
Setelah puas menangis, Villian kembali berdiri. Zillo mendekat dan menyerahkan saputangan pada Villian.
Villian hanya tersenyum dan mengambil saputangan itu dari Zillo tampa menyentuh tangannya.
"Terima kasih, putra mahkota."
Villian mengatakan itu tampa tunduk hormat.
Dia terlupa akan formalitas seorang bangsawan.
"Kau boleh panggil aku Zillo."
"Baik, Zillo. Zillo juga bisa memanggil ku Villian."
Dengan cepat Villian membalas kerana Villian tidak merasa memanggil nama bangsawan lain hanya dengan nama sesuatu yang istimewa.
'Dia memanggil nama orang lain dengan mudah.'
Senyum lembut terukir di bibir Zillo yang dingin itu.
'....!?
Zillo, kau tak gila kan? Bagaimana putra dingin seperti boneka pahatan ais tersenyum!?'
Wajah kaget Villian benar benar terlihat. Dia benar benar tidak percaya yang Zillo bisa tersenyum lembut alih alih menakutkan.
Tidak, dia seharusnya tidak bisa tersenyum dengan perasaan baik.
Itu kerana kutukan yang membuat semua emosi selain emosi negatif menghilang darinya.
"Zi, Zillo, kau tersenyum?"
Villian bahkan menggunakan bahasa informal pada putra mahkota.
Dia sangat kaget.
Zillo juga tidak menyadarinya dan menyentuh bibirnya yang naik. Dia tidak merasa sedang ingin membunuh seseorang.
Jantungnya berdetak dengan perlahan. Namun dia tidak takut.
"Kenapa aku rasa seperti aku takut?"
Zillo bergumam dan Villian yang mendengarnya memetik jarinya seperti mendapatkan ide.
"Zillo, apa kau sesenang itu aku panggil nama kau?"
Villian mendekatkan wajahnya ke wajah Zillo hingga hampir mengenai hidung Zillo.
Zillo tersentak dan melangkah mundur.
Jantungnya berdetak tak karuan.
Dia merasakan pipinya merasa panas.
"Mu, mungkin."
Hanya itu yang bisa di katakan Zillo saat dia merasa dirinya bukan dirinya.
'Apa kutukannya terlepas? Kalau iya, apa yang membuatkan kutukan itu menghilang?'
Kutukan Zillo tidak menghilang di cerita yang ku tulis dan dia hanya mendekati Villian kerana dia adalah tunang masa depannya.
Tanda kutukannya ada di tangan kirinya yang selalu dia sembunyikan dengan sarung tangan hitam.
Villian dengan tak tahu malu menarik tangan kiri Zillo dan membuka sarung tangannya.
"Vi, nona muda!"
Zillo menjadi malu ingin memanggil nama Villian.
Dia mencuba menghentikan Villian. Namun Villian lebih cepat.
Terlihat lingkaran dengan tengkorak kerbau bertanduk iblis berwarna hitam.
Namun itu memudar.
'Apa ini? Itu memudar.'
Villian menjauhkan dirinya dan lingkaran itu perlahan menjadi pekat.
'What the f*ck!!!?'
"Eh? Apa yang...."
Zillo hanya bisa bingung.
'Kehadiran Villian tidak menyembuhkan kutukan itu. Jadi kenapa itu memudar saat itu adalah aku? Ouh!'
Villian mendekati Zillo lagi dan lingkaran itu memudar.
"Apa kau selesa bersama aku?"
"Eh? Maksud nona muda?"
Zillo masih bingung.
"Nona muda? Panggil aku Villian."
"......"
Zillo hanya menggerakkan bibirnya seperti ingin merapalkan mantra.
"Vi, Vill, Villi.... Villian."
Wajah Zillo memerah seperti tomat. dia merasa dia seperti demam kerana panas.
Villian tersenyum mendengar namanya di sebut dengan sangat sukar seperti formula matematika.
"Apa beza aku dengan yang mulia kaisar?"
Villian bertanya dan lingkaran itu perlahan menjadi pekat dan wajah Zillo menjadi dingin seperti pria yang wajahnya merah seperti tomat tidak pernah ada.
"Itu menyebalkan."
Zillo bergumam dan dalam kepalanya terputar masa masa saat ia masih kecil di mana dia di paksa untuk merasakan semua perasaan yang dia tidak tahu bahkan hingga dia di cambuk. Rasa dia di paksa menelan racun supaya menjadi kebal racun.
Walau dia kebal, dia masih menerima efek kesakitan itu sampai dia membiasakan dirinya.
Rasa itu, sangat ia benci.
"Aku membencinya."
Kata itu keluar dengan mudah. Villian memegang tangan kiri Zillo.
Matanya yang dingin melihat warna yang sungguh indah. Itu tidak seperti warna merah yang keras dan menyeramkan dan bisa di bilang darah. Itu lembut dan menawan.
"Dan aku?"
Villian tersenyum. Mata dingin Zillo sedikit bergetar saat melihat senyuman itu.
Lingkaran di tangannya kembali memudar.
"Itu indah."
Kata yang tidak pernah ia ketahui maksudnya itu, keluar dari mulutnya.
Kata yang selalu di ucapkan semua orang. Dia tidak pernah memahami erti dari kata itu. Namun hari ini, dia mengatakan itu dengan mulutnya sendiri.
