I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
Usaha Kimzy



"Kimzy, aku mau berpisah."


Piring yang ada ditangan Kimzy jatuh. Ia terpana, tak percaya dengan apa yang diucapkan Ezekiel.


"Kiel...., kamu bercanda kan?"


Ezekiel mendekat. "Aku serius. Aku mencintai Faith. Saat ini Faith sedang mengandung, aku tak bisa meninggalkan Faith sendiri."


"Kiel....." Kimzy menangis. Ia memegang tangan Ezekiel. "Jangan tinggalkan aku. Bukankah kau berjanji pada Hataru untuk menjagaku? Aku rela kau menjadikan aku sebagai selingkuhanmu tapi jangan biarkan aku sendiri." Dipeluknya Ezekiel dengan erat sebagai tanda betapa kuatnya keinginan hatinya untuk bersama Ezekiel.


Ezekiel melepaskan pelukan Kimzy. "Kimzy, aku tak bisa lagi seperti ini. Aku tersiksa membiarkan Faith sendiri. Aku ingin bersamanya, bersama anak kami yang sebentar lagi akan lahir. Maafkan aku Kimzy."


"Jangan tinggalkan aku, Kiel" Kimzy kembali memegang kedua tangan Ezekiel. "Tatap aku. Aku ingin melihat lagi tatapan cintamu seperti dulu itu. Bukankah kau tak bahagia jika aku tak bahagia?" Kimzy menangkup pipi Ezekiel.


"Kimzy, dulu aku memang sangat mencintaimu. Aku bahkan sangat tergila-gila padamu. Aku pikir bahwa aku tak bisa lagi mencintai orang lain. Namun Faith mengubah pandanganku. Dia bisa membuatku jatuh cinta."


Kimzy langsung mencium Ezekiel dengan penuh gairah. Ezekiel ingin mengahiri ciuman itu namun Kimzy menahannya dengan menekan tengkuk Ezekiel.


"Tidak....!" Ezekiel mendorong Kimzy agak keras.


"Jangan seperti ini, kau bukan perempuan seperti ini. Jangan menyiksa perasaanmu sendiri."


Kimzy berlutut, memeluk kaki Ezekiel sambil menangis. "Tidak! Aku tak mau kita berpisah. Aku akan bunuh diri jika kau melakukan hal ini padaku."


"Kimzy.....! Ayo berdiri!"


"Tidak, Kiel. Aku akan melakukan apa saja asal kau mau bersamaku. Aku yakin, aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Kalau kau menolakku, aku bersumpah akan bunuh diri." Kata Kimzy tegas sambil terus menangis dan memeluk kaki Ezekiel semakin kuat.


Ezekiel menarik napas panjang. Ia bingung dengan keputusannya. Ia takut jika Kimzy akan melakukan niatnya untuk bunuh diri.


Merasa frustasi, Ezekiel mengangkat tubuh Kimzy, mendudukannya di sofa lalu memberikannya segelas air putih.


Mereka berdua pun saling diam tanpa bicara apa-apa.


***************


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Faith. Seperti biasa Elisa, Daren, Rachel dan bi Lastri ikut dengannya.


"Apakah jenis kelaminnya sudah bisa diketahui?" Tanya Rachel penasaran.


Dokter Laura tersenyum." Dengan kecanggihan alat USG sekarang ini, jenis kelaminnya sudah bisa diketahui. Apakah kau siap nyonya Thomson?"


"Sebenarnya aku ingin ini menjadi kejutan tapi karena tantenya begitu penasaran ya...sudahlah. Mari kita lihat." Ujar Faith membuat Rachel terkekeh.


Dokter Laura memberikan gel diatas perut Faith saat pintu ruang prakteknya dibuka.


"Bolehkah aku ikut melihatnya?" Ezekiel sudah berdiri di sana dengan wajah penuh permohonan.


"Masuklah, nak!" Ajak bi Lastri diikuti anggukan Daren dan Elisa.


Ezekiel melangkah masuk sementara Faith berusaha menekan perasaannya.


"Ok, mari kita lihat perkembangan dua bayi ini." Dokter Laura mulai menggerakan alat itu diatas perut Faith.


"Mereka berkembang sesuai dengan usianya. Dan semuanya nampak baik dan detak jantungnya juga bagus"


Hati Ezekiel rasanya mau melompat keluar mendengar detak jantung itu. Ia seperti merasakan detak jantungnya sendiri.


