
Villian melepaskan pelukan Enma dan pipinya mengembung.
"Apa benda benang putih dan benang merah atau hitam."
Villian bingung dari A~Z. Dia yang bodoh tidak bisa memahaminya dalam sekali jalan.
"Benang putih adalah benang seseorang yang layak bersama orang yang ia cintai. Tidak peduli orang itu sudah memiliki benang merah atau tidak. Tapi selalunya, benang putih akan bersama dengan orang yang juga benangnya putih."
Villian mengangguk paham.
"Benang merah kamu pasti tahu kan. Itu adalah basit dari keberuntungan, kesialan, takdir dan akhirnya pasangan hidup."
Yang itu Villian tahu. Masa tidak tau saat benang merah di jadikan komik dalam banyak cerita.
"Dan benang hitam adalah saat kamu memiliki kutukan. Selalunya benang hitam akan putus dengan mudah kerana kutukannya. Namun benang hitam juga merujuk jika pasangan mu akan menjadi ras yang berbeda dari diri mu."
Villian mengangguk paham.
"Jadi, benang ku berwarna apa sekarang? Aku bingung dengan pembicaraan mereka."
Enma menghela nafas dan mengangkat tangannya seperti memegang sesuatu.
"Milik mu sangat, sangat unik dan aneh. Itu seperti 3 benang berlainan warna di gulung bersama. Itulah mengapa sangat aneh kasus kamu ini. Ok, ke permasalahan sebenarnya. Siapa yang memberikan mu kutukan?"
Villian memegang dagunya dan berpikir sejenak.
"Aku tidak tahu. Tapi aku memanggilnya dengan pengkhianat. Rambut merah dan mata merah yang mengerikan."
Mulut Enma ternganga.
'Apa yang anak ini punya hingga pengkhianat mengutuknya?'
Lingkaran taliportasi muncul dan jubah biru keluar dari sana. Enma kaget dan mengangkat tangannya untuk melindungi Villian.
"Berikan anak itu."
Jubah biru mengatakan itu dan Enma menolak dengan menggunakan mananya membuat pelindung di sekeliling Villian.
Lingkaran taliportasi muncul lagi dan muncul jubah hitam dengan gelang semanggi.
"Siapa kalian!? Ah! Pengkhianat! Aku tidak tahu kalian pria atau wanita! Sial!"
Enma tidak akan menyakiti wanita. Dia sangat menyukai keberadaan wanita hingga dia tidak bisa melukainya. Dan itu alasan dia sangat membenci pria lagi lagi pria yang suka bermain dengan wanita.
"Aku wanita."
Jubah biru mengatakan itu dan menurunkan penutup kepalanya. Villian membulat matanya melihat wajah itu.
"Kamu putri duyung waktu itu!"
[Periksa episode 9.]
Villian tidak mungkin melupakan wajah indah yang di terangi sinaran rembulan.
Rambut panjang berwarna biru dan mata yang juga biru sangat indah. Namun kukunya yang berwarna merah sangat mengerikan. Itu terlihat seperti pisau yang berlumuran darah.
"Ah, sialan! Mengapa banyak pula wanita sekarang!?"
Jubah hitam itu tidak menunjukkan dia wanita atau pria. Juga tidak menyerang naga yang pelit itu. Dia menyerang putri duyung yang mencoba menyakiti Villian.
"Sialan! Kamu siapa sih!? Selalu saja menghalangi jalan kami!"
Putri duyung itu berteriak marah. Namun jubah hitam itu tidak menjawab.
"Di mana ketua kalian? Aku akan menghancurkan nya."
Putri duyung itu tersentak mendengar jubah hitam itu mengatakan ketua.
"A, akulah ketuanya! Kamu tidak tahu apa apa diam saja!"
Putri duyung itu mengalirkan keringat sambil berteriak seperti sangat marah di rendahkan.
"Tidak perlu menutupinya lagi. Aku tahu siapa ketua kalian. Mana Wanita tua sialan itu?"
