
Villian bangun dari tidurnya....
Reader: Bangun dari tidur terussss.... kenapa gak jadi putri tidur sekalian?
Nulho: Ok sip. Mari guna itu.
Reader: Wait, what?
Villian tidak jadi bangun dan kembali tidur seperti putri tidur.
My Charakter: Thor.... Lu minta di tabok ya?
Nulho: (Yaelah.... Semua salah.... Mau kalian apa coba?)<(-︿-)>
Villian bangun dari tidur dan Regis di sebelahnya memberikan teh bangun tidur.
Villian merasa kepalanya pusing dan menolak teh yang Regis berikan untuknya.
Dia bangun dan langsung ke tandas membasuh wajahnya dengan air dingin.
Dia merasa sedikit lebih baik dan berjalan keluar dan duduk di meja sarapan.
Pelayan masuk dan menghidangkan Villian makanan mewah dan teman makannya adalah Diamon dan Mailo. Mereka sangat suka makan bersamanya.
Namun dia merasa tidak selera makan dan hanya bermain dengan garpu di pinggan.
"Kakak, mengapa kamu tidak makan?"
Villian seorang yang kuat makan walau dia berbadan kecil.
"Aku tidak punya selera. Aku bermimpi hal aneh tadi malam yang membuat ku pusing sekarang."
Daging di mulut Diamon jatuh mendengar itu.
"Mimpi apa yang kamu dapatkan hingga kamu pusing!?"
Diamon bertanya dengan cemas.
"Entahlah.... Aku tidak ingat...."
Villian memegang kepalanya kerana dia kembali pusing.
"Mungkin gambar dalam mimpi ku membuat ku pusing."
Villian mengibas tangannya pada Diamon seperti memberitahunya untuk tidak khawatir.
"Nona.... Kamu harus menjaga kesehatan mu."
Mailo juga mengkhawatirkan Villian.
Villian bangun dari kursi dan pergi ke jendela untuk membuka langsir yang menutup jendela dari pandangan luar.
Dia memegang langsir itu dan membukanya. Dia merasa pusing setelah melihat suasana sesak di luar.
Dia langsung menutup langsir itu kembali.
Dirinya sepertinya melarangnya keluar. Dia sangat pusing hanya dengan membuka langsir yang menutupi jendela.
"Diamon, panggil Zillo ke sini."
Diamon mengangguk dan menggunakan sihir telepati pada Zillo. Dengan cepat Zillo tiba di kamar itu.
"Villian, mengapa kamu memanggil ku?"
Zillo bertanya dengan senyuman di wajahnya.
Villian memegang tangan Zillo dan merasa sedikit lebih baik. Zillo kaget melihat Villian tiba tiba memegang tangannya. Namun dia dengan tenang membiarkan dirinya melakukan itu.
Villian masuk ke pelukannya saat itu.
Zillo yang tidak tahu apa jadi langsung memeluknya.
"Villian, apa yang terjadi?"
Zillo akhirnya tidak bisa tidak bertanya.
"Sepertinya ada yang membahayakan benang merah ku yang membuat ku sakit setiap kali berpikir untuk keluar. Juga aku menjadi lebih baik di dekat mu mengukuhkan teori ku."
Villian memang terlihat sedikit lebih baik di dalam pelukan Zillo. Lingkaran taliportasi muncul dan Magaret keluar dari sana.
"Villian, kamu baik baik saja!?"
Villian yang dalam pelukan Zillo melihat Magaret dengan lemah.
"Huh..... Baik, kamu baik baik saja."
Magaret mengangguk lega.
"Apa yang terjadi?"
Zillo bertanya dan Magaret mengangguk seperti tahu soalan itu akan datang padanya.
"Ada pemilik benang merah predator lain di kerajaan ini. Target yang paling di sukai benang merah predator adalah benang merah yang rapuh seperti milik Villian."
Magaret memeriksa jari kelingking Villian dan melepaskannya semua.
"Benang merah predator milik Villian adalah alami. Namun benang merah predator orang itu tidak. Itu kerana orang itu bisa mengendalikan benang merahnya sesuka hati kerana dia bisa melihat benang merah itu sendiri."
Wajah Magaret menjadi serius.
"Benang merah ini bahaya. Itu memakan benang merah dan bukan memutuskannya. Jika benang merah di makan, orang itu akan mati. Villian sakit kerana benang merahnya terancam. Kamu tidak bisa jauh dari Villian lebih dari 5 meter. Lebih dekat lebih bagus."
Villian menutup matanya sambil mencoba bersembunyi di dalam pelukan Zillo. Itu dorongan benang merah pada dirinya yang terancam.
Zillo memeluk Villian lebih erat supaya Villian akan berpikir dia selamat.
Regis yang juga dalam ruangan itu melihat Zillo seperti ingin membunuhnya.