"Jenis kelamin yang satu ini laki-laki dan yang satunya adalah perempuan. Wah, anak kembar ini sepasang rupanya. Ini luar biasa." Pekik dokter Laura ikut merasa senang.


Mendengar perkataan dokter Laura semua yang ada di ruangan itu nampak senang mendengarnya.


"Asyik....aku akan punya ponakan laki-laki dan perempuan sekaligus." Rachel bersorak.


Ezekiel berusaha menahan air matanya. Namun ia tak bisa. Sebutir air mata jatuh disudut matanya. Membayangkan dia akan memiliki anak laki-laki dan perempuan sekaligus merupakan suatu kebanggaan tersendiri.


"Terima kasih Tuhan. Aku begitu menginginkan cicit perempuan namun suamiku ingin cicit laki-laki ternyata Tuhan mengabulkan keduanya. Tuhan sangat baik mengampulkan mimpi 2 orang yang sudah tua ini." Elisa terharu sambil memeluk suaminya.


"Iya. Sudah sepatutnya kita bersyukur." Kata Daren sambil menatap Faith." Kau adalah kebahagiaan yang diutus Tuhan bagi kami, sayang."


Faith hanya tersenyum lalu segera bangun setelah dokter membersihkan gel dari perutnya.


Ia menurunkan gaunnya kembali.


"Minum vitamin yang akan kuresepkan ini sampai habis ya? Makanlah seperti biasanya." Kata dokter Laura sebelum mereka keluar dari ruangan.


"Kau akan ke mana setelah ini?" Tanya Rachel pada Faith.


"Aku mau ke pembangunan studio sebentar dan kembali pulang ke rumah." Jawab Faith.


"Biarkan aku mengantarmu!" Kata Ezekiel.


"Pergilah bersama Ezekiel." Kata Elisa membuat Faith yang akan menolak terpaksa hanya mengangguk.


Perjalanan dari rumah sakit menuju ke tempat pembangunan studio itu terasa lama. Ezekiel memang sengaja menjalankan mobilnya sangat lambat karena ia ingin lebih lama melihat wajah istrinya, dan menghirup harum tubuhnya.


"Aku sangat merindukanmu." Kata Ezekiel memecah kesunyian diantara mereka.


Aku juga merindukanmu batin Faith. Aku ingin kau memelukku dan membelai perutku lagi.


"Aku ingin ke mansion dan melihatmu namun aku takut kau akan pergi seperti janjimu. Makanya aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Hari ini, aku tak sengaja melihat mobil opa memasuki rumah sakit ini dan melihat kalian semua turun. Makanya aku mengikuti kalian." Kata Ezekiel lagi melihat Faith hanya diam.


"Faith, saat aku mendengar detak jantung mereka, rasanya tak dapat terkatakan. Apalagi saat tahu mereka berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, rasanya aku ingin berteriak karena rasa senang." Kata-kata Ezekiel terdengar sangat bahagia. Matanya bahkan sempat berkaca-kaca.


Faith melirik Ezekiel sebentar. Wajah tampan itu kelihatan kurus dan sedikit brewokan karena belum bercukur. Ada lingkaran hitam di matanya yang menandakan bahwa pria itu kurang tidur.


Mereka pun akhirnya tiba di lokasi.


"Terima kasih sudah mengantarku." Kata Faith sambil membuka pintu namun Ezekiel tiba-tiba menahan tangannya.


"Bolehkah aku membelai dan mencium mereka sebentar?" Tanya Ezekiel dengan nada memohon.


Hati Faith tersentuh. Ìa mengangguk.


Tangan Ezekiel bergetar menyentuh perut Faith yang mulai membesar itu. Ia mengelusnya perlahan sambil merasakan kehadiran mereka di sana.


"Hallo jagoan dan cantiknya daddy di dalam. Baik-baik ya di sana. Jangan membuat mommy repot. Daddy akan menemui kalian lagi." lalu ia menunduk dan mencium perut Faith berulang ulang kali. Tak peduli dengan matanya yang basah karena hatinya yang haru. Faith pun tak bisa menahan air matanya. Tangannya bahkan membelai kepala Ezekiel yang masih menciumi perutnya.


Untuk sesaat keduanya larut dalam dalam haru. Lalu Faith menghapus air matanya sendiri. "Sudah Ezekiel, aku harus turun."


