I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
EPISODE 22



"Baik lah, kalian pergi tidur sekarang. Ini sudah larut."


Villian dan Rosie menganggukkan kepala mereka.


'Aku tidak bisa meminta bantuan dia sekarang. Masaalah elf dan penculik itu lebih penting.'


"Oh, hei, Alen, bisakah aku keluar ke kota bersama Rosie? Dia terkurung di kamar sangat lama! Dia bahkan bertanya tentang kerajaannya pada ku! Apa kamu tidak punya hati."


Alen hanya memijat dahinya.


"Baiklah......"


Rosie tersenyum bersemangat.


Alen memunculkan sebuah guli merah.


"Dengan syarat kamu membawa ini."


Villian mengambil itu.


"Apa ini? Bukan pelacak kan?"


Alen menggeleng kan kepalanya.


"Ini berisi darah ku. Jika kalian dalam bahaya, pecah kan itu. hanya manusia dan diri ku yang bisa mencium bau darah ku. Jadi aku bisa melacak kalian saat itu."


"Jadi, baik Rosie yang membawanya."


Alen sekali lagi menggelengkan kepalanya.


"Rosie lemah terhadap darah dan akan menggila kerananya. Dia mungkin akan menerkam mu."


Villian menarik kembali tangannya yang terulur ke Rosie.


Dia memasukkan guli itu ke dalam sakunya tidak peduli.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


Alen melihat Villian dan adiknya pergi ke kota sebelum bergerak mencari teman temannya Villian.


Dia dengan mudah menemukan 1.


"Hari ini jika aku tidak menemukannya, akan aku balik kerajaan ini."


Alen yang ingin menyapa langsung terhenti.


Dia bisa mencium bau reptil dari pria itu.


'Baik jangan cari masaalah dengan naga.'


Alen berjalan pergi meninggalkan Eugine. Dia tidak ingin di pukuli jadi bubur hanya kerana dia menyapanya. Mana di sekelilingnya juga dalam tahap bahaya.


.


.


.


Alen bertemu dengan seorang lagi, tapi ragu untuk mendekatinya.


"Ouh, nona muda, di mana anda? Aku bersedia memasung kepala ku jika kita di izinkan bertemu lagi. Ambil saja kepala ku!"


'Lebih baik aku tidak menyapanya. Villian akan pensan jika dia mendengar ini.'


Sekali lagi Alen meninggalkan teman Villian.


.


.


.


'Apa pria itu baik baik saja?'


Alen melihat seorang pria yang kutukannya sudah sangat besar. Dia bahkan kagum bahwa pedang yang berada di tangannya hanya menikam tangan dengan kutukan sebesar itu.


"Villian, Jika ada yang menyakiti mu, aku akan membunuhnya tampa ragu. tolong kembali pada ku."


Alen melihat pria itu berlutut di tanah dan matanya mengalirkan air mata.


'Mari cari yang lain!'


Sekali lagi Alen pergi mencari teman Villian.


.


.


.


"331237, 331238, 331239, 331240."


(ps: anjir, susah banget jika kiranya dengan bener. 😂


Tiga ratus tiga puluh satu ribu, dua ratus tiga puluh tujuh.🙃)


Alen melihat seorang ahli nujum yang mengira prajurit monster kerangkanya hingga 300 ribu.


'Dia juga berteman dengan ahli nujum? Namun di lihat dari kekuatannya, dia pasti penerus yang hilang itu.'


Alen bisa mengatakan yang ahli nujum di depannya sangat kuat. Juga dia bisa melihat ratusan atau bahkan jutaan prajurit monster kerangka.


"400000. Nona, di mana anda? Saya siap meratakan kerajaan ini jika nona tidak ingin kembali pada ku. Hanya berada di samping ku, nona. Aku tidak mengharapkan lebih."


'Yap, mari pergi cari yang lain.'


Alen tersenyum pasrah dan pergi.


.


.


.


'Apa tidak ada temannya yang normal untuk di ajak bicara!?'


Saat itu dia mencium bau yang sama dengan ikatan yang ada di tangannya. pria itu berjalan dengan baik. Oura yang keluar dari dirinya tidak terlalu mencengkam seperti yang lain.


"Maaf, bisa kita berbicara."


Pen yang di modifikasi menjadi pisau berada di punggung pria itu.


"Siapa kamu?"


"Teman mu, Villian, Dia tinggal di rumah ku. Adik ku menyelamatkan dia saat jatuh sungai."