Walau suara jubah hitam itu di ubah dengan peralatan sihir, suara dingin seperti sangat membenci ketua mereka bisa di dengar.
Putri duyung itu menggigit bibirnya dan menyerang penghalang tempat Villian berada.
Namun jubah hitam itu menggunakan mananya membuat perisai lainnya.
"Kamu ini siapa!? Bagaimana kamu bisa menggunakan sihir, pedang dan kekuatan alam sekaligus!? Apa yang kamu lakukan!?"
Putri duyung yang selalu terlihat kalem sekarang berteriak gelisah.
"Kamu akan mati jika tidak membawa gadis ini bersama mu bukan? Wanita tua itu selalu seperti itu. Tidak akan ku biarkan kamu mengambil benda itu."
Putri duyung itu menggertak giginya kesal.
"Kamu bahkan tahu apa yang di bawa gadis itu!? Apa kamu datang dari masa depan atau semacamnya!?"
Putri duyung itu benar benar buntu dengan jubah hitam itu.
"Kamu hampir benar."
Jubah hitam itu menggunakan aura merahnya dan melempar putri duyung itu keluar.
Millia dan Jihe yang sedang berjalan jalan mencari goa mendengar ledakan itu dan putri duyung itu terhempas tepat di depan mereka.
Jihe memeluk Millia dan alisnya berkerut. Dia mengeluarkan pedang dari tulang dan setelah debu menghilang, mereka bisa melihat jubah biru dan sosok yang indah sedang mengenakan jubah itu.
"Kamu!!!"
Jihe berteriak mengenal jubah biru itu.
Jubah hitam datang dengan cepat dan menghantam putri duyung dengan pedangnya.
Tanah di kaki putri duyung itu retak dan pecah menjadi mangkuk saat dia menahan tekanan tebasan pedang jubah hitam itu dengan kukunya.
Dia harus membunuh lebih dari 10 ribu makhluk hidup untuk mendapatkan kekuatan yang besar. Seberapa banyak yang jubah hitam itu bunuh untuk mendapatkan kekuatan sebesar ini.
Dia mencakar udara dan cakaran itu seperti pisau terbang yang sangat tajam.
Jubah hitam itu dengan mudah menangkis pisau yang bahkan bisa memotong batu yang sekeras besi.
Jihe membuat perisai dari tulang sambil terus memeluk Millia dengan erat.
'Ini kah kekuatan pengkhianat? Ini gila!? Bagaimana untuk bertarung dengan mereka?'
Millia kuat di antara para ahli nujum. Namun dia lemah terhadap serangan yang bukan tulang. Dia menutup mata dan telinganya.
Jihe memeluk erat Millia dan mengukuhkan perisai tulangnya lagi.
Enma yang melihat teman Villian mentaliportasi mereka ke sarangnya. Mereka bisa terbunuh hanya kerana tekanan itu.
Mereka berdua kaget melihat ruangan yang di penuhi emas dan permata.
Millia melihat Villian yang baik baik saja mengecek apakah dia terluka.
Dia menghela nafas lega dan Jihe menggelengkan kepalanya.
"Nona naga, apa itu baik baik saja?"
Jihe bertanya pada Enma sambil menunjuk kawasan yang rusak diakibatkan pertarungan mereka.
"Apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak memukul wanita dan yang satu lagi aku tidak tahu identitas nya. Bagaimana jika dia wanita?"
Jihe menganga mendengar jawaban yang membuatnya ingin memukul naga itu.
Villian menatap jubah hitam itu dan merasa kepalanya sakit. Dia mengingat kejadian di mana dia berpura pura menjadi elf gelap.
"Itu orang yang sama."
Kepalanya pusing dan dia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari pintu goa yang berada di tengah gunung itu.
Yang lain yang fokus dengan pertempuran tidak sadar Villian yang hilang keseimbangan.
Jubah hitam itu tersentak dan melihat ke tempat Villian.
Villian menutup matanya saat dia ingin jatuh. Namun dia tidak merasakan sakit dan membuka matanya.
