I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
LONDON FAMILY



Faith melangkah menuruni tangga dengan perasaan yang tak enak. Ia tahu bahwa ia cukup lama berada di atas. Bukan karena mandinya yang lama tapi karena dia kebingungan mencari baju yang tepat untuk menutupi bekas perbuatan Ezekiel di lehernya. Ia hampir menjerit saat menatap cermin dan melihat beberapa tanda merah tercetak indah dikulit lehernya yang putih bersih.


Akhirnya, ia menemukan sweater Ezekiel yang tertutup sampai di leher walaupun agak kebesaran di tubuh mungilnya.


Saat Faith sudah berada di ruang tamu, tatapan mata dua perempuan yang berbeda generasi itu membuat Faith salah tingkah. Mereka menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki berulang kali.


Ya ampun! Mati aku, pasti mereka menilai buruk padaku karena mandi terlalu lama, guman Faith dalam hati. Atau bisa saja mereka menganggap kalau aku wanita yang tidak cocok untuk Ezekiel. Langkahnya terhenti. Ia tertunduk dengan jantung yang berdetak cepat. Ia meremas-remas tangannya sendiri. Ia mengenal Rachel karena sudah pernah melihat fotonya. Dan wanita yang ada di samping Rachel pastilah oma. Dia kelihatan seperti ratu dengan pakaiannya itu. Faith menjadi minder dengan penampilannya.


"Ezekiel, are you crazy?" Pekik Elisa Thomson, wanita tua yang masih kelihatan segar dan cantik diusia 70-an.


"What?" Ezekiel terkejut mendengar suara omanya yang sedikit tinggi. Tak biasanya omanya berbicara seperti itu. Omanya terkenal lembut dan jarang sekali marah. Ia tidak mengerti mengapa oma menganggapnya gila.


"Kenapa kau menikahi seorang anak kecil? Memangnya tidak ada gadis lain?" Tanya Elisa Thomson sambil menatap cucunya dengan wajah penuh tanda tanya.


Ezekiel menoleh ke arah Faith. Rambut sebahunya tergerai indah dengan menggunakan bandow bermotif bunga. Mengenakan sweater Ezekiel yang besar dengan rok jeans berbetuk A selutut. Wajah polos tanpa ada make up sedikitpun.


Wajah imut Faith ditambah dengan cara berpakaiannya ini memang membuat orang akan mengira bahwa Faith masih SMA.


"Oma, Istriku ini usianya sudah 19 tahun saat kunikahi. Penampilannya saja yang sedikit imut." Kata Ezekiel sambil menatap tajam ke arah adiknya yang nampak tertawa kesenangan melihatnya dimarahi oleh oma.


"Tetap saja dia masih muda. Apa kamu nggak malu menikah dengannya. Usiamu kan sudah 29 tahun."


Ezekiel terpana mendengar perkataan omanya. Memangnya kenapa kalau usianya 29 tahun? Orang bahkan sering mengira kalau ia berusia 20 tahun karena wajah imutnya.


Elisa berdiri dan melangkah ke arah Faith. Wajahya yang tadi kelihatan garang berubah menjadi sangat manis.


"My sweety girl" Tanpa diduga Elisa memeluk Faith dan menghadiahkan ciuman penuh kasih sayang di kedua pipi Faith.


Faith terkejut dengan apa yang dibuat Elisa padanya. Namun ia sangat terharu dengan sentuhan kasih itu. Sudah lama ia tak merasakannya. Semenjak papanya meninggal Faith kehilangan perhatian kasih seperti ini.


"Mari nak, duduk bersama oma." Elisa merengkuh pundak Faith dan mengajaknya duduk di sofa.


"Apakah Ezekiel memaksamu untuk menikah dengannya? Soalnya cucu oma ini memang suka sekali memaksakan kehendaknya." Tanya Elisa lembut sambil memegang kedua tangan Faith.


Faith memandang Ezekiel yang memang sedang menatapnya dengan tatapan mata yang seolah memintanya untuk berbohong.


"Ya, oma. Dia memang memaksaku." Ujar Faith sambil menahan senyum.


Rahang Ezekiel mengeras. Nampak sekali ia menahan marah. Elisa langsung melotot ke arah cucunya.


"Sejak pertama bertemu, ia memang sudah memintaku untuk menikah dengannya. Awalnya aku menolak namun karena setiap hari dia mengejarku, aku pun jatuh cinta padanya dan kami menikah." Faith tersenyum puas. Kena kau bule jelek! Umpatnya dalam hati.


Ezekiel menarik napas lega namun dia kembali jengkel melihat adiknya terkekeh.


"Aku tak menyangkah kalau kakakku yang terkenal sombong dan cool di depan kaum hawa bisa juga menjadi seorang pria yang mengemis cinta untuk seorang wanita. Aku salut denganmu kakak ipar." Kata Rachel sambil mengangkat jempolnya.


"Faith sayang, kenapa kamu tidak tinggal saja di London. Di Indonesia kan kamu sudah tidak punya siapa-siapa." Ucap Elisa masih dengan kelembutannya.


Ezekiel menarik napas panjang. Seharusnya ia tak meremehkan kemampuan wanita tua yang ada di depannya ini. Ia pasti telah menyewa detektif terbaik untuk menyelidiki latar belakang Faith.


