
"Maaf, aku bersemangat."
Kurcaci itu mula berdiri dengan sopan.
"Maksud ku adalah, semua senjata di sini memilih penggunanya. Mereka memiliki jiwa pedang itu sendiri. Itulah makna dari senjata yang di tempa oleh kami para kurcaci!"
Kurcaci itu berbicara dengan nada bangga.
"Begitu. Bagaimana caranya untuk memilih mereka?"
Villian bertanya dan kurcaci itu tersenyum lebar.
"Kamu hanya perlu mengatakan jadilah milik ku."
'Semudah itu? Dunia fantasi benar benar aneh.'
Villian tersenyum kekok dan melihat pedang yang paling lusuh tadi.
"Apa kamu ingin aku menjadi tuan mu? Aku tidak memerintahkan mu, melainkan kamu memilih. Apa kamu ingin mengikuti ku?"
Pedang itu bergetar di tangan Villian.
-Aku hanya jiwa pedang yang lemah di banding yang lain. Kamu lebih baik memilih yang lebih baik dari ku.-
Villian bisa mendengar jiwa pedang itu memasuki kupingnya.
"Apa aku terlihat peduli tentang itu? Aku hanya memerlukan senjata yang bisa berada di samping ku. Bukan seperti aku akan turun ke medan perang."
Villian dengan jujur bahwa pedang itu akan menjadi perhiasan semata.
-Kamu tidak akan bertarung di medan perang?-
Jiwa itu bertanya dengan bingung.
"Tentu. Mengapa aku harus mengorbankan nyawa ku pada sesuatu yang tidak berguna saat aku akan mati."
Sekali lagi pedang itu bergetar.
-Apa maksud mu?-
"Aku memiliki souhell dan akan mencapai ajal ku dalam 2 tahun."
Elimental dan kurcaci itu bergetar mendengar perkataan Villian. Pedang itu diam untuk beberapa saat.
-Kamu akan mati dalam 2 tahun? Tapi mengapa kamu memiliki jiwa yang seperti api yang tidak akan padam?-
Villian mengangkat satu alisnya. Dia bingung dengan perkataan jiwa pedang itu.
"Apa maksud mu?"
Villian yang bingung hanya bisa bertanya tentang itu.
-Kamu memiliki jiwa seperti api yang membara. Itu bukan jiwa yang sepertinya sedih akan kematiannya.-
"Oh. Seperti itu. Aku tidak peduli tentang itu. Kerana aku akan mati, aku akan melakukan apa pon yang aku mau. Aku tidak memiliki keinginan untuk meneruskan hidup ini, tapi aku akan hidup untuk 2 tahun ini dengan baik."
Semua orang di sana hanya bisa diam.
-Baik, aku menerima mu sebagai tuan ku. Berikan nama mu, dan nama ku.-
Villian tersenyum lembut.
"Villian Tex Ajellan. Itu nama ku. Nama mu, Bruno."
-Terima kasih untuk nama ku.-
Pedang itu bersinar dan menjadi seperti pedang baru yang di tempa dengan baik.
"Pedang yang memiliki jiwa memiliki 3 bentuk. 1, hujud manusia, 2, pedang dan yang terakhir adalah perhiasan."
Villian mengangguk dan pedang itu berubah ke bentuk manusia.
Sosok pria dengan rambut silver separas pinggang, mata biru laut dengan baju ksatria zaman pertengahan berwarna putih.
'Duh, mata ku. Kenapa pria di dunia ini semua tampan!?'
Villian tidak bisa berkata apa apa pada penampilan Bruno yang tampan.
-Apa dia benar benar pedang yang lusuh itu!? Itu mustahil! Dia bagaikan langit dan bumi!-
'Itulah pikiran ku saat ini.'
Villian dan elimental kegelapan yang bersamanya memiliki pikiran yang sama.
"Tuan, apa penampilan ku mengecewakan mu?"
Villian menyentuh hidungnya kalau saja dia mimisan.
Untung saja dia tidak.
"Tidak, kamu, terlalu tampan. Walau teman ku juga tampan nya setingkat dengan mu. Eh.... Mata ku."
"Kamu benar, dia sangat tampan dengan wajah yang lembut."
Bahkan kurcaci itu menggaru belakang kepalanya melihat penampilan pedang itu.
"Baik, bagaimana dengan perhiasan? Aku hanya berharap itu bukan cincin."
Bruno mengangguk dan bertukar menjadi gelang. Itu gelang giok yang terlihat seperti barang antik.
"Aku tidak suka dengan penampilan gelang mu. kamu jadi gelang saja saat ini. Kamu mungkin di bunuh oleh teman teman ku jika mereka melihat penampilan kamu sebagai manusia."
Kurcaci itu menggelengkan kepalanya. Dia sepertinya tahu mengapa temannya akan membunuh jiwa pedang itu jika dalam sosok manusia.
"Apa kamu ingin mencuba satu lagi? Lagi pula semua senjata di sini menginginkan mu."
"Ah, bagaimana dengan bayarannya dulu."
Kurcaci itu mengangguk.
"Untuk pedang itu, 5 ratus ribu emas."
Villian dengan cepat mengeluarkan 5 tas uang yang seperti guni dari gelang kayu pemberian pohon dunia.
"Setiap tas memiliki 1 ratus ribu emas."
Villian melihat perisai yang kondisinya cukup bagus. Walau kelihatannya bahkan satu hayunan pedang, akan merosakkannya.
"Apa kamu ingin mengikuti ku?"
Perisai itu bergetar halus.
-Apa kamu benar benar akan mengambil ku. Tidak ada yang menginginkan perisai lemah seperti ku.-
Suara jiwa itu lembut dan halus. Sangat enak untuk di dengar.
"Aku hanya ingin perisai yang siap melindungi ku. Apa kamu ingin melindungi ku?"
Perisai itu bergetar seperti mengangguk.
-Aku ingin melindungi nona yang baik ini. Nona menyentuh kami semua tampa sedikit pon pandangan yang jijik.-
"Senjata lusuh dan usang bermaksud itu sudah berjasa untuk melindungi tuannya yang dulu. Tidak bisa mengejek mereka yang sudah berjuang. Kamu lihat saja pedang mini di pinggang ku ini, ini lusuh kerana sudah menyelamatkan ku."
Perisai itu bergetar seperti sangat kagum.
-Aku inginengikuti mu!-
Villian tersenyum.
"Villian Tex Ajellan. Nama mu, Estella."
-Aku akan melindungi mu, nona.-
Perisai itu bercahaya dan dari perisai yang lusuh menjadi seperti perisai suci. perisai itu mengapung di depannya.
"Ouh. Bagaimana penampilan manusia mu."
Villian kagum dan perisai itu bertukar menjadi wanita yang sangat cantik dan pipinya yang merona merah membuatnya sangat imut. Rambutnya yang berwarna light blue dan matanya yang berwarna silver membuatnya sangat mempesona. Dress nya yang seperti penyihir muda membuatnya terlihat sangat imut.
"Aku ragu kalau penglihatan ku akan baik baik saja."
Wanita itu dengan cepat berubah menjadi subang. Itu tidak memerlukan lubang subang di kuping untuk mengenekannya pada kuping. Itu secara ajaib terpasang di kuping.
Subang yang bersinar dan indah sangat sesuai dengan Villian.
"Baik, berapa yang ini?"
-2 ratus ribu saja.-
Villian memberikan 2 tas yang sama seperti tadi.
"Baik, mari pulang sebelum teman teman ku menggila."
Villian ingin pergi dan muncul kurcaci yang lebih besar dari kurcaci yang di toko itu.
"Apa yang berlaku."
"Ah, kakak. Ada pelanggan yang kaya juga di pilih semua senjata kita di sini. Bagaimana dengan misi kakak?"
Mendengar kata misi membuat Villian ingin cepat pergi dari sana.
Villian tunduk hormat pada kurcaci itu dan ingin pergi.
"Kamu berbau elf. Apa kamu mengenal beberapa elf?"
Bagaimana Villian bisa berbohong saat dia memiliki bau elf.
"Iya. Aku ada mengenal seorang. Tapi kami tidak kenal rapat. Apa kamu menyelidiki kasus penculikan elf juga?"
Villian hanya bertanya dan kurcaci itu menggelengkan kepalanya.
"Nama ku Wolfram dan adikku Willy. Apa kamu tahu apa apa tentang pencurikan senjata suci ras kurcaci? Kami mengira itu adalah perbuatan elf gelap kerana memiliki bau elf di tempat kejadian."
'Aku masuk ke masaalah lagi.'
Villian hanya tersenyum pasrah.
"Tidak, aku tidak mengetahui apa apa tentang itu. Apa kau tau?"
Villian bertanya pada elimental kegelapan dan dia menggeleng.
"Sepertinya tidak ada petunjuk. Kalian berdua tahu? Atau sesiapa dari kalian senjata suci?"
-Tidak. Tuan, aku tidak mengetahui itu.-
-Itu sama dengan ku, nona.-
-Gadis kecil, kami selalu di simpan di ruangan berbeda, jadi kami tidak tahu.-
-Aku tahu itu pasti elf gelap!-
Berbagai suara mencapai kuping Villian.
"Hah... Tidak ada yang tahu apa pon."
"Kamu, kamu bisa berbicara dengan senjata suci yang bahkan tidak terikat dengan mu?"
Villian memiringkan kepalanya bingung.
"Aku bisa mendengar nya jika aku mahu. Jika tidak, itu tidak terdengar."
Ke 2 kurcaci itu hanya bisa ternganga.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...............