I HATE YOU, BULE

I HATE YOU, BULE
cinta tersembunyi Joe



Elisa dan Daren pergi liburan setelah memastikan kalau Ezekiel dan faith akan baik-baik saja tanpa mereka.


"Opa dan oma selalu liburan berdua ya?" tanya Faith saat sarapan bersama.


"Ya, sayang. Setiap tahun mereka selalu liburan berdua. Mereka menyebutnya sebagai bulan madu untuk semakin menguatkan ikatan cinta kasih diantara mereka" kata Ezekiel.


"Makanya tak pernah terdengar kalau salah satu diantara mereka selingkuh. Aku ingin nantinya punya pasangan seperti mereka" kata Rachel dengan mata yang berbinar.


"Rachel, hari ini kita ke kantor Ezekiel ya. Sekalian aku mau mengecek persiapan untuk peresmian studio Ben. Sudah 2 hari ini Ben sulit ditemui. Hp nya saja nggak aktif" kata Faith. Rachel hanya mengangguk.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Kita akan makan siang bersama di kantor" pamit Ezekiel. Ia berdiri dan mencium bibir Faith lalu berpindah ke perutnya. "Daddy berangkat dulu ya sayang...."


Setelah Ezekiel pergi, Faith segera ke dapur. Ia ingin memasak makan siang untuk mereka.


Hp nya berbunyi. Ada panggilan videocall dari Dina.


"Hallo Dina.....apa kabarmu?" sapa Faith.


"Aku baik-baik saja. Oh ya, video nyanyian Ezekiel untukmu sangat viral di sini. Kami bahkan menontonnya secara berulang-ulang"


"Oh ya? Pada iri kan kalian. Makanya cepat menikah"


"Aku meneleponmu untuk mengabarkan hari bahagia ini. Satu bulan lagi aku akan menikah."


Faith terpana "Oh ya? Dengam bule yang mana?"


"Dengan orang Indonesia"


"What? are you crazy? Siapa pria lokal yang telah merebut hatimu itu?"


Dina menunduk sesaat lalu ia menatap Faith "Kamu nggak akan marah kan jika aku menikah dengan kak Daniel"


"Apa? "


"Aku tahu kamu pasti marah. Maafkan aku ya, namun setelah kamu pergi, kak Daniel sering mengajak anaknya main ke cafe. Lama-lama kami jadi dekat dan perasaan itu akhirnya tumbuh"


"Aku nggak marah. Aku hanya kaget saja. Dan aku bersyukur kalau kalian akhirnya bisa bersama. Oh my God, ternyata jodoh itu nggak kemana-mana. Sampaikan salamku untuk kak Daniel. dan aku minta maaf kalau tak bisa hadir. Bulan depan usia kandunganku memasuki bulan keenam. Pasti Ezekiel melarangku untuk melakukan perjalanan jauh." kata Faith sambil memamerkan perutnya.


"Tak apa. Rencananya kalau selesai menikah, kami justru akan bulan madu ke London"


"Tentu saja aku akan menyambut kalian dengan senang hati"


"Baiklah. Aku tutup dulu ya..." Dina melambaikan tangannya dan mengahiri percakapan mereka.


Faith tersenyum " Dina dan kak Daniel akan menempuh kebahagiaan mereka. Sekarang waktunya Rachel" guman Faith dengan penuh keyakinan.


Rachel dan Faith mampir sebentar di studionya Ben sebelum menuju ke gedung The Thomson Company.


"Ben kemana ya? kok menghilang gitu?" tanya Faith saat keduanya sudah berada didalam lift.


"Mungkin dia ada pemotretan di luar daerah" jawab Rachel.


Lift akhirnya sampai dilantai yang dituju. Saat pintu lift terbuka, nampak Joe yang sedang menelepon seseorang.


Saat melihat Faith dan Rachel yang datang, Ia berdiri dan sedikit membungkuk hormat.


"Selamat datang !" sapanya sopan.


"Hallo sekretaris Joe. Apakah suamiku ada?" tanya Faith.


"Ada nyonya. Tuan Ezekiel sudah menungguh kalian" Joe segera berjalan dan membuka pintu ruangan Ezekiel.


"kalian sudah datang?" Ezekiel langsung menyambut Istri dan adiknya dengan wajah gembira.


"Joe, pesankan makanan di restaurant langgananku" perintah Ezekiel.


