
"Aku adalah manusia."
Villian menggenggam erat pisau untuk memotong daging itu.
'Aku harus bisa lari walau melawan dirinya.'
Villian menunduk dan menutup matanya menunggu Regis menyerang dirinya.
".........?"
Namun tidak ada bunyi apa pon yang di buat Regis.
Villian dengan perlahan mengangkat kepalanya.
"Kamu lupa? Aku sudah pernah bilang ke kamu yang werewolf tidak memakan manusia."
Iya, Villian mengingat itu. Namun dia tetap perlu berhati hati.
Keringat mengalir di pipinya dan secara perlahan Regis bisa melihat sosok asli tubuh Villian.
"Kamu......... cewek?"
'Ah, dia akan tau rupa aku yang asli saat aku beritahu ras ku.'
Villian hanya mengangguk perlahan.
"Itu alasan kamu tidak ingin aku mengetahui nama mu?"
'Dan Lucard itu mungkin juga manusia.'
Villian mengangguk lagi.
"Nama aku Villian Tex Ajellan. Aku keluarga duke yang sedang berkeliling dunia selagi ada waktu untuk hidup."
'Selagi ada waktu untuk hidup.' Kata itu membuat Regis mengerutkan alisnya.
Namun dia sebagai makhluk gelap bisa merasakan energi kutukan gelap di dada kiri Villian.
"Apa itu souhell?"
Villian hanya mengangguk tidak peduli.
"Itu bisa di sembuhkan jika kamu menjadi makhluk gelap."
Regis melihat Villian yang membuat wajah tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Regis.
'Dia masih manusia. Mana mungkin dia ingin menjadi makhluk gelap.'
"Aku tidak punya keinginan untuk terus hidup dan jika menjadikan diri aku makhluk gelap bisa membuat ku sekuat naga, aku dengan senang hati akan menjadi makhluk gelap."
Regis menatap Villian dengan kaget.
'Apa jadi makhluk gelap bukan masaalah besar untuknya?'
Villian mendesah lelah.
"Juga jika jadi makhluk gelap, aku tidak akan bisa pulang ke rumah ku. Dan jika mau, aku harus menjadi sangat kuat seperti naga."
Regis menganggukkan kepalanya seperti mengharapkan tanggapan seperti itu.
"Kamu tidak datang ke sini sendirian, kan. Kamu datang bersama siapa saja?"
Villian bermain pisau di tangannya sambil berpikir.
"Diamon."
Diamon munculkan dirinya dan membuat Regis kaget.
"Ini salah satunya. Ini Diamon, naga penguasa langit. Aku menjadi pengasuhnya hingga dia bisa menjaga dirinya sendiri."
Regis tidak bisa menutup mulutnya.
"Satu lagi naga penjaga lautan, Eugine. Putra mahkota kerajaan ku, Zillo Lou Hades, 1 tingkat di bawah master pedang. Gerlic, teman ku. Dia seorang pelukis dan dia mahir sebagai assasin/pembunuh sebenarnya. Radex V Ejellkel, pengawal dari rumah tangga Ajellan, master pedang dan terakhir, Lucard, dia ahli nujum dan sepertinya dia pewaris raja ahli nujum."
Regis benar benar tidak bisa menutup mulutnya.
'Dia di kelilingi oleh semua orang kuat itu? Juga dia membawa penerus raja ahli nujum? Apa kerajaan ini akan terbalik? Bukan hanya itu, 2 naga?'
Regis merasa dia akan pensan jika bertemu dengan naga penjaga lautan itu.
"Juga kerana aku terpisah, aku tinggal di kamar adik raja vampir saat ini. Dia menyelamatkan ku saat aku jatuh ke dalam sungai yang deras."
'Kalau bukan kerana aku terbentur ke batu, aku tidak akan memerlukan bantuan siapapon!'
Villian merasa kesal di bantu.
"Jadi, alasan kamu ingin mencari Lucard adalah, supaya kamu bisa meringankan kekacauan yang ada di kerajaan ini?"
Villian mengangguk.
"Itu tidak akan membantu sama sekali. Ahli nujum akam melakukan apa saja untuk menyingkirkannya."
'Aku harap aku bisa menulis seperti 'Lucard kembali ke kerajaan gelap dan menguasai 10 keluarga lainnya dengan mudah'. Sekarang apa rancangan seterusnya?'
Villian menusuk nusuk daging di depannya sambil terus berpikir.
Kepala Villian terasa seperti mengeluarkan asap kerana kerja berlebihan.
Bang!
Villian menghentak meja makan dan berdiri.
"Mari berbicara dengan ahli nujum! Aku tidak peduli!"
Villian langsung terbang keluar dari jendela ruang makan.
"Tunggu! Villian! Itu merbahaya! Argh!"
Regis menyapu rambutnya dan mengambil jaketnya.
"Aku keluar sekarang, jangan ikuti aku."
"Baik boss!"
.
.
.
.
.
.
Sekali lagi, Villian berjalan sambil menahan dirinya ingin muntah.
'Aku rasa aku dah sesat. Di mana aku berada sekarang?'
Villian yang jatuh ke tanah tidak tahu di mana dia sekarang.
Dia berada di jalanan sepi tempat selalu akan terjadi kegaduhan.
'Ahh.... Tubuh ku sakit berengsek!'
