
Mobil Ben memasuki kediaman Thomson saat jam sudah menunjukan pukul 23.00 waktu London.
"Makasi, Ben."
"hmm..." Ucap Ben sambil mengangguk.
Faith belum juga membuka pintu mobil. Ia masih diam dengan pikirannya.
"Kau takut ketemu Ezekiel? Setahuku Ezekiel lebih sering tidur di rumah sakit akhir-akhir ini. Apalagi saat nyonya Elisa sudah berangkat ke New York. Masuklah." Ben sepertinya dapat menebak isi kepala Faith.
Faith melepaskan sabuk pengamannya. "Makasi ya Ben."
"Masuklah!"
Faith akhirnya turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya kepada Ben sebelum akhirnya membunyikan bel pintu.
"Ya Tuhan non...., dari mana saja? Semua khawatir mencari non. Hp non juga nggak bisa dihubungi." Sambut bi Lastri dengan wajah cemas.
Faith meraih hp nya yang ada dalam tas. Ternyata batreinya habis.
"Sekarang non makan ya....."
"Saya sudah makan, bi." Tolak Faith halus. Ben memang tadi mengajaknya makan di restaurant Indonesia yang ada di pinggir kota. Awalnya Faith tak punya selera makan. Namun saat mencium bau bakso, gado-gado dan nasi goreng, selera makannya pun langsung muncul. Sekalipun rasanya tak seenak saat ia makan makanan itu di Indonesia.
" Ya sudah, non istirahat dulu, bibi akan menelepon Rachel untuk memberitahu kedatangan non Faith."
Faith segera menaiki tangga menuju ke lantai 3. Saat ia membuka pintu kamar, ia terkejut melihat Ezekiel sedang duduk di sofa. Seperti sedang menunggunya.
Faith melangkah melewati Ezekiel. Walaupun sebenarnya hatinya sangat berdebar melihat pria bule itu. Jujur, Faith memang rindu.
"Duduklah, kita bicara!" Ezekiel tiba-tiba menahan tangannya.
Faith menatap Ezekiel "Lepaskan!"
"Kamu tahu kalau aku takan melepaskanmu sebelum kamu duduk." Suara Ezekiel terdengar tegas.
Faith pun duduk di sebelah Ezekiel. Saat pria itu melepaskan pegangan tangannya, Faith menggeser tubuhnya menjauh sampai ia berada di ujung sofa.
"Dengarkan aku sekalipun kamu tidak ingin." Kata Ezekiel dengan suara datar lalu menceritakan semua tentang kehadiran Hataru yang memang tidak pernah diketahuinya. Sama seperti yang diceritakan Ben padanya.
"Waktu aku menyusulmu di malam valentine itu, tekadku sudah bulat untuk melupakan Kimzy dan terus bersamamu. Aku bahagia saat kita bersama. Dan saat Kimzy menceritakan kebenaran tentang Hataru, aku memang berniat menolongnya namun aku ingin datang bersamamu. Aku ingin kau ada disampingku untuk menguatkanku, supaya kau juga dapat diperkenalkan sebagai istriku. Aku begitu berharap dan akhirnya kecewa karena kau memilih untuk bersama Daniel." Ezekie menghentikan ceritanya. Di pandanginya wajah Faith yang sedang tertunduk. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Aku mencintai anakku. Dia sakit dan sangat membutuhkanku. Operasi kami berhasil namun itu juga belum menjamin bahwa Hataru akan sembuh. Kehadiranku ternyata membuat dia senang dan kata dokter itu sangat membantu proses penyembuhannya. " Ezekiel menarik napas panjang. Di tatapnya sekali lagi wajah Faith. Jujur, ia rindu pada Faith. Ia rindu memeluk istrinya itu.
"2 minggu yang lalu, Hataru memintaku untuk menikah dengan Kimzy. Aku bingung, aku ingin kau ada di sini dan menguatkanku. Aku bahkan tak bisa memantau lagi tentang dirimu karena kau sudah mengganti hpmu. Aku pikir, mungkin kau ingin bersama Daniel. Karena itu seminggu yang lalu, aku berjanji pada Hataru untuk menikahi Kimzy."
Air mata Faith jatuh. Ia bahkan menggigit bibir bawanya supaya isak tangisnya tidak terdengar. Perasaan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini bahkan lebih sakit saat ia pertama melihat Daniel datang bersama Clairine.
Faith tahu ini semua ini terjadi karena ia juga yang salah. Tapi Daniel sudah begitu baik dalam hidupnya.Ia tak mungkin meninggalkan Daniel saat pria itu dalam keadaan terpuruk.
Suasana hening tercipta diantara mereka. Hanya sesekali ada suara isak tangis Faith yang berusaha ditahannya. Faith menghapus air matanya dengan kasar. Ia memberanikan diri untuk menatap Ezekiel yang memang sejak tadi sedang menatapnya.
"Aku.....mencintaimu, Ezekiel. Aku sangat mencintaimu bahkan kurasa cintaku ini melebihi cintaku untuk kak Daniel. " Faith kembali menghapus air matanya.