"No, honey. Aku membawa makan siang untuk kita berempat. Aku dan Rachel yang memasaknya." Faith menunjukan tas makanan yang dipegang Rachel.


"Wah, pasti enak" Ezekiel jadi senang.


"Sekretaris Joe, tolong bantu Rachel menyiapkan makanannya ya? Kamu juga harus makan bersama kami" kata Faith lalu menggandeng tangan suaminya untuk duduk di sofa.


"Ayo kita bicara sambil terus memperhatikan mereka" bisik Faith.


"Apa kabar jagoan dan cantiknya daddy?" Ezekiel membelai perut Faith.


Rachel yang sedang mengeluarkan makanan dan Joe yang menyiapkan piring nampak biasa saja. Namun saat jari mereka secara tak sengaja bersentuhan, Rachel kelihatan salah tingkah. Joe pun walau agak samar namun terlihat ada sinar aneh dalam tatapan matanya.


"Aku yakin dengan apa yang kupikirkan sayang, Rachel suka sama Joe" bisik Faith


"Tapi Joe kelihatan biasa saja." Ezekiel pun berbisik pada Faith.


"Tenang saja. Serahkan semuanya padaku"


Meja telah siap, mereka berempatpun makan bersama.


"Sekretaris Joe, berapa usiamu?" tanya Faith


"31 tahun"


"Seharusnya diusia seperti ini kau sudah menikah dan membentuk keluarga. Kau tampan, punya karir dan penghasilan yang bagus. Kurang apa lagi?" tanya Faith memulai rencananya.


"Mungkin belum ketemu yang cocok saja. " jawab Joe merendah.


"Kata Ezekiel, kau punya seseorang yang kau sukai tapi kau tak berani mengungkapkannya. Kenapa? Gadis mana yang bisa menolakmu?" mata Faith menatap Joe dengan sedikit menyelidik.


"Aku hanya merasa kalau derajat kami tak sama." Joe tertunduk.


"Rachel misalkan ada cowok yang bukan dari kaum bangsawan, bukan anak orang terkenal, tapi dia baik dan mencintaimu dengan tulus. Apa kau akan menolaknya?" Faith menatap Rachel.


"Inikan misalkan saja. Kamu adalah gadis dari turunan bangsawan. Salah satu gadis yang diincar oleh banyak pria. Kamu punya status sosial yang sangat tinggi. Lalu datang pria sederhana yang menyukaimu." Faith mencoba menjelaskan pada hal tujuannya adalah untuk membuka isi hati Rachel.


"Ya...kalau aku, ehm....aku tidak pernah memilih pria itu datang dari golongan mana. Yang penting dia baik dan mencintaiku, aku pasti akan menerimanya jika aku memang mencintainya juga" kata Rachel sambil menatap sekilas ke arah Joe yang nampak masih asyik dengan makanannya.


"Kau dengar itu, Joe. Tidak semua gadis dari golongan bangsawan yang suka memilih-milih cowok. Jadi, kalau gadis yang kau incar itu terasa susah untuk kau gapai, mengapa kau tak mencoba mendekati adik iparku ini" kata Faith sambil menunjuk Rachel.


"Kakak ipar...!" Pekik Rachel sampai akhirnya ia tersedak dan batuk dengan keras. Ezekiel langsung memberikan gelas yang berisi air pada adiknya.


Joe yang memang sangat pintar, sudah mengerti arah pembicaraan Faith. Sehingga ia sudah menyiapkan dirinya dengan sempurna menghadapi serangan nyonya mudahnya itu.


"Itu sesuatu yang tidak pantas untukku." Joe sekali lagi merendah.


"Aku akan mendukungmu, Joe kalau kau memang suka sama adikku Rachel" kata Ezekiel dan sukses membuat wajah Joe agak memerah sedangkan Rachel semakin kelihatan panik.


"Eh.....aku lupa kalau hari ini ada rapat dewan mahasiswa di kampus. Kakak ipar, kamu pulang dengan kak Ezekiel ya....aku pergi dulu" Rachel langsung pergi setelah mengambil tasnya dari atas sofa.


Setelah Rachel pergi, Joe pun berpamitan untuk keluar.


"Sayang, jangan-jangan Joe marah pada kita. Joe itu nggak suka dengan orang yang mengusik kehidupan pribadinya." ucap Ezekiel.


"Tenang saja. Aku aka buat Joe mengaku" Faith menghabiskan makanannya setelah itu ia membersikan meja.


