I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISIDE 9



'A, apa yang-'


Wanita paruh baya itu memijak pensel yang berada di depannya.


"Kamu, apa kamu menulis secara sembunyi sembunyi saat aku melarang mu? Apa aku lelucon pada mu."


Perkataan wanita paruh baya itu semakin jelas.


"Bibi, aku tidak akan menulis lagi, jadi ku mohon, jangan pukul aku."


Suara anak kecil di mana suaranya bergetar kerana dia ketakutan terdengar.


Namun permintaan anak itu di abaikan dan dia di pukuli dengan rotan hingga kakinya berdarah.


'Apa yang terjadi? Apa ini memori Villian?'


Villian hanya bisa berfikir saat melihat pemandangan seperti itu.


Itu pemandangan yang sangat biasa baginya.


Dan Villian kecil di pukuli hanya kerana dia menulis sesuatu pada kertas.


'Jadi, aku bukan tidak bisa menulis melainkan Villian tidak ingin menulis kerana trauma masa kecilnya. Villian, tubuh ni bukan milik kau lagi. Berikan aku kemampuan untuk menulis itu.'


Villian hanya bisa bergumam sendiri dalam hati dan walau mata Villian kecil takut, Villian merasa dia melirik wanita paruh baya itu dengan tatapan dingin.


'Juga aku tidak menyukainya. Villian, aku tak sebaik dirimu juga aku sudah bilang akan hidup untuk 2 tahun dan melakukan apapon yang aku inginkan. Bibi, ini bukan masaalah apakah Villian marah atau tidak dan aku tidak peduli sama perasaan dia. Tapi seseorang seperti bibi, membuat diriku ingin menghilangkan charakter seperti itu secepat mungkin. Ini kisah yang aku tulis bibi, siap siap aku menerima pukulan di belakang kepalamu.'


Sekilas setelah berfikir seperti itu, Villian dengan mata yang sangat hangat memandangnya. Dan dia memberikan senyuman pada Villian dengan mata kosong.


.


.


.


.


.


.


"Hah!"


Villian membuka matanya dan dia berada di dalam tenda. Dari celah celah kecil, Villian bisa melihat langit yang gelap.


Dia juga mencium aroma asin laut.


'Dah malam?'


Dia bangun dan melihat ada kertas dan pensel di atas meja. Dia memegang pensel dan dia bisa menulis dengan mudah.


Dia menyiapkan surat untuk ayah dan kakaknya, lalu keluar dari tendanya.


Dia tertanya, mengapa tidak ada bintang di dunia ini dan hanya ada bulan.


Villian merasakan angin sejuk malam mengenainya.


"Villian, kau dah bangun."


Zillo yang berjaga jaga di tepi pantai menatap Villian dengan kaget.


"Iya, maaf merepotkan."


Zillo menggelengkan kepalanya.


"Eugine mengatakan kau mungkin pensan kerana shock berlebihan. Apa kau memikirkan sesuatu yang mengerikan."


'Seperti kematian kau.'


Zillo tidak bisa mengatakan bahagian akhir.


"Ahh.... Aku mencuba menulis. Bibi ku selalu memukuli ku hanya kerana aku menulis sesuatu."


Mata Zillo berubah dingin dan aura kutukan padanya sepertinya bertambah kuat.


"Apa kau baik baik saja?"


Villian mengangguk pada soalan Zillo.


"Aku hanya memiliki 2 tahun. Aku akan membalas semuanya saat kembali. jadi aku hanya akan bersenang senang dan tidak ingin memikirkan hal lain."


2 tahun. Kata itu membuat Zillo mencengkam pedangnya lebih erat.


"Aku sudah bilang aku akan mencari penawarnya. Jangan berkata seperti itu dengan ku."


'Iya, iya.'


Villian hanya mengangguk dengan malasnya.


Dia meninggalkan Zillo dan pergi menyapa Gerlic yang melukis pemandangan laut malam yang sangat indah walau belum selesai.


"Itu sangat indah."


Villian membuka perbicaraan.


"Tidak, ini belum selesai, nona muda."


Gerlic menghentikan tangannya dari melukis dan tersenyum ke arah Villian.


"Nona muda, apa anda baik baik saja. anda baru saja pensan."


Villian hanya mengangguk pada wajah Gerlic yang prihatin.


"Apa aku bisa membeli karya ini? Itu sangat indah."


Gerlic membulat matanya dan tersenyum lembut.


"Tidak, nona muda, saya lebih suka jika anda mengambil yang kamu suka tampa memberikan apapon."


Villian melihat Gerlic dengan tidak percaya.