"Aku hanya ingin membalas semua kebaikkan yang Daniel lakukan untukku. Namun, kau tak sabar menungguku. Aku terluka, Ezekiel." kalimat Faith terhenti. Tangan kanannya menekan dadanya. Ia seperti mencari oksigen untuk bernapas. Hatinya bagaikan dicabik-cabik.
"Aku tahu pernikahan ini diawali dengan kata main-main saja. Tapi aku memang jatuh cinta padamu." Faith meramas rambutnya frustasi. Tangisnya semakin besar. Ia bahkan tak peduli kalau satu mansion ini akan mendengar teriakan kepedihannya.
Hati Ezekiel tercabik. Ia tak tahan lagi. Ditariknya tubuh Faith dan dipeluknya erat. "Maafkan aku.....maafkan aku....." ucapnya lirih. Ia pun menangis karena tahu telah menyakiti Faith sampai begitu dalam.
Faith mengeratkan pelukannya. Ia memang selalu merindukan pelukan Ezekiel. Sampai akhirnya Faith melepaskan pelukan itu. Ia mulai bisa menguasai hatinya.
"Besok, aku akan kembali ke Manado. Kau dapat mengurus proses perceraiannya melalui pengacaramu."
"Perceraian?" Ezekiel kaget
"Bukankah untuk bisa menikahi Kimzy, kau harus menceraikan aku?"
Ezekiel masih diam. kata perceraian adalah sesuatu yang tabuh diucapkan di tengah keluarga Thomson. Ini yang Ezekiel lupakan saat menikahi Faith.
Faith berdiri "Aku akan tidur di kamar tamu, selamat malam." Faith langsung melangkah keluar kamar. Ia tak ingin Ezekiel melihatnya menangis lagi.
***************
Pintu kamar tempat Faith tidur dibuka dari luar. Rachel dan bi Lastri sangat cemas karena sudah siang dan Faith belum juga keluar kamar.
Mereka melihat tubuh Faith terbaring membelakangi pintu.
"Kakak ipar...!" Panggil Rachel sambil menyentuh pundak Faith. Ia terkejut merasakan hawa panas ditubuh mungil itu.
Ia membalikan tubuh Faith. Nampak wajah pucat dan bibir yang agak biru.
"Ya Tuhan...kakak ipar, apa yang terjadi padamu?" Rachel jadi panik karena Faith tak juga membuka matanya.
"Bi Lastri, telepon dokter Albert dan suruh kirim ambulance ke sini."
"Baik, non" Bi Lastri segera keluar dan melakukan perintah Rachel.
Ezekiel yang sudah pergi ke kantor, kembali lagi karena hp nya ketinggalan. Sebenarnya ia dapat menyuruh orang rumah untuk mengantarkan hp nya. Entah mengapa, perasaannya merasa tidak enak dan memutuskan untuk kembali ke mansion.
Saat ia memarkir mobilnya, ia terkejut melihat ada ambulance yang terparkir di depan pintu masuk.
"Ada apa ini? siapa yang sakit?" Tanya Ezekiel pada salah satu pelayan yang berjaga di pintu masuk.
"Nona Faith, tuan."
"Apa?" Ezekiel terkejut. Ia segera berlari ke dalam, tepat disaat itu tubuh Faith sudah ditandu oleh para petugas medis. Ia bahkan sudah dipasang bantuan pernapasan.
"Rachel, apa yang terjadi?" Tanya Ezekiel pada adiknya.
"Nggak tahu. Kami menemukan kakak ipar dalam kamar sudah pingsan dengan suhu tubuh yang panas."
Ezekiel ikut masuk ke dalam ambulance. Di pegangnya tangan Faith dengan perasaan yang
tak menentu. "Honey please.....open your eyes." Ucap Ezekiel sambil mencium tangan Faith dengan lembut.
"Tuan, permisi, kami harus memasang selang infus karena suhu badannya sangat tinggi." kata salah satu perawat. Ezekiel berpindah tempat dengan si perawat.
"Tadi dokter sementara menangani pasien yang gawat jadi dia meminta kami menjemput nyonya muda. Sekarang beliau sudah menunggu"
Sesampai di rumah sakit, Faith langsung ditangani sebagai pasien VVIP.
Ruang ICCU yang dia tempati pun terpisah dengan ICCU yang digunakan oleh pasien umum.
"Bagaimana istri saya, dok?" Tanya Ezekiel melihat dokter Albert keluar dari ruangan perawatan.
"Suhu badannya masih panas. Sepertinya nyonya muda terkena firus. Aku sudah menyuntikan obat penurun panas dan antibiotik terbaik. Kita akan menunggu kalau sampai 1 jam ke depan. Jika panasnya tidak turun juga maka akan dilakukan observasi lebih lanjut. Sebentar lagi hasil darahnya akan keluar." Dokter Albert menjelaskan secara terperinci karena ia tahu Ezekiel Thomson tidak suka jawaban yang mengantung. 20 tahun menjadi dokter keluarga Thomson membuatnya mengerti dengan karakter Ezekiel.