"Saya ingin menyelesaikan kuliah saya oma." Kata Faith sambil tertunduk. Wanita hebat yang ada disampingnya ini pasti telah tahu siapa dirinya. Faith berpikir kalau oma akan menolaknya karena dia bukan perempuan dari golongan bangsawan namun ternyata sikap perempuan yang nampak elegan itu sungguh berbeda. Ia begitu senang bertemu dengan cucu mantunya.


"Baiklah. Asalkan setelah itu kamu langsung pindah ke sini. Oh ya, kalian sudah 5 bulan menikah. Apakah sudah ada tanda-tanda penerus Thomson di sini?" Tanya Elisa sambil mengusap perut Faith lembut.


Ezekiel yang sedang meneguk kopinya jadi tersedak sementara Faith jadi pucat. Hamil? Making love saja baru pagi ini. Aku kan juga minum pil anti hamil.


"Wajarlah oma bertanya seperti itu. Usia oma sudah tua. Oma ingin memastikan kalau Thomson akan punya penerus. Mengingat selama ini Ezekiel tidak pernah memiliki hubungan serius dengan wanita lain. Sehingga banyak gosip mengatakan kalau dia seorang gay." Kata oma terus terang. Joe yang sejak tadi duduk diam disudut ruangan tidak dapat menahan tawanya. Demikian juga dengan Rachel. Sementara wajah Ezekiel nampak merah mendengar perkataan oma.


"Gay?" Faith mengerutkan dahinya. Gay apanya, baru saja bercinta ia sudah hampir membuatku tak bisa berjalan.


"Tapi cucu oma pria yang perkasa kan?" Tanya oma lagi membuat tawa Joe dan Rachel semakin kuat.


"Oma, pertanyaan macam apa ini?" Ezekiel menjadi sangat jengkel sekaligus malu.


"Oma harus tahu. Soalnya agak aneh juga dengan pernikahan kalian. Masakan hanya bertemu 3 hari langsung menikah. Jangan-jangan ini hanya akal-akalan si Ezekiel untuk menutupi kenyataan tentang dirinya yang gay." Elisa terus bicara tanpa memperdulikan wajah Ezekiel yang semakin merah.


"Oma, Ezekiel adalah pria yang sejati. Aku bisa menjamin itu. Kalau sekarang aku belum hamil mungkin karena belum waktunya Tuhan. Oma yang sabar ya." kata Faith sambil mengelus tangan wanita tua itu yang masih menggengam tangannya.


"Jangan terlalu lama anakku. Di samping usia oma sudah semakin tua, Ezekiel juga bukan pria yang muda"


"Oma!" Protes Ezekiel. Enak saja oma mengatakan kalau dia pria yang tua.


"Oma dulu mendapatkan ayahmu saat usia oma 23 tahun dan opa 25 tahun. Kamu, sudah hampir 30 tahun dan belum juga memiliki keturunan apakah itu bukan berarti sudah tua? Pokoknya oma mau tahun depan oma sudah mendapatkan cicit. Kalian usaha yang benar. Program bayi tabung atau konsultasi dengan dokter terbaik di dunia ini, supaya Faith bisa hamil." Tegas oma. Tidak ada yang bisa membantahnya.


"Aku mau siap-siap dulu, ada rapat penting!" Ezekiel berdiri lalu memandang Faith. "Honey, bantu aku menyiapakan pakaianku ya?" Ezekiel tidak ingin percakapan ini lebih lama karena oma bisa membuat Faith buka mulut.


Faith mengangguk.


"Besok, kalian harus pindah ke mansion." Ucap Elisa sambil berdiri.


"Oma...!" Protes Ezekiel.


""Kamu mau cucu mantuku yang cantik ini tinggal di apartemen kecil ini? Memalukan. Besok kalian harus pindah. Ayo Rachel, kita harus pergi." Elisa segera melangkah pergi. Rachel yang berjalan dibelakangnya tersenyum


"See you tomorrow kakak ipar." Ujarnya sambil melambaikan tangan.


Saat oma dan Rachel menghilang dibalik pintu, Ezekiel segera melangkah menaiki tangga. Faith berjalan dibelakangnya dengan diam.


Ketika mereka berada di kamar, Ezekiel segera menuju ke kamar mandi sementara Faith membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian yang akan dikenakan Ezekiel. Setelah semuanya siap, Faith pun merasa ingin membuka sweater Ezekiel yang kebesaran untuknya dan menggantikan dengan baju miliknya. Tepat disaat itu Ezekiel keluar dari pintu kamar mandi, Faith jadi kebingungan lalu menutup tubuhnya dengan tangannya sendiri. Sweater yang baru saja dibukanya jatuh dikakinya.


Ezekiel mendekat, melemparkan handuk yang ada ditangannya ke lantai, menarik kedua tangan Faith dan memeluk wanita itu dengan senyum menggoda.


"Ka...mu mau apa?" Faith jadi gugup.


"Terima kasih tadi kamu bilang ke oma kalau aku adalah pria sejati."


"Ya sudah..., lepaskan aku sekarang. Aku lapar"


"Aku akan berterima kasih secara benar kepadamu."


Faith menelan ludahnya "Ezekiel...kamu ada rapatkan?"


Ezekiel tersenyum "Joe dapat menundah rapatnya jika aku belum turun ke bawah." Bisiknya lembut lalu mulai mencium Faith sambil mengeratkan pelukannya.


#makasi sudah membaca part ini


#like dan komentar juga ya...