"Kita harus menemukan orang itu segera. Aku harus menyingkirkan benang merah orang itu. Dia adalah keberadaan yang tidak alami di dunia ini."
Magaret mengatakan itu dan Regis bangun dari kursinya. Dia ingin menangkap orang itu secepat mungkin.
"Aku akan membantu. Lagi pula aku berhutang budi pada kakak dan kamu Magaret."
Diamon mengatakan itu sambil makan daging dengan cepat.
'Magaret.'
Kata itu menusuk hati Magaret. Tidak ada naga yang memanggilnya dengan namanya tampa di akhiri kata kata kasar atau dengan nada yang baik seperti itu. Dia merasa gembira untuk seketika.
"Ouh, bagaimana untuk mencarinya? Kita kan tidak bisa melihat benang merah?"
Mailo dengan polos mengatakan itu. Kenyataan itu menghantam Regis dan Diamon dengan keras.
"Tidak perlu khawatir. Kerana mereka adalah keberadaan yang tidak alami di dunia ini, kalian bisa melihat benang merah yang terikat di jari kelingkingnya. Dia tidak bisa menutupnya walau memakai sarung tangan sekalipon. Juga dia pendatang baru di sini."
Itu membuat pencarian menjadi lebih kecil.
Mereka semua keluar dari ruangan itu meninggalkan Villian dan Zillo sendirian.
Zillo duduk di kasur sambil Villian terus menyelam dalam pelukan Zillo.
"Villian, ini baik baik saja. Kamu tidak perlu takut."
Zillo mengelus lembut kepala Villian. Villian membiarkan itu dan terus membenam wajahnya ke dada Zillo.
Dia merasa sangat selesa dalam posisi itu. Dia tidak mahu melepaskan Zillo pergi darinya.
Zillo juga tidak peduli berapa lama Villian akan memeluknya. Jika bisa, dia ingin waktu terhenti di situ dan membiarkannya memeluk Villian untuk selamanya.
Jubah hitam dengan kalung daun semanggi yang di lilit menjadi gelang melihat suasana di istana dan tersenyum lembut. Dia memakai topeng pengubah suara nya dan bergerak menjauh dari istana.
Dia mengeluarkan pedangnya dan pergi berkeliling di kota itu hingga bertemu Diamon.
"Kamu lagi!?"
Diamon langsung mengenalnya kerana gelang semanggi itu.
"Apa yang kamu inginkan?"
Jubah hitam itu diam seketika.
"Aku hanya ingin menyingkirkan hal bahaya untuk gadis berambut pink itu. Aku sudah berkerja sangat keras untuk membuatnya bahagia. Aku tidak bisa membiarkan benang merah predator itu menghancurkan semua usaha ku."
Jubah hitam itu mengabaikan Diamon dan ingin berjalan pergi. Namun benang merah menyerangnya.
Dia dengan cepat memotong benang merah itu.
Seorang wanita dengan sepatu tinggi berjalan ke arah mereka berdua.
"Kamu bisa melihat benang merah ku, hah? Kamu pasti seseorang yang melanggar hukum alam."
Wanita itu membuka penutup kepalanya dan rambut merah semerah benang merah di tangannya terlihat.
Seseorang yang melawan hukum alam adalah pengkhianat. Pengkhianat yang di lupakan oleh alam.
"Di lihat dari mu, kamu pasti seorang yang melakukan regresi, benar? Aku juga melawan hukum alam hingga aku bisa mengendalikan benang merah."
Diamon mengerutkan alisnya mendengar itu. Jika dia bertanya siapa yang paling memahami dengan gelar pengkhianat, dialah orangnya.
Naga penguasa langit yang seharusnya tidak bisa lagi di lahirkan di dunia ini.
"Kamu setengah benar. Namun kamu ke sini untuk menyakiti Villian, aku tidak akan melepaskan mu."
Jubah hitam itu mengangkat pedangnya dan aura seorang master pedang muncul.
Auranya berwarna merah. Dengan semua dosa yang ia bawa dan pertumpahan darah yang ia lalui, semua itu menjadi memory dan auranya mewakili seluruh jalan hidup dengan penuh darah itu.
Semua dari mereka yang menjadi pengkhianat memiliki satu persamaan. Mereka memiliki anggota tubuh atau keterampilan yang berwarna merah.
Itu bukan merah biasa melainkan merah pekat seperti darah yang terkadang indah, seperti mata Diamon dan terkadang mengerikan seperti aura pedang jubah hitam itu.
Itu tidak akan terlihat biasa. Itu pasti sangat indah atau sangat mengerikan. Milik benang merah itu indah.
Rambut merahnya sangat indah. Itu terlihat seperti akan menarik mu untuk datang dan mencium rambut yang indah itu.
Benang merah yang ia kendalikan itu juga sangat indah mengapung di udara.
