I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 2



Di ruang tabib.


"Sudah berapa lama nona muda mendapatkan tanda itu?"


Ketua tabib itu bertanya dengan keringat deras mengalir di dahinya sedang Villian memutar matanya.


'Bagaimana bisa aku tahu? Aku berada di tubuh menjijikkan ini dan sudah memiliki tanda itu di dada kiri!'


Villian berteriak marah dari dalam dan menggelengkan kepalanya.


"Aku baru perasan itu hari ini."


Villian membalas dengan wajah yang sedih dan putus asa.


Tentu saja, dia sedih akan lemah tubuhnya saat ini dan betapa menjijikkan warna rambut dan matanya.


Namun baginya, Felix memiliki rambut yang indah walau warnanya sama.


mengapa?


Itu kerana Felix terlihat sangat sesuai dengan rambut pink nya itu.


Salah satunya, dia tampan. Dia cantik tentu saja. Namun itu dirinya boss...... Dia membenci pink.


'Kalau ada orang yang kenal diri aku sekarang ni pasti akan menampar pipinya sendiri tak percaya.'


Villian hanya tertunduk memikirkan kehidupannya yang bar bar.


Namun kakak dan ketua tabib yang memeriksanya melihatnya seperti dia sangat putus asa dengan situasinya saat ini.


"Seberapa besar bintik itu?"


Ketua tabib itu bertanya lagi.


"2 cm."


Villian dengan sepantas kilat menjawab. Ketua tabib itu menghela nafas mendengarnya.


"Sepertinya itu baru muncul hari ini."


Villian mengangkat 1 alisnya dengan bingung namun tidak ada yang perasan kerana dirinya tertunduk.


'Apa maksudnya pak tua!?'


"Seperti yang nona muda tahu, souhell adalah penyakit kutukan dan nona muda hanya punya 2 tahun.


Itu akan semakin besar saat hari bertambah. Itu tidak signifikan dan banyak. namun hari ke 2 akan menjadi 3 cm dan setelah 6 bulan, itu 4 cm begitu juga 6 bulan seterusnya hingga 2 tahun."


Ketua tabib itu seperti mendengar soalan internal Villian dan menerangkannya dengan wajah yang bermasaalah.


'Jadi itu akan jadi 7 cm saat mencapai 2 tahun.'


Villian yang tertunduk mengangguk puas setelah rasa penasarannya menghilang dalam sekejap.


Klang.


Beberapa barang jatuh saat kakaknya terduduk di lantai lagi.


'Felix, apa masaalah mu? Apa kamu yang akan mati atau aku?'


Villian semakin sulit memahami tingkah seseorang yang tiba tiba menjadi kakaknya.


Namun ketua tabib memahami Felix menepuk bahu Felix dengan tatapan yang rumit.


'Serius, siapa yang akan mati ini? Aku atau dia.'


Villian melihat ke arah Felix dengan tidak percaya.


Dia tiba tiba teringat sesuatu tentang Villian.


Villian Tex Ajellan. Dia seorang yang di benci oleh para ramai pelayan dan bisa di bilang, hampir semua. Itu kerana sifat Villian yang suka mencampuri urusan orang lain.


'Tuh kan, aku kan bilang diam saja.'


Villian mengangguk memahami mengapa ramai orang membencinya. Dia juga akan menghantam wajah Villian ke dinding jika itu dirinya.


Jadi kerana itu, dia mengasingkan dirinya dan hanya rapat dengan keluarganya saja.


Ketua tabib juga salah seorang yang rapat dengannya kerana Villian selalu mendatangi ruang tabib untuk mendapatkan ubat vitamin.


'Makan sayur oi!'


Itulah mengapa, Villian ingin membantu orang lain saat tahu dia akan mati.


'Tsk. Apa kau fikir hidup itu permainan hanya kerana kau anak duke?'


Villian menjadi kesal dan Felix mendadak bangun dari duduknya.


"Aku akan melapor pada ayah!"


"........?"


Felix langsung melompat dan keluar dari ruang tabib itu.


Villian hanya melihatnya dengan tatapan yang mengatakan Felix sangat aneh.


'Well it's bagus.


Semakin besar rumor aku akan mati, aku akan dengan mudah melakukan apapon yang aku mau.


Selagi aku tidak bermain dengan keluarga diraja.'


Villian tiba tiba meremang mengingat putra mahkota yang menghunus pedangnya hanya kerana Villian ingin membantunya yang terkena racun.


'Tidak usah di tolong tuh orang! Villian, kamu sangat tolol!'


Semakin frustrasi Villian memikirkan sosok sejati dari pemilik tubuh itu.


