dia baru saja bangun?
"Cepatlah sedikit. Oma tidak suka menunggu." Ujar Ezekiel sebelum keluar dari kamar.
Faith turun, ia meraih bajunya yang ada dilantai. Sedikit meringis karena rasa sakit yang mendera tubuhnya. Tulang-tulangnya bahkan hampir terlepas karena ulah Ezekiel. Dengan sedikit tertatih, ia melangkah ke kamar mandi.
#thank you sudah baca part ini...
#jangan lupa like ya kalau suka
#koment juga boleh 😉😉😉