
"Apa yang kamu lihat?"
Enma dengan lembut menyentuh pundak Villian.
"Segalanya! Argh! Menyebalkan sekali! Apa kau baiknya mati saja!? Aku hanya kunci untuk kehancuran segalanya!"
Villian dengan kasar menepis tangan Enma.
Cuuuk....
Villian mengangkat wajahnya dan melihat jubah hitam itu menusuk putri duyung itu di dada. Inti putri duyung berwarna biru yang indah keluar dari dadanya.
Jubah hitam itu mengambilnya dan kembali ke tempat Villian.
Dia memberikan inti putri duyung itu pada Villian.
"Jangan khawatir. Aku akan melindungi mu. Aku akan melindungi mu, jadi jangan mati lagi...."
Suara jubah hitam itu terdengar ingin menangis.
Villian terdiam. Mata merah jubah itu terlihat sedih dan siap berkaca.
"Aku, mati lagi?"
Villian bertanya dengan bingung. Berapa kali Villian sebenar mati hingga jubah hitam itu memiliki mata yang seperti itu.
Jubah hitam itu menutup matanya dan kepalanya tertunduk.
Tangannya yang halus tidak terlihat seperti dirinya yang sangat mengerikan memegang pedang, menyentuh pipi Villian.
"Ku mohon. Hidup dengan bahagia kali ini. Aku akan melakukan segalanya untuk mu."
Jubah hitam itu mengepal erat tangannya seperti sedang kesal.
"Jika saja semua kunci itu tidak terbang tersebar..... Kamu sudah bebas dari souhell yang mengerikan ini."
Villian membulat matanya mendengar itu.
"Kamu yang mengambil kunci itu sebelum jubah biru itu? Tapi mengapa?"
Villian bertanya dengan bingung.
"Untuk kamu. Aku melakukan semuanya untuk kamu. Namun itu malah tersebar saat aku membuka kotaknya. Satu hampir di ambil putri duyung sialan itu. Namun kamu menyerapnya yang membuat ku lega. Tunggu saja. Aku akan mendapatkan kunci yang lain dan menumpaskan semua halangan yang akan menghalangi kebahagiaan mu."
Jubah hitam itu mengatakan dengan suara yang tabah dan lingkaran taliportasi muncul di bawahnya dan menghilang.
'Tapi aku bukan Villian yang kamu sukai itu lagi.'
Villian merasa lemas akan sesuatu. Dia merasa di tenggelami ke air yang dalam setiap kali melihat jubah hitam yang begitu berusaha untuk membuatnya bahagia.
'Apa aku layak untuk menerima perjuangan mu? Aku bukan lagi Villian itu. Aku hanya orang yang memasuki tubuh ini.'
Seketika, matanya yang mati bercahaya. Perasaan tidak berdaya yang di berikan semua makhluk hidup yang menunjukkan mereka masih hidup.
Perasaan kesal dan keinginannya untuk tidak ingin mati meluap dari dalam hatinya.
Dia yang hanya pasrah selama hidupnya kerana tidak ada yang berharga baginya.
Namun sekarang dia pikirkan, dia memiliki keluarga yang menyayangi dirinya dan teman yang akan selalu membantunya.
Matanya bercahaya semakin terang.
'Aku tidak ingin mati.'
Kata yang tidak akan pernah ia pikirkan muncul di pikirannya.
Dia melihat inti putri duyung yang indah berada di tangannya.
'Untuk apa dia berikan ini pada ku?'
Villian bingung dan mengangkat inti putri duyung itu.
Inti itu pecah dan dan air mengelilingi Villian. Villian secara tiba tiba di taliportasi dan menghilang.
"Sekarang apa?"
Jihe bertanya dengan kesal.
"Ke mana Villian pergi!?"
Millia panik dan Enma melihat lokasi kutukan Villian dan menghela nafas.
"Sial. Mari pergi."
Enma mengutuk dan bertaliportasi ke kerajaan makhluk gelap.
.
.
.
Mereka tiba di kamar Villian di mana Eugine sedang duduk menatap ke luar jendela.
"Apa semuanya selesai? Mana Villian?"
Eugine bertanya dan ke dua ahli nujum itu melihat Enma yang menatap Eugine dengan sangat tajam.
"…… ……… ………"
Enma berbicara dengan sangat perlahan hingga tidak ada yang mendengarnya.
"Apa yang kamu coba katakan?"
Eugine mengangkat 1 alisnya.
"Perlu, izin, kamu, lautan."
Dengan setiap kata yang berhenti dan tidak jelas Enma mengatakan itu.
"Apa terjadi?"
