I DO WHATEVER I WANT!

I DO WHATEVER I WANT!
Extra



Nulho: Wau, kita sudah mencapai 20 episode!


Di sini hanya akan menjadi cerita yang tidak berkaitan...


Semoga terhibur.


.


.


.


Di kedai potion.


Villian berjalan dengan santai hingga akhirnya.


Spalsh.


Seorang pekerja tidak bertanggung jawab tertumpahkan sebuah ramuan pada Villian.


"Apa kamu baik baik saja?"


Regis dan ke 2 ahli nujum itu melihat Villian dengan khawatir.


Bajunya basah kerana ramuan itu.


'Tentu saja, aku kan keren!'


Itulah harapan mereka tentang balasan Villian.


Namun wajah Villian memerah dan seperti kurang selesa dengan pandangan mereka.


"Villian?"


Regis bingung dengan riaksi Villian.


"A, aku baik baik saja."


Mereka bertiga bisa melihat Villian mengepitkan kakinya seperti gadis anggun yang sedang malu.


"Ramuan apa ni!? Hebat gila sampai menukar dia menjadi gadis anggun!"


Jihe berteriak kaget. Millia kaku seperti batu dan kuping Regis memerah tiba tiba.


"Ahem."


Regis batuk palsu dan memberikan jaketnya pada Villian.


"Terima kasih."


'Dia akan membunuh ku saat dia sedar nanti.'


Wajah Regis memerah sambil berpikir kupingnya akan di hajar oleh teriakan Villian nanti.


"A, aku pergi mengganti pakaiaan sekarang."


Villian menggunakan nada bicara yang lembut dan anggun.


Ke tiga orang itu hanya mampu mengangguk dengan itu.


.


.


.


Villian berjalan dan melanggar seseorang.


Orang itu bermantel hitam. Lingkaran kutukan di tangannya memudar..


"Villian?"


Pria itu melihat vampir kecil itu dengan dekat. Wajah Villian memerah dan gayanya seperti gadis anggun.


"Maaf, siapa?"


Kerana Villian dalam pengaruh ramuan, dia tidak memiliki ingatan tentang siapa pon.


Zillo memegang tangan Villian dan meletakkannya di pipi.


"Hanya sebentar, tangan mu hangat."


Wajah Villian semakin memerah. Dan setelah beberapa saat, Zillo melepaskan tangan Villian dan pergi.


Dia berjalan lagi dan pisau terbang di depannya dan mengenai apel hingga terbelah dua.


"Apa kamu baik baik saja?"


Wajah Gerlic sanagt dingin.


"Iya. Maaf mengganggu mu."


Gerlic mendekati wajah Villian hingga bibir mereka hampir bertemu.


Wajah Villian kaku dan menutup matanya. Wajahnya masih merah kerana Zillo.


"Bukan dia."


Gerlic mengatakan itu dan pergi.


'Apa apaan?'


Villian menyentuh pipinya yang panas.


Baru saja dia ingin pergi, dia melanggar seseorang yang sedang berlari.


"Maaf, benar benar maaf."


"Apa kamu baik baik saja? Perlukan bantuan?"


'Perlukan bantuan' kata itu menusuk kupingnya.


"Nona muda, di mana kamu?"


Radex meringkuk di tanah sambil terus merasakan betapa tidak berguna nya dirinya.


Villian agak bersalah untuk meninggalkan Radex sendirian.


Dia melihat bunga dan memetiknya.


Dia membuat cincin dari bunga. Dia menarik tangan Radex dan memakaikan itu pada tangannya.


"Jangan mengalah, master pedang!"


Villian mengatakan itu dan pergi.


"Aku tidak akan melupakan hari ini, tuan vampir."


Radex kembali berdiri dan bergerak.


.


.


.


Sekali lagi Villian melanggar seseorang.


Mata predator milik pria itu serasa sangat mengerikan.


"Maaf."


Eugine bisa merasakan kutukan souhell pada Villian.


seorang anak mendekati mereka juga.


"Aku sudah mencari dari langit, namun tidak menemukan apa pon."


"Lucard, kamu bisa merasakan souhell dari anak ini kan?"


Kata 'souhell' membuat Lucard mengerutkan alisnya.


Memang benar itu ada.


"Nona ku tidak akan berjalan seperti itu."


Lucard mengatakan itu dengan pasti. Eugine mengangguk setuju.


Villian hanya tersenyum dan mengelus anak itu dan pergi.


.


.


.


.


.


.


"Tunggu, itu pasti dia! Hanya dia yang bisa melihat kita!"


Saat mereka bertemu kembali, mereka baru menyedari hal itu.


"Ahh..... Aku seharusnya sadar dengan bau ramuan sihir penukar kepribadian."


Eugine hanya bisa menyesalinya sekarang.


.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


"APA YANG AKU LAKUKAN!!!!!!"


Villian hanya bisa berteriak histeris.


.


.


.


.


.


.


Nulho: Baik, selamat menikmati kisah extra ini. 😅😂😂😂😂🤗