
Villian bangun di pagi hari hanya untuk di kagetkan oleh elimental kegelapan.
"Kamu ngagetin aja! Hah.... Aku pergi mandi dulu. Setelah itu mari berbicara."
-Baik~-
Elimental kegelapan itu tidak merasa bersalah sedikit pon.
.
.
.
"Jadi, apa yang kamu temukan?"
Villian mengingat dia menyuruh elimental kegelapan untuk menyelidiki tentang elf gelap yang mencuri senjata suci.
-Aku tidak menemukan elf gelap itu. Namun aku mendengar ada jamuan untuk elf gelap tak lama lagi. Mungkin kamu bisa menyamar sebagai elf gelap dengan kehadiran ku.-
Villian memegang dagunya.
"Itu bermakna aku harus memakai pakaian elf kan. Aku harus memakai jubah putih yang akan menampakkan kaki kanan ku itu kan."
-.........-
Elimental kegelapan menutup mulutnya. Villian tidak menyukai dress apa lagi pakaian yang akan menampakkan tubuhnya.
-Kamu bisa berpura pura menjadi elf gelap pria. Jubah mereka lebih tertutup.-
"Hah....."
Villian hanya bisa menghela nafas mendengar itu.
"Di mana aku ingin menyembunyikan telinga ku?"
Villian bertanya dan elimental kegelapan itu menunjuk dirinya dengan bangga.
-Aku bisa merubah penampilan mu kerana aku elimental kegelapan. Juga menghilangkan keberadaan sesuatu adalah kepakaran elimental kegelapan.-
Villian mengangguk paham.
"Kapan itu?"
-Hari ini jam 12 siang.-
Villian mengangguk.
"Aku akan mengenakan jubah elf pria. tidak mungkin akan mengenakan jubah elf wanita yang terbuka itu."
Elimental kegelapan itu mengangguk dan berpikir dia akan pingsan jika Villian mahu memakai jubah itu.
.
.
.
.
.
Dengan cepat dia bersiap dan ingin pergi. Namun saat itu Diamon membuka matanya.
"Kakak, kemana kamu akan pergi?"
Villian tersenyum kekok.
"Pergi bersihkan dirimu jika kamu ingin ikut. Hanya kamu dan senjata suci ku yang ikut. Bagaimana? Kamu akan merahsiakan ini, ok?"
Diamon mengepakkan sayapnya gembira dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.
Setelah itu Villian pon bertolak. Kali ini Jihe yang memasuki kamar Villian untuk menghantar makanan.
"Baru aja sadar udah hilang manusianya. Aku aja yang makan. Dia akan baik baik saja sendiri."
Jihe memutuskan untuk menganggap kamar kosong itu tidak pernah ada.
Villian bersama Diamon dan senjata sucinya. Bagaimana seseorang yang membawa makhluk yang kuat itu akan apa apa?
.
.
.
.
.
"Jadi ini pintu masuknya?"
-Iya.-
Villian berjongkok untuk melihat lubang yang terlihat seperti perosotan namun tidak terlihat akhirnya.
Diamon dan senjata suci merasakan tekanan yang tidak menyenangkan dari dalam sana.
"Kakak, lubang ini memiliki energi yang tidak baik."
-Aku tidak menyarankan kamu masuk.-
-Aku juga. Namun jika kamu ingin masuk, aku akan melindungi mu.-
-Kakak, hati hati.-
Semua orang memperingatinya. Namun Villian sudah berpikir untuk memasuki lubang itu.
Diamon berpaut pada pundak Villian dan memasuki lubang yang terlihat seperti perosotan yang menyenangkan.
Tidak lama itu, dia jatuh di atas bantalan yang empuk.
"Tunjukkan elimental kegelapan mu dan kamu bisa masuk."
Mendengar kata penjaga itu, elimental kegelapan itu berdiri di depan Villian.
"Baik, kamu bisa masuk."
Villian bangun dan membenarkan rambutnya yang berantakan menghalangi pandangannya dan berjalan mengikuti elimental kegelapan.
Saat di depan pintu masuk, Diamon dan Estella merasakan tekanan yang sangat mengerikan hingga mereka menempatkan perisai tidak terlihat di sekeliling Villian jika terjadi sesuatu.
Ting.
Saat masuk, mata Villian tertuju pada kalung yang di lilit menjadi gelang di tangan yang terlihat mulus. Dan dia melihat daun semanggi yang sama persis milik Villian sebenar dalam mimpinya.
Villian membulat matanya dan ingin mengejar pemilik tangan itu. Namun dia malah di halangi beberapa elf dalam jalannya yang membuatnya kehilangan jejak pemilik tangan itu.
"Mengapa aku melihat kalung itu lagi."
Villian bingung namun menggelengkan kepalanya saat fokusnya menghilang kerana hal itu.
"Aku mungkin salah lihat."
Tiba tiba seseorang dengan jubah hitam naik ke atas panggung dan semua elf gelap melihat ke arahnya.
Mendengar itu Villian menjadi bingung. Dia berpikir itu kumpulan yang sama mencuri kunci dunia itu.
Lalu naik seseorang dengan jubah biru.
Diamon mengerutkan alisnya pada jubah biru itu seperti musuh alami.
Walau dia tidak mengetahuinya.
Villian juga merasakan tekanan itu. Tekanan yang di berikan jubah biru itu sama seperti penguasa yang membuat orang lain ingin tunduk dan berlutut di depannya.