Eugine mula mengerutkan alisnya mendengar itu. Enma tidak mahu berbicara dengan pria.
Dia melihat ke 2 ahli nujum itu dan berbisik pada Jihe.
"Apa?"
Hanya 1 kata yang keluar dari mulut Eugine.
.
.
.
.
.
Villian melihat kupingnya yang berubah menjadi insang di kaca sebuah toko.
'Kerajaan di dalam air? Apa aku di taliportasi ke sini kerana inti putri duyung?'
Villian berjalan dengan mudah di dalam air mungkin kerana efek inti putri duyung itu.
Jika di lihat, pakaian Villian yang longgar sangat aneh di banding pakaian kerajaan itu yang ketat supaya tidak mengganggu aktivitas sehari hari.
Di sana juga hanya berjualan rumpailaut atau makanan tanaman lainnya.
Villian berjalan tampa mempedulikan orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Dia melihat semua orang di sana berjual beli menggunakan emas juga. Dia pergi ke toko pakaian dan melihat pakaian yang ada di sana.
Dia tidak menyukai pakaian ketat. Namun kerana dia terlihat seperti makhluk aneh juga dia di dalam air, baju ketat seperti ini selesa di gunakan.
Villian mengikat rambutnya ponytali. Dia mencoba coba pakaian yang ada di sana.
Dia akhirnya membeli pakaian berwarna hijau tua dan hitam. Bra ketat yang menutupi bahagian dadanya hingga ke lehernya. Itu menampakkan perutnya dan lengannya yang mulus.
Seluar pendek yang ketat di mana menunjukkan kakinya yang mulus juga.
Dia memerah untuk itu. Dia tidak pernah berpikir dia akan memakai pakaian ketat seperti ini hingga menunjukkan kaki mulusnya.
Sepatu juga dia hanya bisa memakai sepatu tinggi kaca ala cinderella. Dia tidak bisa mengenakan pakaian pria kerana tidak punya sais yang muat dengannya.
Namun dia tidak begitu malu saat melihat semua penduduk di sana mengenakan hal yang sama ia kenakan seperti itu pakaian sehari hari mereka.
Namun dia merasa telanjang kerana dia tidak pernah memakai pakaian ketat seperti ini.
Rambutnya yang beterbangan kerana di dalam air akhirnya di sanggul Villian kerana terlihat mengganggu.
Dia agak kekok ingin bergerak kerana pakaiannya yang ketat. Dia benar benar merasa tidak selesa.
Kerana di dalam air yang hangat, dia tidak merasa kesejukan walau memakai pakaian yang berani itu.
Lingkaran taliportasi muncul dan semua temannya muncul tepat di depannya.
Villian yang sedang mengenakan pakaian yang berani langsung memerah.
Namun melihat mereka yang pakaiannya juga ketat membuatnya sedikit lega.
"Aku tidak menyangka kamu bisa memakai pakaian ini."
Eugine mengatakan itu dan melihat Villian dari atas ke bawah.
Wajah Villian memerah dan kakinya di kepit dan tangannya disilangkan memeluk tubuh.
"Apa ingin ku tusuk mata mu? Berhenti memandangi ku seperti itu."
Wajah Villian benar benar merah sambil kakinya bergerak gerak tidak selesa.
Itu adalah pandangan yang menggoda apa lagi untuk mereka yang menyukai Villian.
"Kakak, aku pikir kamu harus memakai sesuatu yang lebih tertutup sekarang."
Diamon mengatakan itu sambil melihat orang yang mengejar hati kakaknya akan mimisan sebentar lagi.
"Jika ada aku sudah menggunakannya!"
Villian berteriak kesal dan Diamon mengeluarkan jubah pink yang kainnya sama dengan pakaian di kerajaan itu.
"Ini. Pink lebih sesuai dengan mu."
"Diamon......"
Villian menatap Diamon dengan tajam. Diamon menggelengkan kepalanya dan menyimpan itu kembali. Dia mengeluarkan jubah putih. Dia tidak ingin kakaknya memakai jubah hitam dan terlihat misterius dan jahat.
Villian mengenakan jubah putih itu tampa menutup kepalanya. Jubah itu juga hanya mencapai bawah lututnya. Jika tidak, Villian tidak akan bisa bergerak.
Jantung Villian tiba tiba merasa tidak enak. Dia pernah merasakan ini Sekali. Namun itu hingga dia pingsan.
"Aku merasakannya."
Semua melihat Villian.
"Kunci bencana."
Wajah semua orang berbinar mendengar itu.
Sudah waktunya mencari kunci ke 2.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.................................