I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 20



"Kemana kamu pergi seharian ini?"


Nada bicara Regis sangat dingin dan Villian hanya mengunci mulut nya.


"Aku tidak akan memakan mu. Kemana kamu pergi tampa mengatakan apa pon?"


Villian melirik Regis yang sepertinya sedikit lebih lembut dan membuka mulutnya.


"Itu dia! Dia yang mengacaukan rancangan kita untuk menangkap agen itu!"


"Hic!!!!"


Sekali lagi Villian menutup mulutnya.


'Mereka pasti werewolf yang menculik para elf!'


Villian bersembunyi di belakang Regis yang besar.


Bukan salahnya untuk membantu pria tampan yang terluka.


Cakar tajam dan besar Regis keluar membuat para werewolf itu langsung mundur.


"Apa yang terjadi?"


Villian bermain dengan jari jemari nya dan membuka mulut.


"Aku membantu seorang elf yang terluka kerana racun. Dia membawa ku ke kota utama elf untuk diinterogasi dan berjumpa dengan pohon dunia. Banyak elf remaja yang di culik dan di paksa menjadi elf gelap. Dan kerana aku membantunya, kumpulan itu mengejar ku."


Villian menerangkan secara singkat dan-


Swing! Struuk!


Villian menutup matanya saat cakar tajam Regis memotong tembok rumah itu.


"Lebih baik kamu pergi pada adik raja vampir saat ini. Itu akan lebih selamat dari bersama ku."


'Akan aku cari kumpulan itu hingga ke lubang kubur sekali pon!'


Villian bisa melihat wajah Regis yang terlihat sangat marah.


Dia hanya menganggukkan kepalanya.


Dia berpamitan dengan Millia dan Jihe. Millia menangis sambil memeluknya dan Jihe hanya mengeluh kerana merasa akan ada banyak kerja yang akan di lakukannya.


Di kamar Rosie.


Tuk, tuk.


Rosie mendengar ketukan di jendela dan melihatnya.


Dia tersenyun cerah saat melihat Villian.


Villian masuk ke kamar itu dan mula menceritakan pengalaman dirinya saat berada di kota.


Mata Rosie berbinar mendengar semua itu.


"Kakak, biarkan aku memanggil mu boss setelah ini!"


"Tidak, kakak sudah cukup."


Rosie bersemangat dan sepertinya tidak akan bisa tidur malam itu.


Walau vampir adalah makhluk malam, kebanyakannya tidur di malam hari kerana kerja di siang hari atau bahkan kerana mereka vampir kelas atas yang bisa berhadapan dengan matahari.


"Ah, bagaimana jika kamu pergi ke party para vampir malam ini? Kamu mungkin akan bertemu dengan teman teman mu."


Villian mengangguk setuju dengan itu.


"Lebih baik jika kamu jadi gadis yang anggun kali ini. kerana aku hanya punya pakaian wanita untuk party formal."


Villian hanya mengangguk lemah.


Villian bertukar menjadi vampir cewek dengan rambut merah sepanjang pinggang sama seperti rambut pinknya dan bermata merah yang sama saja dengan mata aslinya. Itu hanya seperti menukar warna mata dan rambut. Dia hanya memiliki taring sebagai vampir.


Villian memakai dress hitam dan merah darah paras lutut dengan banyak renda.


"Wau, tipikal pakaian vampir!"


Villian mengatakan itu dan menahan diri dari merobek dress itu.


Dia memakai seluar atas lutut pria dan kemeja pria di dalamnya.


"Ambil ini."


Rosie memberikan sabit mini yang hanya sebesar 10 cm.


"Apa ini?"


Rosie tersenyun penuh makna.


"Fufu. Vampir tidak bisa ke party formal tampa senjata mereka. Jika kamu menggunakan darah mu, sabit ini akan menjadi senjata yang bisa mencederakan orang."


Rosie mengatakan itu dan menusuk hujung jarinya dan sabit mini itu bertukar menjadi sabit berantai yang mengancam.


"Wau. Berapa lama itu akan bertahan?!"


Wajah Villian sangat bersemangat.


"Hingga kamu mengatakan kembali. Itu akan tetap menjadi sabit jika kamu tidak mengatakannya."