Diamon mula menunjukkan taringnya secara naluriah walau tidak ada yang bisa merasakan keberadaannya. Dia merasa posisinya sebagai penguasa bisa terancam.
Semua elf dan elimental kegelapan menundukkan kepalanya. Kerana itu Villian tidak punya pilihan selain tunduk atau dia harus berhadapan dengan sosok misterius itu.
"Seperti yang pernah ku bilang, aku berencana mencuri kunci khazanah dunia. Namun sebelum itu di curi, seseorang melakukannya. Namun yang aneh, dia membiarkan kunci bencana langit yang paling mengerikan."
Sekali lagi Villian yang otaknya tidak begitu bagus di buat bingung.
"Aku merasakan kekuatan yang kuat di tempat kejadian. Itu di curi tampa sepengetahuan naga penjaga harta dunia. Aku tidak punya pilihan selain meracuninya saat ingin mengambil kunci tersisa."
Jubah biru itu berhenti seketika sebelum meneruskannya.
"Namun aku gagal mendapatkannya. Naga benar benar mengerikan. Tapi yang paling aneh, setelah itu, aku tidak lagi merasakan kekuatan pada kunci bencana langit. Seseorang menelan kekuatan kunci itu."
Villian menelan ludah saat mendengar itu.
'Tapi tidak ada perubahan pada tubuh ku.'
Juga bingung dalam masa yang sama.
"Aku merasa ada manusia di sini."
Jubah biru itu mengatakan itu dan berjalan turun dari panggung. Semua orang melihat sesama sendiri.
Dia selingkuh demi selangkah mendekati Villian.
Saat dia sudah di hadapan Villian, Villian menahan nafasnya.
"Kamu, kamu mencurigakan."
Villian mengembungkan pipinya sambil menahan nafas. Kebiasaan Villian saat gelisah, dia akan mengembungkan pipinya.
"Aku penyusup itu. Lepaskan elf gelap tidak bersalah itu."
Villian mendengar suara seorang wanita. Namun dia tidak berani memalingkan wajahnya saat ini. Dia bukan takut mati atau pada tekanan itu. Namun dia memikirkan semua elf gelap yang tercampur dalam jamuan ini. Mereka semua masih sangat muda jika mati kerana dampak daei pertarungan mereka.
"Aku tahu kamu elf gelap. Baik kamu tutup mulut mu."
Elf gelap yang mencuba membantu Villian hanya bisa mengunci mulutnya semula.
Tangan jubah biru itu ingin mencekik Villian. Namun tangan kecil menghentikannya.
"Diamon?"
Villian kaget melihat Diamon menjadi manusia.
"Berani kamu menyentuh pengasuh ku?"
Jubah biru itu tersenyum seperti menikmati saat itu.
"Naga penguasa langit? Bukan ke kamu juga adalah makhluk yang di jauhi sama seperti kami? Kamu seharusnya memihak pada kami."
"Memihak? Heh. Alasan aku masih hidup saat ini kerana pengasuh ku ini. Apa kamu berhak mengatakan itu saat kamu ingin menyakiti alasan diriku masih hidup? Jika kakak ku mati, akan aku ratakan seluruh dunia ini."
Villian menganga mendengar itu.
"Diamon, itu terlalu extrime."
Diamon melihat Villian seketika.
"Aku akan meratakan setengah dunia."
'Itu bukan yang aku maksud.'
Swing....
Tebasan pedang mengarah ke tengah tempat antara Diamon dan jubah biru itu.
Seseorang dengan jubah hitam masuk ke tengah kawasan yang terbuka saat dia melayangkan serangan.
"Berani kamu mengancam dirinya saat aku mencuba segalanya."
Jubah hitam itu memakai topeng yang memiliki sihir pengubah suara. Suaranya menjadi garau. Jadi tidak tahu apakah dia wanita atau pria.
Dari tangan, dia terlihat seperti wanita. Namun dari cara dia berpedang, itu terlihat seperti pria. Namun tangannya juga di tutupi sarung tangan hitam yang membuatnya tidak tahu dengan pasti kelamin jubah hitam itu.
"A, apa aku mengenal mu?"
'Apa dia orang yang Villian cuba bantu itu?'
Villian sedikit berharap. Namun mengingat dirinya bukan Villian asli, dia sedikit kecewa kalau itu memang cinta sejati Villian sebenar.
Jubah hitam itu menoleh ke arah Villian dan berbisik.
"Lupakan saja tentang diri ku."
Seperti Villian di cuci otaknya, dia langsung tertidur.
"Apa yang kamu lakukan!?"
Diamon berteriak marah.
"Mengetahui siapa diriku hanya akan membuat dirinya sedih atau putus asa. Bawa dia keluar. Dia sangat penting buat ku. Bawa dia keluar."
Jubah hitam itu mengatakan dengan lembut walau suaranya kasar kerana sihir pengubah suara.
Mendengar itu, Diamon melihat Villian yang tertidur. Dia mengingat wajah Villian yang sepertinya agak berharap dan sedikit putus asa.
Diamon menutup matanya yang indah itu seketika dan menggunakan sihir pengapungan pada Villian dan berubah semula menjadi naga dan pergi dari situ.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyerang dia."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...................
Hai pembaca..... Hari ni aku jatuh tangga. Haha. cukup sakit setelah lama tidak jatuh 😂
Maaf jika ada typo. Malasnya gak ketulungan.