
Di tempat para ahli nujum nongkrong.
Villian mendekati mereka dengan pakaian biasa. Baju t-shirt putih dan seluar jin.
Dia jugamengenakan sarung tangan tampa jari.
"Bisakah aku bertanya, apakah kalian di sisi jubah biru?"
Villian secara terbuka bertanya tentang itu.
Para ahli nujum itu melihat Villian dengan dingin.
"Kamu pasti ingin membuat kami ke pihak raja ahli nujum. Kami tidak tertarik!"
Villian menatap mereka dengan tajam. Kakinya naik dan menendang meja mereka hingga terbalik.
"Aku tidak sebaik raja ahli nujum saat berdiskusi. Aku tidak suka pada mereka yang meninggikan suara mereka pada ku."
Lucard menelan ludah saat melihat Villian yang berbeda. Villian di matanya selalu membuat kekacauan dan bermalas malasan.
Villian menarik kerah seorang dari ahli nujum itu.
"Apa yang di tawarkan jubah biru pada kalian? Uang? Ketenaran? Atau kebebasan?"
Villian mengatakan tawaran terakhir dengan nada mengejek.
"Ya benar! Dia menawarkan kebebasan bagi kami! Kami bahkan tidak bisa berjalan di luar tampa rasa takut! Bagaimana mungkin kamu akan paham!"
Pang!
Villian menampar ahli nujum itu.
"Aku sudah bilang aku tidak suka seseorang berteriak pada ku."
Villian menatap dingin ahli nujum itu tampa simpatik apapon.
'Nona sangat berbeda!'
Lucard merasa tertekan dengan perubahan itu. Villian yang dia kenal adalah Villian yang akan tersenyum dan tidak peduli tentang ras apapon setelah mereka menjadi temannya.
"Kamu...... Kamu tidak akan paham...."
Ahli nujum itu tetap pada pendiriannya.
"Aku tidak akan Bersimpati hanya kerana itu. Kalian buta akan kata kata indah seperti itu. Kebebasan?"
Villian melepaskan kerah ahli nujum itu.
"Apa kalian tidak bebas saat ini? Lihatlah, kota yang terbentang luas dan kalian bisa berjalan ke mana saja. Apa kalian bahkan tahu apa itu erti kebebasan?"
Villian membentangkan tangannya seperti menunjuk seluruh kerajaan itu.
"Bebas bukan berarti kamu harus di akui semua ras. Bebas berarti kamu bisa melakukan apa yang kamu mau. Kamu bebas makan atau tidur bukan? Apa kamu tahu bagaimana rasanya di penjara beneran?"
Villian mendekat lagi dan meletakkan kakinya atas meja yang jatuh.
"Mereka hanya di beri makan apa yang ada dan tidak bisa tidur malam kerana kesakitan atas hukuman yang di terima. Apa kalian ingin merasakan hidup penjara itu?"
Semua ahli nujum menelah ludahnya.
"Jujur bicara, kerajaan makhluk gelap ini adalah kerajaan yang sangat harmonis. Mereka menerima semua ras tidak peduli makhluk gelap atau tidak. Aku malu dengan kerajaan ku yang melebihkan bangsawan dari rakyat biasa. Aku menyukai kerajaan ini. Mengapa warga kerajaan sendiri ingin membuang kerajaan seindah ini?"
Villian mengeluarkan beberapa uang dari gelang kayunya dan melempar pada mereka.
"Aku tidak peduli siapa yang kalian ikuti. Ambil uang itu sebagai kompensasi meja ini."
Villian mengangkat kaki dan berjalan pergi bersama Lucard.
'Kerajaan yang indah dan harmonis.'
Kata kata Villian melekat di benak mereka.
'Aku menyukai kerajaan ini.'
Mereka tergiur dengan kebebasan yang di ucapkan jubah biru. Namun, mereka lupa tentang tanah air mereka. Mereka tidak pernah di sakiti di kerajaan itu.
"Ouh, jika kalian bertukar pikiran untuk mengkhianati jubah biru, datang ke dewan utama kerajaan ini."
Villian mengatakan itu dan berjalan lebih cepat.
Ahli nujum di sana memandang sesama sendiri dan mengangguk.
.
.
.
.
.
Petang itu, Villian datang ke dewan utama bersama Lucard, Millia dan Jihe.