"Jadi, bagaimana jika aku mensponsor mu? Aku bisa memilih semua lukisan yang aku mau dan kamu tidak akan kekurangan dana. Bagaimana?"


Gerlic melihat ke arah lukisannya yang belum sempurna dan tersenyum lembut.


'Setidaknya, aku ingin nona muda memiliki sesuatu yang mengingatkannya pada diri ku.'


Pandangannya mengandung 1000 makna. Dia mengangguk dan Villian pergi dengan wajah puas pada respon Gerlic.


Dia berjalan lagi dan melihat Lucard yang duduk di hujung tebing.


"Lucard?"


Villian bingung ingin mengatakan apa.


Lucard melihat ke arah Villian dengan mata merah dan air matanya keluar dengan sangat deras.


"Nona, tolong, tolong jangan mati."


Villian duduk di sampingnya dan membelai kepala Lucard dengan lembut.


"Lucard, kamu ahli nujum bukan. Kamu seharusnya menjadi yang paling tahu, tentang kehidupan dan kematian lebih dari siapapon."


Lucard tidak bisa membalas apa yang baru saja Villian katakan.


Itu benar, dia sebagai ahli nujum, mengetahui hal kehidupan dan kematian lebih dari ras manapon.


"Setiap perjumpaan, pasti ada perpisahan. Begitu juga kematian. Setiap kehidupan pasti ada kematian. Kematian ku tidak terhindarkan bagaimana pon itu."


Lucard tidak ingin memahami itu. Dia tidak ingin seseorang yang terlihat seperti apa yang seperti ibunya selalu katakan, mengkilang begitu saja. Dia tidak ingin kehilangan lagi.


"Lucard, aku bukanlah orang yang baik untuk kau ikuti hingga mempertaruhkan nyawamu. Kamu masih anak kecil seharusnya tidak bertekad seperti itu."


Bukan orang baik. Itu membuat Lucard menelan bantahan yang ingin dia lempar pada Villian.


"Aku membawa mu kerana kamu berguna, tidak lebih dari itu. Tidak ada perasaan lain yang berada antara kau dan aku."


Lucard membulat matanya mendengar itu.


"Aku tak ingin memiliki hubungan hingga aku tidak ingin mati dan mati dalam penyesalan. Itu lebih teruk dari mati."


Kata itu menusuk Lucard.


'Lucard, ada beberapa makhluk, yang saat dia tahu dia akan mati, dia tidak ingin memiliki hubungan yang kukuh supaya dia mati tampa penyesalan.


Ingatlah, orang yang mengatakan itu, adalah orang yang paling tersakiti saat mengatakan itu.'


Kali ini, Lucard menganggukkan kepalanya pasrah setelah mengingat apa yang ibunya pesan.


'Bagus, setidaknya kurang 1 dari mereka yang cuba menyembuhkan aku.'


Villian menghela nafas lega. Namun di telinga Lucard, Villian mendesah sedih.


Splash, splash.


Bunyi ombak menghampiri Tebing bergema memenuhi keheningan.


Sinar bulan membuat Villian sedikit silau dan tiba tiba, makhluk dengan ekor ikan dan kepala manusia muncul tepat di depan mereka.


"Putri duyung?"


Villian bingung sedang Lucard langsung berdiri di depan Villian.


Makhluk di depan Villian sangat indah seperti karya seni yang keluar ke dunia nyata.


'Putri duyung adalah makhluk yang lahir dengan keserakahan lebih dari ras apapon.'


Villian mengingat kata Eugine dan dengan cepat melupakannya.


Bila lagi dia bisa bertemu dengan putri duyung yang indah itu.


Dia bahkan tidak masalah jika dia di makan makhluk indah ini.


"Kamu, apa kamu baik baik saja?"


Putri duyung itu melihat Villian dengan penuh kebingungan.


"Apa kene mengena aku baik baik saja atau tidak pada manusia?"


Suara putri duyung itu sangat indah mencairkan pendengaran Villian.


Putri duyung itu menghilangkan ekornya dan itu menjadi kaki yang sangat mulus dan cantik. Dia berdiri dengan baik dan melihat Lucard.


"Oura gelap yang bisa di rasakan makhluk gelap lainnya, ahli nujum. Mengapa ahli nujum melindungi manusia?"


Wajah putri duyung itu semakin bingung.


"Tidak akan aku biarkan kau menyentuh nona."


Pedang tulang seukuran kecil untuk umur Lucard muncul di tangannya.


Mereka berdua saling menatap yang menghasilkan perasaan percikan eletrik di udara.


.


.


.


.


.


Bersambung..............