"Apa kau tau, aku benci warna pink. Warna yang lembut dan simbol kebahagiaan kadangkala. Aku lebih menyukai warna hitam yang keras namun bertahan paling lama. Warna saat semua warna di satukan. Warna pink tidak sesuai dengan aku yang selalu membawa masaalah."
Itu benar, yang dia dan Villian memiliki kesamaan.
Kemana pon mereka pergi, kekacauan pasti berlaku.
Namun jika Villian adalah kata baik, dirinya sendiri adalah kejahatan.
Mungkin itulah alasan dia sangat membenci Villian.
Villian melihat ke arah langit dengan mata yang terlihat sedih.
Rambut pinknya yang indah bertebangan di malam yang hanya di terangi kunang-kunang dan cahaya bulan.
Villian melihat Zillo dengan tatapan kaget. Dia tidak mengharapkan Zillo akan mengatakan itu.
Namun dia tersenyum setelahnya.
'Aku tak merasa bersalah akan kehidupan mereka yang aku ciptakan sampai saat ini. Namun sekurangnya, aku tak akan mengganggu mereka. Mari jalani hidup ini dengan sepuasnya.'
Villian kembali melihat ke arah bulan.
"2 tahun ini akan aku jalani dengan baik."
Villian bergumam tampa banyak fikir dan mata Zillo sekali lagi bergetar.
Dia menggigit bibir bawahnya dan memegang ke dua tangannya.
"Aku akan cari penawar untuk penyakit tu. Jadi, tolong bertahan untuk waktu yang lama."
Zillo mengatakan itu dan Villian hanya mengangguk lembut.
'Orang berdosa seperti aku di beri peluang untuk hidup 2 tahun lagi itu pon sudah sangat baik. Aku akan hidup sesuka ku.'
Villian tidak pernah berfikir untuk meneruskan hidupnya setelah 2 bulan. Bahkan hal terakhir yang dia fikir sebelum mati adalah setidaknya mendapat kuburan yang baik.
.
.
.
.
.
Mereka mula berjalan bersama kembali masuk ke istana.
'Besar gila nak mampus istana ni! Aku lelah hanya dengan berjalan dari taman ingin masuk!'
Villian mula kesal kerana dia lelah dan kakinya sakit kerana highthells yang di pakai.
'Sangat hebat aku bahkan bisa berjalan dengan kasud dari neraka ni.'
Villian ingin melempar kasud yang di pakainya dan berjalan dengan kaki ayam.
Namun dia tidak bisa kerana dia berada di istana.
"Villian, apa kau baik baik saja?"
"Tidak! Aku lelah dan kakiku sakit!"
Villian tampa sedar meninggikan suaranya sambil merungut akan kakinya yang sakit.
"Fttt.."
Zillo menahan tawanya dari keluar dan mengangkat Villian bride style.
Villian yang kaget langsung merangkul leher Zillo.
"Apa apaan?!"
"Kau kata kaki kau sakit."
Zillo tersenyum dan itu entah mengapa membuat Villian geram.
Dia adalah gadis berjiwa pria. Ini terasa seperti harga dirinya tercabar dari momen romantis.
Dia menahan diri untuk melepaskan 1 tonjokkan di wajah Zillo yang mulus.
Dan saat itu, Kaisar dan keluarganya keluar dari ruangan mereka hanya untuk terkaku.
"Ayah, kakak!"
Villian meninggikan suaranya senang kerana ada alasan untuk menolak Zillo menjauh.
Dia menolak Zillo dengan keras dan itu buat dia mungkin terjatuh.
Namun bukannya terjatuh, dia malah berdiri dengan baik dan tumitnya mengenai kaki Zillo tampa sedar.
'Aduh.......'
Zillo mengerang dari dalam dan wajahnya seperti biasa dingin.
"Ayah, kakak, kalian lama sekali."
Villian mengabaikan pandangan kaisar yang sepertinya ingin tahu apa yang terjadi dan menyapa keluarganya.
"Bagaimana keputusannya?"
"Kamu bisa ke luar dan mengajak siapa saja yang kamu mau."
Kakaknya membalas sambil mengusap kepala adiknya.
"Benarkah!? Aku ingin mengajak Gerlic!"
'Gerlic?'
Ayah dan kakaknya sama sama bingung dengan nama Gerlic. Villian tidak punya teman yang bernama Gerlic.
'Gerlic? lelaki?'
Sementara Zillo merasa ada yang tidak senang dalam hatinya.
"Ouh, dia pelukis yang hebat! Dia melukis diriku saat aku bermain di danau siang tadi."
'Pasti sangat bagus jika dia bisa melukis permandangan laut yang indah.'
Senyum bahagia terukir di bibir Villian yang ingin melihat dan mungkin membeli lukisan dari Gerlic.
"Nona muda, bisakah aku mengikuti perjalanan kamu?"
Zillo bertanya dan memegang tangan Villian dan mencium nya.
Kali ini itu terlihat tulus.
Tangan Villian terasa hangat untuk di sentuh Zillo.
"Tentu. Lebih ramai lebih meriah."
Villian dengan mudah terima saat kakaknya terlihat kurang senang.
Villian tidak ada niat untuk memberitahu kaisar tentang kutukan itu dan Zillo juga membenci kaisar.
Mungkin rahasia ini akan terbongkar saat kutukan itu benar benar terlepaskan.
.
.
.
.
.
"Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk keluar dari kerajaan ini!
Mari melihat dunia luar!"
'Jom kita cari garam!'
.
.
.
.
Bersambung...............