I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 4



Ada yang janggal. Mengapa kakaknya sangat diam saat dia basah kuyup seperti ini?


Itu hal yang sama untuk ayahnya yang duduk di meja dengan wajah yang tegang.


'Serius, apa apaan?'


Villian memandang mereka dengan pandangan malas.


Lalu kakaknya mendekat dan memberikan sepocok surat dengan simbol cop yang rumit.


Villian yang melihatnya hanya membuka tampa banyak mulut.


{Kepada Villian Tex Ajellan.


Saya Kaisar Tue Lou Hades, ingin mengatakan saya bersedih hati dengan kabar nona muda Ajellan. Saya ingin mengundang nona muda berserta semua keluarganya ke istana. Mari kita makan malam bersama setelah sekian lama nona muda mengurung diri.}


Surat itu terlepas dari pegangan Villian dan langsung menatap lurus ke arah ayahnya dengan wajah shock.


'Istana?! Hei kaisar tolol! Aku bahkan berpakaian pria dan tidak ingin memakai dress dan tiada adap bahkan untuk makan!


Aku juga tidak ingin bertemu putra sialan mu itu!'


Kekacauan terjadi di kepalanya.


"Villian, ayah dengar kamu menghantam kepala mu dengan kuat kerana sangat shock tau kamu akan mati dan hilang banyak ingatan hingga kamu melupakan semua adap sebagai putri bangsawan."


Villian melakukan itu supaya tidak ada yang aneh jika dia berpakaian pria.


Villian hanya mengangguk.


"Felix, ajarkan adik kamu adap sebagai putri bangsawan. Kita harus terlihat sopan di depan baginda kaisar."


Duke mengatakan itu dan Felix menarik adiknya yang basah ke ruangan lain.


Jadi, dari jam 4:30 petang, Villian di ajarkan adap sebagai seorang bangsawan.


Villian hanya mempelajarinya kerana dia akan ke istana.


Jam 7:00 senja mereka bertolak ke istana dan tiba jam 8:00.


"Selamat datang ke istana, keluarga duke Ajellan."


Kaisar memberikan salam pada keluarga duke. Mereka semua tunduk hormat pada kaisar.


'Ehh.... Aku masih pakai seluar paras lutut pria dan baju pria di dalam tapi drees ni sangat menyebalkan kan!


Aku ingin pulang!'


Villian merasa ingin mengoyak baju mahal itu bila bila masa saja.


Tangannya berkeringat kerana menahan diri untuk tidak mengoyak dress itu.


"Anak ku, kenalkan diri kamu juga."


Anaknya itu menatap Villian dengan dingin. Mereka seharusnya di tunangkan saat Villian berumur 18 tahun.


Namun itu tidak akan berlaku. Haha.


"Saya Zillo Lou Hades. Putra mahkota memberikan salam pada nona muda Ajellan."


Zillo tunduk hormat dan mencium tangan kanan Villian.


Villian hanya tersenyum dan saat Zillo memutar badannya, Villian menggosok tangannya di belakang badannya.


'Kalau tak nak jangan buat bodoh!'


Villian marah kerana Zillo melakukan itu dengan mata dengan 100 kali niat membunuh.


Tapi itu tidak bisa di elakkan. Zillo tidak bisa menolak titah kaisar jika dia ingin menjadi kaisar seterusnya.


"Baik, mari makan malam."


Villian hanya menyentuh makanan nya sedikit. 1. Kerana hambar. 2. Dia tidak bisa makan dengan adap meja yang sangat banyak itu.


"Kenapa perlu banyak jenis sudu, garpu dan pisau? Sudu dan garpu cukup.'


Villian mendesah kerana tidak dapat menikmati garam yang masin di dunia ini.


"Villian, apa kamu inginkan?"


Kaisar mengatakan itu.


'Ouh, dead wish!'


Villian mengelap bibirnya dengan anggun dan duduk tengak.


"Saya ingin keluar kota dan melihat pemandangan di sana walau sekali."


Kata itu membuat duke dan Felix menundukkan kepalanya.


'Walau sekali' itu seperti paku menusuk telinga mereka.


'Aku ingin mencari garam!'


Villian sudah berfikir untuk melihat laut dan di sana pasti ada garam. Kalau tidak, dia bisa membuatnya sendiri.


Tidak sulit membuat garam. Bahkan seseorang yang berhenti sekolah di umur 13 tahun bisa membuatnya.


Melihat Villian yang bahagia hanya dengan mengatakan dia ingin keluar membuat kaisar juga merasa terbebani.