Mata merah jubah hitam itu terlihat. Dan tatapannya penuh dengan kengerian dan kesakitan yang telah ia lalui. Namun itu akan indah jika tatapannya tidak sekejam itu.
Benang merah dan aura merah berbenturan bersama dan menghasilkan ledakan yang cukup kuat. Diamon tidak bisa melihat benang merah. Namun dia tahu aura merah itu sedang mengenai sesuatu.
Wanita berambut merah itu juga memiliki benang merah terlilit di jari kelingking nya.
Diamon tahu dialah yang mengancam Hidup kakaknya saat ini.
Namun dia tidak merasa bisa masuk ke dalam pertempuran itu walau dia naga.
'Apa ini yang di namakan pertempuran antara pengkhianat?'
Kekuatan mereka sudah di luar batas normal. Pantas saja mereka di gelar pengkhianat.
"Arg!!!"
Rambut merah itu mengerang saat tangannya mengenai aura merah jubah hitam itu.
"Sial! Mengapa pengkhianat bertarung sesama sendiri! Bukankah pengkhianat mengambil kekuatan ini untuk menguasai dunia!"
Rambut merah itu berteriak marah pada jubah hitam itu.
"Menguasai dunia? Apa hanya itu yang ada di pikiran bodoh mu? Aku sekalipon tidak pernah berpikir untuk menguasai dunia."
Jubah hitam itu mengatakan itu dan Magaret tiba di sana.
Dia menghilangkan aura merahnya yang mengerikan dan langsung pergi dari sana.
Magaret mengerutkan alisnya melihat jubah hitam itu pergi dengan cepat dan bahkan bisa menghilangkan kehadirannya dengan cepat.
Namun dia dengan cepat menggunakan mananya mengunci rambut merah itu dalam penghalang tidak terlihat.
"Errg.... Lepaskan aku naga sialan!"
"Hei, maaf, hati ku sudah kokoh kerana selalu di katain naga lain."
Wajah Magaret masih bodoh seperti biasa.
"Aku harus menyingkirkan benang merah mu itu."
Namun wajah Magaret langsung berubah dingin saat mengatakan itu. Di matanya, keberadaan tidak murni atau pengkhianat adalah pengganggu. Dia yang terlahir untuk menjaga pohon dunia, sudah di ciptakan secara alami untuk membenci keberadaan seperti itu.
Kerana itu, mendengar naga penguasa langit akan lahir, membuatnya tidak menerimanya sebagai adiknya. Semua naga adalah bersaudara. Namun dia sedikit pon tidak merasa keberadaan itu memiliki hak menjadi saudaranya.
Bukan dia seorang. Semua naga juga merasakan hal yang sama. Pengkhianat adalah makhluk terkutuk dan dunia tidak menganggap keberadaan mereka.
Itu lebih terkutuk dari makhluk gelap di dunia ini. Namun makhluk gelap adalah keberadaan yang di terima dunia. Sedang pengkhianat, adalah mereka yang melawan hukum alam dan mendapatkan kekuatan yang tidak wajar atau melawan takdir dunia saja.
Namun pemikiran itu berubah setelah dia bertemu pengasuh naga penguasa langit secara peribadi. Villian yang melakukan segalanya kerana dorongan hati dan tidak memandang ras, makhluk atau apa pon itu.
Pemikiran seperti itu sangat lah unik bagi Magaret. Namun itu juga indah.
'Kamu tahu, naga penguasa langit adalah bencana, kan?'
Dia mengingat bertanya pada Villian tentang itu. Villian mengerutkan alisnya mendengarnya bertanya tentang hal itu.
'Siapa peduli dia bencana atau apa pon itu? Dia tidak di lahirkan untuk di benci. Perbuatan seseorang layak untuk di benci. Namun kelahiran sesuatu tanpa dosa tidak layak di benci walau terkutuknya kelahiran itu. Sebagaimana elimental lahir, sebagaimana elf lahir atau bagaimana manusia lahir, itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka lahir tidak berdosa.'
Tatapan Villian yang marah kerana dia menyalahkan naga penguasa langit yang tidak bersalah membuat dia sadar akan sesuatu.
'Tidak ada keberadaan yang layak di benci jika mereka tidak salah apapon.'
Magaret mengangkat tangannya dengan mana yang mencengkam dan mata yang dingin membuat Diamon yang selalu melihat Magaret santai kaget sekagetnya.
"Dan kamu berani menghilangkan keberadaan yang indah seperti Villian itu?"
Mata Magaret sangat dingin.
'Lupakan, kakak, dia tidak bucin dengan mu tapi malah keberadaan mu!'
Diamon pikir Magaret tidak gila akan Villian seperti Eugine. Tapi sepertinya dia gila dengan cara yang berbeda.
Bersambung..........................