"Apakah istriku sudah sadar?"
"Belum. Karena pengaruh obat dia mungkin akan tidur lebih lama lagi."
"Boleh aku melihatnya?"
Dokter Albert mengangguk. Ezekiel segera masuk di ruangan itu. Di pandanginya wajah pucat Faith. Ia begitu ketakutan saat mendengar Faith sakit.
Tangan Ezekiel tak dapat ditahannya untuk tidak menyentuh Faith.
Ya Tuhan, mengapa semuanya harus sesakit ini? Aku berdiri diantara 2 pilihan yang sulit. Aku menginginkan Faith. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan Kimzy dan Hataru.
"Faith.....maafkan aku..." Ezekiel mencium tangan kurus Faith dengan perasaan yang menyesal. Ia bertemu Faith dengan wajah cerah dan pipi tembemnya. Tapi kini, pipi tembem itu sudah tak ada. Berat badan Faith sepertinya turun banyak.
Karena Faith belum sadar, Ezekiel memilih untuk kembali ke kantor sebab ada rapat penting yang harus di pimpinnya.
Rachel dan bi Lastri berjaga di rumah sakit.
Hp Rachel bergetar. Ia terkejut melihat Ben yang menghubunginya.
"Hallo Ben...."
"Rachel, boleh nggak minta nomor hp nya Faith. Aku ada urusan sedikit dengannya."
"Kakak iparku masuk rumah sakit. Dia dirawat di rumah sakit dokter Albert"
Ben langsung mematikan hp nya secara sepihak.
"Kebiasaan nih anak." Guman Rachel lalu menyimpan lagi hp nya.
Tak sampai 20 menit, Ben sudah sampai di rumah sakit.
"Aku hampir saja tak diijinkan masuk karena Ezekiel berpesan bahwa istrinya ini hanya bisa dikunjungi oleh keluarga Thomson. Untung saja aku ketemu dokter Albert. Posesif sekali Ezekiel itu." Gerutu Ben saat masuk ke ruangan.
" Ezekiel hanya tak ingin ada kunjungan dari orang-orang tak penting. Kayak kamu...." Ucap Rachel dan sukses membuat Ben tertawa. Itulah Ben. Tak pernah tersinggung dengan mulut pedas Rachel.
"Sakit apa my lady ini?" Tanya Ben sambil menatap Faith.
"Ia demam. Panasnya sampai 40c. Menurut dokter ia terkena virus. Lalu ada urusan apa kamu mencarinya?" Tanya Rachel sambil menatap Ben dengan dahi berkerut.
"Aku ingin menjadikannya sebagai model fotoku."
Rachel terpana. "Bagaimana bisa?"
"Kemarin aku ketemu dengannya. Menangis di taman dengan pikiran kosong. Aku bahkan memotretnya beberapa kali tanpa ia sadari. Ternyata hasilnya bagus." Kata Ben.
"Dia bersamamu dan kau tidak memberitahu aku? Aku kemarin seharian mencarinya." Rachel dengan kesal mencubit lengan Ben.
"Maaf. Aku hanya fokus membuatnya tenang. Sampai lupa kalau dia punya keluarga."
"Ben....kamu tidak menyukai Faith kan?" Tanya Rachel sedikit berbisik seolah takut di dengar oleh Faith.
"Kalau suka memangnya kenapa?" Tanya Ben heran.
"Ben, dia itu istri kakakku..."
"Tapi Ezekiel kan sudah bersama Kimzy. Apa salahnya jika Faith bersama aku?"
"Ben !" Rachel melotot.
Tawa Ben pecah membuat Rachel membungkam mulutnya dengan tangannya karena takut Faith terbangun.
"Rachel, apa kamu lupa kalau dalam hidupku, aku tak pernah jatuh cinta pada wanita?"
Rachel tersenyum "Orangkan bisa saja berubah."
"Tapi tidak dengan, Ben."
"Baiklah. Kalau begitu, aku bisa tenang dengan rencanaku."
"Rencana apa?"
Rachel tersenyum. "Kamu sekarang suka mencampuri urusan orang lain ya?"
Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kembali menatap Faith.
**************
Menjelang malam, Faith sudah sadar. Panas tubuhnya sudah normal. Namun ia masih lemah.
"Kakak ipar, makanlah yang banyak supaya kita bisa kembali ke mansion." Ucap Rachel.
Faith tersenyum kecut" Aku tak ingin kembali ke mansion. Aku akan pulang ke Indonesia. Aku akan cerai dari Ezekiel."
Rachel terpana. oma, cepatlah pulang, batinnya sedih.
Sementara itu Ezekiel yang baru saja datang, berdiri mematung di depan pintu saat mendengar kata-kata Faith.
#Makasi sudah baca part ini
#jangan lupa like dan komentarnya
#boleh juga vote nya 🥰🥰🥰