"Ada rapat di hari ini?" tanya Faith


"Hanya tadi pagi. Kenapa?"


"Boleh ku ajak Joe untuk menemaniku ke studionya Ben?"


"Tentu saja boleh. Aku akan memeriksa beberapa laporan setelah itu kita akan pulang"


Faith tersenyum. Ia memeluk Ezekiel "Doakan semoga aku berhasil ya?"


"Ya. Dan hati-hati menjaga mereka, ya?" Ezekiel membelai perut Faith.


"Aku pergi dulu ya?" Faith segera keluar. Dilihatnya Joe sudah duduk didepan komputer sambil mengetik beberapa hal.


"Sekretaris Joe, aku sudah minta ijin pada suamiku untuk mengajakmu ke studionya, Ben. Ayo!"


"Baik!" Joe segera berdiri dan mengikuti langkah Faith.


Sesampai di studio, Faith meminta beberapa saran untuk penyelesaian studionya Ben. Termasuk warna dinding dan desain ruangan.


"Kenapa tak meminta saran dari tuan Ezekiel? Tuan selalu punya ide-ide yang cemerlang" tanya Joe.


"Aku ingin mendengar pendapatmu, Joe. Tahulah Ezekiel. Dia pasti akan memuji semua ini bagus dan tidak memberikan saran lain"


"Tuan sudah banyak berubah sejak bersama anda, nyonya. Dia bahkan terlihat lebih bahagia dari pada sebelumnya. Aku bersyukur karena tuan bisa bertemu dengan anda"


"Cinta memang dapat mengubah segalanya"


"Iya. Cinta dapat mengubah segalanya."


"Bagaimana denganmu Joe? Apakah selamanya kau akan memendam rasa cintamu pada Rachel?"


Joe terpana. Ia memandang Faith dengan wajah heran namun kemudian dia tersenyum kecut.


"Rachel bukan gadis itu"


"Rachel adalah gadis itu. Aku dapat melihat pancaran cintamu padanya sekuat apapun kau mencoba menyembunyikannya. Rachel juga mencintaimu. Ia bahkan tak pernah kencan dengan pria lain karena diam-diam mengharapkan cintamu"


Joe menarik napas panjang "Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya. Dia masih gadis remaja. Namun dia adalah adik dari bosku. Kesayangan keluarga Thomson. Bagaimana mungkin akan cocok bersamanya?" jujur Joe akhirnya


"Joe, kau tahu siapa aku. Gadis yatim piatu yang dinikahi oleh bosmu. Awalnya aku punya perasaan yang sama denganmu. Namun keluarga Thomson menerimaku tanpa melihat latar belakang keluargaku. Terutama Rachel yang sangat menyayangiku. Buanglah rasa mindermu itu"


Joe bersandar pada dinding sambil memasukan tangannya ke dalam kantong celananya.


" Aku bingung"


"Jangan bingung lagi. Segera nyatakan cintamu sebelum Rachel menerima orang lain. Kau tahunkan ada banyak pria yang selalu mengincarnya"


Joe diam. Tak bicara. Hatinyalah yang saat ini sedang bicara. Apakah aku siap bersama Rachel? Apakah dia sungguh menyayangiku dan menerima aku apa adanya?


************


Ezekiel menatap Faith yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan gaun tidur. Ia tetap kelihatan seksi dengan perut buncitnya itu.


"Ada apa senyum-senyum?" tanya Faith lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang seperti yang Ezekiel lakukan.


"Kamu semakin cantik saja" puji Ezekiel sambil meraih tangan Faith dan menciumnya mesra.


"Ih...gombal begini ada maunya nih..." Faith menatap suaminya curiga.


"Bukan gombal sayang. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. "


Faith menyandarkan kepalanya dibahu Ezekiel.


"Apakah Joe akan menyatakan cintanya pada Rachel?"


"Aku nggak tahu, sayang. Mungkin Joe masih malu."


"Aku ingin mereka bahagia..."


"Aku juga ingin mereka bahagia. Namun biarkan saja mereka yang menentukan. Kau sudah cukup membantu mereka." Ezekiel mencium kepala Faith lalu membawa istrinya kedalam pelukannya. Ia merasa bahagia dengan kehadiran Faith dihidupnya.


#makasi sudah baca part ini


#jangan lupa like, koment dan vote nya ya....😍😍