Villian berjalan masuk dan duduk di kursi seperti seorang raja.
Manakala ahli nujum yang datang bersamanya menganga. Dewan itu di penuhi dengan ahli nujum yang bersikeras tidak mengikuti mereka.
"Jadi, kalian sudah memutuskan untuk mengikuti jejak raja ahli nujum?"
Villian bertanya dengan santai.
"Kami akan mengikuti raja ahli nujum kerana kami mencintai kerajaan ini. Juga kerana raja ahli nujum mengikuti mu."
Seorang ahli nujum dari keluarga besar angkat bicara.
Villian tersenyum pada mereka.
"Lucard, apa kamu mengikuti ku?"
Lucard dengan cepat mengangguk dengan semangat.
"Raja ahli nujum adalah Lucard. Penolong kanan adalah Jihe dan penolong kiri adalah Millia. Mereka adalah raja dan para menteri. Jika kalian tidak puas dengan ini, kalian bisa pergi."
Millia kaget dengan itu. Dia tidak kuat seperti Jihe dan Lucard. Namun semua orang langsung berlutut dengan satu kaki seperti menerima titah raja.
"Umur panjang pemimpin ahli nujum!"
Dengan begitu, Villian bangun dari kursinya.
"Berikan mereka lencana itu."
Lucard, Millia dan Jihe mengangguk.
"Dengan adanya lencana ini pada kalian, kalian adalah sekutu ku! Jika ada yang berkhianat, lencana emas ini akan cair! Ambil ini dan simpanlah!"
Villian mengatakan itu dan keluar. Lencana itu sudah memiliki nama di atasnya. Jadi, itu tidak bisa di palsukan saat pengecekan lencana.
Namun tidak ada yang tahu itu selain teman Villian yang lain.
.
.
.
Tiba di tempat tinggal Villian, dia menghela nafas dan duduk di kursi meja makan.
"Ahh..... Melelahkan..... Aku mahu makan!"
Mereka yang melihat Villian dari alat komunikasi video menggelengkan kepala mereka.
Aura penguasa Villian menghilang dan sekarang hanya tersisa Villian sebagai seorang pemalas.
Zillo membawa makanan dan Villian dengan cepat memasukkan itu ke dalam mulutnya.
"Esok kamu akan pergi pada werewolf pula?"
Gerlic bertanya sambil membersihkan belatinya.
"Iya. Tapi mengingat kejadian terakhir, aku akan membawa Eugine bersama ku. Zillo, kamu juga ikut."
Gerlic menatap Villian dengan tatapan bertanya.
Zillo sudah senang dengan itu.
"Werewolf sebenarnya adalah makhluk dengan resistensi sihir yang kuat. Hal yang di takuti werewolf adalah kutukan. Akan bagus memiliki Zillo dengan kutukan di tangannya juga bisa menggunakannya pada pedang untuk menghadapi werewolf."
Gerlic mengangguk paham. Kutukan Zillo semakin kuat saat berjauhan dari Villian. Namun dia bisa mengendalikan kutukan itu sebagai senjata saat dia mahu.
Gerlic hanya bisa melihat Zillo yang senang hingga kutukan di tangannya hampir tidak terlihat. Padahal sepanjang hari, kutukan itu seperti ingin memakannya.
"Tapi ini benar benar membalik keadaan. Semua ahli nujum yang tidak berkaitan dengan jubah biru mengikuti kita sekarang."
Gerlic mengatakan itu sambil melihat semua ahli nujum itu.
"Kerana itu, Gerlic, sebagai seseorang dengan spesialis pembunuhan dan sembunyi sembunyi, singkirkan kecoak yang ada di sana. Jika kamu mau. Jika tidak, aku akan menyuruh Alen saja."
Gerlic menggelengkan kepalanya mendengar itu.
"Itu pemikiran yang sama dengan milik ku. Akan aku singkirkan kecoak yang menjijikkan itu."
Gerlic tersenyum pada Villian yang bahkan tidak peduli saat tahu dia adalah mantan pembunuh bayaran.
'Setelah itu, aku akan membuat karya seni dengan darah kecoak itu. Ini sangat menyenangkan untuk menyingkirkan kecoak untuk Villian tercinta ku.'
.
.
.
.
.
.
Bersambung..................
Nulho: Duh...... Gerlic yandere anj*ng. Psikopat lagi.
Maaf typo malas mahu cek.