Mata Villian berbinar menatap sabit itu.


"Aku mau pedang!"


Rosie mengngguk dan menyerahkan pedang mini pada Villian.


Walau di dunia itu ada cincin penyimpanan ruang, Villian tidak memakainya. Itu kerana sangat menyebalkan berada di jarinya.


Jika itu gelang atau rantai, dia pasti akan menggunakan nya.


"Oh, Aku ingin memakai ini."


Villian mengambil sebuah kotak leper segi empat.


Rosie membukanya dan terkagum akan isinya.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Itu hadiah dari Regis, raja werewolf."


Rosie hanya bisa diam.


'Mari tidak ambil tahu tentang masaalah cintanya. Kakak, aku tak rasa kamu ada kesempatan jika kamu jatuh cinta dengan dia.'


Rosie merasa kakaknya tidak punya kesempatan sama sekali.


Rosie sengaja memberitahu Villian tentang kakak nya.


"Begitu? Kakak ku seorang yang lembut namun terlalu over protective. Seorang karismatik dan tak akan tunduk bahkan jika itu raja sekali pon jika itu tujuannya. Kakak ku seorang yang hebat."


Rosie merasa dirinya akan menghilang sebentar lagi.


"Kakak mu sangat hebat. Namun sikap over protective nya sebanding dengan kakak ku."


Villian yang Rosie mengangguk setuju.


.


.


.


.


.


.


Di party malam untuk vampir.


Villian hanya duduk di teras luar sambil melihat langit malam.


"Diamon, bintang di langit sangat indah. Aku berharap itu tidak akan hilang."


Villian memeluk sesuatu yang tidak terlihat. Tangannya bisa merasakan sisik yang seperti kaca namun hangat.


"Kamu juga jangan menghilang sebelum ku, ok? Hidup sampai ke umur 3000 tahun."


Diamon hanya mendengar kan sambil melihat langit.


Dun, dun, dun.....


Muzik untuk tarian mula di mainkan dan Villian pon berjalan masuk semula ke party.


Dia melihat ramai yang menari bersama. Dia tentu saja menolak semua ajakan dari vampir pria lain kerana mana bisa dia menari.


"Apa kamu baik baik saja?"


Seorang vampir pria tampan mendekatinya sambil memegang gelas vine.


"Ah, aku baik baik saja."


Villian hanya membalas seperti biasa.


"Apa kamu bencanda? Teruskan misi mu."


'Banjingan ini!!!"


Wajah Villian sangat merah. Dia tidak sedar yang vampir di depannya sedang menggunakan alat komunikasi subang para vampir.


'Mengapa alat komunikasi setiap ras berbeda ya, sial.'


Villian merasa malu kerana berbicara.


Pria itu yang menatap Villian memerah mula berbicara.


"Apa kamu baik baik saja? Wajah mu merah."


'Apa sekarang kamu berbicara dengan ku!?'


Villian ingin berteriak histeris kerana malu.


'Gadis ayu. Gadis ayu. Gadis- Ah persetan lah!'


Villian hilang sabar.


"Aku baik baik saja kamu berengsek! Wajah ku merah kerana aku malu! Aku pikir kamu berbicara dengan ku!"


Pang!


Satu tamparan yang kuat mengenai pipi vampir itu.


Villian mengembungkan pipinya dan berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.


"Sepatu tinggi sialan ini juga!"


Villian dengan ganas membuka sepatu tingginya dan berjalan dengan kaki ayam.


"Apa baru saja vampir kecil itu menampar raja?"


"Apa raja di tolak dengan teruk?"


"Siapa vampir kecil yang berani itu?"


Villian yang marah tambah malu tidak mendengar apa pon yang di gumamkan para vampir.


Vampir pria yang di tampar itu menyentuh pipinya.


"Itu sangat lemah. Dia......"


Villian berbaring di marmer lantai tertinggi di istana di mana tiada bumbungnya.


Dia tertidur dengan lelap sambil berdengkur lebih teruk dari pria.


Pria yang di tampar tadi berjalan mendekatinya.


"Seperti yang aku sangkakan. Kamu, manusia."


Villian dengan cepat berubah ke sosok aslinya sebagai manusia.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..............