Wajah Gerlic masih dingin namun menarik pen pisau itu dan menyimpannya.


"Andai kamu menculiknya, aku tidak akan segan memenggal kepala mu."


Sekarang baru Alen merasakan tekanan membunuh yang sangat besar dari Gerlic.


'Apa apaan dengan semua teman mu ini?'


Alen hanya bisa tersenyum pasrah.


"Dia daat ini berkeliling kota bersama adik ku. Mari kembali ke istana dulu."


Gerlic mengangguk dan mengeluarkan bola kaca dengan batu mana.


"Hei, ada pria yang mengatakan Villian akan berada di istana tidak lama lagi."


Alen tersentak saat itu langsung di balas dengan suara dingin.


"Tunjukkan jalannya."


'Hei, aku raja!'


Alen hanya bisa pasrah menjadi penunjuk jalan.


.


.


.


.


.


Di depan istana.


Alen dan Gerlic yang terakhir tiba di sana.


Dan saat itu, mereka mencium bau darah.


"Itu bau darah ku! Villian bersama adik ku! Itu pertanda mereka dalam bahaya!"


Regis yang juga datang bingung saat melihat Alen berbicara sendiri membulat matanya mendengar itu.


Dia datang untuk melapor tentang kasus hilangnya elf.


Teman Villian yang lain langsung bergerak mengikuti bau darah itu.


.


.


.


.


.


.


.


Villian dan Rosie berjalan di kota dengan gembira.


Rosie seperti anak kecil yang baru melihat dunia.


Mereka membeli dress, pakaian pria lagi dan berbagai perhiasan. Hampir di rompak beberapa kali dan mencari masaalah seperti Villian.


Ya, itu adalah mereka pergi tersesat. Mereka sengaja memasuki jalan yang sunyi untuk uji nyali.


"Sekarang apa yang kita akan lakukan!?"


Rosie berteriak panik. Villian hanya menggeleng kepalanya pada Rosie yang panik.


Mereka memakai jubah hudy hitam dan topeng mata supaya tidak ada yang mengenal mereka.


Villian melihat elimental kegelapan yang kebetulan ada di sana.


"Mari tanya jalan ke elimental."


Rosie membulat matanya kaget.


"Kamu bisa berbicara dengan elimental?"


Villian mengangguk dan menarik tangan Rosie.


.


.


.


"Hei, tumpang tanya, bisakah kalian menunjukkan jalan?"


Elimental kegelapan itu kaget melihat Villian bisa berbicara dengan mereka.


-Apa kamu bisa mendengar kami!?-


Elimental itu berteriak sambil memegang pundak Villian. Villian menutup kupingnya kerana itu sangat kuat.


Elimental itu pasti dia bisa mendengar mereka.


-Tolong, selamatkan para elf! Mereka semua dalam bahaya! Selamatkan para elf!-


Wajah Villian kaku seketika. Dia lupa yang sekarang ada masaalah penculikan elf.


"Di mana mereka?"


'Aku tidak bisa membiarkan anak kecil di siksa.'


Villian tidak bisa menolak itu kerana korban adalah elf remaja atau bahkan lebih muda.


"Rosie, kamu tunggu saja di sini. Aku pergi menyelamatkan para elf."


"Apa!? Kamu bahkan lebih lemah dari ku! Jika kamu ingin ke sana, aku juga akan ikut. setidaknya aku bisa membuat kita tembus pandang."


Villian mengangguk dan menatap elimental kegelapan itu.


Elimental kegelapan itu mengangguk dan mereka mula tidak terlihat sambil mengikuti elimental kegelapan.


"Walau apa pon jadi, jangan bersuara."


Keringat mengalir di pipi Rosie dan dia gugup. Namun dia tetap mengangguk.


.


.


.


.


.


Di depan pintu masuk yang seperti lubang yang dalam sebesar 2 meter di bangunan tua.


Villian mengambil stoking dan memakainya pada sepatu. Itu supaya langkah kakinya tidak kedengaran.


Sesuatu menyengat hidungnya.


"Sebelum masuk, Rosie, janji dengan aku satu benda."


Rosie hanya menatap Villian dengan bingung.


"Apa pon yang kita lihat nanti, jangan pernah trauma untuk keluar melihat dunia."


Rosie menganggukkan kepalanya walau bingung. Rosie tidak bisa bau apapon kerana topeng yang di kenakan itu menyaring semua bau.


Villian mula melangkah masuk sedang Rosie melayang sambil memegang pundak Villian.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung................