
Villian memasuki kawasan dengan dinding tenaga memisahkan kawasan elf dan pohon dunia.
"Kamu lah gadis yang hi-"
Pria berambut hijau itu terhenti di tengah ayatnya.
"Pengasuh naga penguasa langit? Kamu yang di bawa? Wau, dunia benar benar kecil."
Villian melihat pria itu dan langsung mengenalinya.
Bagaimana dia bisa melupakan wajah yang tampan itu?
"Kamu temannya Eugine, benar kan?"
Villian menunjuk Magaret dengan jari telunjuknya tampa ada hormat sedikit pon.
'Dia menunjuk naga yang agung dan bahkan penjaga pohon dunia dengan santai!'
Ke dua elf di belakangnya kaget setengah mati.
"Aku, temannya? Fttt..... Hahaha. Aku akan di pukuli sampai jadi bubur jika dia mendengarnya!"
Namun respon naga yang selalunya tramenyal yang selalu buruk setiap kali ada yang berbicara dengannya. Hari ini sepertinya dia sedang dalam mood yang sangat baik.
"Ehh? Bukan kalian berteman?"
Villian memiringkan kepalanya bingung.
"Dia? Dia bahkan tidak menganggap ku naga, dan hanya hormat kerana aku penjaga pohon dunia. Benar benar omong kosong! Hahaha!"
Villian hanya memandang bingung Magaret yang tertawa sangat keras hingga membungkuk ke depan.
"Hah.... Kami para naga hanya berhubungan kerana tugas. Tidak ada hubungan seperti teman atau bahkan lebih."
Villian menganggukkan kepalanya walau hakikatnya tidak memahami apa yang di maksud naga di depannya.
'Bukan ke teman bisnes di panggil teman?'
Magaret melihat Villian yang masih bingung hanya menggeleng kepala nya.
"Apa pon, nama ku Magaret. Apa naga penguasa langit itu sihat?"
Villian menganggukkan kepalanya.
"Nama aku Villian Tex Ajellan. Nama dia Diamon. Dia muncul di mimpi ku untuk bertanya apa dia pantas untuk di lahirkan atau tidak."
Magaret membuat wajah seperti itu tidak terduga.
"Apa yang kamu jawab? Aku pasti dia mengatakan bahwa dia lahir untuk menghancurkan dunia ini."
Diamon yang memunculkan dirinya membuat ke 2 elf itu melutut. Mereka tidak berani berdiri di depan naga penguasa langit yang lebih kuat dari siapapon.
Villian memeluk Diamon dengan hangat dan memandang Magaret.
"Aku tidak menjawabnya. Aku tidak punya hak untuk memutuskan dia layak atau tidak untuk di lahirkan. Dia seharusnya memikirkan itu sendiri. Kamu akan menjadi naga penguasa yang hebat. Bagaimana naga imut ini akan menjadi penguasa yang kejam?"
Diamon melihat Villian dengan mata polosnya.
'Apa kamu akan mengatakan itu saat kamu tahu bahwa para bintang sedang bergerak untuk menyerang?'
Magaret melihat langit dan bintang bintang sedang bergerak dengan banyak pola.
"Apa pohon dunia bisa berbicara?"
Villian menanyakan itu dan Magaret mengangguk.
"Namun hanya naga penjaga pohon dunia yang bisa berbicara dengannya."
Villian mengangguk paham.
"Hei, apa manusia bisa kontrak dengan elimental? Kekuatan elimental pasti sangat hebat!"
Villian mendekati Magaret tampa malu hingga hidung mereka ingin bertemu.
Magaret langsung melangkah mundur.
"Ti, tidak. Kamu pikir itu hal yang mudah? Hanya jika kamu berkontrak dengan elimental kegelapan, itu bisa untuk siapa pon."
Magaret membalas dengan sombong namun ke dua elf yang melutut bisa melihat telinga Magaret yang memerah.
"Jadi, apa aku bisa melihat elimental? Aku selalu ingin melihat mereka!"
"Uhuk."
Magaret batuk palsu dan melirik ke arah pohon dunia.
Pohon itu sama saja seperti pohon biasa. Namun yang beda, dia selalu bergerak tampa ada angin yang meniupnya.
"Pohon dunia bilang dia bisa memberikan kemampuan itu pada mu, itu adalah kemampuan para elf dan itu di berikan oleh pohon dunia."
Villian mengangguk dengan semangat.
"Namun kamu tidak bisa berkontrak dengan mereka. Itu kerana kamu manusia."
"Aku tidak punya keinginan itu, jangan khawatir! Aku kan hanya punya 2 tahun."
Villian berbicara dengan semangat tentang kematiannya.
"Kamu benar benar aneh."
Magaret mengatakan itu sambil menggaru belakang kepalanya yang tidak gatal dan menyerahkan daun dari pohon dunia.
"Makan ini."
Villian tampa banyak pikir langsung memakan daun itu.
"Itu manis!"
Pertama kali dirinya merasakan daun yang manis. Terkadang dia memakan daun kerana dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
Semakin aneh Magaret melihat putri bangsawan itu.
Dan Villian merasakan kehangatan di matanya dan dia bisa melihat banyak elimental yang sedang bersantai di sana.
-Apa kamu bisa melihat kami?-
Villian mendengar suara elimental itu.
"Wouh! Ini sangat keren! Iya aku bisa melihat mu!"
Semua di sana membulat matanya setelah mendengar ucapan energik Villian.
"Kamu mendengar mereka?"
Magaret bertanya dengan hati hati.
"Iya, kenapa?"
Mereka semua memandang sesama mereka.
"Itu bukan sesuatu yang selalu terjadi. Bahkan hanya 1% elf yang bisa berkomunikasi dengan elimental. Dan mereka yang bisa berkomunikasi dengan elimental adalah agen rahasia para elf."
Villian mengedipkan matanya beberapa kali.
"Itu maksud nya aku semakin aneh, bukan?"
Semua di sana menganggukkan kepala mereka.
"Yah...... Aku sememangnya sudah aneh, tidak perlu di hiraukan."
Villian melambaikan tangannya tak peduli.
'Ini bukan sesuatu yang bisa di abaikan. Dia pasti akan di incar oleh para penculik elf itu. Elf yang bisa berbicara dengan elimental sebenarnya lebih langka dari 1%."
Mereka bertiga bahkan pohon dunia memandang Villian dengan cemas.
"Itu bukan sesuatu yang bisa di abaikan. Kamu mungkin akan di incar oleh kumpulan yang menculik para elf. Lebih baik kamu tidak menunjukkan yang kamu bisa berbicara dengan mereka."
Seijo mengatakan itu dengan penuh kekhawatiran. Namun Villian hanya mengangguk paham sebelum mengabaikannya.
"Apa pon, aku bisa bermain di sini, kan? Aku ingin berkenalan dengan para elimental dan pohon dunia! Sungguh tempat yang indah."
Magaret hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Kamu bisa meminta elimental untuk memberitahu apa yang pohon dunia katakan. Selain penjaga pohon dunia, elimental yang terlahir dari alam yang sama jenis seperti pohon dunia yaitu alam bisa berkomunikasi bersama."
Villian menganggukkan kepalanya dengan semangat.
-Iya, kamu benar, di sini sangat indah!-
-Kamu sangat imut dan bisa berbicara dengan kami?! Kamu benar benar jenius!
-Mari bermain bersama!-
Banyak suara memasuki kuping Villian dan berbagai kekuatan alam mengelilingi Villian dan menariknya pergi dan Diamon mengikutinya sambil tidak terlihat.
'Dia benar benar aneh. Berteman dengan makhluk gelap, mengasuh naga bencana dengan kasih sayang dan menganggap elimental sebagai teman."
Sekarang Magaret memikirkannya, Villian benar benar berteman dengan elimental yang bahkan elf memandang mereka sekadar sumber kekuatan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah bermain seharian di sana, Villian yang akhirnya kelelahan harus pulang untuk menemukan teman temannya yang lain.
-Apa kamu akan pulang sekarang?!-
-Iya, mari kita bermain lagi!-
-Tidak jangan pergi!-
Para elimental dengan keras berteriak supaya Villian terus tinggal di situ.
"Aku harus menemukan teman teman ku. Pohon dunia, Magaret, aku pulang sekarang."