Walau begitu, dia tahu mengapa kakaknya seperti akan mati setelah mendengar dia hanya punya 2 tahun.


'Anak ini, dia sangat di cintai keluarganya.'


Villian mengingat paman nya yang memperlakukannya tidak seperti manusia.


Dia sangat iri dengan keluarga yang seperti ini.


'Heh. Apa dewa ingin aku merasakan kebahagiaan dan meninggal dengan bahagia?'


'Siapa yang menginginkan kematian seperti itu? Wahai dewa, aku hanya akan berbuat sesuka ku hingga aku mati 2 tahun dari sekarang.'


Bang!


'Wau, itu cepat.'


Villian merasa itu tidak mencapai 5 minit lagi dan kakak nya sudah kembali bersama ayahnya yang bernafas tidak teratur.


"Tabib Erfan, apa yang aku dengar adalah sebenarnya?"


Suara ayahnya terdengar bergetar dan wajahnya memerah seperti sangat marah dan sedih pada saat yang sama.


Bibir bawah kakaknya juga terlihat bengkak dan terlihat noda darah yang membeku di bibirnya.


'Dia Pasti menggigitnya dengan keras.'


Villian memikirkan itu saat ketua tabib menganggukkan kepalanya pada duke Ajellan.


Duke sepertinya kehilangan kekuatan pada kakinya dan terduduk di lantai sama persis seperti kakaknya tadi.


'Buah tak jatuh jauh dari pohonnya, hah...'


Villian memikirkan pohon manga dan terliur mengingat betapa manisnya manga.


Tiba tiba 2 tangan besar memegang bahunya dengan cukup erat namun tidak menyakitinya.


"Villian, ayah akan mencari penawarnya dengan kos apa pon!"


Villian hanya mengangguk dengan tidak peduli.


'Biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan dan aku aku akan mati dengan tenang, ok.'


Villian sudah memikirkan semua rencana untuk menjadi sampah sebelum mati Tampa penyesalan.


Siapa peduli, dia punya uang yang banyak dan bisa menjadi sampah yang akan mati dan di lupakan.


"Saya juga akan berusaha sekeras yang saya bisa, nona muda!"


Tabib Erfan, ketua tabib di sini juga menyatakan untuk terus mencari penawar tampa akan menyerah.


'Dah pahal dengan suasana seperti dalam anime shonen yang berteriak akan berusaha sekerasnya.'


Villian hanya tersenyum dan mengangguk untuk menanggapi mereka.


Itu juga bagus. Rumor akan semakin merebak seperti api dengan semua ni.


Dari tadi Villian bisa melihat pelayan yang mencuri mendengar perbualan mereka.


'Rumor tu pasti akan merebak hanya dalam beberapa hari.'


Villian tersenyum puas dengan hasil yang di dapatnya hari ni.


.


.


.


.


Dan 3 hari setelah itu, rumor tentangnya yang akan mati sudah melebar sangat luas seperti api yang sudah tidak bisa di padamkan.


Sejak itu, tidak ada jemputan yang menjemput dirinya ke party minum teh atau dansa.


Dan itu membuatnya sangat gembira tidak memiliki undangan undangan yang terlihat dari neraka di matanya yang kini setiap hari mengenakan seluar dan baju pria dari pagi hingga pagi lagi.


"Jadi, mari pergi bermain!"


Villian menarik seorang pengawal yang dia tarik dengan suka suka saja untuk mengikutinya bermain.


Dia tidak bisa membaca peta. Apa yang kalian harapkan dari seorang gadis yang berhenti sekolah di umur 13 tahun?


Dia juga tidak ingin tersesat.


Pengawal itu hanya mengikutinya dan tidak menanyakan apa pon. Itu kerana dia tahu bahwa Villian, akan segera mati dan dia pasti, Villian ingin melakukan apa pon yang dia inginkan selama sisa hidupnya.


.


.


.


.


.


Dengan pakaian pria, Villian berdiri di tengah kota.


'Wouh...... aku fikir itu akan suram kerana abad pertengahan. tapi ini hidup dan sangat ramai!'


Villian mula melihat lihat dengan mata yang berbinar.


'Ouh.'


"Kau jaga jarak sampai aku tak boleh tengok kau. kalau aku dalam masaalah baru tolong."


Villian dengan mudah mengusir pengawal itu dari pandangannya.


Dia tidak peduli apa yang di fikir kan oleh pengawal itu melihatnya yang akan menjadi sampah.


Hal pertama yang ingin ia lakukan ialah-


.


.


.


.


.


Bersambung..........