Namun Zillo bahkan tidak melirik dirinya.


"Saya akan berbincang dengan dengan ayah mu dulu.


Kamu bisa berkeliling bersama Zillo."


Zillo mengerutkan kening pada pernyataan itu.


Villian hanya tersenyum. Tangannya sudah gatal ingin mengoyak dress itu.


.


.


.


.


.


"Kau pergi main sendiri."


'Ye, ye. Terima kasih.'


Zillo dengan dingin mengalihkan pandangannya.


Villian dengan tak peduli pergi ke air mancur di taman.


Itu adalah air mancur untuk membuat hajat saat melemparkan koin.


Villian melemparkan koin dan merapatkan ke 2 tangannya bersama.


'Tolong, biarkan aku dapat jumpa garam!'


Zillo melihat Villian dengan pandangan yang mengatakan Villian sedang melakukan omong kosong.


'Tak ada gunanya kau berhajat untuk menemukan penawar yang tidak akan pernah ada.'


Dari wajah Villian yang sangat berharap, itu pasti akan membuat semua orang berfikiran sama dengan Zillo.


Dan beberapa saat kemudia, banyang kunang-kunang yang menyinari taman itu.


Itu indah tapi-


"Apa yang kau lakukan?"


'Apa dia cuba membuat momen romantis dengan kunang-kunang?'


Villian memeluk erat Zillo.


"Aku benci kunang-kunang!"


Jawapan Villian benar benar di luar dugaan Zillo. Siapa di dunia ini membenci kunang-kunang?


"Apa omong kosong yang kamu-?"


Zillo tidak dapat menghabisi ayatnya sebelum Villian melepaskan dirinya dan berlari menjauh dari kunang-kunang yang indah.


"Kenapa kau takut dengan kunang-kunang?"


Zillo yang bingung cuba membuat Villian berdiri semula dari duduk di tanah.


"Kenapa!? Apa kau tak tau betapa aku benci kunang-kunang! Mereka menyebalkan!"


Alasannya mudah sebenarnya.


'Paman selalu membandingkan serangga menjijikkan seperti kunang-kunang dengan aku!'


Dia merasa resah berada di dekat kunang-kunang yang mengingatkan dirinya akan paman yang selalu memukulnya di sekitar kunang-kunang ketika mabuk.


Badan Villian benar benar menggigil dan wajahnya pucat.


Sekarang dia benar benar seperti menderita penyakit mematikan.


"Tenanglah, kunang-kunang tidak menggigit."


Zillo mengatakan itu dan ingin menyentuh Villian.


Pang!


Villian yang menggigil menampar tangan Zillo tampa memikirkan apa dia berpangkat lebih tinggi atau tidak.


"Jangan sentuh aku."


Villian mengatakan itu dengan mata yang ingin membunuh Zillo jika dia cuba menyentuhnya untuk kali ke 2.


Villian bangun dari duduknya di tanah dan melihat ke arah kunang-kunang yang indah itu.


"Huh......"


Dia menghela nafasnya.


'Paman tidak ada di dunia ni. Ini dunia di mana hanya ada aku dan aku sendirian.'


Dia menenangkan dirinya dan mendekati kunang-kunang yang indah itu.


Kunang-kunang itu mendarat di tangan dan rambut pink sakura Villian.


'Ya. Paman sialan tu tidak ada di sini.'


Villian menutup matanya dengan kening yang berkerut.


'Ya, aku bebas sekarang dari pria tidak berguna itu. Tidak ada yang perlu di takutkan.'


Villian berjongkok dengan lemah dan mengalirkan air matanya yang tidak akan mengalir di kehidupan sebelumnya.


'Aku bebas.'


Mengapa dia tidak memikirkan itu? Dia berada di dunia lain dan mempunyai duit yang banyak.


Dia bukan lagi seorang cewek berumur 27 tahun dengan parut di seluruh tubuhnya.


Dia adalah sosok yang baru dengan kebebasan tersendiri.


Dia tidak perlukan bantuan untuk menyedari hal itu.


'Aku bebas melakukan apa pon yang aku nak untuk 2 tahun akan datang.


Itu cukup untuk orang yang berdosa seperti aku.'


Zillo yang melihat Villian mengalirkan air mata di tengah kunang-kunang, ingin menghapus air mata itu dengan tangannya.


Namun rasa tamparan tangan Villian masih terasa di tangannya dan hanya mampu melihatnya dari jauh.


Malam itu di hiasi dengan Villian yang menangis dan kunang-kunang mengelilinginya.


.


.


.


.


.


Bersambung................