Magaret yang melihat Villian di kelilingi elimental dari hujung rambut hingga hujung kakinya menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu terpisah dengan teman teman mu?"
"Iya, kerana itu aku berteman dengan beberapa makhluk gelap yang membantu ku mencari mereka."
Villian memasuki portal taliportasi sambil melambaikan tangannya dan menghilang.
Saat itu, keringat mengalir di tubuh Magaret.
Dia langsung mencapai kaca untuk berkomunikasi dengan naga lainnya.
Ini pertama kali dalam hidupnya menghubungi naga lain.
Ambil masa 10 panggilan untuk Eugine mengangkat panggilan itu.
"Apa yang kamu inginkan, ha?"
Magaret bisa melihat mana yang berada di sekitarnya yang dalam kuantiti luar biasa.
'Keputusan tepat menghubunginya!'
Magaret tidak pernah merasa dia membuat keputusan setepat ini dalam hidupnya.
"Teman mu Villian, dia selamat dan tadi baru saja bermain di sini bersama pohon dunia. Dia baru pulang ke kerajaan makhluk gelap."
Magaret mengatakan itu sambil memegang rambut pink Villian yang langka. Rambutnya banyak gugur kerana elimental angin.
Magaret bisa melihat mana di sekeliling Eugine semakin berkurang dan melihat Eugine menghela nafas lega.
"Sepertinya aku bisa menunggu lagi untuk tidak membalik kerajaan ini."
Magaret yang mendengar gumaman Eugine langsung merinding.
Naga terkuat setelah naga penguasa langit adalah naga penjaga lautan di zaman ini.
"Kamu harus mengatakan itu pada yang itu juga."
Eugine mengatakan itu dan mengalihkan kaca itu ke tempat lain.
Magaret bisa melihat seseorang dengan lingkaran kutukan yang sangat pekat dan oura kutukan itu bahkan melebihi orang itu.
Juga ada master pedang yang mencuba memasung kepala nya sendiri. Dia melihat seseorang dengan pen untuk melukis di gunakan untuk memotong apel menjadi 100 bahagian dengan sangat bagus dan jubah hitam yang sedang mengira tentara monster kerangka yang kelihatannya ratusan ribu.
Magaret tampa sedar menelan ludahnya.
'Bagaimana aku melakukan itu? Pohon dunia, gantikan aku.'
Pohon dunia mengabaikan harapan Magaret dan pergi tidur.
.
.
.
.
.
Setelah Magaret menerangkan itu, 100 kali, akhirnya mereka memahami itu. Juga memberikan peringatan tentang kemampuan Villian dan menyuruh mereka menemukan Villian dengan cepat.
Dia mungkin dalam bahaya.
Magaret bisa melihat banyak elimental yang sedang duduk dengan sedih setelah perginya Villian.
-Sepertinya tempat ini akan sunyi seperti biasa lagi.-
Magaret hanya mengangguk pada perkataan pohon dunia.
Setelah lebih dari 10 ribu tahun, tempat itu hening dan tenang namun hanya sehari, Villian menjejakkan kakinya di sana, tempat itu menjadi seperti sebuah party yang sangat berisik.
"Aku menantikan kunjungan seterusnya."
Magaret bergumam sendiri namun semua elimental yang tinggal di sana mengangguk setuju.
Tidak pernah ada para elf yang melayani mereka seperti makhluk hidup.
.
.
.
.
.
.
.
Regis yang berjalan mencari Villian terhenti saat ada lingkaran taliportasi di depannya.
"Ahh..... Itu sangat melelahkan."
Regis mendengar suara yang dia kenal.
Seorang gadis berbaju vampir pria berjalan keluar dari lingkaran itu.
Buk!
Dia langsung melanggar sesuatu.
"Aduh! Kulit ba-"
Villian terhenti dan mengangkat kepalanya untuk melihat Regis yang besar.
Regis menatap Villian dengan mata yang dingin.
Villian mengngembungkan pipinya saat itu.
Dia langsung bangun dan ingin pergi.
Bang!
"Eek!!!?"
Villian berteriak kaget saat tangan besar itu menghempas dinding hingga dinding itu hancur dan menenggelamkan tangan Regis.
Wajah Regis sangat dingin lebih dari biasanya.
"Kemana kamu pergi seharian ini?"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung................