
Villian memandang naga yang sangat indah itu tampa menjawapnya.
"Itu tidak penting untuk menerima jawaban seperti itu."
Naga kristal kaca itu menundukkan kepalanya.
"Mengapa kamu bertanya soalan yang seharusnya kamu putuskan sendiri?"
Naga kristal kaca itu kembali melihat ke arah Villian.
"Apa kamu penting atau tidak itu terserah kamu. Hidup ini milik mu. Aku merasa diriku sampah, ada masaalah? Aku yang menentukan siapa diri aku. Aku tidak berhak menentukan kehidupan yang akan kamu lalui."
Villian dengan mudah berkomentar dengan pedas pada naga kristal kaca itu.
"Namun ada 1 hal yang aku ingin kamu tahu."
Naga itu melihat senyuman lembut pada wajah Villian yang cantik.
"Tidak ada makhluk di dunia ini membenci bintang. Bahkan aku menyukainya."
Mulut naga itu sedikit terbuka mendengar itu.
"Apa tidak apa apa aku terlahir? Keturunan terdahulu mencuba menghancurkan dunia dan membawa dunia dalam kekacauan. Naga penguasa langit akan terlahir dengan sifat penguasa kejam. Aku belum terlahir, itu sebabnya aku ragu."
Sekali lagi Villian memutar matanya dengan malas.
"Siapa peduli? Kamu adalah penguasa langit pada akhirnya. Kamu adalah raja. Kamu bebas melakukan apa pon. Namun ingat, setiap tindakan akan membawa kamu ke arah yang berbeda. Apa kamu ingin berakhir sama seperti keturunan sebelum ni?"
Naga kristal kaca itu menggelengkan kepalanya.
"Jadi buatlah tindakan pertama kau."
Naga kristal kaca itu menatap langit dan tersenyum memandang ke arah Villian.
"Berikan aku nama."
Villian menatap naga kristal kaca itu dengan bingung.
"Apa tidak ada yang akan berikan kamu nama?"
Naga itu menggelengkan kepalanya.
"Pohon dunia lah yang memberikan nama pada semua naga yang ada di dunia ni. Kerana naga penguasa langit takdirnya sudah hilang dari dunia ini, mereka tidak lagi ada nama."
'Jadi ada pohon dunia.'
Villian melihat naga yang bentuk badannya seperti permata yang mengkilat.
"Diamon."
Villian mengatakan diamond, namun kerana sebutan 'd' di hujungnya menghilang hanya menyisakan diamon.
"Itu bermakna berlian."
Villian mengatakan itu dengan senyuman lembut di wajahnya.
Naga kristal kaca itu tersenyum.
.
.
.
.
.
"Kenapa aku selalu berjumpa makhluk di benci dunia ini?"
Villian yang membuka matanya hanya bisa mengeluh. Kemudian dia melihat berlian beberapa cm lebih besar dari bola sepak.
Krack.
Berlian itu semakin retak dan akhirnya berlian itu hancur.
Naga seperti kristal kaca muncul dari sana.
Dia berjalan mendekati Villian dan membungsungkan dadanya mengatakan dia adalah penguasa.
Namun itu terlihat lucu kerana dia masih kecil, lebih kecil dari yang terlihat di mimpinya.
"Fttt.... Hai, Diamon."
Villian tersenyum dengan sangat indah hingga Naga kecil di depannya terdiam kaku.
"Mari kita berteman mulai sekarang."
Villian mengatakan itu dan mengangkat Diamon dan membaringkan dirinya ke kasur.
"Diamon, kamu akan membesar menjadi sosok yang sangat hebat, penguasa langit. Aku tidak sabar melihatnya."
Villian mengatakan itu dan melihat ke arah langit.
Seperti menyambut kelahiran tuan penguasa yang baru, bintang mula muncul satu persatu dan bersinar terang.
'Kenapa aku rasa seperti bintang tunduk hormat pada aku?'
Perasaan Villian tidak salah. Mereka semua tunduk hormat pada pengasuh penguasa baru.
"Diamon, para bawahan mu dengan setia menunggu dirimu. Ini kamu mengatakan kamu perlu lahir atau tidak? Benar benar omong kosong."
Villian melihat ke arah Diamon yang melihatnya dengan tatapan bingung.
Diamon yang baru lahir tidak bisa berbicara.
"Sudah, pergi tidur."
Villian mengatakan itu dan Diamon langsung menutup matanya.
Keesokan harinya.
'Punya aku mencari ke mana mana telur naga penguasa langit, dia ada di kawasan ku.'
"Villian, naga penguasa langit adalah naga yang merbahaya."
Eugine memperingatkan Villian. Villian melihat Eugine dengan tatapan tajam.
"Dosa keturunan nya yang dulu bukan dosa Diamon. Bagaimana kalian bisa menyalahkan anak kecil yang bahkan baru lahir?"
Tatapan Villian benar benar terlihat dingin saat itu.
"Tidak, tentu tidak. Namun semua penguasa langit lahir dengan keinginan menguasai."
"Bukan masaalah ku dia lahir seperti apa. Dia meminta bantuan ku dan aku ingin membantunya."
Villian sekali lagi membantah. Semua orang yang mendengar kalimat bantu memasang wajah 'seperti yang di harapkan dari Villian.'
'Aku tak sangka aku guna kalimat mutiara Villian. Namun naga ini adalah peliharaan ku, jangan di sentuh. paham!'
Bagi Villian, Diamon dan dia tidak ada bedanya. Dia seorang yang dengan kekerasan mempertahankan miliknya dan Diamon menguasai langit dengan kekuatan yang luar biasa.
"Tidak, aku bukan membantunya melainkan aku sendiri yang menginginkannya. Siapa peduli jika aku di bunuh oleh makhluk yang indah seperti ini? Bukan aku tentunya."
Diamon yang menggantung di bahu Villian memandang Eugine dengan tatapan mengejek yang membuat urat marah Eugine terlihat.
Eugine memunculkan kaca yang sama dia munculkan malam tadi dan menyalurkan mananya.
"Apa lagi yang kau mau?"
Magaret berbicara dengan menggerutu tampa melihat ke arah Eugine.
".........."
"......?"
Tapi mendengar Eugine diam membuatnya melihat ke arah kaca dan melihat naga kristal kaca bergelantungan di bahu seorang gadis berbaju pria.
"Apa yang-"
"Aku juga ingin bertanya hal yang sama."
Magaret memusing tubuhnya untuk melihat pohon dunia.
"Pohon dunia mengatakan sila ambil keputusan mu sendiri. Dia tidak bisa melihat masa depan naga penguasa langit."
Carsh!
Sekali lagi kaca itu pecah berkeping keping.
"Aku tidak akan membiarkan kau menyingkirkannya."
".........."
Villian memandang Eugine yang lebih tinggi darinya dengan tatapan sombong. Eugine diam seketika.
"Naga memakan makanan manusia dengan baik jadi tak perlu risau tentang makanan dan aku harus mengikuti perjalanan mu. Akan berbahaya jika naga penguasa langit hilang kendalinya."
Eugine berbicara sambil menekan jidatnya dengan jari telunjuknya.
'Kita akan bawa 2 naga bersama? Apa bumi akan terbalik?'
Semua orang mengalirkan keringat di tubuh mereka.
Mereka sekarang bukan hanya ada 1 atasan melainkan 3. Siapa yang berani menyinggung naga yang hebat dan agung?
Muncul sebuah permata tiram sebesar telapak tangan pria dewasa di tangan Eugine.
Dia menyalurkan mana dan muncul wajah seorang pria paruh baya dengan mahkota di kepalanya.
"Aku tidak akan berada di lautan untuk masa yang lama. Kalian akan bertanggung jawap untuk melindungi lautan."
"Apa! Itu terlalu tiba tiba!"
Eugine dengan tidak peduli mematikan panggilan itu dan menghilangkan permata itu.
"Apa itu raja penguasa lautan?"
Villian bergumam dengan tidak percaya saat melihat Eugine dengan kasarnya berbicara dengan raja.
Diamon di bahunya juga meniru gaya gumaman Villian tampa suara sambil membuat wajah mengejek Eugine.
Tangan Eugine terkepal erat ingin memukul Diamon.
"Baik, baik, mari kita bergerak sekarang."
Villian mengatakan itu dan masuk ke dalam kereta kudanya.
Orang di dalam kereta adalah Zillo, Gerlic, Eugine Dan tentunya Diamon di bahunya.
Dengan cepat, Lucard mengendalikan monster kerangka terbang itu dan mereka meluncur ke langit.
"Lucard, mari pergi ke kerajaan mu."
Semua yang mendengar itu tersentak.
Ingin ke kerajaan makhluk gelap? Benarkah?
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.............