
Villian menatap Seo dengan aneh.
'Aku tidak ingat menulis apa pon hal seperti itu.'
Seo menghela nafas melihat Villian malah menatapnya dengan aneh.
"Sakit kutukan di tubuh mu tidak alami. Benang mu seperti di racuni dan bukan seperti di kutuk. Kutukan jenis bencana memang langka, tapi kamu dengan kekuatan memurnikan kutukan tidak mungkin bisa mendapatkan kutukan jenis apa pon. Kamu hanya tidak bisa memurnikan itu. Pria itu memiliki kutukan yang di tanam ke tubuh yang membuat itu juga tidak bisa di suci kan. Jika di lakukan, pria itu akan mati. Ada banyak hal yang bisa mengakibatkan kutukan. Apa yang telah kamu lakukan?"
Seo sekali lagi bertanya untuk mendapatkan petunjuk.
Villian yang masuk saja ke tubuh Villian dan terkena souhell mana mungkin tahu apa yang dia lakukan. Cerita yang ia tulis juga bermula dengan Villian menangis putus asa sebelum tertidur kerana souhell dan berpikir untuk membantu ramai orang sebelum mati.
Tiba tiba dia merasa sengatan listrik mengenai kepalanya.
"Arg!"
Villian mengerang seketika.
Dia melihat lingkaran bintang merah dan seseorang yang gelap di depannya sedang tersenyum ke arahnya. Dia memotong leher bayangan anak kecil di depan matanya.
'Mati!'
Kata itu muncul di benaknya.
Gerlic memegang pundak Villian dan Villian melompat keluar dari ingatan mengerikan itu. Dia langsung pergi ke pojok dan muntah melihat adegan itu tampa persediaan hati yang kokoh.
"Sepertinya ada yang terjadi sebelum kamu menerima kutukan itu."
Seo mengatakan itu saat melihat reaksi Villian yang sangat mengerikan.
"Seseorang, membunuh, tersenyum, mati."
Dia tidak tahu menjelaskan ingatan mengerikan yang tidak jelas itu.
Gerlic memegang pundak Villian dengan lembut namun matanya sangat mengerikan jika kamu melihatnya dengan benar. Dia seperti ingin masuk ke pikiran Villian dan memotong leher mereka yang membuat Villiannya seperti itu.
Dia masih melihat adegan selanjutnya. Dia melihat orang itu mengikatnya di kursi dan membaca mantera. Lingkaran asap hitam mengelilingi Villian dan menusuk dada kirinya dan rasanya sangat menyakitkan hingga Villian memegang dada kirinya.
Air matanya mengalir kerana itu sakit dan orang itu jatuh ke lantai dengan senyuman mengerikan hingga dia akhirnya mati.
Petir turun ke bumi dan menerangi ruangan itu. Dia bisa melihat sekilas wajah orang itu. Berambut merah dan mata merah yang sudah mati. Darah berceceran keluar dari mulutnya.
Semua merah di tubuhnya mengerikan.
"Pengkhianat."
Satu kata keluar dari mulut Villian walau dia tidak tahu apa itu pengkhianat. Apa pria itu orang kepercayaan Villian yang berkhianat?
Semua orang tersentak mendengar kata pengkhianat keluar dari mulut Villian.
"Kutukan ini darinya."
Villian mula merasa lebih baik dan kembali duduk di kursinya.
"Pengkhianat mengincarnya?"
Diamon bertanya dan semua orang membuat wajah 'besar kemungkinan'.
Tapi persoalannya adalah, 'mengapa'.
Lingkaran taliportasi muncul dan muncul seorang wanita berambut hitam pecat hingga tidak ada cahaya bisa menembusinya dan bermata merah biasa namun sangat indah kerana wajahnya sangat indah.
Tangan ramping wanita itu dengan kasar menarik kerah Villian dan melakukan taliportasi lagi meninggalkan semua orang di situ.
"Siapa orang tadi itu!? Musuh!?"
Radex langsung panik setelah melihat nona mudanya menghilang.
Semua naga di sana terdiam. Dan yang paling mengerikan wajahnya adalah Seo.
"Itu naga pengawal kutukan."
Magaret mengatakan itu dengan wajah pucat.