Villian menggertak giginya menahan rasa sakit dari jatuhnya.
Kepalanya pusing dan tubuhnya sakit.
Villian mengutuk dari dalam dan itu adalah pemikiran terakhirnya sebelum terbaring pensan kerana sakit dan pusing.
.
.
.
.
.
"Di mana aku?"
Villian tertanya dan melihat pemandangan yang biasa dia lihat.
"Ahh.... Ini tempat aku belasah para gangster jalanan hingga jadi bubur."
Muncul 10 pria dengan senjata di tangan mereka.
5 membawa pemukul baseball, 3 membawa pisau dan 2 di antara mereka membawa pipa besi.
"Ini hari aku benar benar sial."
Walau dirinya yang berambut hitam mengatakan itu, dia masih menang 10 lawan 1. Bukan hanya itu, dia juga tidak bersenjata.
Namun kerusakan yang dia terima di tubuhnya juga bukan sesuatu yang ringan.
Tubuhnya lebam di sana sini, tangannya berlubang kerana pisau, bahunya terluka teruk, bahagian samping perutnya terluka cukup dalam, 3 giginya hilang dan wajahnya hancur berantakan.
Dia pulang ke rumah dan mengobati semua kecederaannya sendiri.
Dengan semua kesakitan itu, dia duduk di meja tulis dan membuka sebuah buku.
Dia mengambil pensel dan mula menuliskan tajuk dari kisah itu.
Namun itu kosong walau dirinya sedang menulis.
'Aku tidak mengingat tajuk cerita yang aku buat hari itu.'
Villian hanya terus melihat apa yang di lakukan dirinya di masa lalu.
'Bagaimana aku bisa pensan hanya kerana jatuh dan pusing? Benar benar omong kosong di bandingkan ini.'
Villian mengejek dirinya yang pensan dengan mudah.
Dengan semua perih dari kesakitannya, dirinya mengabaikannya dan terus menulis.
[Aku akan mati, jadi mari membantu! Villian mengatakan itu dan langsung tertidur.]
Villian melihat dirinya di kaca dan itu adalah wajahnya yang tersenyum setelah menulis perenggan itu.
"Omong kosong. Jika kamu ingin membantu, kamu..... ....... ......"
Villian tidak dapat mendengar perkataannya dengan jelas. Dia tidak ingat dia pernah mengucapkan hal seperti itu. Well, mimpi hanya mimpi.
Pandangan Villian menjadi kabur dan dia membuka matanya.
Dia berada di atas kasur yang lembut dan hangat.
Dia melihat ke arah seseorang yang berjubah hitam seperti Lucard sambil membaca buku. Hujung jarinya berwarna hitam.
"Ahli nujum?"
Villian bergumam dan jubah hitam itu melihat ke arahnya.
"Jadi kamu sudah bangun. Nama ku Millia. Aku ahli nujum dari keluarga tingkat 2."
Jubah hitam itu membuka penutup kepalanya dan terlihat gadis yang seumuran dengan Lucard yang sangat imut.
"Aku Vill-"
Villian terhenti kerana baru ingat dia saat ini pria.
"Vill hah.... Aku menemukanmu terbaring di jalanan. Jadi aku membantu mu. Jangan berfikir yang aneh aneh."
Nada bicaranya sangat sombong di telinga Villian.
"Terima kasih, saya terhutang budi. Saya masih baru di sini, jadi siapa ahli nujum tingkat 1?"
Villian hanya ingin memastikan yang Lucard adalah raja ahli nujum.
Wajah Millia sedikit mengeras dan terlihat sedih.
"Mereka sudah terbunuh. Keluarga ku membunuh mereka dengan racun. Aku tidak bisa melakukan apapon. Penerus mereka, Lucard, di kejar oleh pembunuh yang di sewa keluarga ku. Aku pasti dia sudah......"
Millia menghentikan apa yang ingin dia ucapkan.
'Pasti sulit untuk anak kecil sepertinya melihat hal seperti itu.'
Villian yang lemah terhadap anak kecil tidak bisa tidak merasakan apa yang di rasakan Millia.
"Apa kamu sedar kelemahan mu sekarang?"
Millia menggenggam tangannya erat mendengar itu bahkan dari vampir.
Dia terlihat seperti sampah kerana lemah dan tidak sependapat dengan keluarganya.
Kerana itu dia sangat iri dengan keluarga seperti Lucard.
"Apa kamu sedar?"
Sekali lagi Villian bertanya. Millia menggertak giginya.
"Ya aku sedar! Mengapa juga jika aku lemah!? Aku masih ahli nujum kamu vampir sialan!"
Mendengar itu, Villian tersenyum.
"Jadi lakukannya."
"Hah?"
Millia bingung.
"Lampaui kelemahan mu dan berkuasa. Tunjukkan kekuasaan pada mereka yang meremehkan mu. Kamu masih ahli nujum. "
Mulut Millia tidak bisa di tutup. Dia sangat kaget dengan kata vampir lemah di depannya. Dia merasa mereka sama, tidak, dia bahkan lebih kuat dari vampir di depannya.
"Aku mungkin lemah. Namun aku akan membantu mu naik ke puncak."
Millia tidak bisa mengabaikan kata itu. Dia sekarang harus berbuat apa?
.
.
.
.
.
.
Bersambung...............