Dia bertemu dengan mata merah yang indah sambil melihatnya dengan lembut.
'Aku seperti pernah melihat mata itu. Tapi di mana?'
Villian terpaku pada mata merah itu.
Dia melihat gelang daun semanggi di tangannya. Itu sama persis dengan kalung milik Villian. Hanya di modifikasi menjadi gelang.
"Apa kamu pasangan tubuh ini?"
Villian tampa sadar bertanya dan mata merah yang indah itu tertutup dengan lembut dan mendirikannya di pintu goa.
"Selagi kamu bahagia, itu cukup untuk ku. Kamu tidak perlu memikirkan diri ku. Aku hanya pengkhianat yang sudah tidak memiliki takdir dengan siapa pon di dunia ini."
Suaranya di ubah dengan peralatan sihir. Namun suaranya tidak memiliki kesedihan di dalamnya dan melihat Villian yang sihat dari hujung rambut hingga hujung kaki membuatnya mengangguk lembut dan kembali menghantam si putri duyung itu.
Villian tidak bisa mengingat dari mana dia melihat mata itu. Namun dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari jubah hitam itu.
"Siapa kamu?"
Villian merasa seperti mereka tidak asing dan mereka memiliki hubungan yang tidak bisa dia katakan hubungan apa itu.
'Kakak, aku ingin membantu seseorang. Namun aku tidak bisa mencapai nya.'
Villian mengingat kata itu keluar dari mulut Villian sebenar pada kakaknya.
Dia mengingat yang jubah hitam itu mengatakan pengkhianat dan sama seperti jubah hitam yang ia temukan di toko peramal itu.
'Pemilik tubuh ini sudah melawan takdir dunia dan menjadi seperti makhluk seperti naga penguasa langit. Benang merahnya sudah lama hilang dari dunia ini.'
Tubuh Villian dan Villian sebenar sudah tidak terikat lagi seperti dia menghilang dari dunia itu.
Itu sama seperti naga penguasa langit yang benang takdir nya menghilang dari dunia ini.
'Tidak akan ku biarkan kamu mengambil benda itu.'
Dia mengingat apa yang jubah hitam itu katakan.
'Benda apa yang aku bawa saat Villian sebenar sudah tidak terikat pada ku? Apa yang ada dalam badan Villian ini?'
Semakin Villian memikirkannya, semakin buntu dia menjadi.
'Apa dia seseorang yang menjadi pengkhianat untuk Villian? Dia memiliki kalung daun semanggi yang sama sepertinya. Apa mereka couple kerana memiliki barang yang sama? Jadi mana punya ku? Apa yang putri duyung itu bicarakan benar? Dia dari masa depan jadi dia membawa kalung Villian yang seharusnya dia dapatkan di masa depan yang jauh? Ahhhh..... Otak ku!'
Villian menggaru kepalanya kasar hingga rambutnya berantakan kerana bingung. Kepalanya serasa mengeluarkan asap.
Dia menghela nafas panjang dan melihat jubah hitam itu bertarung untuk melindunginya. Dia merasa bersalah kerana dia bukan Villian yang asli yang ingin dia lindungi.
'Yang terpenting, apa yang ada dalam tubuh ini yang mereka inginkan? Ginjal? Jantung? Oi, ini bukan dunia kau jual benda tu.'
Villian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Tiba tiba otaknya di penuhi sebuah gambaran di mana kehancuran seluruh dunia.
Dia berlutut dan matanya membulat ketakutan. Dia memegang bahagian tengah dadanya dengan kuat dan nafasnya menjadi berat.
Seseorang dengan jubah putih dan sayap malaikat di punggungnya menunjuk dirinya.
Cahaya putih yang terang mengakhiri kehancuran itu.
Dunia itu kembali damai. Namun mengambil masa 100 ribu tahun untuk mengembalikan dunia ke keadaan asalnya.
"A, apa apaan ini!? Jangan meledakkan otak ku! Tolonglah!"
Villian yang berteriak kesal membuat semua perhatian ke arahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.............................