Mendengar itu, semua orang kaget. Memangnya tugas apa yang di lakukan naga itu?
"Naga pengawal kutukan harus melihat kutukan itu alami atau tidak. Jika tidak, dia harus menyingkirkan kutukan itu dengan cara apapon."
Magaret menerangkan itu.
Semua orang tersentak mendengar itu. Satu satunya cara untuk menyingkirkan kutukan itu adalah mati atau menelan kunci bencana.
"Kita harus mengejarnya!"
Lucard langsung mengguncang tubuh Eugine yang kaku.
Eugine adalah naga terkuat setelah Diamon. Namun dia yang paling bisa di andalkan sekarang.
"Tidak bisa."
Eugine bergumam.
"Naga pengawal kutukan membenci pria. Tidak mungkin bagi pria untuk ke sana kerana mereka akan langsung di taliportasi ke tempat lain. Hanya wanita yang bisa membujuknya."
Seo mengatakan itu dengan wajah paling pucat di antara semua kerana pernah mencoba menggodanya dan di hajar habis habisan.
Magaret melihat ke arah Jihe dan Millia. Rosie tidak bisa kerana dia tidak bisa berada di bawah sinar matahari.
"Kalian pergi membujuknya. Aku akan memberikan kalian harta karun dunia untuk melindungi."
Carl mengatakan itu dan bertaliportasi ke sarangnya.
'Aku lagi..... Aku lagi.....'
Jihe mengeluh dari dalam.
"Jihe, mari selamatkan Villian bersama!"
Jihe melihat Millia yang bersemangat menganggukkan kepalanya.
'Mari pikir pergi date berdua dengan Millia saja.'
Dengan itu, mereka di taliportasi dengan banyak perlengkapan untuk membujuk naga pengawal kutukan itu.
Mereka di taliportasi ke sebuah pulau yang masih terlihat rimba.
Ada 3 peringatan di sana yang mereka harus ikuti.
Jangan membicarakan tentang pria.
Jangan memakan tumbuhan di sana kerana takut ada kutukan nya.
Jangan menyinggung naga pengawal kutukan walau seberapa keras perangkap di sana.
Mereka menghela nafas dan mengeluarkan peta.
"Kita harus mencari gua sarangnya."
.
.
.
Di sarang naga pengawal kutukan.
Villian di lempar ke sofa yang terbuat dari emas. Untung bantalannya bukan emas. Hanya benang emas.
"Uwah..... Kaya bener ini naga."
Semua perabotan di gua itu terbuat dari emas. Yah.... Kecuali barang yang lembut seperti bantalan dan kasur. Namun itu adalah benang emas.
Dia berharap kapas di dalamnya bukan emas.
Di ruang yang semuanya berwarna emas, mereka berdua terlihat dengan mudah.
Permata hiasan di meja juga membuat mata Villian menjadi silau.
"Siapa kamu?"
Villian bertanya dan duduk seperti pria pada umumnya.
"Aku naga pengawal kutukan. Dan sesaat tadi, aku merasakan kutukan tidak alami pada diri mu."
Villian memiringkan kepalanya.
"Bagaimana kutukan bisa menjadi hal alami?"
Dalam semua kisah yang ia baca, tidak ada kutukan yang di katakan alami. Itu pasti di berikan oleh seseorang. Seperti penyihir yang berkata, 'Akan ku sumpah 7 keturunan mu!' atau wanita yang di khianati dan berkata, 'Aku akan menghantui hidup mu hingga kamu mati bersama ku!'.
Sejak kapan kutukan adalah hal alami?
"Hah....."
Naga pengawal kutukan itu menghela nafasnya.
"Ada 3 jenis kutukan di dunia ini. 2 alami dan 1 tidak alami. 1 adalah kutukan sejak lahir seperti teman mu itu. 2 adalah kutukan yang di berikan seseorang kerana di khianati atau di sakiti."
Villian mengangguk seperti memahami kutukan ke 2. Namun yang pertama agak tidak masuk akal dalam pikirannya.
"Bagaimana seseorang bisa terkutuk saat terlahir?"
Villian bertanya dengan bingung.
"Hah...... Itu kerana kelahiran yang di kutuk banyak orang. Apa kamu tidak pernah berbicara di belakang seseorang sebelum ini? Jika yang di bicarakan adalah kandungan, mereka akan terlahir dengan kutukan. Apa ibu mu tidak mengajari itu?"