Ezekiel pun mengangkat kepalanya. Menghapus air matanya sendiri, lalu ia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil bagi Faith.


"Hati-hati dalam bekerja, ya?" Pesan Ezekiel.


Faith tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam tenda besar yang sengaja dibuat oleh Ben sebagai tempat bagi Faith melaksanakan tugasnya.


Ezekiel pun kembali menjalankan mobilnya dan berputar menuju ke kantornya. Ia tak menyadari ada tatapan mata penuh kebencian dari seorang perempuan.


Perempuan itu pun melangkah mendekati tenda tempat Faith bekerja.


"Ayo kita bicara!"


Faith yang baru saja duduk mengangkat kepalanya dengan dengan kaget saat ia melihat siapa yang berdiri di sana.


"Silahkan masuk kak Kimzy!" Ajaknya ramah.


Kimzy duduk di depan Faith sambil menatap Faith dengan seksama.


"Aku mohon Faith, jangan membuat Ezekiel bingung lagi. Lepaskan Ezekiel. Jangan pakai alasan kehamilanmu untuk membuatnya tetap berada di sampingmu."


Faith tersenyum sinis ."Aku tidak pernah memakai alasan kehamilanku untuk menahan Ezekiel di sampingku. Aku bahkan memintanya secara tegas untuk menceraikan aku namun Ezekiel tidak mau. Ia bahkan memohon agar aku tidak meninggalkan dia."


Kimzy menarik napas panjang. "Faith, kau memiliki cinta semua orang yang mengasihimu. Bahkan ada Ben, yang selama ini tidak pernah serius dengan satu perempuan saja namun sekarang tidak pernah berkencan lagi karena selalu ada untukmu. Sedangkan aku tidak punya siapa-siapa lagi. Anak yang menjadi kebanggaanku sudah meninggal. Apakah kau tak kasihan padaku? Hanya Kiel yang kumiliki. Dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Biarkan kami bersama."


"Kamu sungguh egois, kak. Ezekiel itu suamiku. Waktu Hataru sakit, aku membiarkan Ezekiel bersamamu karena Hataru. Sekarang Hataru sudah meninggal, mengapa kau masih memaksa Ezekiel berada di sampingmu?" Tanya Faith dengan nada sedikit jengkel.


"Sekarang aku sedang hamil, Ezekiel ingin bersama anak ini, mengapa justru kamu yang menghalanginya?"


"Ezekiel mencintaiku." Teriak Kimzy frustasi. Ia berharap Faith akan kasihan padanya namun dia salah.


" Itu dulu. Sekarang Ezekiel mencintaiku."


"Faith....." Kimzy berdiri dengan kesal.


"Pergilah Kimzy, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Jangan ganggu Faith." Kata Ben yang sejak tadi memang sudah mendengar percakapan dua wanita itu.


Kimzy menoleh ke arah Ben dengan kesal lalu ia segera pergi meninggalkan mereka.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ben


Faith mengangguk. "Aku tak mau terpancing emosi hanya karena dia. Anak-anakku tak boleh merasa tak nyaman."


"Aku salut dengan kedewasaanmu dalam menjawab semua perkataan Kimzy." Puji Ben.


Faith hanya tersenyum .


"Ben, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Silahkan my lady"


"Tadi Kimzy mengatakan bahwa karena aku, kamu tidak kencan lagi dengan gadis lain. Apa benar?


"Yes"


"Apakah kamu menyukaiku?"


"Yes"


"Ben, berarti semua bantuan dan perhatianmu padaku karena kau punya maksud untukku?"


Tawa Ben langsung pecah melihat wajah Faith yang panik.


"Aku menyukaimu, sebab kalau tidak mana mungkin aku akan bersahabat denganmu. Semua bantuan dan perhatianku padamu tulus karena aku menyukaimu sebagai sahabat."


"Syukurlah." Faith bernapas lega.


"Namun, aku mungkin akan berubah pikiran kalau Ezekiel meninggalkanmu."


"Ben!" Teriak Faith.


Ben terkekeh." Tenang saja, aku tak mungkin akan jatuh cinta pada wanita."


"Memangnya kamu gay?"


Lagi-lagi Ben hanya tertawa dan meninggalkan Faith yang nampak kesal dengan sikap Ben.


#makasih sudah baca part ini


#jangan lupa like, koment dan...dukung aku dengan memberikan Vote...boleh kan???😂😂😂😂