Wajah Villian menjadi kaku setelah mendengar itu.
"Ibu ku meninggalkan ku saat aku berumur 3 tahun dan langsung tidak pernah pulang. Ayah ku sibuk dan kakak ku tidak akan bercerita tentang hal kejam pada ku. Dan aku mengurung diri sejak 7 tahun."
Naga pengawal kutukan itu ternganga sedikit dan menggelengkan kepalanya.
"Ah, pokoknya, kutukan di tubuh mu adalah yang ke 3. Kutukan yang tidak alami. Kutukan tidak alami terjadi saat seseorang memberikan kutukan pada mu tanpa kamu melakukan kesalahan apa pon. Kutukan mu tidak di deteksi oleh ku kerana itu bersembunyi di balik souhell yang bisa menyerang siapa pon. Kerana kamu mengingat kejadian saat kamu di kutuk, itu memberikan peringatan pada ku."
Naga pengawal kutukan itu memegang kepalanya kerana harus menjelaskan itu.
"Jika kamu pria, aku sudah membunuh mu dan beres tugas ku. Mengapa malah gadis kali ini?"
Keringat mengalir di pipi Villian.
"Mengapa kamu membenci pria?"
Villian bertanya dengan hati hati.
"Kerana orang yang selalu mengenai kutukan adalah pria. Mereka bermain dengan wanita dan membuat mereka mengandung dan akhirnya di kutuk kerana mengkhianatinya. Mereka menambah pekerjaan ku."
Villian ternganga.
'Lah, kan memang kerja elu.'
Villian menutup mulutnya dan melihat sekeliling.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan membunuh ku?"
Naga pengawal kutukan itu menatap Villian dengan aneh.
"Apa kamu tidak takut mati?"
Soalan itu keluar.
"Aku sudah siap mati. Itulah mengapa aku akan menjalani 2 tahun ter- tidak, 4 tahun terakhir ini dengan sesuka hati ku."
Tidak ada ketakutan di mata Villian. Dia sudah siap mati. Dari awal dia siap.
Dia tidak pernah berpikir untuk terus hidup. Namun takdir memberikan dia peluang untuk hidup dengan menyerap kunci bencana.
Dia tidak pernah memiliki harapan untuk mendapatkan semua kunci bencana itu.
"Hnm.... Baiklah. Jawaban ku tidak. Aku tidak akan pernah menyakiti wanita. Jadi untuk menghilangkan kutukan itu adalah kunci bencana? Mari mencarinya. Juga kamu gadis yang menarik."
Villian memiliki perasaan yang tidak enak dengan wanita di depannya.
"Jadi, mengapa kamu membawa ku ke sarang mu? Kamu sendiri tidak tahu di mana itu."
Naga pengawal kutukan itu menyelak rambut hitam yang cantiknya.
"Kerana aku membenci pria. Di tempat ku selamat dari pria jenis apa pon itu. Tidak ada binatang jantan juga di sini."
Villian ternganga tidak percaya.
"Tidak! Aku ingin pulang! Aku tidak peduli tentang kutukan ini! Aku tidak ingin terisolasi di pulau ini! Aku ingin melakukan apa pon yang aku inginkan!"
Villian bangun dari sofa dan berjalan ke arah naga pengawal kutukan untuk menyuruhnya membawa dia pulang.
Tapi dia malah tersandung kakinya sendiri dan masuk ke pelukan naga pengawal kutukan itu.
"Pulang? Ke mana? Kerajaan makhluk gelap atau rumah mu?"
Villian terdiam sejenak.
"Apa kamu memeriksa latar belakang ku!?"
Naga pengawal kutukan itu memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Tidak. Informasi mu akan ku dapatkan setelah kamu menjadi seseorang dengan kutukan tidak alami. Jadi, jika kamu melarikan diri sekarang, aku tetap akan tahu kamu di mana."
Villian ternganga lagi.
"I, itu tidak adil! Kamu mengetahui segalanya tentang ku! Aku bahkan tidak tahu nama mu!"
Bibir naga pengawal kutukan itu mengukir senyuman.
"Nama ku Enma."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........................